Brunei Darussalam : Lapangan Terbang Antarbangsa Brunei

Tanggal 16 Mei 2014 adalah hari keempat atau hari terakhir kami berada di Brunei Darussalam. Sementara urusan koper yang hilang belum ada kejelasan maka itu hari terakhir yang bertepatan dengan hari Jumat  kami berangkat pagi hari sekitar jam 11 pagi karena kami ingin segera mendaparkan kejelasan tentang koper dari Air Asia.

2014-05-16 11.20.02

Dengan diantar Pak Azman, supir taksi langganan kami check out dari hotel dan menuju ke Bandara International Brunei (BIA). Dalam waktu 15 menit tibalah kami di BIA. Tetapi sebelum kami masuk ke tempat keberangkatan, Pak Azman mengingatkan bahwa hari Jumat adalah hari libur nasional Brunei Darussalam. Pak Azman menyarankan kami untuk membeli makanan di toko-toko yang ada di BIA karena jam 12.00-14.00 waktu Brunei toko-toko akan tutup karena semua karyawannya istirahat sekaligus melaksanakan sholat Jumat khususnya kaum pria. Padahal waktu keberangkatan kami selanjutnya yaitu Kota Kinabalu pada pukul 16.45 sehingga kami pasti akan menunggu lama.

Segeralah saya pergi ke kantor Air Asia. Ternyata hasilnya kurang menyenangkan karena koper kami belum juga ada kejelasan keberadaannya. Demikian dituturkan oleh Azmi, supervisor Air Asia Brunei Darussalam. Mengecewakan sekali karena kami berharap koper ditemukan dan dapat kami bawa langsung ke Kota Kinabalu tetapi itulah yang terjadi dan kami dituntut untuk lebih bersabar lagi.

2014-05-16 11.06.54

2014-05-16 11.07.40

2014-05-16 11.24.16

2014-05-16 11.25.15

Setelah mendapatkan informasi yang kurang menyenangkan dari Air Asia, segeralah kami mencari makanan yang dijual di BIA sebagai teman menunggu di BIA selama 4 jam lebih. Ternyata kami menemukan semua toko sudah tutup bersamaan terdengar suara azan di mesjid yang letaknya tidak jauh dari BIA. Apa yang dikatakan Pak Azman benar adanya. BIA langsung sepi tanpa aktifitas sama sekali.

Walaupun tidak ada yang menjual makanan, kami beruntung karena salah satu tas kecil masih tersedia beberapa kudapan yang cukup mengganjal perut selama 2 jam. Selain itu lamanya waktu menunggu kami manfaatkan untuk mengambil foto sekilas tentang BIA pada saat semua aktifitas terhenti pada hari Jumat tersebut.

2014-05-16 11.22.39

2014-05-16 11.16.38

2014-05-16 11.17.48

2014-05-16 12.24.13

Perlu diketahui BIA masih dalam proses pembangunan. Sejak 2008 telah dibuat Master Plan BIA sehingga menjadikan BIA sebagai lapangan terbang berkelas Internasional dan dimulailah pembangunan besar-besaran. Pada tahun 2005 kapasitas BIA baru dapat menampung 1,3 juta orang. Tetapi pada saat ini fase 1 telah mengalami peningkatan kapasitas penumpang dan terminal kargo (direncanakan rampung akhir 2014). Pada tanggal 1 Oktober 2013, fase 1A telah selesai yaitu dibukanya hall kedatangan yang baru dan diharapkan terjadinya peningkatan jumlah penumpang mencapai 2 juta orang pada akhir tahun 2014. Sedangkan fase 2 baru akan terwujud pada tahun 2020 yaitu pembangunan terminal baru yang direncanakan dapat menampung 8 juta orang. Semoga kelak suatu hari kami dapat berkunjung lagi ke Brunei Darussalam dengan kondisi BIA yang lain dan lebih baik dari sekarang. Selamat Tinggal Brunei, Selamat Datang Kota Kinabalu.

2014-05-16 15.08.41

2014-05-16 15.35.58

(bersambung)

Brunei Darussalam : Masjid Jame Asr’ Hassanil Bolkiah Sebagai Simbol Indahnya Islam

Selepas mengelilingi Kampong Ayer selama 1,5 jam, kami memutuskan kembali ke hotel. Di hotel kami mencari informasi bagaimana caranya kami dapat pergi ke Masjid Jame Asr’ Hassanil Bolkiah, salah satu masjid termegah di Brunei Darussalam. Oleh resepsionis hotel, kami disarankan untuk menggunakan bas nombor 01 di terminal bus utama Bandar Seri Begawan yang letaknya berada di Jalan Cator. Ternyata letaknya terminal bus tepat berada di belakang hotel kami. Tanpa banyak tanya lagi, kami berjalan kaki ke belakang hotel.

2014-05-15 09.09.03

2014-05-14 12.06.10

2014-05-15 10.23.31

Tulisan di jok bas

Kami sempat kaget pada saat melihat terminal bus tersebut. Sangat berbeda sekali dengan terminal bus di Indonesia. Terminal busnya kecil dan terletak di bawah gedung perkantoran tetapi bersih lingkungannya. Mudah sekali menemukan bas nombor 01. Di kaca depan bas tertulis Kiulap. Kiulap  adalah nama jalan sekitar Masjid Jame Asr’ Hassanil Bolkiah. Walaupun berukuran sedang, bas di Brunei dilengkapi dengan AC dan dikenai ongkos 1 Brunei Dollar.  Segeralah kami masuk ke dalam bas dan terlihat seorang supir pria serta satu orang kondektur wanita. Hanya dalam hitungan menit, bas segera jalan.

Waktu tempuh yang dibutuhkan dari terminal bus ke lokasi Masjid Jame Asr’ Hassanil Bolkiah sekitar 15 menit. Memasuki jalan Kiulap sudah terlihat dengan jelas bangunan masjid nan megah dengan kubah emasnya. Ternyata kami masuk dari pintu timur. Dari jalan raya ke masjid berjarak sekitar 200 meter.

2014-05-15 09.54.01

Lambang Kerajaan Brunei Darussalam di pintu gerbang

2014-05-15 09.53.37

2014-05-15 09.53.06

Sisi timur

Sisi timur

Lingkungan sekitar masjid terasa teduh karena dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang rindang. Walaupun mendekati pertengahan hari yang terik, Suasana nyaman terasa di hati. Makin mendekati masjid, kami makin dibuat kagum dengan bangunan masjid yang megah, didesain secara detil lengkap dengan tempat penitipan alas kaki, taman, air mancur dan tempat duduk yang membuat hati terasa sejuk dan damai. Beberapa kali kami melihat bas pesiaran yang keluar masuk membawa turis yang datang (terutama turis dari Tiongkok) ke masjid ini. Jepretan foto mengabadikan setiap detil dan sudut yang ada di masjid ini. Sekali lagi tak ada kata terucap kecuali kekaguman.

Perlu diketahui Masjid Jame Asr’ Hassanil Bolkiah dibangun untuk memperingati 25 tahun bertahtanya Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah dan Yang Dipertuan Negara Brunei Darussalam. Masjid secara resmi pada hari Kamis tanggal 14 Juli 1994. Penduduk lokal menyebut masjid ini dengan nama Masjid Kiarong karena terletak di Kampong Kiarong.

2014-05-15 09.40.00

2014-05-15 09.34.35

2014-05-15 09.35.01

2014-05-15 10.06.56

2014-05-15 09.42.07

2014-05-15 09.51.16

2014-05-15 09.49.10

2014-05-15 10.06.04

Masjid ini juga terbuka untuk umum baik lokal maupun manca negara. Seperti biasanya, tiap pengunjung yang ingin masuk ke dalam masjid dipersilakan untuk melepas kakinya. Untuk pengunjung wanita diwajibkan memakai pakaian tertutup seperti jilbab yang telah disediakan di depan pintu masuk masjid apabila ingin masuk ke masjid.Telepon seluler dan kamera tidak diperkenankan dibawa masuk ke dalam. Setiap pengunjung yang datang akan dipandu oleh seorang pengurus masjid. Waktu berkunjung turis telah diatur sedemikian rupa. Kamis dan Jumat, masjid ini ditutup untuk umum. Dari Minggu sampai Rabu, masjid dibuka pada pukul 08.00-12.00, 14.00-15.00 dan 17.00-18.00. Khusus Sabtu, masjid dibuka kecuali dipakai untuk persiapan dan perayaan acara keagamaan Islam.

2014-05-15 09.51.28

2014-05-15 09.51.36

2014-05-15 09.48.50

Walaupun kami tidak masuk ke dalam tapi sudah dapat merasakan  betapa artistiknya bangunan masjid ini. Sebuah arsitektur yang dibangun dengan cipta rasa karsa tinggi yang melambangkan indahnya Islam. Subhanallah.

Brunei Darussalam : Menyisir Kampong Ayer “Venice of the East”

Masih hari ketiga kunjungan kami di Brunei Darussalam. Setelah melongok sejenak Tamu Kianggeh selama 1 jam, kami memutuskan untuk pergi plesiran ke Kampong Ayer yang konon mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi bangsa Brunei.

” Perahu, Pak ?! ” teriak seorang pengemudi taksi air.

2014-05-15 07.58.59

Langsung saja perhatian kami tertuju kepadanya. Memang posisi taksi air tersebut dekat sekali dengan Tamu Kianggeh, Setelah tawar menawar sejenak kami memutuskan untuk menggunakan taksi air tersebut berplesiran ke Kampong Ayer. Harga yang disepakati adalah 15 Brunei Dollar. Hal ini sesuai sekali dengan informasi yang kami dapat di Google tentang tarif taksi air untuk  mengelilingi Kampong Ayer.

Sedikit informasi tentang Kampong Ayer. Kampong Ayer menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Kerajaan Brunei Darussalam. Hampir seribu tahun Kampong Ayer berdiri dan menghiasi kehidupan masyarakat Bandar Seri Begawan. Tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Shah tahun 1363-1402. Dahulu kala Kampong Ayer merupakan pelabuhan utama untuk para saudagar yang memperdagangkan barangnya ke Brunei. Dan Kampong Ayer masih tetap berdiri kokoh dan berkembang pesat sampai saat ini. Ada 42 kampung yang terletak di Kampong Ayer dengan jumlah populasi penduduk sekitar 39.000 jiwa (10 persen dari total populasi penduduk Brunei Darussalam). Jadi tidaklah mengherankan kalau Kampong Ayer adalah Kampong terbesar di Brunei Darussalam.

Antonio Pigafetta (from the Marasca Collection, Biblioteca Bertoliana of Vicenza)

Antonio Pigfetta (from the Marasca Collection, Biblioteca Bertoliana of Vicenza)

Oleh  Antonio Pigafetta yang pernah singgah bersama  Ferdinand Magellan pada tahun 1521 menjuluki Kampong Ayer dengan nama “Venice of the East” Menurut Antoni0, kehidupan Kampong Ayer mirip dengan Venice, tempat Antonia berasal.

Bagaimana dengan Kampung Ayer saat ini ? Setelah kami menelusuri Kampong Ayer, bangunan rumah panggung kayu yang berdiri di atas air menjadi ciri khasnya. Walaupun bentuknya sederhana tetapi kehidupan modern masa kini tampak jelas terlihat di Kampong Ayer. listrik, ac, sampai parabola dimiliki oleh sebagian besar penghuni Kampong Ayer. Selain itu Pemerintah Kerajaan Brunei juga melengkapi fasilitas sosial seperti sekolah, rumah sakit, pemadam kebakaran, masjid, pipa air, tempat bermain sehingga Kampong Ayer terlihat dinamis kehidupannya. Selain itu dengan perahu kayu sebagai transportasi utama dan jembatan kayu yang menghubungkan tiap kampong dan blok sangatlah memudahkan aktifitas penduduknya.

Taksi air bersandar di Tamu Kianggeh dan siap mengantarkan turis mengeliling Kampong Ayer

Taksi air bersandar di Tamu Kianggeh dan siap mengantarkan turis mengeliling Kampong Ayer

2014-05-15 07.38.45

Bandar Seri Begawan dari kejauhan

Bandar Seri Begawan dari kejauhan

Jembatan penghubung antar kampong

Jembatan penghubung antar kampong

Pembangunan jembatan terpanjang di Brunei Darussalam yang menghubungkan Bandar Seri Begawan dengan wilayah Limbang

Pembangunan jembatan terpanjang di Brunei Darussalam yang menghubungkan Bandar Seri Begawan dengan wilayah Limbang

Bahkan saat ini sedang dibangun jembatan penghubung antara Bandar Seri Begawan dengan wilayah Limbang sehingga memudahkan akses jalan, dan perdagangan yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi bagi penduduk di 2 wilayah tersebut. Bahkan pengemudi taksi air mengatakan kalau ada kesempatan untuk datang ke Brunei sekitar 3 tahun ke depan maka kami akan melihat jembatan terpanjang di Brunei Darussalam sehingga dapat mengunjungi wilayah Limbang yang terkenal dengan pertanian dan hutan yang masih asri terjaga.

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien terlihat jelas

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien terlihat jelas

Gedung Pengadilan (Mahkamah) Kerajaan Brunei Darussalam

Gedung Pengadilan (Mahkamah) Kerajaan Brunei Darussalam

Beberapa bangunan yang dirobohkan karena akan dibangun fasilitas publik lainnya

Beberapa bangunan yang dirobohkan karena akan dibangun fasilitas publik lainnya

Kompleks bangunan baru untuk relokasi

Kompleks bangunan baru untuk relokasi

Salah satu bangunan madrasah

Salah satu bangunan madrasah

Salah satu bangunan sekolah

Salah satu bangunan sekolah

Balai Bomba dan Penyelamat (Gedung Pemadam Kebakaran)

Balai Bomba dan Penyelamat (Gedung Pemadam Kebakaran)

Salah satu bangunan masjid yang terdapat di Kampong Ayer

Salah satu bangunan masjid yang terdapat di Kampong Ayer

Rumah Sakit di Kampong Ayer

Rumah Sakit di Kampong Ayer

Ada hal menarik selama perjalanan ke Kampong Ayer, ternyata banyak pengemudi taksi air bukanlah penduduk asli Brunei tetapi berasal dari Malaysia yang sudah bertahun-tahun  mengais rejeki di Brunei Darussalam terutama fenomena Kampung Ayer. Dalam perjalanan kami juga melihat beberapa bangunan yang dirobohkan karena akan digunakan oleh Kerajaan untuk fasilitas publik dan penduduknya sudah direlokasi ke tempat lain yang katanya walaupun jauh tetapi mendapatkan bangunan baru dan beberapa fasilitas publik yang lebih baik.

Seperti layaknya di darat, di Kampong Ayer juga dibangun beberapa cluster dengan bangunan rumah panggung modern bertingkat untuk kalangan menengah ke atas. Harga bangunan tersebut berkisar antara 60 ribu sampai dengan 90 ribu Brunei Dollar.

2014-05-15 07.39.50

2014-05-15 07.39.15

2014-05-15 07.40.30

2014-05-15 07.55.55

Kompleks Cluster di Kampong Ayer

Kompleks Cluster di Kampong Ayer

Model rumah pada kompleks cluster

Model rumah pada kompleks cluster

2014-05-15 08.18.38

2014-05-15 08.17.27

Selain itu pihak Kerajaan sangat memperhatikan pendidikan masyarakat Kampong Ayer. Hampir setiap sudut kampong yang berada di Kampong Ayer dibangun sekolah mulai dari tingkat TK sampai SMA serta Madrasah. Maka itu profesi guru menjadi profesi yang sangat dihormati. Pemerintah Kerajaan menempatkan profesi guru sebagai profesi yang mulia sehingga banyak sekali yang fasilitas khusus selain gaji besar yang diberikan oleh Pemerintah Kerajaan kepada guru. Luar biasa dan perhatian sekali Sultan Hassanal Bolkiah terhadap pendidikan rakyatnya.

(bersambung)

Brunei Darussalam : Tengok Sejenak Tamu Kianggeh

Waktu cepat berlalu, tanpa terasa sudah tiga hari kami berada di Brunei. Banyak orang mengatakan jalan-jalanlah ke Kampong Ayer. Kamipun mengamini hanya saja sebelum ke sana ada keramaian yang selalu menemani kami di hotel pada pagi hari karena kamar hotel persis berhadapan dengannya. Ya, itulah salah satu pasar tradisional kota Bandar Sei Begawan yaitu Tamu Kianggeh. Tamu berarti pasar. Jadi Tamu Kianggeh artinya  Pasar Kianggeh yang terletak di sepanjang Sungai Kianggeh.

2014-05-15 07.16.32

2014-05-16 08.12.08

Suasana Tamu Kianggeh di pinggir sungai Kianggeh

Suasana Tamu Kianggeh di pinggir sungai Kianggeh

Lalu lalang taksi air di sekitar Tamu Kianggeh

Lalu lalang taksi air di sekitar Tamu Kianggeh

Tidak ada perbedaan menyolok antara pasar di Brunei dengan Indonesia. Yang membedakan adalah luas pasar di Brunei lebih kecil dari Indonesia. Kebersihan pasar di Brunei terlihat bersih dan terawat. Walaupun tradisional tapi tidak jorok dan becek. Sebagian besar pedagang menjual barang-barang jualannya berdasarkan piring. Satu piring dihargai sekian Brunei Dollar. Lapak jualannya memang teratur tetapi sebagian besar lebih mirip dengan lapak kaki lima di Indonesia yang menggunakan kanvas plastik sehingga melindungi penjualnya dari panas terik matahari.

Kerang

Kerang

2014-05-15 08.38.48

2014-05-15 08.30.32

2014-05-16 08.19.39

2014-05-16 08.19.22

2014-05-15 08.30.53

Ketupat

Ketupat

2014-05-15 08.31.53

2014-05-15 08.32.49

Panganan khas Brunei

Panganan khas Brunei

2014-05-15 08.37.56

Asam Kandis

Asam Kandis

2014-05-15 08.36.23

2014-05-15 08.40.36

2014-05-15 08.42.17

Kami perhatikan aktifitas pasar berlangsung ramai pada jam 06.00-11.00. Ada yang menarik dari pasar Kianggeh terutama warung makannya yang sebagian besar berasal dari Indonesia. Maka tidaklah heran tempe menjadi panganan yang dijual sehari-hari. Selain itu kami juga sempat mengunjungi salah satu lapak yang menjual obat-obat tradisional yang menggunakan tanaman herbal khas Brunei Darussalam. Menariknya adalah saat kami mendatangi lapak tersebut, sang penjual langsung menawarkan obat kuat untuk pasangan suami istri hehehehe. Ternyata sang penjual ini sangat terkenal di Brunei sebagai “Dr. Angin”. Nama sebenarnya sang penjual adalah Bapak Awang Damit Bin Jahar. Profil beliau kebetulan hari itu diberitakan oleh salah satu  media cetak Brunei, Media Permata. Benar saja pada saat kami bertemu, beliau lebih banyak menerangkan tentang bagaiamana caranya membuang angin dari badan dengan ramuan tradisionalnya.  Ramuan Bapak Awang Damit ini tidak hanya dikhususkan untuk membuang angin. Ada beberapa  ramuan beliau yang diyakininya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.

2014-05-16 08.14.59

2014-05-16 08.17.48

2014-05-16 08.16.02

2014-05-16 08.13.53

2014-05-16 08.14.07

Pemberitaan tentang Dr. Angin, Awang Damit bin Jahar

Pemberitaan tentang Dr. Angin, Awang Damit bin Jahar

Sungguh perjalanan singkat nan menarik di pagi hari untuk lebih  mengenal pasar tradisional di Kota Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.

(bersambung)

Brunei Darussalam : Negeri Mungil Dengan Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien Yang Mengagumkan

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin adalah masjid kerajaan Kesultanan Brunei yang terletak di Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam. Masjid ini adalah salah satu masjid paling mengagumkan di Asia Pasifik, serta menjadi markah tanah dan daya tarik wisata utama di Brunei.

Masjid ini dinamai berdasarkan Omar Ali Saifuddien III, Sultan Brunei ke-28. Masjid yang mendominasi pemandangan kota Bandar Seri Begawan ini melambangkan kemegahan dan kejayaan Islam yang menjadi agama mayoritas dan agama resmi Brunei Darussalam. Bangunan ini rampung pada tahun 1958 dan merupakan contoh Arsitektur Islam modern.

Arsitektur masjid ini memadukan Arsitektur Mughal dengan gaya Italia. Bangunan ini dirancang oleh biro arsitekur Booty and Edwards Chartered berdasarkan rancangan karya arsitek berkebangsaan Italia Cavaliere Rudolfo Nolli, yang telah lama bekerja di teluk Siam.

Masjid ini dibangun diatas laguna atau kolam buatan di tepi sungai Brunei di Kampong Ayer, “kampung yang terletak di atas air”. Masjid ini memiliki menara marmer dengan kubah emas, dilengkapi taman yang permai dan air mancur. Taman indah yang mengelilingi masjid melambangkan taman surgawi dalam kepercayaan Islam. Sebuah jembatan membentang di tengah laguna menuju Kampong Ayer di tengah sungai. Sebuah jembatan marmer lainnya menuju ke bangunan yang merupakan replika Perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan Bolkiah yang memerintah pada abad ke-16. Bangunan ini dibangun untuk memperingati 1.400 tahun Nuzul Al-Quran, dan dimeriahkan diselesaikan pada tahun 1967 dan digunakan sebagai panggung Musabaqah Tilawatil Quran (lomba pembacaan Al-Quran) di Brunei.

Ciri khas yang paling mengagumkan dari Masjid ini adalah kubahnya yang dilapisi emas murni. Masjid ini menjulang setinggi 52 meter (171 kaki) dan dapat dipandang dari setiap sudut kota Bandar Seri Begawan. Menara masjid merupakan bagian tertinggi dari masjid ini. Masjid ini memadukan secara unik unsur Renaissans arsitektur Italia dengan nuansa yang bernilai Islami. Di dalam menara masjid terdapat lift di mana pengunjung dapat naik ke puncak menara dan menikmati pemandangan panorama kota dari ketinggian.

Bagian dalam ruangan masjid khusus untuk ibadah salat bagi umat muslim. Terdapat jendela kaca patri beraneka warna yang mengagumkan, pelengkung, separuh kubah, dan pilar-pilar marmer. Hampir seluruh bahan bangunan masjid ini diimpor dari luar negeri yaitu: Marmer dari Italia, batu granit dari Shanghai China, lampu kristal dari Inggris, serta karpet dari Arab Saudi.

(WIKIPEDIA)

Setelah membaca uraian di atas maka jangan mengatakan pernah pergi ke Brunei Darussalam kalau belum pernah menginjakan kaki ke Mesjid Sultan Omar Ali Safuddien. Maka itu hari kedua di Brunei, kami usahakan untuk mengunjunginya walaupun harus melawan panasnya kota Bandar Seri Begawan pada sore hari.

2014-05-14 16.00.40

2014-05-14 16.02.23

2014-05-14 16.04.55

2014-05-14 16.07.55

2014-05-14 16.07.01

Setelah menyusuri Jalan Elizabeth 2, akhirnya kami dapat melihat langsung Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddien nan megah dan mengagumkan yang terletak di jalan Masjid Omar Ali Saifuddien. Baru saja masuk pintu gerbang mesjid, kami disambut seorang pengurus mesjid dan mengatakan kalau kami hanya boleh mengambil foto luar mesjid saja. Dipersilakan kami masuk tapi kamera dan telepon genggam harus dimatikan. Sedangkan bagi kaum hawa dipersilakan untuk mengenakan pakaian jilbab tertutup warna hitam yang berada di sebelah kanan pintu masuk ke dalam mesjid. Bagi turis bercelana pendek maka diberikan selembar kain hitam yang digunakan seperti sarung.

2014-05-14 16.15.01

2014-05-14 16.13.08

2014-05-14 16.13.49

2014-05-14 16.15.37

Sore hari turis yang datang tidak begitu ramai, akhirnya kami memutuskan untuk mengelilingi masjid terlebih dahulu. Sudah terbayang akan menemukan sudut-sudut masjid yang layak untuk diabadikan kamera kami. Segera kami menuju samping kiri masjid, wow terlihat sebuah kolam besar dengan bangunan perahu berarsitektur melayu.

2014-05-14 16.20.28

2014-05-14 16.20.11

2014-05-14 16.18.09

2014-05-14 16.18.18

Disamping itu kami melihat tempat wudhu bermaterial keramik dan bak penampung air untuk wudhu dikelilingi oleh pilar-pilar berjejer tegak sehingga terkesan indah dan artistik. Saya pun sempat masuk ke dalam toilet mesjid, terlihat bersih sekali  dan terawat dengan baik. Selanjutnya kami bergerak ke bagian samping masjid terlihat jendela dan pintu masjid yang terbuat dari kayu  dengan ukiran apik bergaya Timur Tengah dan diperindah juga oleh ornamen kaca warna warni.

2014-05-14 16.10.44

2014-05-14 16.12.32

Sejam berada di Masjid membuat kami berpikir dan merenung betapa Allah Maha Besar karena telah memberikan akal budi kepada umatNya sehingga mampu menciptakan dan membangun sebuah masjid nan indah dan mengagumkan. Walaupun kami tidak masuk ke dalam masjid tetapi penampakan luar masjid sungguh luar biasa untuk dapat dinikmati dan menentramkan hati.

(bersambung)

Brunei Darussalam : Langka Ukuran Besar Di Negeri Mungil

Tadi malam saya tidur dengan pakaian yang melekat di badan. Acem !!! Itu kata istriku mengomentari baju yang kupakai. Sayapun hanya bisa tersenyum, wong istri dalam hatiku hehehe. Hari Rabu tanggal 14 Mei 2014, hari kedua kami di Brunei Darussalam. Pagi-pagi sekali kami sudah mendengar suara orang banyak di seberang jalan. Rupanya pasar tradisional Tamu Kianggeh sudah menggeliat dengan aktifitas jualannya. Beberapa mobil parkir di pinggir jalan. Ada yang berjualan makanan dengan mobil terbuka dan ada pula yang sekedar memarkirkan mobilnya untuk pergi belanja ke pasar yang berada persis di seberang sungai. Taksi-taksi air atau perahu taksi mondar-mandir menepi dan menurunkan penumpangnya yang kebanyakan adalah kaum wanita.  Menarik untuk diamati dari jendela kamar hotel kami.

2014-05-14 15.19.15

Rencana kami pada hari kedua adalah pergi kembali kembali ke Brunei International Airport (BIA) untuk menanyakan keberadaan koper saya yang lenyap kemarin. Dengan menelpon Pak Azman sang supir taksi, kami minta dijemput di hotel pada pukul 10 pagi. Rupanya Pak Azman datang tepat waktu ke hotel kami dan kebetulan kami sudah siap menunggu di lobi setelah makan pagi.

” Kita ke BIA lagi kah ? Belum ada kabar koper bapak ? ” tanya Pak Azman dengan seriusnya.

” Belum Pak Ci. Dari kemarin sore hingga malam hari kami menunggu berita dari Air Asia tentang kepastian koper kami ” jawab istri saya.

” Kasian kalian. Kalau begitu kalian harus tanya dengan jelas nanti sewaktu di kantor Air Asia ya “

” Ya. Pak Ci. “

Pak Azman melajukan mobilnya ke BIA dengan penuh semangat. Tampak wajah simpati dari Pak Azman yang membuat kami yakin untuk menggunakan taksinya. Sesampainya di BIA, kami langsung menuju ke Kantor Air Asia yang berada di dalam BIA yang sedang direnovasi. Suasana sepi terlihat di dalam BIA pada pagi itu. Akhirnya kami menemukan Kantor Asia. Kami tidak boleh masuk ke dalam kantor. Kami hanya dilayani oleh seorang di luar dan bicara seperti di loket pembelian karcis bioskop. Tak ada jawaban memuaskan yang kami dapat dari Customer Service Air Asia Brunei. Malah ketika kami tanyakan tentang klaim koper yang hilang, wanita tersebut mengatakan bahwa klaim tidak dapat dilakukan karena koper kami tidak diasuransikan. Ya memang tidak diasuransikan tetapi hilangnya koper bukanlah kesalah kami. Tetapi wanita tersebut tetap tidak bergeming dengan pendapatnya. Yang lucunya ketika kami meminta wanita tersebut untuk menelpon Air Asia Kuala Lumpur, dijawabnya kalau Air Asia tidak dapat menelpon langsung dan hanya bisa menanyakan via email.  Waduh, beginikah pelayanan Air Asia. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu kabar koper kami dan meminta Air Asia agar segera menelpon kami ke hotel apabila sudah mendapatkan informasi dari Air Asia Kuala Lumpur.

Semangat !!! Istri menghibur saya. Segeralah kami keluar BIA dan bertemu Pak Azman untuk mengantarkan kami ke Pusat Perbelanjaan atau Mall yang ada di Bandar Seri Begawan. Pak Azman menyarankan kami untuk pergi ke Grand Mall (Shopping Complex), salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Brunei. Jarak antara BIA ke Grand Mall ternyata hanya membutuhkan waktu 15 menit. Pak Azman menyarankan kami sebaiknya menggunakan bus atau taksi air  sewaktu ingin kembali ke hotel dari Mall karena kalau naik taksi terlalu mahal ongkosnya. Lagi pula susah mencari taksi di Brunei Darussalam. Dari Grand Mall ke Hotel disarankan menggunakan bus 23 atau 57 sambil menunjukkan halte bus berada. Tarifnya hanya 1 Brunei Dollar per orang saja. Atau menggunakan taksi air dengan tarif 5 Brunei Dollar per orang tetapi tergantung kondisi sungainya. Kalau sungai surut maka taksi air tidak beroperasi.

Selama 1 jam kami mengelilingi Grand Mall, ternyata baju atau kaos atau celana pendek untuk ukuran saya tidak didapatkan. Mulai dari lantai dasar sampai lantai 6, toko-toko pakaian yang kami datangi tetap saja tidak ditemukan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di Food Court Grand Mall tersebut.

Setelah makan siang, kami memutuskan untuk mengelilingi pertokoan yang berada di sekitar Grand Mall. Akhirnya kami menemukan juga kaos dan celana pendek ukuran besar atau ukuran US (kata penjual Suvernir khas Brunei Darussalam). Tanpa pikir lagi, kami membeli 2 buah kaos dan 3 celana pendek. Lumayanlah untuk pakaian pengganti selama perjalanan nanti.

Jam menunjukkan pukul 2 siang, segeralah kami menuju halte bus yang ditunjukan oleh Pak Azman. Tak beberapa lama bus  nomor 23 tiba. Bus ukuran sedang dengan AC yang sejuk membuat nyaman penumpang sepanjang perjalanan. Apalagi saat itu cuaca sangat terik dan panas sekali. Sesekali saya mengamati kondisi bus, sopir dan kernetnya. Ada yang membedakan dengan bus di Indonesia, sebagian besar kernet bus adalah wanita dan cukup ramah menyapa para penumpang. Kernet wanita ini selalu memberikan informasi yang jelas apabila ada pertanyaan dari penumpang seperti kami. Sekitar 15 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di depan hotel kami. Sesampainya di hotel, kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan sore harinya kami berencana untuk jalan-jalan ke tempat-tempat wisata yang ada di sekitar hotel.

2014-05-14 15.27.48

2014-05-14 15.28.15

Sore haripun menjelang, kami telah bersiap dengan jalan kaki mengelilingi tempat tempat wisata yang sudah direncanakan. Bergeraklah  kami ke utara. Sekitar 100 meter dari hotel, kami tiba di sebuah kuil Cina yang tampak lain dari bangunan-bangunan yang berada di sekelilingnya. Kuil Cina dengan nama Teng Yun Temple (腾云殿 atau baca Teng Yun Dian) atau Temple of Flying Clouds menjadi tempat wisata pertama yang wajib dikunjungi. Kuil ini dibangun oleh masyarakat Cina Hokkien pada tahun 1918 dan terletak di Jalan Sungai Kianggeh (Kianggeh River Road).

Selanjutnya tidak jauh dari Teng Yun Temple dan masih terletak di Jalan Sungai Kianggeh, kami melihat sebuah gedung bernama Pusat Belia (semacam Gedung Pemuda dan Olahraga). Setelah itu kami berbelok menuju Jalan Bendahara dan ada satu gedung utama pemerintah kerajaan yaitu Gedung Jabatan Adat Istiadat Negara.

2014-05-14 15.35.14

2014-05-14 15.39.40

Keringat mulai mengucur di sekujur tubuh kami dan sesekali beberapa pengendara mobil memperhatikan kami karena sore hari itu tidak ada orang yang berjalan kaki kecuali kami dan sepasang turis bule. Di penghujung Jalan Bendahara barulah kami menemukan Jalan Sultan Omar ‘Ali Saifuddien. Jalan Sultan Omar ‘Ali Saifuddien adalah jalan utama di Bandar Seri Begawan dan banyak terdapat bangunan bersejarah, gedung-gedung pemerintahan dan taman utama Kerajaan Brunei Darussalam. Beberapa bangunan dan taman yang kami kunjungi antara lain Bangunan Alat-alat Kerajaan (Royal Regalia), Pusat Sejarah Brunei (Brunei History Center), Royal Ceremonial Hall dan Dewan Majelis.

2014-05-14 15.46.23

Suasana Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien

Bangunan Alat-alat Kebesaran Kerajaan Diraja

Bangunan Alat-alat Kebesaran Kerajaan Diraja

Royal Ceremonial Hall dan Dewan Majelis

Royal Ceremonial Hall dan Dewan Majelis

Brunei History Center

Brunei History Center

Jam Unik di perempatan Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien dengan Jalan Elizabeth 2

Jam Unik di perempatan Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien dengan Jalan Elizabeth 2

Bangku di sepanjang Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien

Bangku di sepanjang Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien

Makam Raja Ayang

Makam Raja Ayang

Tepat di perempatan antara Jalan Sultan Omar ‘Ali Saifuddien dan Jalan Elizabet terdapat Makam Raja Ayang yaitu makam seorang wanita yang masih mempunyai hubungan keluarga Kesultanan Brunei Darussalam dan pernah hidup pada jaman Sultan Sulaiman (tahun 1452). Makam Raja Ayang ini menjadi simbol betapa taatnya Sultan Brunei kepada ajaran Islam walaupun masih berkaitan saudara apabila melanggar aturan agama tetap harus dihukum tanpa pandang bulu.

Di seberang makam Raja Ayang terdapat taman atau lebih tepat disebut lapangan upacara yaitu Taman Haji Sir Muda Omar ‘Ali Saefuddien. Taman ini seringkali digunakan untuk upacara penting dan besar Kesultanan Brunei Darussalam. Taman ini berdekatan juga dengan Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddien dan Gedung Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei (Perpustakaan).

Salah satu sisi Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien

Salah satu sisi Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien

Pandangan sebelah barat Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien yaitu Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddien

Pandangan sebelah barat Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien yaitu Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddien

Pandangan sebelah timur Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien

Pandangan sebelah timur Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien

2014-05-14 15.58.23

Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Complex sebelah selatan

Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Complex sebelah selatan

Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Complex sebelah utara

Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Complex sebelah utara

Tak jauh dari Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddien terdapat pusat perbelanjaan terbesar di Brunei yaitu Yayasan Sultan Hassanal Bolkiah Complex. Nah disinilah kami baru mendapatkan pakaian berukuran besar dengan mudah walaupun tidak banyak jumlahnya.

The Sultan Haji Hassanal Bolkiah’s 60th Birthday Monument

The Sultan Haji Hassanal Bolkiah’s 60th Birthday Monument

2014-05-14 17.21.06

2014-05-14 17.21.43

2014-05-14 18.12.30

2014-05-14 18.13.47

Puas rasanya kami mengelilingi tempat-tempat penting dan bersejarah hari itu. Menjelang senja, kami memutuskan untuk menikmati suasana kehidupan sepanjang Sungai Brunei dengan minum kopi di Kopi Bandar Kawasan Dermaga (Waterfront). Memang koper belum jelas keberadaannya tetapi pakaian pengganti cukup tersedia dan saatnya menikmati indahnya Negeri Mungil di Borneo, Brunei Darussalam.

(bersambung)

Brunei Darussalam : Negeri Mungil Nan Indah dan Bersahaja

Rencana  dan persiapan perjalanan kami selama 3 bulan akhirnya dimulai. Tepatnya 12 Mei 2014 perjalanan kami diawali dan benar-benar bersejarah karena inilah pertama kalinya saya dan istri melakukan 10 hari perjalanan ke luar negeri (walaupun masih dalam lingkup ASEAN). Dari Bandung menggunakan kereta api Parahyangan pagi menuju Jakarta. Sekitar pukul 13.20 kami tiba di stasiun Gambir dan langsung bergerak menuju Hotel Orchardz yang letaknya dekat dengan Bandara Soekarno Hatta. Kami sengaja menginap di hotel tersebut karena  besok pagi sekali kami sudah harus berada di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.

2014-05-13 05.30.27

Tujuan pertama kami adalah Brunei Darussalam. Banyak teman yang merasa heran mengapa kami jalan-jalan ke Brunei Darussalam. Brunei khan bukan tempat pelancongan yang favorit. Apalagi sejak tanggal 1 Mei 2014 Sultan Hassanal Bolkiah menyatakan berlakunya Syariat Islam secara utuh di seluruh negeri. Inilah menariknya bagi kami. Ada sesuatu menarik yang membuat kami ingin pergi ke sana. Dan ternyata benar, banyak peristiwa dan hal-hal menarik yang kami dapat selama melakukan perjalanan ke Brunei Darussalam ini. Apa saja itu ?

Dimulai dari masalah kelebihan berat bagasi sekitar 3 kg dimana kami harus membayar Rp 600 ribu  untuk kelebihan tersebut oleh Air Asia. Tetapi kami berhasil mengurangi berat bagasi setelah memindahkan dan membuang beberapa barang bawaan kami. Semua terlihat lancar pada saat kami sudah memasuki pesawat menuju Kuala Lumpur. Kok Kuala Lumpur ? Untuk menuju Bandar Seri Begawan, ibukota Brunei Darussalam kami harus transit selama 2 jam di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA 2). Setelah menjalani penerbangan menuju Bandar Seri Begawan selama 2 jam 20 menit, kamipun tiba di Bandara Brunei International Airport (BIA).

BIA terlihat sekali bukanlah bandara yang sibuk. Sedikit sekali pesawat yang melakukan penerbangan dan tampak BIA seperti Bandara yang baru dibangun atau mengalami renovasi. Setelah melewati pemeriksaan Imigrasi, kami langsung menuju tempat pengambilan koper. Betapa kagetnya saya setibanya di tempat pengambilan koper ternyata hanya koper Rip Curl kesayangan saya yang tidak ada alias hilang tersangkut dimana. Akhirnya kami melaporkan ke bagian baggage claim BIA. Dengan pelayanan yang ramah dan bersahabat, petugas BIA membuat laporan tentang hilangnya koper saya dan berjanji akan segera mengabari keberadaan koper tersebut.

2014-05-16 11.06.41

2014-05-13 15.55.31

2014-05-16 11.20.32

Saat itu Brunei sudah sore hari, dengan nada kecewa dan kesal tetapi bahagia karena sampai juga di Brunei kami keluar bandara. Sungguh mengagetkan bagi kami karena BIA sepi sekali sore itu. Setelah bertanya bagian  informasi, kita menuju tempat taksi mangkal. Tampak sedikit sekali taksi yang mangkal di BIA. Begitu kami mendekat, tampak seorang pria mungkin berusia sekitar 50 an tahun menyapa kami. Ternyata pria tersebut adalah supir taksi.

” Taksi ? ” tanya pria tersebut.

” Ya, Pak Ci ” jawab saya.

” Kemane ?” logat melayu pria tersebut terucap.

” Brunei Hotel, Jalan Pemancha. ” ujar istri saya yang memang hafal dengan alamat hotel tersebut.

” Ohhh, pusat kota itu. 25 Brunei Dollar “

” Tidak argometer Pak Ci ? ” saya sedikit curiga.

” Di Brunei, Taksi tidak pakai argometer dan harga yang saya berikan sudah standar ” jelas supir taksi tersebut.

” Okelah kalau begitu “

Ternyata perjalanan dari BIA menuju Brunei Hotel membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sepanjang jalan supir taksi banyak tanya kepada kami sekaligus bercerita tentang situasi dan kondisi di Brunei Darussalam. Supir taksi sempat heran dan bertanya mengapa kami melakukan jalan-jalan ke negaranya. Diceritakannya bahwa jumlah penduduk Brunei berkisar 400 ribu orang, sepi suasananya, penduduk Brunei malah banyak yang pergi pesiar ke Indonesia, Kota Kinabalu, Kuching, Miri, Kuala Lumpur dan beberapa kota di Malaysia. Yang menariknya adalah jumlah taksi seluruh Brunei Darussalam yang tercatat hanya 35 unit tapi yang aktif beroperasi 22 unit saja. Katanya jangan harap setelah belanja di Mall akan mudah mendapatkan taksi kecuali memanggilnya via telpon kalau tidak ingin menunggu 2 jam. Sebagian besar penduduk Brunei memiliki mobil dan jarang yang berjalan kaki. Mereka lebih memilih untuk membeli mobil daripada motor karena harga keduanya tidak berbeda jauh. Malah sarannya lebih baik menggunakan bus kalau jalan-jalan mengelilingi Brunei karena lebih murah yaitu 1 Brunei Dollar (kemanapun rutenya tarifnya sama).

2014-05-14 15.22.40

2014-05-14 15.22.57

Tanpa terasa kami tiba di depan Brunei Hotel, salah satu hotel tertua di Brunei Darussalam. Sambil menurunkan barang kami dan membawanya ke dalam hotel, supir taksi nan ramah tersebut memberi sebuah kartu nama. Tertulis nama Azman dengan beberapa nomer telpon. Sebelum pergi, Pak Azman berpesan kalau mau pergi kemana-mana dapat menghubunginya.

2014-05-13 16.30.53

2014-05-13 16.30.31

Alhamdulillah kami mendapatkan kamar hotel yang mempunyai pemandangan strategis. Begitu membuka jendela terlihat sungai kecil dengan pemandangan pasar tradisional  Tamu Kianggeh Brunei Darussalam. Selain itu letak hotel kami sangat strategis karena dekat dengan obyek wisata mulai dari Kampung Ayer, Royal Regalia sampai Mesjid Omar ‘Ali Saifuddien.

2014-05-13 18.33.56

2014-05-13 18.34.14

2014-05-13 18.35.13

2014-05-13 18.39.34

2014-05-13 19.21.52

2014-05-13 19.24.19

2014-05-13 19.19.42

Hari pertama di Brunei walaupun sudah malam dan gerimis hujan datang tidaklah kami sia-siakan. Setelah berkeliling sejenak untuk mengamati suasana malam di kota Bandar Seri Begawan dengan menyusuri sungai Brunei dan berharap menemukan toko yang menjual kaos sebagai pakaian pengganti. Ternyata sebagian besar toko-toko sudah tutup. Akhirnya kami menemukan lokasi khusus berjualan berbagai jenis makanan. Sepertinya menarik juga untuk dicoba lokasi kuliner tersebut. Dari sekian banyak makanan yang disajikan dan dijual, ternyata saya dan istri terpincut dengan satu outlet yaitu outlet satay. Tampak ibu tua memperhatikan kami dan langsung menawarkan dan menjelaskan satay yang dijualnya. Tertulis jelas HMY Satay dengan berbagai jenis satay tetapi dengan harga yang sama setiap jenisnya. 1 Brunei Dollar untuk 4 tusuk satay plus 1 Brunei Dollar untuk 3 buah ketupat ukuran kecil. Satay yang dijual adalah satay ayam, satay daging (sapi), satay urat, satay hati kura (kerbau) dan satay kambing. Semua jenis satay tersebut kami dicicipi. Tidak ada yang berbeda dengan sate yang dijual di Indonesia, hanya yang membedakan bumbunya saja yaitu bumbu kacang dengan porsi yang banyak. Dan tak lupa minuman yang kami pesan adalah teh tarik dan teh o ping.

2014-05-13 18.45.40

2014-05-13 18.50.42

Malam semakin larut, satay sudah habis disantap maka saatnya kembali ke hotel untuk menyegarkan kembali tubuh kami yang lelah dan kesal karena lamanya perjalanan dan kuatir memikirkan nasib koper saya yang belum jelas keberadaannya. Sambil berharap keesokan harinya kami mendapatkan suasana dan pengalaman yang menarik selama 3 hari 2 malam di Brunei Darussalam.

(bersambung)