Ketahanan Pangan Itu Masalah Nasional, Bukan Masalahnya…

Kemarin saya sempat membaca berita tentang ajakan SBY untuk bercocok tanam di pekarangan rumah dalam rangka menjaga ketersediaan pangan. Setelah itu saya tertarik juga tentang ajakan Pak Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan) agar masyarakat makan singkong dan ubi dan lagi-lagi berkaitan dengan ketahanan pangan pada masa yang akan datang. Selanjutnya ada omongan salah satu anggota DPR yang mengatakan Kementerian Pertanian harus menjadi motor dalam masalah ketahanan pangan.

Setelah saya membaca dengan seksama berita-berita tersebut, saya teringat dengan tulisan yang pernah dibuat yang berkaitan juga dengan ketahanan pangan. Nah untuk mengingatnya kembali maka saya akan tunjukkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia yang diluncurkan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia tahun 2009 dan Peta Persentase Penduduk Miskin di Indonesia. Saya pikir Ketahanan dan Kerentanan Pangan berkaitan erat dengan kemiskinan.

PETA PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA (geospasial.bnpb.go.id)

PETA PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA (geospasial.bnpb.go.id)

Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia (http://bkp.deptan.go.id)

Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia (http://bkp.deptan.go.id)

Apa yang bisa kita dapatkan dari peta-peta di atas? Dari pernyataan yang disampaikan oleh Presiden SBY dan pembantunya memang baik tetapi belum menyelesaikan masalah ketahanan dan kerentanan pangan yang dihadapi Indonesia pada saat ini. Penyelesaian masalahnya harus komprehensif dan tidak sepotong-potong. Sepertinya masalah ketahanan pangan hanya menjadi masalah pemerintah saja. Tidak, ini bukan masalah presiden, menteri, atau DPR tetapi ini masalah nasional.

Dalam melihat gambaran kondisi ketahanan pangan pada peta di atas maka masalah ketahanan pangan harus menjadi prioritas nasional dengan penggeraknya adalah pemerintah daerah. Pemerintah daerahlah yang mengetahui kondisi sebenarnya tentang potensi dan keunggulan komoditi pangan yang dimiliki dengan dibantu oleh universitas setempat, Litbang Pertanian Daerah dan seluruh elemen masyarakat daerah.

Dulu pemerintah kolonial Hindia Belanda pernah memperkenalkan Culture Stelsel. Culture stelsel adalah undang-undang yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda yang mewajibkan rakyat Indonesia menanam tanaman komoditi pertanian dan perkebunan, yang berlangsung sejak 1830-1970. Kenyataannya: Memang benar tanam paksa diadakan pada tahun sekitar itu, tetapi culture stelsel bukan berarti tanama paksa, melainkan aturan tanam baru yang dikeluarkan Belanda.

Penerapan aturan tanam baru di Indonesia bukanlah sekedar aturan tetapi pemerintah Hindia Belanda menerapkannya setelah melalui beberapa kali penelitian oleh ahli-ahli pertanian pada saat itu untuk mengetahui komoditi pertanian seperti apa yang cocok dengan kondisi geografis suatu wilayah (Peta Komoditi Pertanian Indonesia). Dengan cultuire stelsel ini, Indonesia jadi mempunyai variasi tanaman yang semakin beragam, seperti jagung, coklat, dan teh.  Selain menambah jenis tanaman yang baru, Indonesia jadi tahu bagaimana atau teknik menanam tanaman-tanaman baru itu.

Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih pernah memanfaatkan kembali Peta Komoditi Pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional kita. Tetapi gaungnya biasa-biasa saja alias belum ada tanggapan serius terutama dari pemerintah daerah. Memang ada beberapa daerah yang memanfaatkan peta komoditi pertanian tersebut. Contohnya adalah pemerintah Gorontalo semasa Gubernurnya Fadel Muhammad yang menjadi daerahnya sebagai sentra tanaman jagung untuk Indonesia wilayah timur bahkan diekspor ke Jepang.

Sewaktu saya masih sekolah dasar, dalam pelajaran geografi saya mendapatkan penngetahuan tentang bahan  makanan utama  beberapa daerah di Indonesia. Bahan makanan utama masyarakat Madura dan Nusa Tenggara adalah jagung. Masyarakat Maluku dan Irian Jaya mempunyai makanan utamanya sagu. Dan beras adalah makanan utama untuk masyarakat Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sualwesi walaupun ada juga yang menjadikan singkong, ubi dan sorgum sebagai bahan makanan utama. Tetapi semua pelajaran tersebut berubah total setelah pemerintah orde baru dengan Swasembada Berasnya secara tidak langsung memaksa orang yang biasa mengkomsumsi bahan makanan non beras untuk mengkonsumsi beras. Apa yang terjadi kemudian? Terjadilah lonjakan konsumsi/kebutuhan beras nasional sampai sekarang sehingga memaksa pemerintah untuk impor beras. Keberagaman komoditi pertanian yang menjadi ungulan setiap daerah di Indonesia terlenyapkan demi progran Swasembada Beras. Seharusnya biarkan masyarakat suatu daerah mengkomsumsi bahan makanan yang biasa dikonsumsi secara turun temurun. Semua itu bisa terlaksana asalkan ada Goodwill dari bangsa ini mulai dari presiden, menteri dan seluruh rakyat untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki.

Dengan mengembangkan keunggulan komoditi pertanian yang dimiliki oleh daerah, Indonesia tidak perlu ekspor apalagi impor. Jumlah penduduk 240 juta dapat menjadi pasar yang luar biasa bagi Indonesia. Jangan berpikir ekspor tetapi penuhi terlebih dahulu kebutuhan dalam negeri dengan memanfaatkan keunggulan komoditi masing=masing daerah. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan Jagung, Jawa dapat membelinya ke Sulawesi atau Nusa Tenggara. Untuk memenuhi kebutuhan bawang maka Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan lain-lain dapat membeli ke Jawa. Jadi harus ada kekhususan komoditi pertanian suatu daerah sebagai komoditi pertanian unggulan.

Saya pikir apa terdapat pada Peta Komoditi Pertanian baik yang dibuat pada culture stelsel atau yang sudah diperbaharui baik oleh Litbang Kementan/Universitas bisa menjadi pedoman bagi pemerintah pusat untuk membuat aturan mainnya sehingga benar-benar tejadi pemerataan pertumbuhan ekonomi di seluruh Indonesia. Bergerak dalam satu kata dan satu perbuatan demi bangsa dan negara.

Kebijakan yang komprehensif juga harus terlihat dalam penegakan hukum. Kalau sudah bicara ketahanan nasional berarti menjaga kehormatan bangsa. Kalau ada segelintir orang atau kelompok yang mencoba-coba bermain dan mengacaukan kepentingan pangan nasional demi keuntungan sendiri maka dapat disamakan dengan tindakan terorisme karena kepentingan pangan nasional identik dengan kepentingan kebutuhan primer rakyat Indonesia. Maka TNI/Polri secara otomatis turun tangan. Contoh yang terlihat jelas adalah masalah bawang merah. Seharusnya pemerintah pusat segera menurunkan para intel untuk mengawasi masuknya bawang impor yang masuk ke Indonesia. Terjunkan para intel untuk mengawasi dan memata-matai mereka yang ingin merusak aturan main yang sudah dibuat karena berkaitan dengan masalah nasional.

Keterangan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia :

Dari 346 kabupaten yang dianalisis Dewan Ketahanan Pangan (DKP) terdapat 100 kabupaten yang memiliki tingkat resiko kerentanan pangan yang tinggi dan memerlukan skala prioritas penanganan.

Di antara 100 kabupaten berperingkat terbawah yang disebut dalam Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan 2009 tersebut dibagi lagi menjadi tiga wilayah prioritas, yakni: prioritas 1, prioritas 2 dan prioritas 3.

Ada 30 Kabupaten yang termasuk Prioritas 1 untuk mendapatkan penanganan, yakni sebagian besar kabupaten tersebar di Indonesia bagian Timur, terutama di Papua (11 kab), NTT (6 kab) dan Papua Barat (5 kab). Total jumlah penduduknya mencapai 5.282.571 jiwa.

Yang termasuk Prioritas 2 terdapat 30 kabupaten, yakni sebagian besar terdapat di Kalimantan Barat (7 kab), NTT (5 kab), NAD (4 kab), dan Papua (3 kab). Total jumlah penduduknya mencapai 7.671.614 jiwa.

Yang termasuk Prioritas 3 terdapat 40 kabupetan, yakni sebagian besar terdapat di Kalimantan Tengah (6 kab), Sulawesi Tengah (5 kab) dan NTB (4 kab). Total jumlah penduduk di wilayah Prioritas 3 ini 11.785.667 jiwa.

Penentuan status ketahanan dan kerentanan suatu wilayah dalam peta ini didasarkan pada 13 indikator yang dikelompokkan dalam 4 katagori. Pertama, ketersediaan pangan. Indikator yang dianalisis adalah 1) konsumsi normatif per kapita terhadap rasio ketersediaan bersih padi + jagung + ubi kayu + ubi jalar. Kedua, Akses terhadap Pangan. Indikatornya: 2) Persentase penduduk di bawah garis kemiskinan; 3) Persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai, dan 4) Persentase penduduk tanpa akses listrik.

Ketiga, Pemanfaatan Pangan (Konsumsi pangan, kesehatan dan gizi). Indikatornya adalah: 5) Angka harapan hidup pada saat lahir, 6) Berat badan balita di bawah standar, 7) Perempuan buta huruf, 8) Rumah tangga tanpa akses air bersih; dan 9) Persentase penduduk yang tinggal lebih dari 5 Km dari fasilitas kesehatan.

2010 : Kemiskinan Di Amerika Serikat Meningkat Drastis

Data sensus terbaru  menunjukkan penduduk AS terus merasakan efek dari masalah ekonomi walaupun secara resmi ES telah menyatakan keluar dari resesi ekonomi pada bulan Juni 2009. Menurut laporan Biro Sensus AS yang dikeluarkan tanggal 13 September 2011, telah terjadi peningkatan angka kemiskinan pada tahun 2010 sekitar 15,1 persen dibandingkan dengan tahun 2009 berkisar 14,3 persen. Itulah angka kemiskinan  tertinggi sejak tahun 1993.

A homeless man sits on the street. CREDIT:  Wrangler, Shutterstock

A homeless man sits on the street. CREDIT: Wrangler, Shutterstock

Antara tahun 1993 sampai 2000, tingkat kemiskinan AS selalu mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada tahun 2000, tingkat kemiskinan AS mencapai angka terendah yaitu 11,3 persen. Sedangkan antara tahun 2007 sampai 2010 , tingkat kemiskinan mengalami kenaikan sekitar 2,6 poin persen.

Para ilmuwan sosial telah menemukan banyak efek dari resesi yang dimulai sejak  Desember 2007 dan terus berlanjut sampai tahun 2009. Sebuah survei bulan Mei 2011 tentang keuangan pribadi ditemukan  bahwa lebih dari sepertiga orang Amerika merasa situasi keuangan mereka semakin parah dan tidak lebih baik. Bahkan menurut sebuah survei bulan April 2011, para dokter hewan melaporkan adanya  peningkatan centang (tick), kutu, cacing anjing (heartworm) dan kondisi dimana para pemilik hewan peliharaan jarang memeriksakan hewannya ke dokter hewan dengan alasan  menghemat uang.

Berdasarkan laporan sensus “Income, Poverty and Health Insurance Coverage in the United States: 2010″, sejak  tahun 2007  rata-rata pendapatan rumah tangga riil menurun 6,4 persen. Penurunan ini signifikan terjadi pada  rumah tangga orang kulit  putih maupun  hitam di luar wilayah negara bagian Northeast.

Pada tahun 2010,  ada sekitar 9,2 juta keluarga berada dalam garis kemiskinan dan telah terjadinya tingkat kemiskinan dibandingkan tahun 2009 sekitar 8,8 juta keluarga. Artinya diperkirakan ada  46.200.000 orang hidup dalam kemiskinan ( lebih banyak 2,6 juta orang dibandingkan tahun 2009). Tingkat kemiskinan  tergantung pada ukuran keluarga. Sebagai contoh ukuran keluarga berjumlah 5 orang yang mempunyai pendapatan tidak lebih dari $ 26.675 per tahun maka telah memenuhi syarat untuk dikatakan keluarga miskin pada tahun 2010.

Pada tahun 2010, persentase orang dengan asuransi kesehatan tetap sama dengan tahun 2009. Sekitar 9,8 persen dari anak di bawah usia 18 (7,3 juta anak-anak) tanpa asuransi kesehatan. Saat ini  16,3 persen ( 49.900.000 orang) orang dewasa  di Amerika Serikat   pergi tanpa asuransi kesehatan.

Peningkatan Suhu Mempengaruhi Penurunan Produksi Beras Di Asia

Around three billion people eat rice every day, and more than 60 percent of the world's one billion poorest and undernourished people who live in Asia depend on rice as their staple food. (Credit: IRRI)

Menurut sebuah studi  baru oleh tim peneliti internasional, peningkatan suhu di sebuah daerah produksi padi menyebabkan terjadinya penurunan produksi. Penurunan produksi padi makin diperparah oleh perubahan iklim lanjutan sehingga cukup mengkhawatirkan produksi tanaman yang merupakan salah satu penentu ketahanan pangan dan mengatasi kemiskinan di dunia. Tim peneliti juga menemukan bukti bahwa dampak kenaikan suhu diproyeksikan dapat memperlambat pertumbuhan produksi padi di Asia. Peningkatan suhu  selama 25 tahun terakhir ini telah memotong laju pertumbuhan produksi padi sekitar 10-20 persen di beberapa lokasi.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 9 Agustus 2010 berdasarkan laporan yang menganalisa data  selama enam tahun dari 227   sawah irigasi di enam negara  Asia yang pertumbuhan produksi padinya paling besar  (lebih dari 90 persen produksi beras dunia  berasal dari daerah-daerah ini).

Jarrod Welch, penulis utama laporan dan mahasiswa pascasarjana di bidang ekonomi di University of California, San Diego mengatakan bahwa peningkatan  suhu harian minimum atau suhu malam menjadi  lebih panas menyebabkan penurunan produksi beras hasil. Ini merupakan  studi pertama untuk menilai dampak baik suhu harian maksimum dan minimum terhadap produksi padi di sawah irigasi yang dikelola petani di daerah tropis dan subtropis di Asia. Petani diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi riil tersebut sehingga produksinya  mungkin berbeda dengan hasil yang biasa diperoleh .

Sekitar tiga miliar orang makan nasi setiap harinya.  Lebih dari 60 persen dari penduduk dunia atau  satu milyar orang yang tinggal di Asia tergantung pada beras sebagai makanan pokok dan hidup dalam kemiskinan serta kekurangan gizi. Sebuah penurunan produksi padi berarti lebih banyak orang akan tergelincir ke dalam jurang  kemiskinan dan kelaparan.

Jika kita tidak dapat mengubah metode produksi beras atau mengembangkan strain padi baru yang tahan terhadap suhu yang lebih tinggi maka akan ada kerugian dalam produksi beras selama beberapa dekade mendatang. Kondisi dunia akan semakin buruk seiring dengan peningkatan suhu lanjutan  pada pertengahan abad ini.

Bagaimana dengan Indonesia ? Silahkan melihat peta berikut ini:

koran-jakarta.com

Sumber : Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Penyusutan Lahan Sebagai Isu Utama (hagemman.wordpress.com)

Rantai Babi, Nyatakah ?

brg-antik.blogspot.com

Setelah membaca tulisan Pak Ragile yang berjudul Tragedi Mengejar Warisan Bung Karno (Kisah Nyata) maka saya teringat dengan sebuah peristiwa yang berhubungan dengan tulisan beliau sekitar 6 tahun yang lalu. Walaupun tidak ada kaitan langsung dengan apa yang dinamakan Harta Peninggalan Bung Karno tapi masih merupakan ekses dari pengejaran harta Bung Karno.

Terus terang saya selalu mengikuti perkembangan berita-berita tentang hal tersebut sejak tahun 1999. Karena secara tidak langsung saya pernah terlibat di dalam lingkungan atau komunitas yang bermain di barang-barang yang dikatakan harta Bung Karno. Secara eksplisit saya akan menyebutkan beberapa barang yang selama ini dikejar-kejar oleh orang yang telah dibutakan matanya karena tergiur akan iming-iming menjadi milyader tapi saya memaklumi. Semuanya berkaitan dengan faktor ekonomi. Perlu diketahui sebagian besar yang terlibat baik langsung maupun sekedar penggembira rata-rata punya masalah ekonomi seperti usaha bangkrut, hutang dengan pihak ketiga, tidak punya pekerjaan dan ingin tahu saja.

Saya bisa terlibat di dalamnya karena almarhum Bapak sempat terjerat dan masuk dalam permainan ini. Bahkan beliau sempat kehilangan uang mencapai Rp 300 juta. Coba bayangkan 300 juta hilang dalam sekejap hanya untuk urusan yang tidak rasional walaupun ludasnya bertahap. Banyak orang yang menyalahkan beliau tapi sayalah orang yang membela beliau dengan alasan apa yang dilakukan beliau tersebut semata-mata sebagai tanggung jawab beliau di dunia untuk tidak membebankan keluarga kelak beliau meninggal dunia yaitu hutang kepada pihak ketiga. Alhamdulillah dengan perjuangan yang luar biasa semua hutang beliau lunas tanpa bantuan barang-barang yang dikatakan harta Bung Karno.

Oh ya saya hampir lupa. Barang-barang yang dikejar diantaranya UBCN (Uang Brazil), Uang Peru, Rial, Emas, Platina, Uang Bung Karno gambar Srimpi, Tongkat Bung Karno, Samurai, Anti Cukur, Anti Basi, Giok, bambu petung, sampai yang namanya rantai babi. Mungkin dari kompasianer merasa asing bila mendengar nama-nama tersebut. Saya akui kalau barang-barang tersebut riil ada dan sering kali melihat demonya. Jadi bukan mengada-ngada cuma saja semuanya hanyalah aksi tipu menipu yang mampun menghipnotis orang untuk takjub dan mengkhyal menjadi orang kaya. Tetapi akhirnya adalah balapan kere alias cepat-cepatan miskin.

Saya akan ceritakan sedikit pengalaman tentang barang yang namanya rantai babi. Aneh ya kedengarannya tapi barang tersebut ada dan saya pernah melihat cara pemakaian barang tersebut. Banyak orang yang mengatakan bentuknya seperti ini dan itu. Tetapi yang pernah saya lihat bentuknya seperti gelang bulat dengan diameter tertentu. Anehnya lingkarannya kelihatan tidak muat di pergelangan tangan kita tapi setelah dimasukkan ternyata pas ukurannya. Ukuran pergelangan tangan siapapun bisa dimasukkan oleh rantai babi tersebut. Hanya saja ada yang unik dari rantai babi ini yaitu bila dipakai lebih dari 1 menit saja maka seluruh badan terasa sekali gatal dan makin menjadi gatalnya kalau tidak segera dilepaskan dari pergelangan tangan.

Ada seorang teman yang menguasai sekali tentang ilmu dan pemakaian rantai babi ini. Kebetulan dia adalah seorang ustad tapi sayangnya teman saya ini mempunyai watak yang kurang baik. Saya sering menyebutnya ustad setan karena wajahnya yang keras, cepat marah dan sering memamerkan kemampuannya di depan orang banyak. Saya juga merasa heran mengapa banyak orang menyebutnya ustad walaupun saya tahu kalau dia memang lulusan salah satu pondok pesantren  di Tasikmalaya.

Terus terang pada saat saya diajak dia untuk berdemo di depan orang banyak dan siang hari lagi, saya kurang tertarik tapi keingin tahuan saya tentang rantai babi ini membuat saya mengikuti demo yang dilakukan. Kata teman ini, rantai babi bisa dipakai untuk menarik uang. Ini benar adanya tapi ada syaratnya. Syaratnya juga sederhana yaitu sediakan singkong sekitar 1 kuintal dan harus ada kolam air atau tambak. Setelah dipenuhi syaratnya barulah teman melakukan aksinya.

Pertama-tama rantai babi dimasukkan ke pergelangan tangannya. Dalam beberapa menit tiba-tiba terjadi perubahan penampilan dan gerakan yang aneh menyerupai seekor babi. Lama kelamaan berubah menjadi babi benaran. Luar biasa khan dan ini terjadi pada siang hari bolong. Terus bagaimana cara penarikan uangnya ?

Wujud babi tersebut segera mendekati tumpukan singkong. Setiap babi tersebut memakan beberapa singkong maka di dalam kamar yang sengaja dibuka pintunya terlihat uang berjatuhan. Entah dari mana jatunya uang-uang tersebut. Begitu terus kejadiannya sampai singkongnya habis dimakan dan uang di kamar sudah bertumpuk serta mencapai jutaan rupiah. Aneh dan mengagumkan.

Setelah itu babi menghabiskan singkongnya maka selanjutnya babi berjalan ke kolam air. Apa yang terjadi ? Tepat babi berendam di kolam air, tiba-tiba terlempar sebuah benda ke luar kolam. Ternyata benda tersebut adalah rantai babi. Dan babi berubah wujud menjadi teman saya yang dalam kondisi telanjang bulat dan tidak sadarkan diri selama 10 menit.

Selanjutnya teman dibawa masuk dan diberi makanan. Tampak sekali kalau teman ini kelelahan dalam menjalankan ilmunya tersebut. Sementara itu uang yang bertumpuk-tumpuk di kamar dan disaksikan banyak orang dibiarkan selama setengah hari. Setelah lewat setengah hari, teman mengambir beberapa lembar uang yang semuanya uang 50 ribuan. Beberapa orang disuruh menjajankan uang tersebut ke warung untuk membeli barang-barang apapun seperti kopi, gula, makanan dan lain-lain. Terus terang saya juga menikmati uang tersebut dalam bentuk rokok. Tapi yang membuat saya merasa aneh adalah rokok yang dibeli rasanya tidak karuan alias hambar. Ada apakah gerangan yang terjadi ?

Setelah beberapa kali berpikir dan merenungkan semua kejadian tersebut barulah saya mengerti kalau semua itu hanyalah permainan gaib yaitu menggunakan jasa jin untuk mengambil uang-uang yang ada di warung/toko yang ada di kota (sebelumnya teman sudah menandai tempat-tempat yang uangnya akan diambil). Jadi judulnya tetap mencuri dan ini hanyalah sihir. Mata kita disilapkan oleh kekuatan jin. Saya berani mengatakan sihir karena setiap teman memakai uang tersebut maka teman ini langsung muntah darah dan pingsan. Kejadian ini terjadi terus menerus selama 3 hari sampai-sampai uang yang bertumpuk tidak habis dipakai.

Saya sendiri memakai uang hasil demo tersebut mencapai 500 ribu yang diberikan teman tersebut untuk ongkos pulang. Alhamdulillah saya tidak mengalami kejadian yang aneh-aneh karena dari awal niat saya hanya ingin tahu apakah benar ada ilmu seperti itu ? Sejak kejadian itu saya tidak pernah bertemu lagi dengannya. Terakhir saya mendengar kabar kalau teman ini masuk penjara di Bandung karena melakukan penipuan kepada banyak orang dengan iming-iming bisa menggandakan uang.

Sebetulnya masih banyak cerita yang ingin saya sampaikan karena terus terang sampai saat ini masih saja orang-orang mengejar hal-hal seperti ini. Beberapa orang sudah diingatkan oleh saya tentang bahayanya bermain dengan hal-hal seperti ini. Karena pada akhirnya adalah BALAPAN KERE (seperti komentar saya di tulisan Pak Ragile). Carilah usaha yang riil seperti berdagang dan lain-lain. Nanti suatu saat saya akan jelaskan tentang yang namanya harta-harta peninggalan Bung Karno kalau saya ingat ya hehehehe.

SALAM ADAVERASADA

” SUSAH DINAIKIN, NAIK DISUSAHIN “

Ilustrasi (widjojodipo.wordpress.com)

Ini bukan tebak-tebakan tetapi omongan seorang anak berumur 10 tahun putera dari teman lama yang sudah lama tidak dikunjungi.

Tidak tahu mengapa, tiba-tiba kemarin siang saya ingin sekali  bertemu dengan teman-teman lama. Walaupun  malamnya begadang alias melototin tv  tapi saya usahakan untuk pergi  dengan menggunakan kendaraan umum.

Perjalanan pertama saya menuju daerah jembatan merah, menteng dalam dekat manggarai dimana teman saya tinggal. Ternyata kondisi lingkungannya tidak berubah sama seperti 4 tahun yang lalu yaitu rumah kecil ukuran 4 x 6 meter persegi yang ditempati lima orang. Dengan mengucapkan salam khas saya, mereka terkejut dan tidak menduga saya datang. Mereka pikir saya tidak akan pernah lagi datang berkunjung.

Tiba-tiba datang seorang  anak berusia 10 tahun menghampiri saya dan dengan malu-malu bertanya siapa saya ini. Dijelaskan oleh bapaknya tentang siapa diri saya. Kemudian anak itu mengeluarkan pernyataan yang sangat aneh yaitu

“ Om,  susah dinaikin, naik disusahin. Apaan itu?”

” Adik mau main tebak-tabakan ” tanya saya.

” Bukan tebak-tebakan, om ”  jawabnya

Tiba-tiba ibunya datang dengan mimik kecewa, marah  bercampur aduk perasaannya.

“ Cech itu maksudnya sekarang sudah hidup susah,  barang-barang dinaikkin harganya. Setelah dinaikkan harganya eh..barangnya bermasalah ”

Rupanya istri teman sudah seharian mencari gas tabung ukuran 3 kg tapi  tabungnya mengkhawatirkan kondisinya. Sudah begitu bayaran listrik naik lagi. Ini akan berakibat naiknya barang-barang yang lain.

Kemudian teman bercerita walapun kehidupan mereka selama ini serba minim tapi tetap  tidak putus asa dan selalu optimis. Sebagai informasi, teman saya ini adalah mantan napi yang telah masuk penjara 3 kali dengan kasus ke-1 membunuh marinir di Surabaya gara-gara memperebutkan lahan parkir, kasus ke-2 membunuh pamannya sendiri tapi tidak sampai mati karena pamannya menghabiskan uang warisan ibunya yang merupakan warisan keluarga mereka, kasus ke-3 adalah kasus 27 Juli 1996 (Kasus PDI Pro Mega) dengan hukuman 3 tahun tetapi dijalaninya hanya 1,5 tahun dengan kondisi siksaan seperti tangan dan kaki diinjak meja sewaktu interogasi sehingga sampai sekarang jari tangannya tidak bisa digerakkan dengan normal.

Enam tahun lalu saya bertemu di padepokan Uyut saya setelah itu kami dekat tetapi kami berbeda tujuan yaitu dia pro Ibu Mega (PDIP) dan saya tetap netral sampai sekarang walaupun saya mengagumi Bung Karno. Saya selalu mengingatkan kehidupun berpartai penuh dengan intrik kekuasaan. Kita harus tahu apakah tempat kita bergantung akan memperhatikan kehidupan kita atau tidak. Bukan hanya membutuhkan pada saat ada  kepentingan saja. Ternyata dia mendengarkan omongan saya dan sejak pembicaraan itu dia tidak terlalu intens lagi terhadap partai.

Kemudian saya belikan alat untuk menggergaji  kayu yang digunakan untuk membuat bingkai foto dan menjual foto-foto Bung Karno . Alhamdulillah jalan sampai sekarang. Selain itu dia mempunyai  bisnis kecil-kecilan seperti calo karcis kereta api, tanah, dan instalatir listrik.

” Cech, ketika kami sekeluarga mulai bangkit dari kemiskinan tanpa bantuan pemerintah. Kok bisa-bisanya pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membuat rakyat makin susah sehingga timbul keinginan saya untuk kembali lagi ke partai, bagaimana ini Cech”

” Apakah selama ini partai membantu kehidupan kalian sekeluarga? Khan tidak, sama saja dengan pemerintah. Itu hanya elit-elitnya saja yang ribut akan kekuasaan dan membutuhkan orang-orang dibawah pada saat ada kepentingan pribadi/golongan, Kita harus optimis selama kita bisa memperbaiki diri sendiri tanpa mencampuri urusan orang lain. Hidup kita akan bahagia lahir batin kok. Kalau hidup kita bahagia setidaknya memberi kebahagiaan kepada lingkungan disekitar kita berupa energi kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang atau materi.”

Omongannya kayak motivator saja  walaupun saya sendiri mempunyai beban dan masalah juga.  Maka itu hidup itu adalah kelakuan bukan perbuatan.

Setelah 2 jam penuh kami berbincang-bincang, saya pamit diri  untuk mengunjungi teman lama lainnya yang sudah direncanakan sebelumnya.

” Susah dinaikkin, naik disusahin ” Kalimat tersebut selalu terngiang di telinga selama  perjalanan.

Peluncuran Peta Baru Daerah Rentan Pangan

PETA PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA (geospasial.bnpb.go.id)

Ada dua berita baru di dunia pertanian yang sengaja saya publikasikan di Kompasiana agar makin menyadarkan dan memotivasi kembali bangsa ini terhadap potensi-potensi yang ada di daerah dalam rangka mengurangi jumlah penduduk miskin dengan meningkatkan pemberdayaan penduduk sekitar akan potensi produk pertanian (produk unggulan) yang dimiliki masing-masing daerah di Indonesia. Dua berita baru di dunia pertanian tersebut disadur dari SINAR TANI ONLINE

Peta Baru Daerah Rentan Pangan

Dengan peta ini pejabat pusat dan daerah bisa tahu upaya apa yang perlu diprioritaskan untuk mengatasi busung lapar atau kerentanan pangan di suatu wilayah.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan hal itu saat meluncurkan (soft lounching) Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan 2009 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). ”Melalui Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan ini di antaranya dapat diketahui lokasi keberadaan kantong-kantong rawan pangan di tingkat kabupaten,” tambahnya.

Peta itu disusun Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan kerjasama dengan World Food Programme (WFP). Peta ini adalah penyempurnaan dari Peta Kerawanan Pangan (Food Insecurity Atlas – FIA) yang dibuat pada tahun 2005. Sejak peta Kerawanan Pangan 2005 dipublikasikan telah banyak dilakukan program atau kegiatan yang berkaitan dengan Peta Kerawanan Pangan itu, baik di tingkat pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten.

Di tingkat pusat, Peta Kerawanan Pangan dijadikan sebagai acuan dalam penetapan prioritas lokasi dan pengalokasian anggaran pada Program Badan Ketahanan Pangan seperti Program Aksi Desa Mandiri Pangan dan Pemberdayaan Daerah Rawan Pangan. Di tingkat nasional, peta tersebut juga digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam penyusunan DAK (Dana Alokasi Khusus).

Jaman berubah, kondisi kerawanan pangan masyarakat pun berubah. Kondisi tahun 2005 tentu berbeda dengan kondisi saat ini. Maka sejak awal tahun 2009 Badan Ketahanan Pangan (BKP) dan WFP melakukan pemuktahiran Peta Kerawanan Pangan 2005. Peta barunya diberi nama baru: ”Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan” (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA) tahun 2009.

Perubahan nama Peta Kerawanan Pangan (Food Insecurity Atlas) menjadi Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas) jelas Mentan perlu dilakukan dengan pertimbangan untuk memperjelas pengertian mengenai konsep ketahanan pangan.

“Saya berharap, bahwa penyusunan FSVA tidak berhenti sampai kabupaten saja, tetapi juga mencakup sampai ke tingkat kecamatan dan desa, sehingga setiap tingkatan pemerintahan (provinsi dan kabupaten/kota) dapat memprioritaskan dan mensinerjikan sumberdaya yang dimiliki untuk menurunkan kerawanan pangan,” tambah Suswono.

100 Kabupaten Paling Rentan Pangan

Dari 346 kabupaten yang dianalisis Dewan Ketahanan Pangan (DKP) terdapat 100 kabupaten yang memiliki tingkat resiko kerentanan pangan yang tinggi dan memerlukan skala prioritas penanganan.

Di antara 100 kabupaten berperingkat terbawah yang disebut dalam Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan 2009 tersebut dibagi lagi menjadi tiga wilayah prioritas, yakni: prioritas 1, prioritas 2 dan prioritas 3.

Ada 30 Kabupaten yang termasuk Prioritas 1 untuk mendapatkan penanganan, yakni sebagian besar kabupaten tersebar di Indonesia bagian Timur, terutama di Papua (11 kab), NTT (6 kab) dan Papua Barat (5 kab). Total jumlah penduduknya mencapai 5.282.571 jiwa.

Yang termasuk Prioritas 2 terdapat 30 kabupaten, yakni sebagian besar terdapat di Kalimantan Barat (7 kab), NTT (5 kab), NAD (4 kab), dan Papua (3 kab). Total jumlah penduduknya mencapai 7.671.614 jiwa.

Yang termasuk Prioritas 3 terdapat 40 kabupetan, yakni sebagian besar terdapat di Kalimantan Tengah (6 kab), Sulawesi Tengah (5 kab) dan NTB (4 kab). Total jumlah penduduk di wilayah Prioritas 3 ini 11.785.667 jiwa.

Penentuan status ketahanan dan kerentanan suatu wilayah dalam peta ini didasarkan pada 13 indikator yang dikelompokkan dalam 4 katagori. Pertama, ketersediaan pangan. Indikator yang dianalisis adalah 1) konsumsi normatif per kapita terhadap rasio ketersediaan bersih padi + jagung + ubi kayu + ubi jalar. Kedua, Akses terhadap Pangan. Indikatornya: 2) Persentase penduduk di bawah garis kemiskinan; 3) Persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai, dan 4) Persentase penduduk tanpa akses listrik.

Ketiga, Pemanfaatan Pangan (Konsumsi pangan, kesehatan dan gizi). Indikatornya adalah: 5) Angka harapan hidup pada saat lahir, 6) Berat badan balita di bawah standar, 7) Perempuan buta huruf, 8) Rumah tangga tanpa akses air bersih; dan 9) Persentase penduduk yang tinggal lebih dari 5 Km dari fasilitas kesehatan.

SEMUT DI SEBERANG LAUTAN TAMPAK GAJAH DI DEPAN MATA TIDAK TAMPAK (IRONI)

Banyak teman-teman yang bertanya kepada saya “Kenapa sih Pak/Mas/Bung/ Den Cech diam dan tidak berkomentar tentang kejadian di Palestina? Apakah mengikuti Barack Husein Obama yang terdiam membisu ketika ditanya masalah penyerbuan tentara Israel ke Jalur Gaza Palestina ?”

Saya menjawab dengan santai. “Kalau Obama, bisa tanyakan kepada tim suksesnya atau orang-orang yang selama ini berpesta pora atas kemenangan beliau dan mempunyai harapan adanya perubahan cara pandang Amerika terutama terhadap negara-negara Muslim seperti Indonesia.” Tetapi kalau saya pribadi ditanya mengenai masalah Palestina, saya hanya ingin mengajak bangsa ini untuk berpikir pragmatis demi kemajuan dan kebesaran bangsa Indonesia. Nah lho kok begitu jawabnya diplomatiskah? masa bodokah? orang Islamkah? pengkhianat agamakah? Silakan menilai.

Saya tidak tertarik dengan masalah Palestina-Israel karena dari dulu begitu saja tanpa ada penyelesaian dan penanganan yang mutakhir dari pihak-pihak yang berkompeten seperti PBB, Amerika Serikat, Inggris, Mesir maupun negara-negara Liga Arab (berbangsa Arab. Kesimpulannya adalah semuanya mempunyai kepentingan yang melebihi daripada kepentingan agama. Contoh yang akan saya uraikan adalah sebagai berikut :

1. Di Palestina sendiri sebagai bangsa Arab terpecah menjadi 2 kubu yaitu kubu Fatah (Tepi Barat) yang lebih moderat untuk bekerjasama dengan Israel  demi terwujudnya negara Palestina yang dikomandoi Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan kubu Hamas (Jalur Gaza) yang radikal dan tidak mengakui negara Israel yang dikomandoi oleh PM Ismael Haneeya. Sejak Yasser Arafat meninggal dunia maka tidak ada lagi tokoh di Palestina yang disegani dan mampu merangkul kedua kubu tersebut. Jadi kesimpulannya selesaikan dulu di intern Palestina dalam mewujudkan perdamaian dan terwujudnya negara Palestina serta pihak luar tidak boleh ikut campur termasuk kita bangsa Indonesia.

2. Tidak semua bangsa Yahudi menyetujui berdirinya negara Zionis Israel yang merasa sebagai bangsa unggul di dunia. Bisa dilihat di www.nkusa.org . Kalau melihat dan memahami perjuangan anti zionis tersebut maka ada benarnya juga kalau Presiden Iran Ahmadinejad yang menyatakan bahwa pada saat Perang Dunia Kedua, Hitler tidak melakukan Holocoust karena yang dibantai Hitler adalah bangsa Yahudi yang beraliran Zionis yang radikal dan merasa paling unggul. Padahal Hitler sendiri mengatakan bangsa Aria adalah bangsa paling unggul di dunia. Jadi kloplah keras melawan keras.

3. Sementara kita di Indonesia sibuk berdemo dan mengumpulkan dana untuk Rakyat Palestina dari dulu sampai sekarang. Apa yang dilakukan oleh negara-negara Arab (jazirah Arab/Liga Arab) terhadap kebrutalan Israel. Padahal negara-negara Arab itu adalah sebangsa yaitu bangsa Arab, kaya seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait dan lain-lain tapi apa yang dperbuat oleh mereka? Hanya diam dan membisu karena mereka sudah nyaman dengan kekayaan mereka dan satu hal adalah hidup mereka sudah tergantung kepada Amerika serikat dan sekutunya. Mereka yang sebangsa Arab saja seperti masa bodo apalagi kita yang bukan sebangsa dengan mereka tetapi saya tidak ingin mengajak untuk masa bodo karena masa bodo terhadap lingkungan sekitar bukan sifat dan watak bangsa Indonesia yang mempunyai budaya yang luhur.

4. Antara Israel dan Palestina seringkali melanggar kesepakatan gencatan senjata. Padahal orang Palestina tahu kalau watak orang Israel adalah kalau 1 orang Israel dibunuh maka sebagai gantinya adalah 100 orang palestina  dan ini terus menerus berlangsung tanpa pernah ada pemikiran yang jernih menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Seharusnya ada penyelesaian yang lebih elegan seperti yang dilakukan oleh Yasser Arafat dengan Yitzak Rabin walaupun masih dalam kerangka dan peta damai ini tinggal diimplementasikan saja.

Pragmatisnya dimana dong?

Saya hanya ingin mengingatkan berdasarkan data BPS jumlah masyarakat miskin di Indonesia tahun 2006 berjumlah 39,05 juta orang (17,75 persen). Walaupun data ini sempat menjadi polemik tetapi tetap kisarannya 30 juta penduduk termasuk didalamnya ada 14,1 juta penduduk fakir miskin. Dan saya menduga angka kemiskinan ini akan bertambah saat krisis global yang mulai melanda bangsa ini sebagai dampaknya.

Kemudian masalah pengangguran yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia  sebagai dampak krisis global. Menurut data BPS, angka pengangguran di Indonesia tahun 2007 adalah 10,01 juta (www.antara.co.id) dan akan meningkat tajam pada tahun 2009 yang diperkirakan sekitar 650.000 orang. Ini merupakan ancaman dan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk menghadapi krisis lanjutan yaitu krisis sosial dimana orang akan mudah gelap mata untuk berbuat jahat, bunuh diri karena tidak sanggup menghadapi hidup, anak bunuh orang tua karena orang tuanya tidak sanggup membeli barang yang diinginkan oleh anaknya dan lain-lain.

Itulah kenapa saya lebih konsentrasi dan antusias untuk memberi komentar dan mencari solusi riil atas krisis yang kemungkinan besar melanda bangsa Indonesia ketimbang membicarakan Palestina-Israel. Disamping itu saya menginginkan kemandirian dari bangsa ini karena selama ini baik disadari atau tidak ketergantungan kita terhadap bangsa Amerika Serikat dan sekutunya terlalu besar. Jadi kita harus mengurangi ketergantungan itu sedikit demi sedikit agar kita bisa berdiri sejajar dengan mereka ketika kita berbicara mengenai masalah-masalah Internasional seperti masalah Palestina-Israel. Lihat yang dilakukan oleh Cina, India, Brazil, Venezuela, mereka berdiri tegak dan berani menentang hegemoni Amerika Serikat dan sekutunya. Karena apa? Mereka berpikir pragmatis yaitu mengurus diri mereka sendiri sampai bisa mandiri dan kokoh/kuat/tegap sehingga bisa berdiri dan mengangkat muka didepan Amerika Serikat dan sekutunya.

Pertanyaannya adalah 1,5 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza dan saudara mereka sebangsa seperti Mesir dan negara-negara Kaya di Jazirah Arab seperti diam membisu. Sementara ada 14,1 juta fakir miskin saudara kita yang tinggal berdampingan dengan kita sehari-hari. Manakah diantara keduanya yang akan DIPRIORITASKAN  untuk dibantu dan perlu ditangani?

media.montalvoarts.org

Silakan menjawab, renungkan dan tentukan sikap….

SEMUT DI SEBERANG LAUTAN TAMPAK JELAS GAJAH DI DEPAN MATA TIDAK TAMPAK ………SUNGGUH IRONIS BANGSA INI!!!!!