Bila Petani Dan Pedagang Malas Bertemu… ORA URUS

Makhluk satu ini memang unik dan aneh. Setiap saya pulang ke tanah air maka saya selalu kirim pesan di FB miliknya. ” Woiiiii kawan, saya pulang ke Indonesia. “ Tetapi jawabannya selalu begini,Ora Urus,,, ahahaha. aku mau kabur aja. hehehe “ Nah itu jawaban yang menjadi “ trade mark-nya “. Tetapi saya memakluminya, biasalah kalau petani malas dan pedagang malas kumpul maka hasilnya tidak jelas dan hanya ketawa-tawa saja.

Sehari kepulangan dari Thailand, saya langsung menghubungi dia via telepon. Seperti biasa, sinyalnya naik turun tidak sehingga sulit mencapai kata temu. Ya gimana mencapai kata temu kalau sebentar-bentar terputus, suara terdengar tidak jelas. Akhirnya disepakati komunikasi via sms atau inbox di FB barulah ada kesepakatan. Ok kita bertemu dalam acara buka puasa berdua.

” Buka puasa berdua ? “ tanya dia.

” Ya bukber ” jawab saya.

” Gaklah. Aku gak puasa. jadi gak usah dibuka. hehehe… ujarnya.

” Ok, bagaimana kalau kita sarapan pagi di Pondok Indah Mall khan dekat dengan tempatmu. “

” Nah itu lebih cocok. ahahaha. sarapan pagi. ai. udah lama gak denger istilah itu. selama ini aku dicekoki budaya gurun pasir. “

” Sepakat ya besok pagi  (H-1 Idul Fitri 1434 H) di Pondok Indah Mall (PIM). Tetapi kau yang menentukan tempatnya. “

” Emang gue anak PIM? Buta info kafe. Bentar aku tanyain… Warung kopi di PIM 3, Coffee Club “

” Jam berapa ? Jam 11 ya karena aku tahu kau baru bangun jam segitu hehehehe “

” Hehehe… Sip. “

Keesokan harinya saya datang lebih dahulu dan menunggu persis di depan Coffee Club. Beberapa menit kemudian datanglah kawan ini dengan rambut panjang baru dikeramas dan menenteng tas khasnya. ” Waduh Cech, kayaknya Coffee Club bukan tempat yang tepat buat kita kaum dhuafa. Bagaimana kalau kita cari ke PIM 1 “ komentar kawan ini setelah melihat pengunjung Coffee Club yang kebanyakan bule dan orang-orang dari kaum borjuis hahahaha…

Kebetulan dalam hati saya, dugaan saya untuk minum secangkir kopi di Coffee Club sudah terbayang harga selangit dan menguras kocek karena memang kesepatannya saya yang bayar sarapan pagi hari ini. Tetapi yang paling penting adalah tempat nongkrong yang bisa ngerokok lama-lama karena Coffee Club tidak menyediakan tempat merokok sama sekali. Asemmm…..

Setelah berjalan keliling beberapa menit, akhirnya kami menemukan tempat seperti Food Court namanya Area 5 di PIM 1. Yang membuat kami lega adalah area tersebut menyediakan tempat untuk kaum perokok yang berada di luar. Alhamdulillah dalam hati kami walau tidak berpuasa.

Dari sekian banyak outlet penjual makanan yang ada, pandangan kami tertuju kepada Kopi Tiam karena jelas sekali tertulis kata kopi di depan outletnya sehingga sesuai dengan tujuan kami sarapan pagi yaitu minum kopi sambil kongkow. Maka saya pesan 2 cup medium kopi dengan harga yang lumayan mengocek dompet. Satu cup medium harganya puluhan ribu rupiah. Tetapi sudahlah yang penting ikatan silaturahim kami tidak putus di tengah jalan hahahaha…

Image

Kawan dan suasana food area PIM 1 yang masih sepi pengunjung (dok. Cech)

Image

Kopi dan Rokok, teman setia kaum pemalas (dok. Cech)

” Bagaimana Cech, perjalanan ke Thailand kemarin “ Itulah pertanyaan pertama yang dilontarkannya pada saat kami baru duduk.

” Baik… Bagaimana dengan lahan pertanianmu di Cijapun ” saya tanya balik.” Ya kau tahu sendirilah tetap berjalan walaupun tersendat-sendat karena kemalasanku tapi masih bisa menghidupi orang yang bekerja di situ hehehe “

Dari percakapan awal tersebut, obrolan kami mengalir bak air bah. Mulai dari kisah asmara, kasmaran, tulisan, pertanian, buku, backpackeran sampai masalah tas. Tetapi dari semua itu yang terpenting adalah masalah pertanian. Banyak cerita yang keluar dari mulut kami berdua berdasarkan pengalaman yang dialami selama ini. Dan yang menarik adalah Beyond Organic Farming.

Apa itu Beyond Organic Farming ? Belum selesai membahas lebih lanjut saya memutuskan untuk pesan makanan karena gelas-gelas kopi kami telah habis diseruput. Kawan hanya mengatakan terserah saya lah untuk memilih makanan yang layak untuknya.

Setelah memesan makanan yang pantas untuk kami maka obrolan dilanjutkan. Tetapi obrolan terhenti sejenak ketika kawan ini melihat nomor pesanan makanan kami yaitu 26. ” Wah menarik nih cech dengan angka 26 “ celotehnya sambil menghisap Dji Sam Soenya dan saya pun turut menghisap Cigarillos.

Image

26 angka keramat sekalian angka pencetus ide (dok. Cech)

Ya… 26. Berdua backpackeran mengelilingi 6 negara yaitu Thailand, Myanmar atau Srilanka, India, Nepal atau Bhutan, Pakistan atau Afghanistan dan terakhir Iran sambil mempelajari pertanian keenam negara tersebut terutama organic farming-nya. Kamipun segera mencari Google Map via tablet Sony saya untuk menelusuri perjalanan yang tepat dan efisien terutama berkaitan dengan kalkulasi dana yang harus dikeluarkan. Akhirnya ditemukan angka rupiah yang pas sebagai persiapan dan pelaksanaan perjalanan tersebut serta berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Image

Kuliner yang katanya asal Singapura (dok. Cech)

Image

Kuliner yang katanya asal Thailand (dok. Cech)

Image

Amanlah kalau sudah ada ini (dok. Cech)

Tiba-tiba datanglah pelayan Kopi Tiam dengan 2 porsi makanan untuk kami.

” Apa nih Cech ? “

” Gak usah tanya. Pokoknya makan aja, ini makanan yang pas untuk kaum pemalas seperti kita. Terserahlah namanya, abis pakai bahasa Inggris yang susah diingat hehehehe “

” Sip… break fast (baca: buka puasa) yang menyegarkan hahahaha “

Image

Buku Trilogi Perjalanan Karya Agustinus Wibowo (dok. Cech)

Image

Dua cup cappucino menyemangati obrolan kami (dok. Cech)

Setelah menyantap makanan, kami melanjutkan pembicaraan terutama tentang rencana perjalanan sampai membuat buku tentang perjalanan tersebut (terbersit ketika kawan ini menunjukkan satu buku yang merupakan trilogi buku perjalanan karya Agustinus Wibowo). Tanpa terasa minuman dan beberapa bungkus rokok kami mulai menipis persediaannya. Akhirnya saya memutuskan untuk bagi tugas. Saya mencari rokok dan dia mencari minuman.

2 cup medium kopi cappucino terhidangkan dan 1 bungkus rokok diletakkan di meja. Cukuplah untuk menutup puasa terakhir  bulan Ramadhan karena 1 jam lagi buka puasa yang sebenarnya tiba. Hal tersebut terlihat makin banyaknya pengunjung yang datang memesan makanan untuk berbuka. Suasana makin lama makin ramai dan membuat kami mulai merasa tidak nyaman untuk melanjutkan obrolan. Tepat jam 19.30 kami membubarkan diri dengan sepakat memantapkan persiapan rencana kami. Apakah rencana tersebut dapat terlaksana ? Jawaban kami sama yaitu ORA URUS hahahaha Inilah kaum pemalas ngumpul ya hasilnya nggak jelas tetapi pasti hehehehe….

Image

ORA URUS… (dok. Cech)

Batik Sebuah Kebanggaan Mengatasi Jetlag

” Mas emang seorang petualang ” Kenang saya terhadap ucapan adik di atas kota Nadi. Sudah 30 menit lamanya, pesawat Korean Air yang membawa penumpang dari Seoul masih berputar-putar di udara sambil menunggu ijin protokol Bandara Nadi, Fiji untuk mendarat. Memang dari dulu kami jarang berkumpul dalam waktu lama sekalipun tinggal di tanah air. Tetap saja rasa cinta dan sayang kami sebagai saudara langgeng abadi.

Sungguh beruntung saya pada hari ketibaan kembali ke Fiji. Duduk bersebelahan dengan seorang pejabat teras pemerintah Fiji sehingga urusan tetek bengek imigrasi berjalan lancar tanpa halangan. Dan lebih beruntungnya lagi, saya diantar langsung ke rumah kontrakan di Suva dengan mobil dinas pemerintahan Fiji. Lumayanlah irit ongkos hehehe.

Tetapi cuaca di Fiji saat ini kurang mendukung karena sudah seminggu ini Fiji dikirimi angin kencang dari kutub selatan atau orang Fiji mengatakan “low pressure” sehingga udara di kota Suva dingin merayap ke seluruh tubuh. Brrrr brrrr !!! Walaupun begitu, tidak mengurangi semangat untuk beraktivitas. Aktivitas pertama yang saya lakukan adalah melihat tanaman-tanaman kesayangan yang ditinggal selama 3 minggu. Tanpa diduga, mereka tumbuh membesar. Wow senangnya… sampai lupa bersih-bersih diri dan kamar.

Beberapa tanaman kesayanganku (dok. cech)

Beberapa tanaman kesayanganku (dok. cech)

Memulai lagi aktifitas kerja setelah menganggur selama 3 minggu bukanlah hal yang mudah. Perlu pemanasan dan beradaptasi dengan lingkungan Fiji lagi. Jetlag salah satunya dan sangat mengganggu aktifitas. Perbedaan waktu 5 jam antara Fiji dan Indonesia mempengaruhi metabolisme tubuh saya. Whoammmmm nguantuk tenan.

Walaupun ngantuk tak tertahankan tetap saya harus berjuang untuk mengatasinya. Untuk membangkitkan semangat kerja maka saya memutuskan hari pertama kerja dengan memakai Batik, pakaian kebanggaan Indonesia.

Benar saja, sesampainya di kantor semua teman kantor terkesima dengan kedatangan saya. Seperti melihat orang terkenal saja ajajajajaja….Where do you get Batik ? Look nice” tanya teman Fiji. Bangga juga saya mendengarnya walaupun sangat sukar mencari batik dengan ukuran tubuh saya yang gentong ini. Memang sih cerita pencarian baju batik penuh berliku. Mulai dari pasar batik di Purwokerto, Solo, Pekalongan, Tanah Abang dan lain-lain sudah dijajaki tetap saja tidak menemukan ukuran badan seperti saya.

Beruntung adik ipar menyarankan untuk mencarinya di Thamrin City. ” Coba saja cari di sana. Saya pernah mengantar teman Bule ke sana dan banyak ukuran untuk orang luar ” Begitu kata adik ipar.Benar saja, bukan hanya mendapatkan ukuran saya tetapi ada lagi ukuran yang lebih besar daripada saya. 6 XL pun ada. Busyet dah besar banget ukurannya. Seperti apa ya orang yang memakai ukuran 6 XL.

Saya dan Batik Indonesia (dok.cech)

Saya dan Batik Indonesia (dok.cech)

Tanya sana tanya sini, rupanya ukuran segede kingkong banyak terdapat di Thamrin City karena pada awalnya para pedagang mendapatkan order dalam bentuk pesanan menjahit dan bukan barang jadi. Jadi orang asing dengan ukuran gede datang kemudian membeli bahan, diukur dan dijahit dech sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Karena seringnya orang-orang asing berukuran besar datang membeli maka para pedagang memberanikan diri untuk membuat baju batik berukuran besar mulai dari XL sampai 6 XL. Jadi kalau mempunyai teman orang asing dengan ukuran besar tidak perlu susah-susah cari, tinggal datang ke Thamrin City khususnya Pasar Batik Nusantara. Ubek-ubek dah pasti ketemu dan puas walaupun siap-siap menggali kocek dalam-dalam karena harganya berbeda dengan baju batik yang dijual di luaran sana. Biar mahal ndak apa-apalah khan yang beli punya penghasilan dalam bentuk US Dollar hehehe.

Pasar Batik Nusantara, Thamrin City

Pasar Batik Nusantara, Thamrin City

Begitu dech ceritanya, kembali kerja dengan memakai batik disela-sela mengatasi efek jetlag… Tetap semangat dan fokus dalam beraktifitas di kantor demi kelurga di rumah hehehe… BULA VINAKA VAKALEVU

Nasionalisme Itu Dengan Laku Lampah Bukan Dengan Omongan

” Dengar kata Uyut, Cech. Jangan pernah berpikir ingin jadi orang Sakti. Karena apa? SAKTI itu sama dengan meruSAK haTI. Contohnya mudah. Lihat Superman. Saking SAKTInya pakai celana dalam di luar bukan di dalam. “

” Manusia itu yang dinilai bukan dari kaya dan kepintarannya. Tetapi yang dinilai adalah apa yang telah dilakukan dengan kekayaan dan ilmunya bagi banyak orang. “

Begitulah 2 nasehat yang diberikan oleh almarhum Kakek Buyut (Uyut) dan almarhum bapak saya.

Seiring waktu, saat ini saya tinggal dan bekerja di Fiji. Banyak orang yang mengenal saya terkejut dan kaget.

” Ngapain kamu di Fiji “

” Fiji itu dimana ? “

” Kalau hanya untuk cari uang sih oke oke saja ! “

” Negeri antah berantah, ndak jelas “

” Fiji, negara kecil dan apa yang bisa  kamu perbuat dari negara yang jumlah penduduknya hanya 800 ribuan. “

Tak disangka sudah hampir satu tahun saya di Fiji. Banyak peristiwa dengan segala duka dan citanya. Saya menikmati keberadaan di Fiji. Walaupun jauh dari tanah air tetapi tidak melunturkan semangat untuk berbuat sesuatu untuk diri, keluarga, bangsa dan negara. Wuidihhh hebat banget… bangsa dan negara coy (ikutan kang Mukti ah heheheh)

Ya benar 2 kata yang melekat yaitu bangsa dan negara menjadi penyemangat dan menambah keyakinan diri kalau saya bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat dan memberikan energi positif bagi tanah air walaupun masih terbilang redup-redup energi positifnya.

Terlepas dari hiruk pikuknya pemberitaan mengenai tanah air terutama masalah korupsi, kekuasaan dan sebagainya tetap tidak melunturkan semangat untuk memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk anak cucu saya nanti. Bagaimana ? Bagaimana ya !!! Hmm banyak yang bisa dilakukan.

Indonesia belum habis, Indonesia belum tamat, Indonesia tak akan bubar. Lihat saja boleh saja Indonesia berganti pemimpin mulai dari tingkat RT sampai Presiden tetapi tetap saja Indonesia kokoh berdiri. Tetapi Mas, korupsi yang merajalela dan lemahnya hukum di negeri ini bisa membuat kita putus asa lho. Begitulah kata seorang teman.

” Mas… mas … mas pernahkah mendengar orang kecil bicara seperti ini berkali-kali kita pemilu dan ganti pejabat tetap saja hidup saya masih seperti ini. Jaman pak Harto  tukang burjo ehhh reformasi tetap tukang burjo. Tidak ada perubahan “

Ya jelas tidak berubah karena emang belum mau berubah.Ingat Allah tidak akan mengubah suatu kaum apabila kaum itu tidak mau mengubahnya. Jadi kita harus berubah. Berubah menjadi lebih baik dan itu dimulai dari diri sendiri. Klise ya hehehehe

Apa hubunganya dengan Fiji ? Saya akan menceritakan pengalaman  saya selama di Fiji. Awal kedatangan, saya membayangkan Fiji sebagai negara yang maju karena Fiji terkenal dengan resort, pantai dan tujuan wisata yang eksotik bagi turis-turis seluruh dunia. Sesampainya di Fiji, lho kok seperti ini. Pernah ke Kupang ? Ya seperti itulah Suva, ibukota Fiji. Penduduknya hampir sama dengan saudara-saudara kita di Papua karena mereka memang satu ras yaitu ras Melanesia. Walaupun di Fiji hampir 36% penduduknya keturunan India yang dibawa oleh kolonial Inggris untuk menggarap tebu sekitar 100 tahun yang lalu. Seth.

Makanan pokok penduduk asli Fiji adalah singkong, talas, ubi, dan sukun. Sedangkan beras banyak dikonsumsi penduduk Fiji keturunan India. sebagian besar beras diimpor dari Vietnam, Thailand danIndia. Nah inilah menariknya dan ada kaitannya dengan demi bangsa dadn negara.

Sebuah pertemuan yang tidak disengaja pada saat KBRI mengadakan kegiatan Bula Indonesia. Pada saat itu saya memperkenalkan produk bumbu untuk makanan ringan. Saya pikir bumbu tersebut sudah sangat familier bagi masyarakat Fiji. Ternyata salah dugaan saya. Mereka terbengong-bengong ingin mengetahui dan mencicipi bumbu tersebut. Gara-gara bumbu itulah saya diperkenalkan oleh seorang Suster asal Indonesia kepada Kepala Agriculture Research Center Koronivia dan salah seorang staf peneliti yang biasa menangani masalah kimia pangan.

Perkenalan tersebut berlanjut hingga sekarang ini. Kita saling berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang produk-produk olahan pertanian. Ketika saya bercerita tentang teknologi pengolahan hasil pertanian di Indonesia, mereka semakin merasa heran dan terkagum-kagum. How come ? kata mereka. Padahal apa yang saya ceritakan baru teknologi sederhana yang sudah banyak dikerjakan oleh industri kecil dan menengah di Indonesia.

Contohnya adalah singkong. Singkong bisa diolah menjadi gaplek, tepung gaplek, tapioka, tepung Mocal, keripik singkong berbagai rasa, tape sampai bio fuel. Makin terbengong-bengong saja mereka. lah kok pada bengong pikir saya pada saat itu. Artinya…. Ya mereka jauh tertinggal dari Indonesia dalam teknologi pertanian.

Sebagai orang yang mempunyai basic ilmu teknologi pertanian bolehlah berbangga sedikit walaupun ilmu yang saya miliki masih belum apa-apanya dibandingkan dengan ahli-ahli teknologi pertanian di Indonesia.

” Cech, memang di Fiji sudah ada fakultas teknologi pertanian terutama teknologi hasil pertanian. Tetapi lulusannya hanya diajarkan teori saja karena keterbatasan tenaga pengajar yang mampu mempraktekkan ilmunya untuk mengolah dan mengembangkan potensi pertanian dan perikanan yang ada di Fiji. Cech tahu sendiri khan bagaimana saya sempat kagum ketika Cech cerita tentang singkong, talas, ubi dan sukun bisa diolah menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomis. Serius Cech saya kagum dan bersyukur bertemu dengan Cech ” Itulah yang dikatakan oleh  salah satu staf peneliti Agriculture Research Center.

Wao kata saya dalam hati. Dan benar saja sewaktu saya diajak oleh seorang pengusaha Fiji bertemu dengan seorang kepala suku dan tuan tanah (Magali) dimana saya disuruh untuk mempresentasikan teknologi pengolahan hasil pertanian yang ada di Indonesia. langsung beliau memeluk saya dan mengatakan bahwa saya lah orang yang dicari-cari selama ini. Waduh makin besar saja hidung saya ini hehehehe.  Beliau mengatakan banyak lahan di Fiji yang belum dimanfaatkan. Penduduk hanya mengandalkan tanaman singkong dan talas sebagai sumber pendapatan. Itupun dijual dalam bentuk mentahnya saja dan belum diolah menjadi berbagai macam produk olahan.

Ini baru singkong dan talas bagaimana dengan sukun, pisang, pepaya, nangka, ubi, coklat, kelapa dan lain-lain. Sari buah mengkudu saja  baru sekarang diperkenalkan dan itupun yang mengerjakan orang asing. Terus jahe yang diolah menjadi dried ginger, slice ginger dan asinan jahe tetapi yang mengerjakannya justru pengusaha dari Cina. Jadi bagaimana dong Cech ? Bisa bantu kami ?

Langsung saja otak saya bekerja. Bagaimana caranya agar bisa membantu mereka tetapi konsep demi bangsa dan negara dijalankan ? Ahah akhirnya saya mendapatkan caranya. Indonesia adalah negara pertanian tetapi pada saat ini belum memungkinkan Indonesia melakukan investasi besar-besaran di Fiji seperti yang dilakukan Cina. Sebagai negara bekas jajahan Inggris (Commowealth), Fiji banyak mendapatkan bantuan ekonomi dari Australia, Selandia Baru, Inggris dan Uni Eropa walaupun pada saat ini keanggotaan Fiji dibekukan karena aksi kudeta tahun 2006 dan pemerintah sekarang menolak permintaan negara-negara Barat untuk segera melaksanakan pemilu.

Banyak alat pertanian seperti traktor didatangkan dari Australia dan Selandia Baru tetapi banyak pula yang jadi besi tua karena keterbatasan pengetahuan dan suku cadang. Ini semua berkaitan dengan rendahnya tingkat pendidikan di Fiji. Ini menjadi peluang yang baik untuk Indonesia. Mengapa tidak menerapkan teknologi tepat guna ala pertanian Indonesia yang mudah, praktis dan relatif terjangkau bagi masyarakat Fiji seperti teknologi pengolahan singkong, talas, ubi dan sebagainya. Mulai dari alat dan mesin pencuci singkong, pengupas kulit singkong, pengiris singkong, pengering singkong, penggilingan chip singkong, sampai pengemasan tepung dan keripik singkong. Itu baru singkong dan belum yang lainnya.

Selain itu Fiji membutuhkan tenaga ahli pertanian mulai dari ahli tanaman sampai ahli pengolahan pertanian. Indonesia boleh berbangga karena bisa mengirimkan TKI yang mempunyai kemampuan dan berkualitas.

Langsung pikiran saya tertuju kepada sosok Bung Karno. Apa maksud beliau mempelopori Gerakan Non Blok dan Konferensi Asia Afrika. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan konstelasi polkam pada saat itu dimana terjadi perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Ada tujuan dibalik itu yaitu dengan kekuatan 2/3 penduduk dunia (penduduk Asia Afrika) merupakan potensi pasar bagi produk-produk Indonesia. Sayangnya semua itu hanya cerita sejarah. Ibarat orang yang selalu melihat ke atas tetapi tidak memperhatikan apa yang ada di depan, di belakang bahkan di bawah. Ingin seperti lompatan katak dan serba instan yang mengabaikan proses.

Di tulisan ini saya mengajak seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada  untuk menjadi agen pemasaran produk-produk Indonesia. Sekecil apapun nilainya, setidaknya kita telah melakukan karena nasionalisme bukan dengan omongan tetapi dengan laku lampah dalam konsep “demi bangsa dan negara”.

13222163621276022056

Bus buatan Indonesia di Fiji (flickr.com)

NB: sekedar info beberapa pengusaha bus di Fiji sampai tahun 2012 telah memesan 40 bus buatan Indonesia dan baru terpenuhi 14 bus pada tahun 2011. Ini sebuah kebanggaan bagi Indonesia walaupun banyak yang mengatakan Indonesia hanya merakit saja tetapi jangan salah kalau bus yang dikirim tersebut 80% komponennya asli buatan Indonesia.

Potensi Kunyit Kering Dan Kebiasaan Lama

tanamanjamu.wordpress.com

 

Kami menjual KUNYIT KERING RAJANG kualitas export dengan spesifikasi sebagai berikut :

1. KUNYIT KERING RAJANG
2. Kadar air max.10%
3. Kadar Curcuma max. 3,4%
4. Kadar Curcumanoid 5,8%
5. Warna kuning orange cerah tanpa jamur, kering patah
6. Kemasan PP bag
7. Disertai hasil tes.

Begitulah bunyi iklan di dunia maya mengenai pemasaran kunyit kering. Mungkin kita sudah sering membaca iklan demikian tetapi pertanyaannya adalah apakah spesifiksai yang disampaikan dan jumlah kunyit kering yang disampaikan tersebut benar adanya.

Sebelum menjawabnya maka saya ingin menceritakan sedikit pengalaman selama 12 tahun berkecimpung di dunia empon-empon atau bahan baku untuk jamu. Terus terang saya kurang begitu menguasai produksi dan kebutuhan kunyit kering untuk bahan baku jamu secara nasional. Tetapi saya merasa yakin bahwa belum ada satu institusi/perorangan yang dapat memastikan seberapa besar kebutuhan dan produksi kunyit kering secara nasional sekalipun Departemen Pertanian atau Pusat Data Statistik.  Jadi belum ada database yang valid, ajeg dan sahih mengenai kunyit kering pada khususnya dan empon-empon pada umumnya.

 

Kunyit Kering Iris Super (dok. Cech)

Baru-baru ini saya membantu seorang pengusaha yang sedang mencari kunyit kering untuk produk jamunya. Dengan sedikit pengalaman dan pengetahuan akhirnya saya bisa menemukan salah satu perusahaan yang menyatakan dirinya sebagai suplier bahan-bahan baku jamu terutama kunyit. Dikatakan kalau perusahaannya memproduksi kunyit kering 3-5 ton per minggu. Dengan data yang diberikan dan tampaknya meyakinkan, akhirnya saya dan teman pengusaha melakukan janji serta deal harga dengan perusahaan tersebut. Kemudian seminggu lagi kami akan datang berkunjung ke tempatnya di luar kota Jakarta. Kami pikir waktu seminggu adalah waktu yang cukup untuk mereka mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik diantaranya kunyit kering sebanyak 2 ton dulu dan angkutan yang katanya bisa membantu mencarikan angkutan ke Jakarta.

Tepat seminggu, kami datang ke tempatnya, dengan wajah gembira sang teman pengusaha sudah bisa membayangkan dengan adanya pasokan kunyit tersebut maka produksi jamunya dapat berjalan lancar. Apalagi dia telah dikirim sampel kunyit kering dengan speksifikasi yang ditawarkan dan sesuai dengan yang diinginkan.

Tetapi apa lacur ? Sesampainya di perusahaan tersebut, kunyit yang kami cari hanyalah 2 kuintal. Bayangkan permintaan 2 ton dan dikatakan siap ternyata hanya ada 2 kuintal alias 200 kg. Kami sempat berpandangan satu sama lain dan bertanya ada apa gerangan yang terjadi ? Apakah waktu seminggu tidak cukup ? Apakah kami salah mendengar penawaran seminggu yang lalu? Apakah kami salah waktu datangnya ? Apakah kami dianggap bukan pembeli yang potensial bagi perusahaan tersebut ?

Ternyata pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah pertanyaan semu yang dijawab dengan entengnya dan klasik. Kok klasik ? Ya klasik karena dari 12 tahun saya terjun ke duania empon-empon selalu saja jawabannya sama yaitu menyalahkan musim hujan dan bukan musim panen kunyit. Saya hanya bisa tersenyum kecut dan untuk tidak stres maka saya tertawa meledak-ledak hahahahaha… Abisnya kalau yang meledak-ledak marahnya tho tidak akan menyelesaikan masalah juga.

 

Kunyit Kering Iris Standar (dok. Cech)

Mengapa hal itu bisa terjadi ? Klasik dan selalu klasik jawabannya. Apakah mereka tidak tahu musim panen kunyit ? Apalagi saya sempat perhatikan kunyit yang dipanen belum waktunya atau belum berumur 7 bulan sehingga hasil pengeringan kunyit tidak baik yaitu hitam dan berjamur karena kadar air yang masih tinggi dan ditambah musim penghujan juga.  Intinya adalah mereka tidak memperhatikan atau mengajarkan petani untuk melaksanakan pola tanam yang baik berdasarkan kondisi tanah dan musim di daerah dimana petani binaan mereka tinggal.

Sudah hanya 200 kg ehhh penampakan kunyit kering tidak cerah alias kusam, berjamur dan cepat layu serta tidak getas pada saat dipatahkan. Bagaimana solusinya ? Akhirnya kami meminta kepada perusahaan untuk diajak ke petaninya langsung agar kami bisa melihat proses produksi pengeringan walaupun kami harus menambah waktu menginap di hotel (sampai 3 hari dari 1 hari yang direncanakan).

Kunyit Utuh Kering (Finger) (dok.cech)

 

Benar saja, apa yang saya lihat sesuai dengan dugaan. Bagaimana bisa memenuhi permintaan 2 ton kunyit kering kalau petani melakukan pengeringan dengan hanya mengandalkan matahari di musim penghujan di akhir tahun. Terus pertanyaannya adalah apa fungsi perusahaan sebagai penampung hasil pengeringan kalau tidak mau membantu petani dengan memberikan atau menyewakan alat pengeringan atau oven dengan kapasitas sedang 200-300 kg kunyit basah. Padahal perusahaan tersebut sudah sangat diuntungkan dari selisih harga yang jauh dari harga petani.  Dimanakah simbiose mutualismenya ? Embuhlah jawaban saya dalam hati…. Kok tidak berubah ya cara kerja, pola pikir dan kinerjanya. Semuanya masih mengikuti kebiasaan lama yang tidak pernah belajar dari kekurangan-kekurangan yang ada selama ini.

Saya pikir waktu 12 tahun akan terjadi perubahan besar dalam kinerja dan hasil produksi kunyit kering. Ternyata perubahannya tidak signifikan dan mengandalkan sistem konvensional terutama di tingkat petani.

Selain itu semuanya menyamaratakan. Maksudnya ? Para petani tidak diberitahukan mengenai jenis kunyit yang laku di pasaran. Karena penggunaan kunyit kering di pasaran ada 2 pangsa yaitu pangsa pertama untuk industri makanan, minuman, dan jamu. Yang kedua untuk industri kosmetik. Kedua pangsa tersebut masih dibagi lagi berdasarkan kualitas. Jadi harus dipahami dengan benar oelh petani atau pengepul agar mendapatkan pangsa pasar yang bagus dengan harga yang tinggi.

Sebagai penutup, potensi kunyit baik dalam bentuk basah, kering dan bubuk sangatlah besar. Sayangnya belum ada database yang jelas dan benar tentang supply and demand. Segala suatunya masih meraba-raba alias baru katanya. Katanya negeri pertanian tetapi bangsa ini tidak mengerti potensi yang dimiliki. Bagaimana ini ? Salahkah Departemen Pertanian ? Perusahaan jamu ? Pemerintah Daerah ? Pemerintah Pusat ? Perguruan TInggi ? Kuncinya adalah GOODWILL dari pihak-pihak yang berkompeten terhadap kemajuan pertanianan bangsa Indonesia terutama komoditi empon-empon.

Peningkatan Kebutuhan Lahan Pertanian Secara Global, Siapa Yang Diuntungkan ?

Krisis harga pangan baru-baru ini memungkinkan  suatu kepentingan untuk memperoleh tanah pertanian di luar negeri untuk mengamankan pasokan pangan. Bersama dengan boomingnya  biofuel dan krisis keuangan, hal itu mengarah pada suatu penemuan kembali sektor pertanian sebagai sektor yang menggiurkan  dengan berbagai jenis investor. Namun, ada kekhawatiran bahwa gelombang investasiini  bisa menghilangkan hak-hak masyarakat lokal dan mata pencaharian mereka. Data yang terpercaya  pada akuisisi tanah sangatlah langka sehingga  menyebabkan spekulasi dan membuat sulit bagi para stakeholder untuk membuat keputusan berdasarkan  informasi yang baik.

Clear cutting for agriculture in Brazilian Pantanal (physorg.com)

Untuk mengisi gap ini, Bank Dunia melakukan kajian komprehensif, melakukan dokmentasi  pengalihan tanah secara aktual  di 14 negara, memeriksa  19 proyek, me-review kembali laporan media  dan mengeksplorasi potensi yang ada  untuk meningkatkan hasil pertanian.

Permintaan akan lahan sangat  besar. Dilaporkan bahwa jumlah transaksi tanah pertanian skala besar pada tahun 2009 saja sebesar 45 juta hektar. Itu sebanding  dengan tingkat ekspansi rata-rata 4 juta hektar per tahun dalam satu dekade menjelang tahun 2008. Ada indikasi yang kuat, para investor mengarahkan fokusnya  pada negara-negara Afrika dengan alasan lemahnya aturan pemerintah dalam mengolah lahan. Selain itu tanah sering ditransfer dengan cara  mengabaikan hak atas tanah yang ada dan tidak berkelanjutan secara sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Berikut ini adalah rekomendasi dari laporan Bank Dunia yang  meliputi :

1.  Melindungi dan mengakui hak atas tanah yang ada, termasuk  hak sekunder seperti penggembalaan.

2.  Buatlah upaya yang lebih besar untuk mengintegrasikan strategi investasi ke dalam strategi nasional pembangunan pertanian dan pedesaan, memastikan bahwa standar sosial dan lingkungan telah  diikuti.

3. Meningkatkan kerangka hukum dan kelembagaan untuk menangani meningkatnya sengketa lahan.

4. Meningkatkan penilaian atas kelayakan ekonomi dan teknis proyek-proyek investasi.

5. Terlibat dalam proses yang lebih konsultatif dan partisipatif untuk membangun inisiatif sektor swasta yang ada dan standar hibah seperti Equator Principles and the Forest Stewardship Council (penerapan standard lingkungan oleh bank dan lembaga keuangan internasional)

6. Meningkatkan transparansi akuisisi tanah, termasuk mekanisme keterbukaan sektor swasta secara efektif.

Pada tanggal  13 September – 8 Oktober 2010 secara bersama-sama  akan diadakan diskusi secara online (eDiscussion) untuk membahas laporan BankDunia tersebut. eDiscussion yang terbuka untuk umum  ini diselenggarakan oleh Global Donor Platform untuk Pembangunan Pedesaan  (Global Donor Platform for Rural Development) dan Institut Internasional untuk Pembangunan Berkelanjutan (International Institute for Sustainable Development)

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan masukan dan rekomendasi untuk langkah selanjutnya dari perspektif tiga kelompok kunci stakeholder  yaitu masyarakat madani, sektor publik dan sektor swasta. Hasil eDiscussion akan dibahas pada Pertemuan Tahunan Bank Dunia pada bulan Oktober 2010 dan sejumlah acara berikutnya.

Laporan Bank Dunia tersebut secara lengkap dapat dibaca di Rising Global Interest in Farmland bulan September 2010.