Prabu Siliwangi Benar-Benar Turun Gunung

Tulisan bersambung dari Prabu Siliwangi Turun Gunung

Keesokan harinya minggu tepat jam 07.00, kami melakukan ziarah ke makam utama yang ada di gunung Simpay yaitu makam/petilasan Prabu Tajimalela pendiri kerajaan Sumedang Larang. Prabu Tajimalela adalah anak tunggal dari Eyang Aji Putih yang merupakan pendiri kerajaan Galeuh Pakuan.

Sebetulnya saya ingin sekali naik ke puncak gunung Simpay karena sudah hampir 8 tahun saya tidak pernah lagi mengunjungi makam/petilasan Prabu Tajimalela. Tetapi Uyut berpendapat lain, beliau menyuruh saya untuk tetap tinggal di Padepokan untuk mengurus dan mengawasi persiapan acara Maulid Nabi SAW. Disamping itu saya ditugaskan untuk menemani para tamu yang datang ke padepokan. Kelihatannya mudah tetapi berat dalam menjalankannya karena perlu ada ilmu dan pengalaman lebih untuk mengetahui pernak-pernik budaya Sunda dalam menyambut acara Maulid Nabi SAW.

Sejak jam 09.00 WIB, panggung telah siap dengan peralatan musik tradisional sebagai pengiring tarian dan lagu-lagu tradisional Sunda. Sinden, para penari dan pemain musik mulai sibuk mempersiapkan diri. Sementara itu petasan sepanjang 5 meter telah diikatkan di atas pohon karena nantinya akan diledakkan tepat rombongan Uyut yang baru pulang ziarah mau memasukki padepokan. Alhamdulillah semuanya sudah sesuai dengan rencana.

Petasan penyambutan (foto pribadi)

Tepat jam 12.30, satu persatu anggota rombongan tiba di ujung jalan sekitar 200 meter dari pintu masuk padepokan. Belum tampak Uyut dan rombongan besarnya tiba. Namun beberapa menit kemudian ada aba-aba untuk segera mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan rombongan dan ini menjadi tugas Pak Singgih selaku orang yang paling tua diantara kami yang tidak turut ziarah.

Pak Singgih dkk sebagai penyambut kedatangan Uyut dan rombongan (foto pribadi)

Pak Singgih dan aparat Polsek Cibugel (foto pribadi)

Memang Maulid Nabi SAW tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya tidak ada penyambutan rombongan Uyut yang baru pulang dari ziarah sebelum memasuki pintu padepokan. Awalnya saya kurang mengerti dengan adanya tambahan acara ini tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari Uyut maka saya mengerti maksud penyambutan tersebut. Rupanya ada sesuatu yang istimewa.

Menjelang 100 meter menuju padepokan, tiba-tiba petasan diledakkan dan suaranya menggema kemana-mana. Alunan musik tradisionalpun dibunyikan. Tampak sekali suasana semarak dan magis. Tiba-tiba dari pintu padepokan keluarlah Ki Lengser dan Ambu untuk menyambut Uyut dan rombongannya. Dengan sedikit berpantun dalam bahasa Sunda, Ki Lengser (diperankan oleh seorang penari pria) memberikan sebuah penggambaran tentang suka citanya rakyat dan kerajaan Galeuh Pakuan menyambut kepulangan seorang raja yang habis bertapa atau lama pergi melanglang buana. Banyak adegan lucu Ki Lengser dan Ambu yang membuat saya tertawa.

Uyut dan rombongan ziarah (foto pribadi)

Ki Lengser memberikan penghormatan (foto pribadi)

Ki Lengser (foto pribadi)

Saya pikir ini hanya sebagai fragmen dari sebuah cerita sejarah jaman dulu. Ternyata perkiraan saya salah. Tiba-tiba Uyut tertawa terbahak-bahak dan suaranya telah berubah seperti suara seorang raja yang gagah perkasa sakti mandraguna. Suara tawanya keras sekali dan terdengar sampai radius 50 meter. Rupanya Uyut keancikan yaitu keancikan Prabu Tajimalela, Prabu Siliwangi pertama. Dari tatapan matanya saja sudah jelas ketegasan dan kewibawaan. Nyata sekali suasana mistis dan bulu kudukpun ikut berdiri.

Ki Lengser dan Ambu (foto pribadi)

Punggawa Kerajaan dengan payung agungnya (foto pribadi)

Uyut dan rombongan yang telah dipayungi (foto pribadi)

Di depan pintu padepokan telah berdiri punggawa istana dengan membawa payung agung dan diiringi oleh 4 orang hulubalang. Kemudian merekapun segera mendekati Uyut yang masih keancikan untuk memayunginya. Selanjutnya tiga orang penari perempuan cantik yang berpakaian seperti puteri raja menari dihadapan Uyut yang dianggap sebagai raja.

Para penari yang cantik menyambut kedatangan Uyut dan rombongan (foto pribadi)

Menuju masuk ke Padepokan (foto pribadi)

Sungguh sebuah pengalaman luar biasa yang saya peroleh dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Unsur budaya Sunda jaman dulu yang digabungkan dengan unsur keislaman jaman sekarang. Intinya adalah selalu mengingat sejarah masa lalu dan ambil hikmahnya untuk kehidupan yang akan datang yaitu sebagai makhluk Allah SWT maka kita harus bisa rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta).

Selanjutnya Uyut dan rombongan dituntun masuk ke dalam padepokan yang seolah-olah sebagai istana kerajaan. Dalam keadaan keancikan Uyut duduk di kursi kerajaan dan tampak tatapan mata beliau memperhatikan orang-orang yang hadir di dalam ruangan padepokan. Dengan menggunakan bahasa Sunda, Uyut memberikan wejangan kepada kami dan mendoakan agar hidup kami menjadi lebih baik daripada saat ini. Intinya adalah Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dunia dan akherat. Amin.

Uyut dan kursi kerajaan (foto pribadi)

Panggung hiburan (foto pribadi)

Setelah mendoakan kami, satu per satu dari kami memberikan penghormatan ala jaman dulu kepada Uyut yang masih keancikan. Kemudian Prabu Siliwangi yang ngancik ke Uyut mengucapkan rasa terima kasih dan mohon pamit meninggalkan kami semua. Beberapa saat kemudian uyutpun tersadar dan kembali normal seperti semula.

berjoget ria (foto pribadi)

Sinden panggung (foto pribadi)

Tari Jaipongan (foto pribadi)

Ini lagi menunggu cechgentong joget hehehehe (foto pribadi)

Sebagai acara penutup maka dipertunjukkanlah tari jaipongan, saweran, ngebodor dan sebagainya layaknya hiburan rakyat jaman baheula. Semuanya bergembira dan saling berinteraksi dalam ikatan silaturahim. Demikianlah acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun ini. Sampai jumpa Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 1432 H.

About these ads

21 pemikiran pada “Prabu Siliwangi Benar-Benar Turun Gunung

  1. Sampoerasoen.
    Niti diri, Niti harti, Niti surti, Niti bakti tur Niti bukti,………bihari ngancik kiwari, kiwari geusan supagi, nyeluk dulur nu sagalur, lawung ka ahung sabale gandrung geus meujeuhna kiwari Siliwangi datang deui ngancik dina usik sajeroning cicing, dina obah sajeroning rasa, nutur tumutur ngawadah di raga raga salira anu ngalaksana papancen hirup didasaran ku asih asuh tur asah na sangkan jadi kawangian bukti ciri putra bangsa anu sajati
    nyaah ka sasama, bela kasakabeh bangsa, ngabakti kalemah cai tur ngawangian dangiang nagri, ku karya anu nyata karasa sarta karumasa ku balarea.
    Baktos ti dulur Padepokan Simpay Galeuh Pakuan. ti tatar Parahyangan.
    Rahayuuuuuuu……..Mardhi ika.
    cag,….Rampes.

  2. Assalammualaikum kang…. Sae pisan acara na…. Abdi teu sependapat… Kalau uyut teh keancikan Prabu Tajimalela…yang benar keancikan sebangsa jin…. Dengan dasar ruh manusia yg telah meninggal dunia jika masuk ke tubuh manusia tidak bisa bicara…. Punten ya kang sanes lancang…hanya mau meluruskan saja….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s