aji putih

Kekuatan Sebuah Amanah

Posted on Updated on

Sosok Wanardi (koleksi pribadi)

Perjalanan kedua saya ke Sanghyang Sirah kali ini memang agak berbeda. Berbeda dengan yang pertama yang lebih banyak jalan-jalannya alias wisata. Tapi yang kedua ini lebih kepada kontemplasi diri karena tinggal disana selama 10 hari yang disertai dengan 7 hari berpuasa.

Saya tidak akan mengupas tentang kontemplasi diri tapi ingin menceritakan seorang pemuda sederhana yang saya temui di Sanghyang Sirah. Namanya singkat yaitu Wanardi. Pemuda lajang berusia 37 tahun asal desa Kapetakan Pegagan, Cirebon dengan perawakan seperti orang Indonesia umumnya yaitu kulit sawo matang, rambut lurus, tinggi normal dan selalu berpakaian layaknya seorang santri di sebuah pesantren.

Bicara pesantren maka ini ada hubungannya mengapa Wanardi bisa berada sendirian di Sanghyang Sirah. Sebagai seorang santri sebuah pesantren di Banten, sebenarnya Wanardi sedang menjalankan amanah yang diberikan oleh Kyainya. Pada awalnya Wanardi berpikir amanah tersebut bukan ditujukan kepadanya karena saat itu Kyainya mengatakannya di dalam sebuah forum diskusi di pesantren. ” Suatu saat saya menginginkan ada satu saja santri saya yang mau berdiam diri di Sanghyang Sirah selama 40 hari “

Entah bagaimana ceritanya, pada suatu hari Wanardi bermimpi dipanggil oleh Kyainya untuk menghadap dan benar saja beberapa hari kemudian Sang Kyai memanggilnya dan memberikan sejumlah uang untuk menyuruhnya berangkat ke Sanghyang Sirah pada keeokan harinya. Tanpa persiapan dan buta tentang Sanghyang Sirah, Wanardi pergi pagi-pagi sekali. Demi menghemat uang pemberian Sang Kyai, kadang-kadang pemuda ini melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Karena keterbatasan informasi dan petunjuk seadanya dari Sang Kyai maka Wanardi sempat kesasar ke daerah Cikeusik. Di Cikeusik Wanardi beristirahat selama sehari dan mulailah ada perasaan ragu-ragu atau mau dikatakan menyerah karena mulai menipisnya uang dan perbekalan yang ada. Apalagi setelah mendapatkan informasi dari penduduk Cikeusik yang mengatakan perjalanan menuju Sanghyang Sirah membutuhkan waktu sampai 3 hari dan butuh perbekalan yang memadai serta kesiapan fisik dalam menghadapi medan yang akan ditempuh.

Dengan alasan kesiapan fisik dan perbekalan, akhirnya Wanardi memutuskan untuk membatalkan perjalanan pertamanya ke Sanghyang Sirah dan kembali ke pesantrennya. Sesampainya di pesantren, Wanardi langsung menemui Sang Kyai dan mengutarakan alasan kegagalannya ke Sanghyang Sirah. Sang Kyai hanya tersenyum dan tidak marah setelah mendengar alasan Wanardi. Kemudian Sang Kyai menyuruhnya untuk istirahat dan akan memanggilnya kembali pada kesempatan yang lain. Wanardi tampak merasa bersalah dan menyesal telah mengecewakan Sang Kyai yang sangat dihormatinya.

Beberapa hari kemudian, seorang Santri menyerahkan sebuah surat kepada Wanardi. Ternyata surat dari Sang Kyai yang isinya adalah menyuruh Wanardi pulang ke kampung menemui orang tuanya dan menyuruhnya kembali melakukan perjalanan ke Sanghyang Sirah setelah mendapatkan doa restu dari orang tuanya serta boleh bertemu kembali dengan Sang Kyai setelah melaksanakan amanahnya. Selain surat, Sang Kyai juga menitipkan sejumlah uang sebagai bekal perjalanan.

Setelah mendapatkan restu dari orang tua dan persiapan yang lebih matang, dari kampung halamannya Wanardi melakukan perjalanan ke Sanghyang Sirah . Perjalanan sendirian ke daerah yang masih asing baginya sempat membuatnya ketar ketir tapi kembali lagi dengan kekuatan moral dari orang tua, Sang Kyai dan lebih utama lagi keyakinannya kepada Allah SWT maka perjalanan masuk hutan Taman Nasional Ujung Kulon dapat dilaluinya dengan baik. Walaupun dalam perjalanan Wanardi banyak menemui binatang-binatang buas tapi semuanya baik-baik saja.

Wanardi sempat bercerita sewaktu menyeberangi sebuah sungai di Cibunar yang saat itu sedang deras dan dalam akibat hujan di hulu. Dengan perasaan was-was karena dalamnya air sungai sampai sebatas leher dan masih banyaknya buaya di sungai tersebut akhirnya dapat dilalui dengan selamat. Kemudian Wanardi pernah bertemu dengan sekumpulan banteng yang menurutnya seperti ingin mengejarnya tapi kembali lagi tidak terjadi apa-apa. Dan masih banyak pengalaman yang dialaminya.

Di Sanghyang Sirah Wanardi mulai menjalankan amanah Sang Kyai untuk berdiam diri selama 40 hari. Awalnya berlangsung lancar tetapi memasuki hari ke-17 Wanardi terkena malaria. Dengan kondisi sakit akhirnya Wanardu nmemutuskan untuk pulang ke kampung halamannya kembali. Selama 6 bulan Wanardi dirawat di rumah sakit dan hanya pasrah saja menerima cobaan tersebut.

Tiga bulan setelah keluar dari rumah sakit, Wanardi memutuskan untuk kembali ke Sanghyang Sirah dengan uang perbekalan dari koceknya sendiri setelah sempat kerja sambilan untuk mengumpulkan uang untuk biaya ke sana. Wanardi terus beristiqomah agar dapat memenuhi amanah Sang Kyai. Akhirnya Wanardi bisa berangkat juga walaupun orang tuanya sempat kuatir dengan kondisi anaknya. Tetapi Wanardi terus menjelaskan kepada orang tuanya tentang makna sebuah amanah dari seorang yang sangat dihormatinya dan ini harus dipenuhi sehingga tidak menjadi beban hidup di akhir hayatnya.

Keraton Nyai Mas Mayang Sari (koleksi pribadi)

Tepat hari kedatangan saya dan rombongan di Sanghyang Sirah merupakan hari ke-8 Wanardi tinggal di sana. Dengan kesederhanan dan kesopanan sikap yang ditunjukkannya maka membuat semua orang menyukainya Wanardi banyak cerita tentang banyak hal mengenai Sanghyang Sirah terutama pengalaman spiritualnya selama di Sanghyang Sirah. Beberapa kesempatan Wanardi sering ditemui oleh penampakan gaib seorang Syekh yang menurutnya adalah Syekh Malkan yang selalu membimbingnya untuk melakukan kontemplasi diri. Selain itu ada beberapa penampakan gaib lainnya seperti Eyang Aji Putih, Ibu Nyai Mayang Sari, Eyang Prabu Tajimalela, Ibu Ratu Sejagat dan lain-lain yang memberikan bimbingan spiritual kepada Wanardi. Baginya tinggal di Sanghyang Sirah tidak seperti tinggal sendirian tapi banyak yang menemaninya dan mengajari/membimbingnya untuk mengenal jati diri seorang manusia. Sebuah pengalaman yang luar biasa menurut saya dan mungkin bagi orang awam, Wanardi dianggap manusia tidak normal atau tidak waras karena mau menjalankan kehidupan seperti itu. Kembali lagi bagi Wanardi adalah sebuah amanah Sang Kyai yang menginginkan santrinya menjadi manusia yang tawadu sehingga kuat dan tegar dalam menjalani hidup di dunia yang fana ini.

Menjelang hari terakhir kepulangan, saya sempat bertanya dan membujuknya untuk pulang bersama kami tetapi ditolak secara halus karena tugas mengemban amanahnya belum selesai. Saat ditanya apa yang akan dilakukan setelah selesai menjalankan amanahnya maka Wanardi menjawabnya akan segera menemui Sang Kyai untuk menceritakan segala hal yang dialaminya dan mungkin pulang kampung dulu. Semuanya Wanardi serahkan kepada keputusan Sang Kyai. Luar biasa taatnya seorang Wanardi kepada Sang Kyai. Kekuatan sebuah amanah yang membentuk pribadi Wanardi menjadi manusia yang mempunyai prinsip hidup yang kuat.

Pemandangan Sore Hari di Sanghyang Sirah (koleksi pribadi)

MENGUNGKAP SIAPA SEBENARNYA IBU RATU KIDUL : MANUSIA ATAU SILUMAN?

Posted on Updated on

Kalau kita mendengar ratu kidul langsung terbayang hal-hal mistis, merinding badan kita, musrik dan tidak masuk akal. Sebelum saya cerita siapa sebenarnya beliau perlu diketahui dulu bahwa Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT paling mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk-makhluk ciptaan ALLAH lain sekalipun malaikat.


Siapa Ibu Ratu Kidul? Kita kembali ke pada jaman dulu (jaman Hindu/Nabi Sis AS) tepatnya jaman
Aji Saka, Aji Sakti dan Aji Putih. Ketiganya adalah kembar dan putra dari Raja Sungging Perbangkala dengan Ibu Ratu Dewi Arumba kerajaan dari India dekat Sungai Yamuna. Setelah meningkat dewasa ketiganya mempunyai kesaktian dan kepandaian yang setara sehingga membuat Raja melakukan sayembara kepada ketiganya untuk memperebutkan pusaka Kembang Cangkok Wijaya Kusuma yang selalu diikuti oleh pusaka Cakra Bijaksana dan Tiwi Krama. Siapa yang mendapatkan pusaka itu akan ditunjuk menjadi Raja. Oleh Patih Kerajaan, Patih Abiyasa yang sakti pusaka kembang cangkok wijaya kusuma dilempar jauh-jauh. Akhirnya ketiga putra raja mengejar pusaka itu dengan kesaktian mereka masing-masing.


Sampailah pada satu masa dan tempat dimana pusaka uitu ternyata jatuhnya di sekitar Nusantara tepatnya di pulau Jawa. Setelah berbulan-bulan mengejar akhirnya mereka tiba di pulau Jawa.


Singkat cerita seiring dengan waktu, ternyata yang menemukan pusaka itu adalah Aji Putih (bungsu). Dengan sikap yang elegan dan tenang disampaikanlah penenemuannya kepada Aji Sakti (tengah) dan dikatakan oleh Aji Sakti bahwa ini adalah kehendak Sang Hyang Wenang (Tuhan bahasa sekarangnya). Tiba-tiba datanglah Aji Saka (sulung) dengan nafsunya dan cenderung iri merebut pusaka itu dari Aji Putih tetapi ditahan oleh Aji Sakti sehingga tetap dipegang oleh Aji Putih. Pada saat itu Aji Putih mengatakan kalau memang kakak sulungnya memang menginginkan pusaka akan diberikan. Aji Saka mengatakan itu memang hak dia sebagai kakak tertua tetapi ditolak ole Aji Sakti dengan mengatakan sesuai dengan pesan dan janji dari ayahanda bahwa yang menemukan pusaka akan dijadikan raja maka Aji Putihlah yang berhak menjadi Raja.


Aji Saka terus beragumen dan tetap menginginkan pusaka tetapi selalu dibantah oleh Aji Sakti sehingga terjadilah perang mulut dan perang fisik diantara keduanya sementara Aji Putih tetap pasrah dan ikhlas. Disini ditunjuukkan bahwa pasrah dan ikhlas yang tawadu pasti menuai hasil yang baik.


Perang antara kakak-adik terus terjadi tidak ada yang menang dan yang kalah sampai waktu bertahun-tahun sampai berabad bahkan sekarang.Karena bosan berperang, Aji Saka akhirnya pergi ke timur tepatnya daerah Banyuwangi (Alas Purwo). Disitulah Aji Saka merintis dan mendirikan kerajaan secara turun menurun mulai dari Daha, Kediri, Singasari, Majapahit sampai Mataram. Ingat like father like son, sifat iri dan gila kekuasaan selalu menyertai perjalanan anak cucu Aji Saka sehingga kita dapat menyaksikan sejarah perebutan kekuasaan Ken Arok-Tunggul Ametung, Tribuana Tunggal Dewi sampai kerajaan Mataram menjadi dua Yogyakarta dan Surakarta bahkan sekarang keraton Surakarta sempat pecah memperebutkan kekuasaan mnjadi Mangkunegaran.


Bagaimana dengan Aji Putih? Aji Putih bersama turunannya mendirikan kerajaan Galeuh Pakuan sedangkan Aji Sakti mendirikan kerajaan Pajajaran yang sebenarnya hanya seolah-olah.Maksudnya mendikan kerajaan tetapi tidak menjadi raja 9jadi Pandita) dan selalu melindungi adiknya dari serangan Aji Saka.


Hubungannya dengan Ratu Kidul? Aji Sakti mempunyai 2 anak yaitu
Dewi Sri Pohaci (sering dipanggil Cinde Maya) dan Jaka Manggala. Karena kecantikan Dewi Pohaci, banyak pria terutama kaum bangsawan menginginkannya menjadi calon istri mereka sehingga dibuatlah sayembara oleh Aji Sakti siapa yang dapat mengalahkan kesaktian Jaka Manggala maka akan ditunjuk sebagai suami Dewi Sri Pohaci. Seiring waktu, kesaktian Jaka Manggala tidak dapat dikalahkan oleh pria manapun sehingga membuat Dewi Sri Pohaci merenung dan sedih memikirkan nasibnya. Kalau begini terus bisa bisa gue nggak kawin-kawin nih (dalam hatinya). Sikap Dewi Sri Pohaci inilah membuat Jaka Manggala merasa bersalah tetapi dia sangat mencintai kakaknya sampai kapanpun.


Setelah merenung dan berpikir, Jaka Manggala memutuskan akan menghilang dari hadapan Dewi Sri Pohaci agar dapat menikah dengan pria idamannya dengan syarat dia menhilang tapi tidak jauh dari kakaknya. Caranya? Dengan kesaktiannya, Jaka Manggala masuk ke dalam kemaluan Kakaknya sampai ditemukan calon suami yang ideal buat kakaknya.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, sampai abad berganti abad, masuklah masa Islam di tanah Jawa. Suatu hari Wali Songo memanggil Panembahan Senopati untuk memberitahukan peristiwa besar yang akan dialami oleh Panembahan Senopati. Dikatakannya Panembahan Senopati akan menemukan calon istrini yang ideal tetapi ada petunjuk buat dia bahwa setelah menikah Panembahan Senopati dilarang untuk melakukan hubungan badan dengan istrinya selama 40 hari dan selama itu melakukan shalat Tahajud dengan amalan yang telah ditentukan.


Benar saja, suatu hari ketika berburu di hutan, Panembahan Senopati bertemu seorang wanita yang sangat cantik sekali dan dia sangat terpesona akan tutur bahasanya yang santun. Akhirnya wanita itu diajaklah ke kediaman beliau karena ternyata wanita itu tinggal seorang diri di hutan. Beliau mengabarkan kepada para wali apakah ini calaon istri yang ideal. Ternyata benar dan menikahlah keduanya tetapi Panembahan Senopati tidak lupa akan amant para wali selam 40 hari melakukan amalan dari para wali.


Pada hari ketiga terjadilah peristiwa yang akan mengubah tatanan dan sikap masyarakat Jawa terhadap pantai Selatan. yaitu ketika sedang wirid tepat di samping kelambu istrinya tiba-tiba Panembahan Senopati melihat seorang pria ada dalam kelambu itu. Ternyata pria di dalam kelambu itu tidak lain dan tidak bukan adalah Jaka Manggala, adik dari istrinya yaitu Dewi Sri Pohaci (berganti nama menjadi Cinde maya pada jaman itu). Rupanya Jaka Manggala keluar dari kemaluan kakaknya karena tidak kuat lagi menahan panasnya energi yang keluar dari setiap ayat Qur’an yang diwiridkan oleh Panembahan Senopati.


Panembahan Senopati sempat berpikir apakan istrinya telah berbuat serong dan dikejarlah Jaka Manggala tetapi dengan kelihaiannya berhasil melarikan diri dengan cepatnya tanpa bisa dikejar oleh Panembahan Senopati. Ketika kembali ke kediaman Panembahan, ternyata Cinde Maya sudah tidak ada di kamarnya dan kelihatan melarikan diri juga karena merasa malu kepada Panembahan Senopati yang sudah dianggapnya sebagai pria dan suami yang baik dan beriman. Akhirnya dengan tergopoh-gopoh Cinde Maya sampailah di tepi jurang di Pantai Selatan dengan maksud bunuh dri ketika akan menceburkan diri, ada seorang pria yang memegang pundaknya sehingga selamatlah Cinde Maya. Siapakah Pria itu?


Pria itu adalah
Nabi Khidir AS, dengan suara yang lantang ditegur dan dimarahilah Cinde Maya dengan mengingatkan bahwa sebagai manusia yang melakukan tindakan bunuh diri adalah dosa besar dan tidak diampuni oleh ALLAH SWT dan jaminannnya adalah neraka. Sambil menangis, Cinde Maya mengatakan apa yang harus dilakukan untuk menutupi aib itu. Oleh Nabi Khidir AS itu bukan aib tapi itu adalah takdir ALLAH SWT, atas seijin ALLAH, Nabi Khidir menawarkan kepada Cinde Maya untuk tinggal di Laut Selatan (alam gaib) sekaligus bertugas menjaga harta warisan Nabi Sulaeman AS (Nabi terkaya) dan juga ikut melestarikan alam lingkungan sepanjang pantai selatan Jawa. Cinde Maya menyetujuinya hingga sekarang masih menetapi laut selatan yang dikenal dengan Ibu Ratu Kidul.


Pertanyaannya adalah siapa sebenarnya yang selama ini digambarkan dengan wanita cantik pada lukisan dan kemunculan di sekitar laut selatan? Wanita itu adalah Nyi Blorong, siluman yang merupakan panglima dari Ibu Ratu Kidul dengan sifat yang kurang baik seperti tidak ingin disamakan dengan manusia baik pakaian, fisik dan lain sebagainya, Kalau di darat dikuasai oleh Centing Manik (SIluman) sedangkan di pantai Utara Jawa dikuasai Dewi Lanjar (siluman).


Jadi kesimpulannya adalah Ibu Ratu Kidul adalah manusia juga yang mengalami proses penuaan fisik dan karena Kun Faya Kun-nya ALLAH, beliau dapat berada di dua alam serta selalu melindungi anak cucunya. Begitulah ceritanya, jadi sebagai manusia , kita tidak boleh takut pada hal-hal mistik, klenik dan lain sebagainya apalagi jin dan setan tetapi yang kita takutkan adalah diri kita sendiri dalam mengendalikan nafsu manusia. Haya min autiha ka bada min sahadati (bahasa ibrani: ingat akan adat kita yang sah sebagai manusia) mudah-mudahan bermanfaat dan terus tingkatkan ibadah kepada ALLAH SWT dan bermanfaat bagi manusia dan alam sekitarnya.