Sanghyang Sirah : Sirahnya Pulau Jawa

Sanghyang Sirah ? Ya Sanghyang Sirah, letaknya persis di ujung pulau Jawa atau kepalanyanya pulau Jawa dan posisinya termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon Propinsi Banten (lebih jelasnya dapat dilihat di WIKIMAPIA). Sirah dalam bahasa Jawa/Sunda berarti kepala.

Sudah sejak lama saya ingin sekali mengunjungi daerah Sanghyang Sirah ini. Beberapa kali tertunda dengan berbagai kendala. Baru tahun 2009 ini, keinginan saya tercapai. Dan ini tidak lepas dari adanya amanah karuhun (leluhur) untuk berziarah ke Sanghyang Sirah. Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa di Sanghyang Sirah terdapat maqam atau petilasan Prabu Siliwangi. Ada yang mengatakan petilasannya Prabu Kian Santang, Prabu Tajimalela, Prabu Sungging Perbangkala dan lain-lain. Tetapi intinya berkaitan dengan para karuhun Sunda khususnya dan karuhun pulau Jawa pada umumnya.

Perjalanan Sanghyang Sirah dimulai dengan bertemunya saya dan rombongan Uyut di Padepokan Banyu Biru, Kampung Sulang, Sepatan, Mauk Tangerang pada hari Jumat (25/12/2009) jam 14.45 WIB. Setelah berkumpul, kami mengadakan rapat untuk merencanakan segala kemungkinan yang terjadi sepanjang perjalanan ke Sanghyang Sirah. Setelah dihitung seluruhnya ternyata rombongan yang pergi berjumlah 14 orang dan diputuskan memakai 2 buah mobil,

Tepat jam 20.00 WIB dengan diiringi oleh hujan gerimis, kami memulai perjalanan ke Sanghyang Sirah. Alhamdulillah sepanjang perjalanan hujan selalu menyertai kami. Dari Tangerang ke Sanghyang Sirah, kami menggunakan rute via jalan tol Jakarta-Merak dan keluar di Serang Timur. Dari Serang, kendaraan menuju Kabupaten Pandeglang dimana Sang Hyang Sirah merupakan bagian dari Kabupaten Pandeglang.

Tetapi untuk menuju ke Sanghyang Sirah hanya bisa dengan 2 jalur yaitu jalur darat dengan jalan kaki melewati Pos Pertama Taman Nasional Ujung Kulon di Taman Jaya yang membutuhkan waktu 3 hari 3 malam dan jalur laut menggunakan kapal nelayan jenis trawl yang singgah di pantai Bidur kemudian perjalanan dilajutkan dengan jalan kaki ke Sanghyang Sirah yang jaraknya tinggal 1 km lagi.

Kami memutuskan untuk mengambil jalur laut. Tetapi sebelumnya harus lapor dulu ke Juru Kunci Abah Syargani di Cipining dan kemudian baru lapor ke Petugas Taman Nasional Ujung Kulon di Pulau Peucang sebelum memasuki kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Kami tiba di desa Cipining, Sumur sekitar jam 04.00 pagi WIB (Sabtu 26/12/2009). Karena kondisi hujan deras maka kami sempat beberapa kali kesasar untuk menemukan rumah Abah Syargani, juru kunci Sanghyang Sirah. Setelah istirahat sejenak sambil menunggu hujan reda, pada pukul 07.00 WIB, kami berhasil menemukan rumahnya Abah Syargani.

Rupanya Uyut sudah sangat mengenal Pak Syargani dan terjadilah obrolan ringan sesama kami. Kami disediakan berbagai macam hidangan oleh tuan rumah. Tanpa terasa sudah 4 jam kami berbicara panjang lebar tentang segala hal mengenai Sanghyang Sirah. Kami disuruh menunggu kedatangan kapal nelayan yang dipesan oleh anak buahnya Abah. Tepat pukul 11.00, kami diajak Abah menuju pantai Cipining sebagai tempat merapatnya kapal nelayan yang kami pesan. Memang kapal nelayan tidak bisa langsung merapat ke pinggir pantai yang berpasir. Untuk membawa kami ke kapal trawl tersebut maka digunakan perahu kecil yang kapasitasnya untuk 2 orang dan sangat terbatas beban muatannya. Sambil menunggu barang-barang kami diangkut maka ajang potret memotret menjadi aktivitas kami saat itu. Akhirnya satu persatu dari kami dapat diangkut dan dinaikkan ke kapal nelayan yang berkapasitas untuk 40 orang tersebut. Perlu diketahui selain kami yang berjumlah 14 orang, Abah Syargani menyertakan seorang anaknya dan Kang Ajut, anak buahnya yang berfungsi sebagai tukang masak, pengangkut barang dan lain-lain.

Obrolan Santai Dengan Juru Kunci Sanghyang Sirah Abah Syargani

Menuju Pantai Harus Menyeberangi Sungai

Gaya Dulu Ahhhhh

Foto Bersama Sebelum Berangkat

Perahu Pengantar ke Kapal

Sepanjang perjalanan di laut, banyak pemandangan indah yang dapat dinikmati dan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan alam Indoneia yang cantik. Ada salah satu pengalaman menarik yang saya dapat dari para nelayan disana yaitu mengetahui kedalaman air laut dengan melihat dari warna airnya. Kata mereka, air laut berwarna hijau menandakan kedalamam sampai 75 meter, air laut berwarna biru langit menandakan kedalaman sampai 200 meter dan air laut berwarna biru kehitam-hitaman menandakan kedalaman lebih dari 500 meter.

Setelah beberapa jam perjalanan kami yang diringi dengan hujan deras dan gerimis, akhirnya kami sampai juga di Pulau Peucang untuk melaporkan dan meminta ijin kepada petugas Taman Nasional Ujung Kulon tentang maksud dan tujuan kami ke Sanghyang Sirah yang merupakan daerah yang masuk dalam wilayah Taman Nasional. Kurang lebih 45 menit kami menunggu di Pulau Peucang.

Aktivitas di Kapal

Foto Atas: Kang Ajut (seb.kiri) dan Abah Syargani (seb.kanan) Foto Bawah: ada yang mabuk euy

Tepat pukul 15.50, perjalanan dilanjutkan ke Sanghyang Sirah. Pada awalnya gelombang ombak masih normal dan cuaca sungguh cerah. Tetapi ketika memasuki wilayah Tanjung Layar tiba-tiba, cuaca berubah menjadi pasang dan hujan gerimis. Beberapa kali lambung kapal dihantam ombak. Memang tidak salah kami membawa Abah Syargani yang sangat menguasai medan, dengan sigapnya beliau memerintahkan nahkoda untuk balik dan tidak memaksakan untuk melawan alam. Kapal kami dibelokkan kembali dan mencari tempat di pinggir kawasan Taman Nasional. Abah Syargani memerintahkan nahkoda untuk merapat dulu ke pantai Cibom sambil menunggu cuaca dan gelombang laut normal. Jam menunjukkan pukul 16.50 WIB. Setelah berdiskusi sejenak, kami meminta Abah Syargani untuk melanjutkan perjalanan lewat darat karena ada seorang teman dari TNI asal Aceh yang tidak bisa berlama-lama dan sudah harus ada di Aceh pada hari senin pagi (ada tugas mendadak dari Pangdam katanya). Rupanya dari Cibom ke Sanghyang Sirah berjarak 10,2 km (itu baru kata Abah yang sebenarnya lebih dari itu). Akhirnya kami memutuskan perjalanan dengan jalan kaki dan kapal diperintahkan menunggu dan ditambatkan di pantai Cibom.

Persinggahan Pertama di Ujung Kulon

Rupanya medan yang kami hadapi tidak semudah yang dibayangkan. Dari Cibom, kami memasuki hutan Taman Nasional yang berstruktur bukit dan masih asri karena jarang dilewati sehingga perlu dilakukan pembabatan tumbuhan-tumbuhan yang menutupi jalan setapak yang telah dibuat sebelumnya. Naik turun bukit yang cukup melelahkan membaut saya agak kelelahan (harap maklum sudah lama tidak olahraga dan tubuh juga tambun. Jadi sudah susah bawa badan ditambah lagi barang bawaan hehehe). Sekitar perjalanan 1 jam akhirnya kami sampai di pantai Ciramea dengan panorama indah menjelang malam. Di Ciramea kami istirahat dulu dan Kang Ajut mulai sibuk membuat air minum, memasak ikan, mie instan dan sebagainya. Setelah perut kenyang, ba’da Isya kami melanjutkan perjalanan ke Sang hyang Sirah.

Karena kondisi gelap gulita dan medan yang dilalui cukup berat dengan tanjakan dan turunan yang membuat kaki bisa sampai ke dada. Saya dan seorang teman, Pak Singgih merasakan keletihan yang luar biasa. Saya merasakan kaki seperti tidak mau digerakkan dan Pak Singgih merasakan kepala pusing seperti dunia berputar. Lagi pula ada hal aneh, beberapa kali Abah Syargani kebingungan mencari jalan yang biasa dilalui dan kesasar beberapa kali. Akhirnya oleh Uyut diperintahkan untuk berhenti dahulu karena Beliau menganggap saya dan Pak Singgih sudah tidak bisa dipaksakan untuk melanjutkan perjalanan. Beliau menduga ada hal-hal yang aneh yang membuat kami seperti berputar-putar di dalam hutan Taman Nasional.

Setelah beberapa menit, Uyut memutuskan saya, Pak Singgih, Budi (anak kandung Pak Budi), Jali (supir), Abah Syargani dkk (7 orang) untuk tinggal di tempat. Sementara beliau dengan 10 orang lainnya melanjutkan perjalanan). Kami diperintahkan untuk menunggu beliau sampai balik kembali dari Sanghyang Sirah. Karena sudah keletihan tanpa terasa kami semua tertidur di tengah hutan tanpa ada rasa takut. Tanpa terasa juga, jam 04.00 pagi (27/12/2009) kami terbangun dan sudah tampak air kopi di hadapan kami. Langsung saja kami menikmati kopi yang dibuat oleh Kang Ajut. Kemudian Abah Syargani menyuruh saya dan Pak Singgih untuk berbaring sejenak dan Abah mengurut kaki kami supaya dapat melanjutkan perjalanan.

Kami sempat bertanya kepada Abah untuk menunggu Uyut sesuai dengan perintahnya. Tetapi kata Abah, uyut dan rombingan belum sampa. Benar saja baru menaiki satu bukit dengan tanjakan yang curam, tiba-tiba terdengar suara Pak Lili (salah seorang rombongan Uyut) memanggil nama saya dan diikuti oleh 2 orang lainnya. Pak Lili mengatakan bahwa Uyut menyuruh kami untuk meneruskan perjalanan dan beliau tidak akan ke Sanghyang Sirah alias balik ke Cibom bersama 6 orang lainnya.

Kok bisa begitu ya ? Itulah yang sempat terpikir dalam otak saya. Rupanya ada maksud tertentu yang tidak mau diungkapkan oleh Uyut. Akhirnya persis berjumlah 7 orang (sisa orang dari rombongan yang tadinya berjumlah 14 orang) melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Sirah.

Dengan perasaan pasrah dan ikhlas, akhirnya tepat pukul 11.40 WIB saya dan Pak Lili sampai di Sanghyang Sirah sebagai rombongan terakhir dengan kondisi yang sangat lelah dan lapar. Kemudian kami melepaskan lelah dengan membuat minuman sesuai dengan kesukaan masing-masing. Ada beberapa yang makan roti dan biskuit yang tersisa dari perjalanan panjang tersebut. Kebetulan di dekat persinggahan tersebut ada sungai yang airnya sejuk, menyegarkan dan dingin sehingga membuat kami membersihkan dan mendingnkan tubuh kami terlebih dahulu di sungai tersebut.

Panorama Sepanjang Perjalanan ke Sanghyang Sirah

Pulau Karang di dekat Sanghyang Sirah

Tepat pukul 12.30, kami memasuki wilayah petilasan Sanghyang Sirah yang sangat dikeramatkan oleh beberapa kalangan yang mempunyai perhatian terhadap sejarah nenek moyang atau karuhun Sunda. Tampak sebuah tebing tinggi dan sebuah mushola yang sekaligus sebagai tempat istirahat. Selain itu persis di pinggir pantai tamapak berdiri tegak 2 buah pulau karang yang sangat indah pemandangannya.

Setelah menunggu sejenak, kami disuruh Abah Syargani untuk mandi terlebih dahulu di sumur dari mata air Saman yang letaknya di depan pintu masuk gua Sanghyang Sirah yang dikeramatkan. Kemudian kami melakukan ritual Rasulan sesuai dengan adat Sunda dengan berbagai macam sajian penghirmatan kepada karuhun dan juga ungkapan rasa bersyukur kami karena dengan perlindungan Allah maka bisa sampai dengan selamat di Sanghyang Sirah.

Mata Air Saman

Rasulan: Ungkapan Rasa Syukur kepada Karuhun Karena Selamat Sampai Sanghyang Sirah

Beberapa Menu Makanan Dalam Rasulan

Setelah itu kami diajak Abah Syargani masul ke dalam gua Sanghyang Sirah. Di dalam gua kami dilarang melakukan aktivitas pemotretan dan harus melepas alas kaki. Tepat di depan petilasan yang katanya petilasan Prabu Siliwangi, kembali kami melakukan doa dipimpin oleh Abah Syargani.

Selanjutnya kami diajak masuk ke dalam lokasi yang masih dalam gua keramat tersebut. Namanya lokasi Batu Qur’an, tampak sebuah batu yang berada ditengah kolam air yang katanya air tersebut berasal dari 4 mata air yang berada di 4 sudut kolam tersebut. Kemudian satu persatu kami dimandikan oleh Abah dan disuruh melakukan tawaf (berjalan mengelilingi layaknya mengelilingi Ka’bah pada ibadah haji) sebanyak 7 kali sambil mengucapkan shalawat nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah seluruh kegiatan ritual di dalam gua keramat tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Abah mengatakan bahwa disitulah pusatnya ilmu secara spiritual di pulau Jawa dan dengan dimandikannya kami maka diharapkan terbukalah pikiran/wawasan berpikir yang ada di dalam otak tentang jati diri dan mengerti tentang asal usul kita sebagai manusia ciptaan Allah SWT.

Gua Sanghyang Sirah

Karena saat itu, sudah ada rombongan lain yang menunggu dimandikan Abah maka kami disuruh untuk jalan terlebih dahulu dan menunggu Abah di pantai Bidur. Setelah mempersiapkan segalanya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Bidur untuk menunggu Abah dan sekalian melihat kapal nelayan yang mungkin bisa membawa kami ke pantai Cibom. Satu jam kemudian tampak rombonga Abah sudah datang ke pantai Bidur untuk menemui kami. Setelah melihat-lihat sekeliling laut dan tidak ada kapal nelayan yang lewat dan lagipula waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB maka Abah menyuruh kami untuk menunggu di pantai Bidur. Sementara itu Abah dkk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke pantai Cibom dan menyuruh kapal kami yang ditambatkan disana untuk menjemput kami walaupun malam haripun kami akan dijemput.

Akibat cuaca yang kurang mendukung dengan hujan yang sangat deras dan diikuti oleh gelombang laut yang pasang maka kami mengambil kesimpulan bahwa kapal kami tidak mungkin dapat menjemput kami. Untuk itulah sebelumnya kami sudah menyiapkan tempat dan membangun saung sederhana dengan atap daun sejenis kelapa sebagai tempat berteduh kami malam harinya.

Tanpa terasa kami ketiduran dan tepat jam 7 pagi (28/12/2009), sebuah kapal mendekati pantai Bidur. Dan benar dugaan kami bahwa kapal tersebut adalah kapal kami yang akan membawa kami kembali ke pantai Cipining dimana dari tempat itulah kami memulai perjalanan. Wao sebuah perjalanan yang luar biasa menurut kami serta penuh dengan perjuangan yang melelahkan. Sesampainya di kapal kami merasakan kepuasan dan rasa syukur yang amat sangat kepada Allah SWT serta ucapan terima kasih kepada para orang tua kami yang turut mendokan kami sepanjang perjalanan spiritual ini.

Sesampainya di Cipining, kami langsung pamit kepada orang-orang yang telah membantu kelancaran perjalanan ini. Rupanya Uyut dan 6 orang teman kami telah pulang dan menunggu kami doi Padepokan Banyu Biru Kampung Sulang, Sepatan, Mauk Tangerang. Langsung saja kami meluncur ke Tangerang, persis jam 19.00 WIB, kami tiba di Padepokan dan sudah banyak sekali orang yang menyambut kedatangan Kami. Bak pahlawan yang disambut dengan meriahnya. Begitu sampai langsung kami bertujuh melakukan sungkem lepada Uyut dengan perasaan gembira dan haru.

Selanjutnya Uyut melakukan acara selamatan atas keberhasilan kami sampai di Sanghyang Sirah dan kembali dengan selamat tiba di Padepokan Banyu Biru. Setelah itu, kami bisa santai dan menceritakan pengalaman kami kepada para tamu yang hadir. Sungguh sebuah kepuasan lahir dan batin. Dan tanpa terasa obrolan santai tersebut membuat kami tidak bisa tidur sampai pagi harinya.

Pukul 09.00 WIB (29/12/2009), saya dan rombongan lainnya pamit diri kepada Pak Singgih, pendiri Padepokan Banyu Biru dan mengucapkan terima kasih atas segala pelayanannya kepada kami dengan baik.

Syukuran Atas Kembalinya Rombongan Dengan Selamat Sampai di Rumah

Foto-foto dan Obrolan Santai Melepas Lelah Sebelum Pulang Ke Rumah Masing-masing

About these ads

79 pemikiran pada “Sanghyang Sirah : Sirahnya Pulau Jawa

  1. Sungguh luar biasa perjalanannnya mas, kalao boleh tahu, apakah abah uyut mas masih ada ? dan bisakah orang luar bertemu dengan beliau ?

    beberapa waktu yg lalu, teman sayapun ada yang ingin melakukan perjalanan ke shanghyang sirah, tapi tidak ada report, ternyata memang medannya luar biasa ya…

    Jikalau tidak keberatan bolehkah saya diberitahu berapa total biasa sampai ke sanghyang sirah dan kembali lagi ke tangerang :)

    sekali lagi terimakasih ya mas…

    • beliau masih hidup dan bisa bertemu kapan saja dan dengan siapa saja tanpa ada syarat apapun. besok pagi saya ama uyut juga mau ke sana lagi. Biayanya kurang lebih 7 jutaan (rombongan 12 orang). kalau mau kami akan atur kapan bisa ke sana dan ada yang menjadi guide buat mie dan kawan

  2. subhanallah, sangat menarik dan membuat diri semakn kecil di hadapan Allah. Hanya hoyong terang perkawis sejarah Sang Hyang Sirah teh kumaha ? hatur nuhun

      • kang … bisa tolong kirim kan email ke alamat saya tentang cerita asal muasal sangyang sirah dan hubungan nya dengan galuh pajajaran, saya senang sekali belajar tentang sejarah …., punya foto lokasi peta sangyang sirah? sampai dinamakan atau disebut kepalanya pulau jawa … nuhun kang …

  3. ….alhamdulillah baru sekali saya bisa ketemu uyut….jika ada perjalanan lagi ke sanghyang sirah….tolong kasih kabar…jika ada waktu dan kesempatan sy akan ikut …ini cp sy 087829228945…terimakasih

  4. aku sangat suka dgn sanghyangsirah tp klau mau jiarah ke sanghyangsirah sbaiknya jiarah dlu ke cimahi ke makam syeh dahlan dan makam uyut santika

  5. Assalamualaikum Pak, saya baca blognya lumayan membantu saya yang sedang belajar sejarah…..
    saya pengen juga dounk ziarah ke sanghyang sirah, pemandangannya bagus bgt trs kita juga bisa banyak belajar sama para sesepuh….

  6. Sekilas perjalanan jiarah ke saghiang sirah,,, saya berangkat dari kp. Ciburial di pimpin sesepuh disana berbagai perlengkapan disiapkan termasuk persiapan rohani,,, berbagai keanehan ditemukan selama perjalanan namun alhamdulillh kami selamat lancar sampai tujuan, berbagai pantangan tentunya harus diketahui, dari bicara, berjalan, duduk, makan dsb… intinya ternyata tidak semua orang yang bisa menemukan patilasan prabusiliwangi tentunya kita harus memperdalam dulu ilmu prabusiliwangi dari mulai sahadat sahadat siliwangi, sahadat banten, pamuka alam dsb,,, ini dapat memperlancar hajat kita bahkan disini saya tidak bisa mengatakannya,,,, cuman satu keajaiban ketika berangkat memakan waktu tiga hari, sa’at pulang cuma satu hari bahkan kalau kita benar2 bersih dan tertib untuk berjiarah kesana, bayangkan berapa lama perjalanan pulang jalan darat apabila kita membawa nasi liwet di kastrol sampai rumah masih terasa hangat…
    Subhanallah… ini menjadi pelajaran dan semua atas kekuasaan Allah…maka tidak ada kata sombong bagi mahluk di dunia ini..

  7. ass,,
    subhanallah…
    ketika saya baca blog ini saya teringat ketika saya ziarah ke sanghiang sira tahun 2007 an.

    setelah beberapa bulan hampir setengah tahunan saya baru menyadari tempat itu ketika bertemu seorang guru yang mempunyai nama ghaib, dan dy menceritan sedikit tentang sanghiang sira, subhanallah beberapa hari kemudian setelah dceritan ttg sanghiang sira oleh guru saya yg sudah dianggap menjadi bagian keluarga,

    saya bemimpi mf saya cuman menulis point2 dr mimpi saya saja solanya klo di ceritakan panjang banget :

    -ketemu segerombolan manusia kera yg rakus di sanghiang sira
    -gubuk2 sederhana sedikit cuman dihiasa atap2 dr dadaunan pohon kelapa
    -ketika saya mau ngambil wudhu saya dibantu warga sana dgn memukulkan tangannya kesebuah batu besar lalu terpancurlah air buat wudhu
    -mushola kecil dengan penuh aturan
    -3 kerajaan sebesar gunung yg terbuat dari emas, sempat saya menanyakan kpd sebut saja namanya penjaga mushola itu kerajaan besar tuh punya siapa? dia menjawab tuh sambil menunjukan jarinya kepada RAJA yg sedang berjalan ksni, dia raja yg baik dan dermawan si penjaga mushola tuh tidak menyebutkan nama rajanya, tak sempat raja tuh datang saya tebangun dari tidur dan kaget sambil menyebutkan asma-Nya.

    setelah keesokan harinya saya menanyakan soal mimpi saya kpd guru saya ternyata mimpi itu tempatnya di sanghiang sira. terus saya tanya apa maksud dr sebuah mimpi itu? guru saya hanya senyum..

    o yea buat saudara2ku ada yg tahu nggak apa maksud dari mimpi itu?

    • ada 2 gerbang besar yang menjadi simbol 2 raja di sanghyang sirah yaitu kerajaan galeuh pakuan (aji putih) dan pajajaran (aji sakti) yang menjadi satu namanya yaitu Galeuh Pakuan Pajajaran. Galeuh berarti inti/hati, pakuan artinya keimanan. pajajaran = sama ajarannya yaitu percaya kepada Yang Maha Kuasa. jadi hati yang dipaku dengan keimanan selalu percaya akan kebesaran Yang maha Kuasa sehingga terbentuklah silih asah silih asuh, asih menjadi silih wawangi. manusia pada dasarnya adalah bangkai2 hidup yang berbau busuk dan akan hilang bau busuk tersebut dengan keimanan yang berlandaskan pada rahmatan lil alamin.

  8. Ass.wr.wb

    subhanalloh….
    maha benar Alloh dengan segala firmannya….
    setelah saya selesai membaca situs sanghyang sirah, saya jadi teringat mimpi saya 18 tahun lalu.
    singkat cerita :
    waktu itu setelah saya sholat hajat, didalam tafaqur doa,saya seakan sedang berjalan diatas jembatan yang sangat lebar dan kuat yang terbuat dari besi baja. ketika saya sampai ditengah jembatan ,saya lihat kondisi jembatan itu berlubang.
    saya mengambil ancang-ancang untuk melompat ,tetapi saya ragu takut kaki saya tidak sampai. didalam keraguan itu terdengar suara tanpa wujud yang menyarankan saya untuk berjalan melewati jembatan kecil yang ada disebelahnya. saya lihat disitu ada jembatan kecil yang sama kuatnya menuju kesebrang .
    dan diujung jembatan besar saya menemukan tugu batu. karena saya lelah saya beristirahat dan bersandar ditugu tersebut.beberapa saat kemudian antara sadar dan tidak ternyata tugu batu yang saya sandari itu adalah sebuah makom yang terbuat dari emas dan dikelilingi danau kecil yang sangat jernih airnya.
    lalu tanpa terasa tangan saya bergerak sendiri mengambil pasir yang ada didalam danau tersebut ,ketika tangan saya terangkat keatas yang ada ditangan saya bukanlah pasir tapi bermacam-macam permata yang bernilai tinggi. tetapi saya tidak suka kemudian saya buang,dan banyak orang yg berebut untuk mengambilnya berulangkali hal itu saya lakukan.
    kemudian terdengar lagi suara yang menyuruh saya untuk pergi kebatu qur’an .
    disana saya disuruh mengelilingi batu qur’an 7 kali sambil membaca sholawat . insya Alloh apa yang saya minta akan dikabulkan oleh Alloh swt.
    setelah itu saya tersadar ,dan posisi saya masih duduk disajadah tempat saya melakukan sholat hajat.
    dan sampai sekarang memang keinginan itu blum terlaksana.
    saya pernah juga datang ke batu qur’an yang ada dicibulakan tetapi tidak bisa menjalankan keinginan seperti yang saya inginkan.
    tolong mohon tanggapan nya…..
    dari siapa saja yang sepaham. untuk mimpi tersebut agar saya dapat sampai ke sanghyang sirah.

    terimakasih…….

  9. Assalamu’alaikum kang rud,rencananya saya dan teman2 mau ziarah ke sang hyang sirah.mohon di berikan bimbingan dan arahan apa2 yang harus di persiapkan..terimakasih.muslih di cikupa tangerang.

  10. “Berkatalah dengan kejujuran dan merenunglah dengan keimanan.Hilangkan Syirik dan penyekutuan akan kebesaran-Nya. Sejarah akan terus mencatat akan kebesaran peninggalan aulia-Nya.Jgn kotori dgn hati yg tipis mengimani perbedaan antara percaya akan keagungan-Nya dan percaya akan CIPTAAN keagungan-Nya. Aulia yg mulia yg menjadi leluhur kita akan menangis jika itu terjadi. sikap,tingkah,polah dan laku kita akan terbaca dimata Allah. jika kita hendak takut maka takutlah hanya kepadaNya. Insya Allah kita akan menjadi insan mulia yg baik diantara butiran pasir dipantai sana. Sang Hyang Sirah adalah sejarah… Ilmu alam yg di berikan Pencipta untuk menjadi renungan penambah keimanan kita kepadaNya. Hilangkan dahaga yg ada di dada dengan Dzikir kepadanya dan jangan sekali kali kita ingkar akan penciptaanNya.. Semoga kita di golongkan menjadi Insan yg senantiasa bersyukur dan selalu taat akan ajaranNya..Amiiin…..

  11. Sanghyang Sirah siapa beliau ini, sangyang sirah atau ki semar. Alhamdulillah atas izin Allah apa yg terlihat dan yg tidak akan terlihat. Yg nyata dan tidak bs jd nyata karna kehendaknya. Silsilah sejarah para leluhur yg membawa islam dan membangun kekal agama ku. Masih sangat terngiang ucapan ki semar dan anaknya yg bungsu selalu ikut d sampingnya… Singkat cerita sy d suruh ke tempat petilasan sanghyang sirah alias ki semar. Tp dngan perjalanan sedan merah baleno ku sampailah di daerah pecung d ujung pesisir. Tp sayang sy tdk sempat smpai ke petilasan sanghyang sirah, karna perjalanan ug panjang dan aku pun ga banyak bekal uang. Dan yg lbh berat lg karna istri ku sedang mengandung 9 bln. Jd sy putuskan kembali pulang… Kadang hati membawa perasaan d minta dateng ke petilasan snghyang sirah. Insya Allah dgn izinnya sy hadir d tempat petilasan sanghyang sirah alias ki semar. Mohon izin mu ya Allah sampaikan aku ke tempat tujuan ku di petilasan sanghyang sirah.amin

  12. Ass…subhanallah ketika sya membaca dan melihat gundukan karang yg berdekatan dengan sanghyang sirah serta salah satu bapak yg ada di rombongan itu,ternyata itu semua ada dlm mimpi sya,dlm mimpi itu sya di bri tau olh seorang wanita untk berjiarah tp beliau tidak membri tau nma tmptny,jika sy cerita kan tentng mimpi sya ini sangat lah panjang. Tapi apakah pantas jika sya berkeinginan utk jiarah ke sana sedangkan sya sangat lah kotor. Mhn ma’af ats keterbukaan kata2 sya

  13. SUBHANALLAH… Setelah membaca artikel dan komentar di blog ini saya semakin mantaf untuk berangkat kesanghiang sirah kang, mohon doa dan restu dari semuanya Insya Allah minggu minggu ini saya berangkat ke sanghiang sirah.

  14. Alhamdulilah Maha Besar Allah dengan apa yang di ciptakan-Nya dan apa yang Dia Rahasiakan dari semuanya yang di ciptakan-Nya
    dan sebagai anak bangsa pun saya sangat bersyukur atas pertemuan antara sang anak dan ibu dimana telah sekian lama sang anak mencari akhirnya bertemu juga mereka di sanghyang sirah

  15. Pasti perjalanan ke Sanghiyang Sirah merupakan pengalaman luar biasa, saya sudah 4 kali, meskipun perjalanannya melelahkan, tapi tetep membuat saya ingin kembali ke Sanghiyang Sirah

  16. sanghyang sirah…..mau berbagi cerita bunga tidur kepada sesepuh…saya baru saja melihat video youtube https://www.youtube.com/watch?v=ZBQb0PGGCKY….saya kaget kok bisa sama yah di mimpi saya beberapa tahun yg lalu….goanya mirip sekali seperti sudah kesana tapi sebenarnya belum….cuma bedanya di di sebelah kiri dalam doa ada air yah …di mimpi saya tidak ada,kalo saya tidak salah ingat mimpi saya di kiri itu tempat berkumpulnya keluarga dan pengawal sang prabu….
    dan di petilansan/batu yang di tutup kain putih itu tempat sholat sang prabu….
    di mimpi saya ada penjaga goa orang tua dan galak memakai baju biasa warna hitam membawa tongkat sebesar gagang sapu warna hitam panjang kurang lebih 40cm an dalam mimpi kalung saya di tarik oleh pengawal itu sampe putus….
    dan di belakang goa juga ada penjaga gajah dengan memakai baju baju/pelana perang berwarna emas….saya masuk ke dalam goa gara2 gajah itu karna takut dn mau bersembunyi
    di mimpi saya semua orang di dalam goa memakai baju putih seperti mau pergi haji…dan sang prabu sangat suka sekali dengan kalimat sahadat dan solawat nabi muhammad saw…
    sang prabu dalam mimpi saya mirip sekali dengan lukisan yang banyak di posting di internet….
    bagi sesepuh2 yang bisa ngarti kan mimpi saya tolong di bantu….sebelumnya trimakasih banyak

  17. mafff kang sebener nya sirah galuh tuh ada dimana ??????? soal nya kata kakek saya sirah galuh tuh ada d desa saya kakek saya yang bilang bahwa desa saya sirah nya galuh?kepala, jadi yang mana yantg bener???? salam kenal dari saya anak kampung bagolo,kalou boleh tanya ma kakek atou juru kunci d ujung kulon kenal ga ama desa yang namanya bagolo.soalnya nama desa saya udah ada jaman dri kerajaan galuh katanya , makasih gan desa saya berada d ekat dengan nusakambangan makasih

  18. Assalamu A’laikum ….
    kang… baru kemaren saya dan rombongan dari sana, memang sangat menakjubkan… tapi apakah sebelumnya sudah ke gunung cimahi dulu gak…. alangkah baik bila kesana dulu baru ke sanghyang sirah…. semua akan terasa manfaatnya….. kang apakah masuk ke gua yang ada di pojokan yang cukup untuk sebadan saja…. disanalah tempat kita bermunajat dan memohon kepada sang Maha Pencipta Allah SWT….

  19. Punten, numpang nimbrung nih, Batu Qur’an yang di Sanghiyang Sirah adalah tempat pulangnya Prabu Kiansantang/ Sunan Rohmat Suci-Godog dari tanah Arab sedangkan Batu Qur’an yang di Cikoromoy adalah tempat pulangnya Syekh Maulana Mansyur dari tanah Arab. Wali ketiga yang punya ilmu karomah seperti ini adalah Syekh Abdul Muhyi-Pamijahan, tapi karena Beliau mengamalkan dzikirnya sambil merokok maka Beliau pulang dari tanah Arab sampai ke Gua Pamijahan dengan terbatuk-batuk. Dikemudian hari Syekh Abdul Muhyi memfatwakan haram hukumnya berziarah ke makamnya sambil merokok!. Kisah Ki Buyut Kalam dari Banten kejepit Kima/ kerang juga ada legendanya. Dahulu ada pertapa Sakti dari Tibet bernama Ki Mas Jong/ Yong datang ke Taruma negara, Di Taruma Negara Ki Mas Jong punya dua istri, salah satunya dengan jin putri bangsawan Segara Kidul. Hasil pernikahan dengan Ki Mas Jong/ Yong dengan jin wanita tersebut melahirkan seorang putri cantik bernama Neng Sari. Neng Sari bertemu dengan Ki Buyut Kalam dan mereka saling jatuh cinta. Ki Buyut Kalam berjanji kelak setelah menuntut ilmu/ melanglang buana dan belajar agama Islam ia akan kembali dan menikahi Neng Sari. Ki Buyut Kalam merantau terlalu lama. Neng Sari bersama Ibunya kembali ke Segara Kidul. Ketika kembali ke Sempu/ Serang-Banten Ki Buyut Kalam hanya bertemu dengan Ki Mas Jong. Ki Mas Jong yang berumur lebih dari 1.000 tahun marah-marah dan mengambil kerang pusaka/ Kima kemudian menjepitkannya dikaki Ki Buyut Kalam. Ki Mas Jong wafat tidak lama setelah mengucapkan syahadat dihadapan Syekh Maulana Hasanuddin (abad ke-16). Ki Buyut Kalam kemudian minta bantuan Syekh Maulana Hasanuddin agar melepaskan Kima tersebut, maka dengan karomah Syekh Maulana Hasanuddin, Ki Mas Jong dihidupkan kembali dan Beliau berfatwa bahwa Kima tersebut akan lepas dari kakinya Ki Buyut Kalam bila Ki Buyut Kalam bertobat dan minta doa pada keturunan Syekh Maulana Hasanuddin yang bernama Syekh Maulana Mansyur. Ki Mas Jong wafat kembali, oleh sebab itu kalau kita ziarah ke Sempu-Serang akan menemukan dua makam Ki Mas Jong disana. Woullohua’lam.

  20. asslkm kasakur dulur kasadaya baraya kuring nu bodo nu taya pangarti bade saalit komen ah…..sajarah nu paarantos aya saleresna ngan nungajalanan na nu terang ku maha pastina,..urang mah ngan saukur menang carita jeung beja tangtosna ti pucuk nu beda beda …sakedahna perbedaan sanes kanggo di debatkeun komo jd bahan piributeun. urang nu ngaku urang sunda sakedahna tiasa ngalajeungken kana kaagungan na prabu siliwangi sajarah jd titincak dadasar kanggo urang jadijalmi nu unggul tina elmu pangarti,budi pekerti sahigga tiasajd penerus siliwangi nu saenyana.nu mawawangi nu mawa katentraman kamajengan kabalarea…….tos sejarahmah tong diributkeun sabab kin tina waktosna oge bakal kabuka nu saenyana………..urang sakabeh dulur satatar sunda pamanah rasa cing ngahiji sasiliwangi……hapunten bilih aya carios nu teu merenah kana manah ………kanggo cech gentong kuring hyg share perkawis sanghyang siraa…..kanggo dulur sadaya diantos responna ka semarbratasena@yahoo.co.id at fb semarbratasena@facebook.com wassalam

  21. 30 Januari 2014 semarbratasena

    dalam kisah pewayangan pandawa adalah tokoh yg mewakili sisi kebaikan….skrg sy akan cb membahas pandawa dlm pandangan sy jk nanti ada hal yg krg berkenan at berbeda dgn pembaca saya harap kt bs brbagi dan smua saran dan kritik yg mbangun akan sgt diterima dan sy hargai…skl lg karna sy br blajar menulis sy sgt mgharapkan bantuan dr para senior agar apa yg sy tulis bs lebh baik lagi.

    pandawa dengan kelima tokohnya selalu menarik untuk dibahas dan ditelaah ,pun sy yg skrg mencoba menjabarkannya.

    yudistira sbg anak tertua dgn smua sifatnya…..dlm mata sy ktk dimasukan kesisi religi dia adalah rukun awal dr rukun islam yaitu syahadat yg mjd awal dr proses keislaman itu sendiri….yg hrs menrimanya dgn hati yg bersih dan tulus ikhlas jg mjd pemimpin dr pengakuan keislaman itu .

    Bima anak kedua dan plg kuat dlm sisi religi dia sy gambarkan sbg rukun kedua yaitu shalat ,yg dlm tatanannya menjadi tonggak dan tiang dr keislaman ……ktk kt teguh dan serius mjalankannya mk dia akan menjadi penjaga dan benteng kita dr sgl keburukan.

    Arjuna anak ketiga dan plg tampan dia sy kaitkan dgn rukun ktiga yaitu zakat yg jk kita menunaikannya mk harta kita akan setampan arjuna yg selalu dirindukan org karna harta yg selalu disyukuri dan dibersihkan dlm hal ini dgn zakat pasti akan menebarkan manfaat dan faedah bg org2 dsekitarnya.

    anak ke 4 dan 5 nakula sadewa sy gambarkan sbg rukun ke 4 dan 5 yg sy anggap kembar kareana sama2 lebih bersifat ruhiyyah ,knp sy blg ruhiyyah….karena puasa ktk kt melaksanakannya mk hanya Allah dan org yg melaksanakannya saja yg tahu….sdg ibadah haji dalam hal ini ada 2 sisi yg mempengaruhi yaitu nasib dan nisab…….untuk nisab mungkin banyak org yg mudah untuk menggapainya tp enggan untuk melaksanakan ibadah haji tp ketike sisi nasib dalam artian panggilan dari Allah untuk bertamu kebaitullah sdh diterima sperti apapun keadaan org itu maka dgn mudah dia bs melaksanakan dan bertamu ke baitullah dgn cara dan jalan yg mungkin tidak pernah kita duga.

    itulah sedikit ulasan dr sy smg ada manffaatnya,skl lg sy minta maaf klo ada hal yg slh dlm tulisan ini…….dan kritik serta saran yg membangun sangat sy tunggu dan harapkan……wassalam

    ki sunda
    semarbratasena@yahoo.co.id

  22. Sanghyang sira antara ada dan tiada
    2 Februari 2014semarbratasena

    ngaing nu bangt bodo taya elmu pangarti ,sakapeung sok hayang nanya …..naha enya sang hyang sira teh aya atawa ngan saukur siloka,yen hirup teh kudu dumasar kana sirah(fikiran)nu dibarengan ku hate leutik nu bersih sangkan panggih kana kabeneran nusaenyana,sira teh awal tina lampah,mata ningali ceuli ngadenge biwir ngucap tuluy otak nu mikiran ,tapi sing awas paningal sabab mata kadang salah ningali tong percaya kana ceuli sebab soca jeung beja kadang lain nu saenyana ,sing ngajaga kana biwir sebab letah mah leuwih seuket batan pedang leuwih galak alabatan maung ,sang hyang sira nyata ayana tapi dibalik eta urang sing ngajaga supados bersih fikir bersih manah gede wawanen tina ngadegkeun kabeneran,tulus ikhlas tina silih asih silih asuh silih jaga jeung elingan jeung dulur2 ,guarkeun jati diri nu saenyana tunjukeun yen urang teh raga nu nyata tp diri nu dumasar kana ngagungkeun jeung milampah sakur parentah gusti Allah nu maha suci ,siliwangi lain carita lain sajarah nu teu aya maknana tapi siliwangi bakal trus aya lamun urang bisa ngabuka jati diri pamasih gusti…

    kanggo dulur2 nu ngangken ti trah siliwangi sok atuh jadikeun Kujang(kkukuh kana jangji) teh ceukelan hirup sangkan bisa jadi Maung.maung(manusia Unggul)nu bakal mawangi sahingga siliwangi bakal trus jaya,..hapunten sanes rek ngajarkeun ngojay kabebek lain rek nyanyahoanan tapi ngan saukur ngedalkeun nu aya na hate. wallahu alam bissawab,,laa ilmalana illa ma allamtana…..wassalam ki sunda nu sanes sasaha

  23. 2 Februari 2014semarbratasena Tinggalkan komentar Sunting

    Sanghyang Sira Dan Batu Quran Dalam Renunganku

    Kalayan dimimitian ku Bismillahirrahmanirrahiem kaula bade saeutik cumarita perkawis sanghyang sira katut batu quran nu aya di UK hampura bilih kin dina tulisan kaula aya nu teu sesuai sareng pendapat pembaca sadayana,bilih aya nu lepat nyuhunkeun dihapunten sebab kaula jalmi biasa nu teu luput tina salah sinareng khilaf.

    sanghyang sira,batu quran dan 7 sumur yang ada di ujung kulon pada perkembangannya dikaitkan erat dengan babad prabu siliwangi,kian santang ,sayyidina Ali dan beberapa tokoh lainnya,termasuk syekh mansyur cikaduen banten yang diriwayatkan membuat reflika batu quran lengkap dengan ke 7 sumurnya dicikaduen.
    lihat selengkapnya di semarbratasena@wordpress.com

    • Assalammualaikum,
      pada tanggal 05 februari 2014, kakak sama om saya beserta rombongan yang berjumlah 19 orang pergi ke sanghyang sira, tapi dalam perjalan pulang tanggal 9 Februari 2014 mereka terkena musibah. Kapal nelayan yang mereka tumpangi sekitar jam 19.30 – 20.00 tiba2 diterjang angin puting beliung. Dari cerita orang yang selamat kejadiannya begitu cepat dan tiba2 ombak besar membuat ada 4 orang yang tercebur kelaut. Akhirnya ke 4 orang tersebut hilang, setelah itu dilakukan pencarian dan baru diketemukan hari senin siang sekitar jam 1 siang. Diantara korban itu ada kakak sama om saya, tidak terbayang ketika keluarga kami mendengar berita tersebut. Dalam 1 hari kami langsung kehilangan 2 orang yang kami sayangi. Saya antara percaya dan tidak percaya, memang takdir sudah ada ditangan Allah, kita hanya tinggal menunggu giliran. Tapi ada yang masih mengganjal perasaan saya, ada apakah dibalik ini semua? apakah ini wajar? Saya cuma mau share aja, siapa tau ada yang bisa menjelaskan rasa penasaran saya ini.
      Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s