Perjuangan Merah-Putih

Posted on Updated on

indonesia-eats.blogspot.com

Bogel, itulah nama panggilan Wanadi yang diberikan oleh teman-teman seangkatannya. Tubuh kecil, kulit hitam, jawa tulen,  humoris dan anak seorang petani miskin. Pakaian yang dimiliki hanya dua potong baju dan celana dengan warna sepasang merah dan putih. Hari ini baju merah-celana putih, esok baju putih-celana jins  merah. Begitu seterusnya saling berganti-gantian. Tetapi wanadi sangat disukai teman-temannya. Walaupun dari keluarga petani miskin, Wanadi tetap mempunyai cita-cita dan semangat yang tinggi untuk menjadi orang sukses.

Ya, orang sukses. Itulah cita-citaku. Pokoknya sukses hehehe. Begitulah ujar Wanadi kepada teman-temannya. Dengan kesederhanaan dan kebersahajaan itulah, Wanadi masih dapat kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di kota gudeg. Sehari-harinya selesai kuliah, Wanadi bekerja sebagai tukang ketik di kantor dosen. Inilah yang membuat Wanadi tetap bertahan untuk meneruskan kuliahnya.

Siang itu, dari tingkat dua terdengar suara teriakan dari lantai dua gedung perkuliahan pada saat Wanadi berjalan di tengah lapangan.

” Suit suit suit ada artis lewat ” teriakan orang-orang di lantai dua tersebut.

Wanadi meneruskan jalannya dan mengabaikan teriakan penghinaan tersebut. Wanadi hanya tersenyum kecut karena mengerti kalau orang-orang yang meneriakinya itu merasa kagum atas keberaniaannya memakai baju dan celana yang unik. Saat itu Wanadi memakai baju putih dan celana jins merah. Kejadian tersebut terus terjadi setiap hari pada saat Wanadi melewati lapangan.

” Uedan tenan, tuh wong.  Ora isin hihihihihi baju putih dengan celana jins merah ” cibir mahasiswa-mahasiwi yang melihatnya.

Demi cita-citanya untuk menjadi orang sukses yang sebetulnya Wanadi tidak tahu sukses yang seperti apa tapi Wanadi tidak pernah memikirkan ejek-ejekan tersebut.  Inilah diriku yang sebenarnya dalam hati Wanadi.

Awal bulan tiba, Wanadi tetap beraktifitas seperti biasa, yaitu kuliah, kuliah dan kuliah walaupun dia mengerti kalau dirinya sudah tidak punya uang lagi di sakunya. Sementara ibu kos sudah mulai ingin “bercinta” dengannya. Wanadi sangat mengharapkan adanya kiriman uang  dari kampung.

” Wanadi, namamu ada di pengumuman bagian administrasi ” ujar temannya.

” Oh ya terima kasih ” jawab Wanadi dengan wajah ceria.

Beberapa saat kemuadian,

” Kamu, wanadi ? ” tanya bagian administrasi.

” Ya, saya Wanadi, Pak ” jawab Wanadi

” Ini ada wesel dari Boyolali “

” Alhamdulillah. Terima kasih Pak “

Wanadi segera keluar ruangan dan berjalan menuju taman di kampusnya. Setelah memperhatikan wesel tersebut, Wanadi langsung terdiam membisu. Ternyata wesel tersebut tidak bertuliskan angka rupiah kiriman Bapaknya di Boyolali tapi sekumpulan kata dalam bentuk kalimat di kolom pesan yang berbunyi :

” Wanadi, anakku. Bulan ini Bapak tidak bisa mengirimkan uang karena panen kali ini gagal total akibat terserang hama wereng. Bapak minta maaf dan mengerti kalau  kamu adalah anak yang baik.  “

***************************

Flash Fiction ini dipersembahkan untuk seorang teman yang telah berhasil menyelesaikan  program  studi pasca sarjana  (S-3) di sebuah perguruan tinggi negeri di kota “Indonesia Mini”

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s