Cechgentong

Antara Renang dan Pemilu Indonesia 2014 di Fiji

Posted on Updated on

Hampir 5 bulan lamanya, saya tidak bersentuhan dengan kolam renang karena kesibukan mengurus pekerjaan dan persiapan pemilu legislatif 2014. Aktifitas akhir pekan itu terabaikan dan setelah perlehatan pemilu selesai, saya mulai merasakan napas tersengal-sengal dan pegal-pegal sekujur badan.

Hari ini Sabtu 12 April 2014, pagi hari sekali saya memutuskan untuk olahraga renang kembali. Dengan menggunakan taksi, saya berangkat ke kolam renang kebanggaan masyarakat Fiji yaitu Damodar City Aquatic Centre. Kolam renang terletak dalam satu kompleks venue olahraga dan berdekatan sekali dengan Vodanfone Arena.

13972617521263259062

13972622711213229975

???????????????????????????????

1397262358512992485

Ada yang berbeda suasana hari ini di kolam renang. Biasanya pagi hari baru 2-3 orang yang melakukan aktifitas renangnya. Tetapi hari ini begitu banyak orang memenuhi kolam renang dan menariknya masuk ke dalam kolam renang tanpa bayar alias gratis. Lumayanlah 5 FJD tidak keluar dari dompet saya.Rupanya ada pertandingan renang antar klub se Fiji.

Setelah 2 menit melakukan pemanasan, barulah saya terjun ke kolam renang sambil adaptasi lagi dengan air di kolam renang tersebut. Untungnya kolam renang dimana saya biasa berenang bukanlah kolam renang utama. Jadi saya leluasa melakukan berbagai gaya renang walaupun sebagai gaya dada, bebas dan punggung. Jarak 25 meter pertama saya lewati dengan napas tersengal-sengal. Beginilah kalau sudah lama tidak berenang. Tetapi selanjutnya saya sudah bisa mengatur ritme napas dengan aman dan tanpa terasa 10 putaran terlampaui. Cukuplah 10 putaran hari ini sebagai awal yang baik setelah lama tidak berenang.

Setelah itu saya pergi ke ruang bilas dan ganti pakaian, Karena tidak membawa barang banyak maka tidak membutuhkan waktu lama dan masih bisa disambi dengan mengambil gambar suasana kolam renang hari ini.

Seperti biasa sehabis berenang, perut terasa keroncongan dan tanda harus segera diisi dengan sarapan pagi. Masih dalam lingkungan kolam renang, saya menuju cafe yang ternyata baru diresmikan beberapa minggu lalu. Dengan suasana rumah panggung saya segera memesan Chicken Pie dan Coffee Latte. Karena saya pikir kedua menu tersbut cukup untuk mengisi perut kosong dan dapat menemani aktifitas membaca koran hari ini yang kebetulan terletak di meja makan saya. Sambil menikmati Latte dan Chicken sesekali saya membaca koran pertama yaitu Fiji Times dan tanpa terasa satu koran lahap dibaca. Berikutnya adalah Fiji Sun, saya pikir beritanya tidak jauh berneda dengan dengan Fiji Times yang hari ini lebih banyak memberitakan tentang Perdana Menteri Fiji yang melakukan Road Show keliling Vitilevu dengan bus untuk memperkenalkan partai baru bentukannya dalam rangka menghadapi Pemilu di Fiji pada bulan September 2014 ini.

1397261658727751433

Betapa kagetnya saya ketika melihat berita di rubrik World News dimana ada gambar Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dengan judul ” Opposition Leads Poll”. Rupanya Fiji Sun memberitakan suasana terakhir hasil pemungutan suara Pemilu Legislatif 2014 di Indonesia. Tumben, pikir saya karena jarang sekali Media Massa di Fiji memberitakan tentang Indonesia hampir satu kolom besar. Dalam berita tersebut diceritakan tentang partai oposisi pemerintah yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk sementara memimpin pengumpulan suara sekitar 19 persen untuk mengisi total 560 kursi di parlemen. Selain itu disebutkan juga peluang capres dari PDIP yaitu Gubernur DKI Jakarta Jokowi dalam pemilihan presiden pada bulan Juli mendatang. Dan pada kalimat terakhir disebutkan penurunan suara partai pemerintah yaitu Partai Demokrat pimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono yang hanya menempati posisi ke-4. Wow sesuatu banget berita Fiji Sun hari ini. Semoga dengan berita pemilu di Indonesia yang berjalan lancar dapat menjadi contoh bagi Fiji yang akan melaksanakan pemilihan parlemen dan perdana menteri untuk pertama kalinya dengan konstitusi yang baru setelah 8 tahun dipimpin oleh pemerintahan militer yang tanpa parlemen.

Indonesia Raya Menggema Saat Pemungutan Suara Di Lautoka, Fiji

Posted on

Seorang ABK menunjukan jari kelingkingnya sebagai bukti telah mencoblos (dok.cech)
Seorang ABK menunjukan jari kelingkingnya sebagai bukti telah mencoblos (dok.cech)

Perlehatan Pemilu Legislatif baru saja berlangsung kemarin dan untuk sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan  (PDIP) unggul suara berdasarkan quick count beberapa lembagai survey. Tetapi saya tidak akan menyinggung tentang siapa yang meraih suara terbesar atau terkecil.

Sebagai anggota Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Perwakilan  Suva, Republik Fiji banyak pelajaran dan pengalaman menarik yang diperoleh selama proses pemungutan suara. Perlu diketahui, secara geografis Fiji mirip dengan Indonesia sebagai negara kepulauan sehingga hasil laut merupakan sumber devisa utama bagi Fiji. Uniknya sebagian besar pelaut atau anak buah kapal yang bekerja di kapal penangkapan ikan berasal dari Indonesia. Keluar masuk kapal penangkapan ikan yang berlabuh di King Wharf, Suva atau Port Lautoka, Lautoka berpengaruh terhadap pendataan Warga Negara Indonesia (WNI) yang mempunyai hak politiknya untuk turut aktif dalam pencoblosan.

Berdasarkan Daftar Pemilih Tetap yang telah ditetapkan oleh PPLN Suva adalah 452 orang. Sebagian besar pemilih adalah anak buah kapal. Ini kesulitan, pada saat dilakukan pendataan ulang ternyata sebagian besar pemilih tetap  sudah meninggalkan Fiji. Namun yang berlabuh ke pelabuhan Fiji hampir sama besarnya. Perlu diketahui waktu penangkapan ikan dilakukan selama 100  hari kemudian kembali ke Fiji untuk bongkar hasil tangkapan. Istirahat selama beberapa hari, mereka kembali lagi melaut. Kalau waktu berlabuhnya bersamaan dengan jadwal pemungutan suara maka akan terpenuhinya Daftar Pemilih Tetap . Tapi ini sukar diprediksi.

Dengan situasi dan kondisi pemilih yang ada di Fiji maka 3 hal yang bisa dilakukan dalam pemungutan suara kali ini. Yang pertama melalui pemungutan suara langsung ke TPS, kedua jemput bola ke lokasi pemilih berada atau istilahnya dropbox dan ketiga melalui surat. Pemungutan suara melalui surat dilakukan kepada pemilih yang tidak memungkinkan untuk datang ke TPS karena pekerjaan tidak dapat ditinggal atau tidak mendapat ijin dari pemilik perusahaan, lokasi tempat tinggal yang sangat jauh dan membutuhkan waktu lama seperti beberapa pemilih yang tinggal di Cook Islands dan lain-lain.

Kebetulan saya dan 2 orang anggota Kelompok Kerja Panitia Pemungutan Luar Negeri (KPPSLN) ditugaskan untuk melakukan pemilihan via drop box. Waktu telah ditentukan yaitu tanggal 3 April 2014. Bukan pekerjaan mudah untuk bisa melakukan drop box ini. Kami melakukan metode jemput bola dari kota-kota yang berada di barat Fiji. Dimulai dari Nadi, ada 3 pemilih yang bekerja sebagai pekerja bangunan. Kami mendatangi booth camp mereka. Sambutan yang ramah dan antusias yang tinggi untuk aktif memilih sangatlah memudahkan pekerjaan kami. Tanpa menunggu waktu yang lama, sudah 3 suara yang masuk ke dalam drop box.

2 anggota KPPSLN melakukan persiapan pencoblosan (dok. cech)
2 anggota KPPSLN melakukan persiapan pencoblosan (dok. cech)
Pendaftaraan Ulang (dok. cech)
Pendaftaraan Ulang (dok. cech)
seorang ABK melakukan pencoblosan di bilik suara (dok. cech)
seorang ABK melakukan pencoblosan di bilik suara (dok. cech)
Tanda sah telah mencoblos (dok. cech)
Tanda sah telah mencoblos (dok. cech)

Berbeda dengan Nadi, di Lautoka kami harus kerja terencana dan berkoordinasi dengan pemilik kapal. Seminggu sebelumnya saya sudah meminta kepada pemilik kapal untuk menyebarkan informasi tentang Pemilu Legislatif via drop box dan dilakukan di kantor pemilik kapal. Alhamdulillah pemilik kapal sangat kooperatif dan mengijinkan salah satu ruang meetingnya  sebagai tempat pencoblosan. Bukan hanya itu saja, pemilik kapal memberikan informasi yang kami butuhkan tentang anak buah kapal Indonesia yang bekerja di Port of Lautoka. Jumlah awal diperkirakan sekitar 61 orang, ternyata anak buah kapal yang hadir berjumlah 64 orang.

Ada cerita menarik pada saat pemungutan suara di Lautoka ini. Sekitar pukul 9 pagi, kami sudah berada di kantor pemilik kapal. Baru saja melakukan persiapan untuk proses pemilihan, ternyata sudah ada 7 orang anak buah kapal di ruang tunggu dan menanyakan kapan pemungutan suara dapat dilakukan. Sesuai dengan prosedur pemilihan maka dilakukan registrasi dan pencocokan data pemilih terlebih dahulu. Setelah itu mereka diperkenankan untuk melakukan pencoblosan.

Kami pikir setelah 7 orang tersebut, maka akan datang gelombang pemilih berikutnya. Ternyata yang terjadi setelah hampir satu jam tidak ada anak buah kapal yang datang. Selidik punya selidik ternyata sebagaian besar pemilih berada di kapal mereka masing-masing yang sedang jangkaran di tengah laut dan lokasinya tersebar di perairan dekat pelabuhan Lautoka. Selain itu mereka juga sedang menunggu perahu boat penjemputan yang memang sebelumnya sudah dipesan oleh pemilik kapal.

. . . .

dok. cech
dok. cech
dok. cech
dok. cech
dok. cech
dok. cech
2014-04-03 08.22.55
dok. cech
2014-04-03 09.08.55
dok. cech

Satu per satu rombongan dalam satu kapal tiba di tempat pencoblosan. Terlihat sekali antusias mereka untuk melakukan pencoblosan. Agar mereka merasa dihargai maka setiap satu rombongan selesai mencoblos maka saya meminta mereka untuk difoto bersama di depan bilik suara sambil menunjukkan jari yang sudah ditandai tinta sebagai bukti mereka telah memilih dengan gaya foto masing-masing. Setelah difoto, mereka meminta untuk diunggah di Facebook (PPLN Suva).

Tanpa terasa jam menunjukkan pukul 1 siang, kami berpikir tidak ada lagi pemilih yang datang. Baru saja ingin rehat sebentar, terdengar dengan jelas nyanyian lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Rupanya ada satu rombongan boat yang mendekati pelabuhan tapi suara nyanyian terdengar menggema sekali. Padahal jarak tempat pencoblosan dalam ruangan dengan pelabuhan sekitar 800 meter tapi jelas terdengar dan menggetarkan hati kami di dalam ruangan. Sungguh semangat Indonesia Raya  telah dipertunjukkan oleh para anak buah kapal untuk turut aktif dalam perlehatan 5 tahunan ini.

Wajah-wajah ceria ditunjukkan oleh mereka yang menyanyikan Indonesia Raya saat memasuki tempat pencoblosan.

” Pokoknya nyoblos Pak “

” Siapapun yang menang, kami sudah ikut berpartisipasi dalam pemilu kali ini “

” Walau kami abk, kami punya peran terhadap nasib bangsa Indonesia “

” Omong-omong si A dari partai mana ya. Kalau B/C/D  dari mana Pak. Kami buta informasi, Pak ” (mereka hanya mengenal sosok capres yang selama ini masuk dalam pemberitaan media nasional dan dugaan saya mereka hanya mau nyoblos partai dimana sosok capres itu berasal)

Dan masih banyak lagi  celetukan mereka.

Tanpa terasa 19 orang dalam rombongan terahir yang telah melakukan pencoblosan dan seperti rombongan sebelumnya kami mengambil foto mereka dengan jari yang sudah ditandai dengan tinta. Selesai sudah pemungutan suara di Lautika dan waktu menunjukan pukul 15.30. Setelah merasa yakin tidak ada lagi pemilih yang datang maka kami segera mengemas barang-barang. Sebelum pulang kami pamit diri dengan pemilik kapal yang banyak membantu dan mau bekerja sama dengan baik.  Itulah hal menarik yang kami dapat selama berada di Lautoka. Ternyata dengan niat baik  untuk membantu penyelenggaraan pemilu legislatif, maka semuanya berjalan lancar dan kami diingatkan kembali tentang arti dan semangat Indonesia Raya yang justru datangnya dari para Anak Buah Kapal Indonesia yang bekerja di Lautoka. Terima Kasih teman-teman ABK Lautoka  dan ingat selalu Jalesveva Jayamahe (Di laut Kita Jaya)…

.

Bijaksanalah Dengan Jari Hantu Kita

Posted on

Boleh percaya atau tidak, setiap manusia memiliki jari hantu.  Jari Hantu ? Ah masak sih ! Ya jari hantu dan itu merupakan berkah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada setiap umat manusia.

Kalau memang ada seperti apa sih jari hantu itu ? Sebelum saya menunjukkan seperti apa wujud jari hantu maka saya hanya mengingatkan satu hal tentang jari hantu bahwa gunakanlah jari hantu tersebut dengan baik dan benar sesuai dengan situasi kondisi kultur suatu tempat. Karena seringkali penggunaan jari hantu bukan pada tempatnya maka akan berakibat fatal. Mulai dari para selebriti dunia, pejabat negeri ini sampai orang awam pernah merasakan efek fatal penggunaan jari hantu yang salah dan bukan pada waktu dan tempat yang benar. Seluruh dunia akan mengutuk dan memaki kita yang salah menggunakan. Sebut saja Adele, seorang penyanyi terkenal asal Inggris yang memiliki suara yang indah dan lagu yang hampir seluruhnya menjadi Top Hits Dunia pernah salah menggunakan jari hantu tersebut. Akibatnya Adele dikecam habis oleh bukan hanya masyarakat tetapi juga sesama rekan seprofesi yang menganggap Adele tidak santun walaupun dikatakan oleh Adele bahwa penggunaan jari hantu tersebut sebagai bentuk protes kepada pembawa acara Brit 2012 yang memotong ucapan terima kasih kepada penggemarnya.

Penyiar berita Rusia yang memberi jari hantunya untuk Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dipecat. Perbuatan penyiar bernama Tatyana Limanova itu dinilai menghina pemimpin top dunia di depan jutaan mata penonton di Rusia. Pesepakbola Klub Arsenal Jack Wilshere harus absen dalam melawan Chelsea dan West Ham gara-gara menunjukkan jari hantunya kepada pendukung Manchester City karena tidak tahan mendengar hinaan pendukung Manchester City terhadap anak-anaknya. Aksi ini dinilai sebagai penghinaan kasar dan asosiasi sepak bola Inggris, FA menghukum Wilshere dengan melarangnya turun di dua pertandingan.

Adele dengan jari hantunya (www.langitberita.com)
Penyiar berita, Tatyana Limanova, beri jari tengah untuk Presiden AS Barack Obama (You Tube)

Nah itu baru beberapa contoh penggunaan jari hantu yang salah di luar negeri. Bagaimana dengan Indonesia ? Walaupun penunjukkan jari hantu di Indonesia bukanlah budaya bangsa tetapi seperti hukum tidak tertulis yang universal bahwa hal tersbut tidak pantas untuk dipertunjukkan kepada seseorang. Seorang Petahana Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pernah merasakan dibully habis-habisan karena menunjukkan jari hantunya yang tertangkap oleh media pada saat Kampanye Pemilihan Kepala Daerah tahun 2012. Walaupun dikatakan oleh Pak Fauzi Bowo bahwa beliau tidak tahu tentang makna penunjukkan jari hantu tersebut dan hanya ikut-ikutan saja tetap saja masyarakat DKI Jakarta mengatakan suatu perbuatan yang tidak pantas di depan umum.

Mengerikan sekali ya penggunaan jari hantu yang salah. Tetapi jari hantu sebenarnya tanpa disadari manusia mempunyai manfaat yang luar biasa dan identik dengan penyatuan dua hati dalam satu ikatan perkawinan. Coba saja kita perhatikan pada saat naik lift, jari apa yang sering dipakai untuk memecet tombol lift. Sebagian besar menggunakan jari hantu. Kayaknya lebih nyaman memencet tombol dengan jari hantu lebih praktis hehehehe.

Terus hubungannya dengan ikatan perkawinan apa ? Untuk lebih jelasnya silahkan liat gambar di bawah ini. Gambar tersebut cukup memberikan keterangan dan makna yang indah tentang ikatan perkawinan. Love You Honey.

dok. cechgentong
dok. cechgentong

Jadi gunakanlah jari hantu kita pada waktu dan tempat yang tepat dan pantas. Ohhh jari hantu… awak ini mengerti tuh karena itulah bahasa kami.

Begitu Jelekkah Pemerintahan Megawati Soekarnoputri ?

Posted on

Antara tahun 1998-2002 adalah Tahun Neraka bagi keluarga saya. Krisis Moneter atau saya menyebutnya Tsunami Ekonomi menerjang Indonesia. Banyak pengusaha Indonesia terutama UKM kolaps karena tidak mampu lagi melakukan aktifitas bisnisnya. Bayangkan 1 USD = 15000 IDR, terjadi inflasi luar biasa yang efeknya adalah kenaikan suku bunga bank.

Itulah yang dialami oleh keluarga kami. Hutang pokok kami yang tadinya 750 juta rupiah tiba-tiba melonjak menjadi 2,25 milyar rupiah (hutang pokok dan bunga). Akibatnya kami tidak sanggup bayar cicilan bank, cicilan bunganya saja tidak mampu dibayar apalagi cicilan pokoknya. Dan hasilnya adalah 2 jaminan kami yaitu rumah dan pabrik disita oleh bank pemerintah bahkan sudah masuk dalam Lelang Negara.

Kalau dilelangpun nilai jaminan kami menjadi rendah dan kamipun masih harus bayar 1 milyar rupiah lagi apabila 2 jaminan kami jadi dilelang. Bisa dibayangkan jenis neraka apa yang kami alami saat itu. Tapi kami tidak putus asa, segala upaya dilakukan mulai negosiasi dengan bank, departemen koperasi-ukm, Menteri BUMN (bank kami adalah bank BUMN) sampai mengirim surat ke Presiden (saat itu Presiden Megawati).

Ada cerita menarik dari perjuangan kami untuk bisa lepas dari neraka saat itu. Hampir seminggu sekali kami mendatangi depkop-ukm untuk menanyakan perkembangan masalah hutang kami dan tiap kami datang ke depkop-ukm Rasuna Said selalu saja saya menemui banyak orang yang sebagian pengusaha UKM juga yang menginap di kantor Depkop-ukm tersebut. Beberapa orang yang saya tanyakan mengapa mereka menginap? Jawabannya adalah mereka sudah tidak punya harta lagi karena sudah disita bank bahkan ada yang tidak berani pulang karena takut didatangi debt collector dari Bank Peminjam. Tujuan mereka ternyata sama yaitu meminta Depkop UKM membantu jalan keluar agar mendapatkan keringanan atas hutang mereka dengan kebijakan bersama menteri BUMN agar Bank Pemerintah dibawah menteri BUMN memberikan kebijakan keringanan hutang atau cicilan.

2 tahun perjuangan kami menunggu jawaban atau solusi yang terbaik dari masalah kami. Akhirnya saya ingat sekali tahun 2002 bulannya saya lupa, surat kami kepada Presiden Megawati Soekarnoputri mendapatkan jawaban dari sekretariat negara. Jawabannya adalah KEPPRES RI NO 56 TAHUN 2002 TENTANG RESTRUKTURISASI UKM dimana salah satu isinya adalah keringanan utang dan cicilan bunga dari bank-bank/lembaga keuangan negara yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing bank/lembaga keuangan milik pemerintah.

Inilah jawaban atas doa-doa kami walaupun ada tenggang waktu 6 bulan yang diberikan agar kami segera melunasi atau menyelesaikan masalah kami. Keppres tersebut menjadi pegangan kami untuk negosiasi dengan bank. Akhirnya dalam waktu yang tidak lama kami dapat menyelesaikan hutang kami. Kami hanya membayar hutang pokoknya saja. Sementara bunga bank dihapus.

Rumah kami jual untuk membaytar hutang bank dan ada sisanya untuk membayar hutang2 yang lain. Tapi pabrik kami terselamatkan. Bukan hanya kami saja yang terselamatkan, puluhan ribu pengusaha UKM dapat membayar hutangnya dan mulai dapat bergerak lagi untuk produksi. ada beberapa pengusaha UKM yang saya tanyakan tentang keringanan apa yang mereka dapatkan? 1. ada yang hanya membayar 25 persen hutang pokoknya saja sementara bunga dihapuskan. 2. ada yang membayar hutang pokoknya saja tapi dicicil sekian tahun dengan mendapatkan pinjaman karena dianggap usahanya ekonomis. 3. ada yang dihapuskan sama sekali hutang pokok dan bunganya. 4, dan masih banyak lagi keringanan yang mereka dapatkan.

Bayangkan dalam kondisi keuangan negara yang defisit saat itu pemerintah Presiden Megawati mengeluarkan kebijakan yang berpihak kepada Usaha Kecil Menengah. Keppres tersebut itulah yang sampai sekarang saya dan almarhum bapak semasa hidup selalu diingat dimana ternyata pemerintah masih berpihak kepada UKM. Itulah jasa Presiden Megawati dan jajaran pemerintahannya kepada UKM. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa KEPPRES TERSEBUT BAGAIKAN AIR MINUM PELEPAS DAHAGA DI TENGAH GURUN PASIR YANG PANAS.

So sebegitu jelekkah pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri sehingga dianggap selalu meninggalkan bau PESING bagi bangsa Indonesia? Silahkan ANDA BER-FIKIR !!!

Jangan percaya dengan beberapa tokoh yang berkoar-koar tentang EKONOMI KERAKYATAN kalau belum DIBUKTIKAN DAN DINYATAKAN. HATI-HATI, JELI DAN TELITI.

Catatan Kecil Pekerja Bangunan Indonesia dan Rokok

Posted on Updated on

13937168901493143341
dok. cechgentong
Ada kisah menarik para pekerja bangunan asal Indonesia yang bekerja di Fiji tentang rokok.
” Awalnya kami tidak diperbolehkan merokok pada saat bekerja. Kami melakukan protes dan sempat mogok kerja beberapa jam. Setelah melalui perundingan dan negosiasi yang alot, akhirnya kami diperbolehkan merokok saat bekerja tetapi dengan syarat pekerjaan harus cepat selesai. Siaaapppp teriak kami, karena tanpa merokok bagaimana kami bisa konsentrasi bekerja “
Apa yang terjadi kemudian?
Hanya kami pekerja bangunan asal Indonesia yang diijinkan merokok saat bekerja karena hasil kerja kami cepat, baik dan tepat waktu. Selain itu yang membuat big bos senang adalah kami dapat melakukan segala macam pekerjaan. Berbeda dengan pekerja Fiji yang hanya bisa mengerjakan satu jenis pekerjaan saja seperti hanya bisa ngecat saja, pasang lantai saja, aduk semen pasir saja, ngelas saja, nembok saja dan lain-lain. Sedangkan kami, pekerja Indonesia dapat melakukan semuanya dengan hasil memuaskan dan tepat waktu (bahkan sebelum waktunya sudah selesai dikerjakan dan kadangkala dengan peralatan sederhana yang dibawa dari Indonesia). Begitulah pengakuan Kang Nana, Pekerja Bangunan Indonesia yang duduk berduaan dengan Petani Malas Syamsul Asinar Radjam di salah satu kafe Bandara Internasional Nadi, Fiji.