Sanghyang Sirah : Mengenal Kembali Sirah Diri

Tepat hari Idul Fitri 1431 Hijriah sekitar jam 10 pagi saya mendapatkan telepon dari Uyut di Sumedang. Setelah bicara ngalor ngidul tiba-tiba Uyut mengatakan kepada saya kalau tanggal 19 September 2010 (hari minggu) sesuai dengan kesepakatan sewaktu kliwonan hari Jumat maka rombongan berjumlah 8 orang yang pergi ke Sanghyang Sirah sewaktu bulan Maulud kemarin (6 bulan yang lalu) diharapkan untuk pergi kembali ke Sanghyang Sirah.

Saya sempat kaget mendengarnya karena ada sedikit trauma pada waktu ke Sanghyang Sirah kemarin dimana 8 orang yang melakukan puasa selama 7 hari dan 4 orang yang mengantar, semuanya terkena penyakit malaria secara bersamaan alias dalam waktu yang sama. Semua merasakan penderitaan saat malaria kemarin. Kejadian tersebut menjadi trauma karena penyakitnya berlangsung lama bahkan ada satu orang yang menjelang berangkat ke Sanghyang Sirah kemarin masih terkena malaria.

Tetapi yang menjadi kuatnya tekad kami walaupun 3 orang dari 8 orang sebelumnya tidak bisa berangkat adalah adanya kesamaan mimpi yaitu semuanya mengarah ke Sanghyang Sirah. Ada yang didatangi oleh orang tua berbaju putih, ada yang bermain-main di pantai Sanghyang Sirah dan lain-lain. Sementara saya hanya merasakan suatu yang tanpa disengaja yaitu 2 hari sebelum lebaran, berulang kali saya memutar-mutar video perjalanan ke Sanghyang Sirah sebelumnya. Kok ada rasa rindu untuk datang kembali ke sana.

Akhirnya tepat hari minggu, 5 orang (rombongan dari Sumedang termasuk Uyut) datang ke rumah saya untuk menjemput. Tetapi sebelumnya mengganti mobil dulu dengan mobil teman yang ada di Cikarang. Kebetulan teman ini menjadi salah satu pengganti dari 3 orang yang tidak bisa hadir. Dan kebetulan juga teman ini baru mendapatkan mobil baru dari kantor sehingga bisa dipakai dengan alasan uji coba.

Kami merasakan persiapan ke Sanghyang Sirah kali ini cukup matang. Kondisi mental tiap orang dalam rombongan, dana, kendaraan yang digunakan masih baru, kesiapan kapal motor dan tidak melibatkan banyak orang luar. Memang semuanya masih diselimuti rasa was-was termasuk ibu saya yang merasa kuatir setelah saya mengatakan akan pergi lagi ke Sanghyang Sirah. Beliau tahu kalau kondisi saya belum fit benar dan sudah 3 hari mengalami batuk berat. Tetapi akhirnya beliau mengijinkan juga.

Sekitar jam 12.30, kami berangkat ke Bandara Soetta untuk menjemput satu orang dari Aceh untuk melengkapi jumlah rombongan yaitu 8 orang. Tetapi baru saja mau berangkat, tiba-tiba teman di Aceh memberi kabar kalau pesawatnya transit dulu di Polonia Medan dan kemungkinan sampai di Cengkareng sekitar jam 5 sore. Ya sudah karena mobil sudah bergerak maka Uyut memutuskan untuk mampir dulu ke Cileduk yaitu rumahnya Pak Budi sambil menunggu waktu jam 5 sore.

Anehnya di rumah Pak Budi, kami bertemu dengan seorang anak muda yang sudah lama menghilang dan dicari-cari oleh Uyut. Pemuda asal Cirebon ini memang aneh dan unik bahkan menyebalkan karena kelakuannya yang tidak biasa menurut ukuran orang biasa. Ya jelas saja wong pemuda itu bukan manusia normal alias masih keturunan siluman hehehe…

Ada satu peristiwa yang cukup membuat kami kaget yaitu saat pemuda tersebut memberikan keterangan tentang sejarah karuhun dan foto-foto makam/petilasan. Dengan lugas dan lancarnya pemuda tersebut menjelaskan ke Uyut dengan menggunakan laptop. Perlu diketahui pemuda ini tidak pernah sekolah tetapi mempunyai kepintaran yang luar biasa. Hanya melihat satu gadget baru maka langsung bisa menggunakannya walaupun akhirnya kalah juga dengan saya yaitu masalah membuat blog hahahaha…

Menjelang pukul 5 sore, rombongan kami berangkat ke Bandara Soetta. Ternyata suasana di bandara macet sekali. Rupanya banyak orang yang baru kembali ke Jakarta setelah mudik lebaran pada hari minggu tersebut. Untuk parkir saja membutuh waktu 1 jam. Setelah melakukan koordinasi, akhirnya teman berhasil dijemput juga walaupun penuh dengan keringat karena harus mencari-cari di kerumunan banyak orang.

Sebelum melanjutkan kami makan-makan dulu di Tangerang untuk mengisi perut karena perjalanan membutuhkan waktu 5 jam sampai di pantai Cipining, Sumur Pandeglang dimana kapal berlabuh. Alhamdulillah selama perjalanan menuju pantai, kami tidak mengalami gangguang atau halangan apapun. Mungkin karena saya yang menyetir hahahaha… Walaupun berat dan berusaha untuk konsentrasi dalam kondisi masih batuk tetapi tekad yang kuat itulah mengakibatkan semuanya berjalan lancar.

Tepat jam 02.06 kami tiba di rumah nahkoda/pemilik kapal bernama Pak Syaukari. Baru saja mobil saya parkirkan. Pak Syaukari sudah muncul dan segera mengajak kami ke tepi pantai. Membutuhkan waktu satu jam untuk memindahkan barang dan kami ke kapalnya dengan menggunakan sampan kecil karena saat itu ombak lagi pasang. Memang sebelumnya tepat maghrib kemarin ada badai yang menerpa daerah tersebut tetapi tidak membahayakan. Walaupun kami yang mendengarnya sempat ketar ketir juga.

Perlu diketahui juga adanya badai tersebut karena bertemunya angin selatan dan angin utara yang menyebabkan gelombang ombak makin dahsyat terutama tepat di titik pertemuan arus yaitu Tanjung Layar. Dalam kondisi masih gelap, kapal masih berjalan dengan baik. Mungkin disebabkan oleh ahlinya Pak Syaukari membawa kapalnya dalam mengarungi besar dan tingginya ombak. Saya sempat juga melihat bagaimana gelombang setinggi 3 meter menyeret kapal dan merasakan mual yang sangat pada saat gelombang ombak naik turun.

Gaya Mengemudi Pak Syaukari yang unik (dok.cech)

sampan kecil sebagai alat transfer barang dan orang ke kapal (dok.cech)

Sekali lagi Alhamdulillah tepat pukul 08.10, kapal sampai di pantai Bidur. Tetapi masih ada masalah dalam memindahkan barang dan orang ke tepi pantai yaitu ombak masih pasang sehingga menyulitkan sampan untuk bisa menepi dengan mulus. Dengan keahlian anak buahnya Pak Syaukari, kami berdelapan dapat menepi ke tepi pantai.

pantai bidur (dok.cech)

Baru saja mau melanjutkan perjalanan sejauh 1 km (butuh waktu 45 menit) menuju Sanghyang Sirah, tiba-tiba sandal saya putus dan rusak sehingga tidak bisa dipakai. Mau tidak mau saya melanjutkan perjalanan tanpa alas kaki alis nyeker. Kalau yang belum tahun kondisi alam di sana maka dianggap mudah tetapi saya harus menahan sakit yang teramat sangat karena seringkali menginjak duri tanaman liar, menahan panasnya pasir pantai, batu karang yang tajam dan lain-lain. Herannya setiap orang menawarkan alas kaki ke saya maka Uyut selalu melarangnya. Ya sudah saya jalani semuanya dengan berusaha gembira sambil meringis kesakitan. Dan ini berlangsung selama pergi dan pulang.

Pukul 10.23 kamipun tiba di Sanghyang Sirah dan istirahat sejenak di mushola yang ada disana. Setelah beberapa menit, Uyut dan teman dari Aceh mandi di pantai Sanghyang Sirah dalam kondisi gelombang ombak yang bergejolak. Sementara teman-teman yang lain mandi di beberapa mata air yang ada di Sanghyang Sirah. Sedangkan saya melepaskan lelah dengan tidur sejenak karena kelelahan menyetir mobil seharian dan mengistirahatkan kaki yang sakit.

Dua Batu Karang Penanda Sanghyang Sirah (dok.cech)

Keraton Nyi Mas Ratu Mayang Sari (dok.Cech)

Pukul jam 11.10, saya dibangunkan oleh Uyut untuk melakukan doa di petilasan Sanghyang Sirah (dalam goa). Sekitar 1 jam kami melakukan tawasulan yang dipimpin Uyut untuk mendoakan para leluhur (karuhun) termasuk orang tua kami yang sudah meninggal dunia. Dari tawasulan itulah kami semua mendapatkan ilham dan petunjuk mengapa 12 orang yang datang ke Sanghyang kemarin mengalami penderitaan lahir batin baik bertupa penyakit malaria maupun urusan ekonomi. Mungkin ini yang dinamakan pengurasan diri atau menuntaskan (mengakhiri) apa yang sudah kami lakukan sebelumnya. Tujuannya adalah agar kami mengenal kembali Sirah Diri (Kepala/Otak yang dimiliki) dengan balutan Keimanan. ” Berjalan  Dalam Diam, Berlari Dalam Tidur “. Selanjutnya kami mandi di kolam Batu Qur’an yang ada di dalam goa sebagai simbol kegembiraan kami dapat sampai kembali di Sanghyang Sirah.

Petilasan Sanghyang Sirah (dok.Cech)

Oh ya, perlu diketahui bahwa kondisi Sanghyang Sirah sudah berubah jauh dan makin tidak terawat. Semua peninggalan kami sekitar 6 bulan yang lalu hilang tanpa bekas. Contohnya tempat makan dan berkumpul dari batu yang pernah kami buat dulu sudah tertutup dengan rumput, rumput dan tanaman liar yang sempat kami bersihkan sudah kembali menutupi jalan menuju Sanghyang Sirah, sampah-sampah pantai kembali berserakkan padahal sempat bersih waktu kami di sana, tempat duduk dari balok kayu sudah hangus terbakar dijadikan api unggun untuk memasak, gelas dari batok kelapa yang kami buat dan titipkan di sana sudah hilang tanpa bekas, botol-botol untuk menyimpan air juga sudah tidak dan masih banyak lagi. Sungguh prihatin kami melihatnya.

Selain itu teman kami yang pernah saya tulis yaitu Wanadi sudah tidak ada di sana alias sudah pulang ke kampungnya di Inderamayu. Kami hanya menemui satu orang anak muda asal Jawa Timur yang sudah 3 bulan menetap di sana. Kamipun berbagi makanan/ransum kepada pemuda tersebut agar dia tidak mengalami kelaparan.

Tepat jam 12.40 kami pamit diri dan berjalan kembali menuju pantai Bidur dimana kapal kami menunggu. Seperti pada awal kami dan barang-barang harus dipindahkan dengan sampan kecil ke kapal yang besar walaupun kali ini ombak tidak sebesar pada waktu kami mau menepi ke pantai.  Perjalanan pulang sangat lancar tanpa ada gangguan apapun. Kami semua sangat menikmati perjalanan tersebut. Tersembul rasa kebahagiaan dan optimisme yang teramat sangat dalam menjalani hidup kedepannya.

Perjalanan satu hari yang singkat, cepat, tepat dan sehat.

NB: Dalam perjalanan ini ternyata tidak ada satupun dari kami yang membawa kamera jadi hanya dokumentasi lama yang bisa ditampilkan.

Matahari Terbenam di Sanghyang Sirah


Didalam Gua Sanghyang Sirah

Delapan Prabu Siliwangi

dok.cech

Hari ini saya membuat status di FB yang berisikan tentang sosok-sosok Prabu Siliwangi. Lho kok kata sosok memberi kesan kalau Prabu Siliwangi bukan satu orang tetapi banyak orang. Sering kali saya menemui banyak orang yang mengaku-ngaku keturunan Prabu Siliwangi. Tetapi saat saya menanyakan siapa namanya dan dimana makamnya maka yang saya terima hanya jawaban kebingungan alias mutar-mutar tidak karuan. Bukan saya sombong atau lebih tahu tetapi ini penting agar orang-orang yang mengaku keturunan Prabu Siliwangi tersebut terbuka matanya dan mencari tahu siapa yang dimaksud dengan nenek moyangnya (karuhun bahasa sundanya) tersebut. Bukan katanya atau mengaku-ngaku tanpa pernah membuktikan dan menyatakan dengan cara menziarahi karuhun yang dimaksud dengan Prabu Siliwangi tersebut.

Memang banyak literatur yang telah mengupas sosok Prabu Siliwangi tetapi kebanyakan penulisnya berasal dari negeri Belanda dan menulis hanya untuk kepentingan Belanda saat itu. Perlu diketahui Siliwangi itu adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang dianggap telah menguasai arti Silih Asuh, Silih Asih dan Silih Wawangi dalam laku lampahnya sehari-hari. Karenanya itu orang tersebut pantas mendapatkan gelar Prabu Siliwangi.

Perlu diketahui sekian lama saya banyak berkecimpung dengan budaya Sunda dan kebanyakan orang Sunda akan merasa kaget setelah mengetahui asal usul saya. Bapak saya keturunan Jawa dan Ibu Keturunan Sumatera. Jadi jelas sekali sangatlah mengagetkan bagi mereka yang merasa orang Sunda atau merasa keturunan Sunda pada saat mendengar saya bercerita tentang perjalanan ziarah karuhun mereka dan hafal nama-nama karuhun mereka. Tetapi satu hal masih banyak informasi tentang kesundaan yang belum diketahu karena keterbatasan bahasa Sunda yang saya miliki.

Kembali ke masalah Siliwangi, Uyut saya pernah mengatakan kalau gelar itu hanyalah mainan alias boneka-bonekaan agar orang Sunda menyadari betapa luhurnya nilai adat istiadat dan budaya Sunda yang melekat dengan nama Siliwangi tersebut. Atas seijin para orang tua, sepuh dan Uyut yang saya hormati maka dengan ini saya ingin menjelaskan tentang sosok Siliwangi ini. Siliwangi identik dengan gelar Hamengkubuwono (Sultan Ngayogyakarto Hadiningrat) yang jumlahnya ada 10 orang. Kalau Prabu Siliwangi berjumlah 8 orang. 8 bagi orang Sunda adalah angka tertinggi (kesempurnaan) dan mengandung makna dalam karena berkaitan dengan alam semesta.

Sebenarnya siapa saja 8 orang yang mempunyai gelar Prabu Siliwangi tersebut :

1. Prabu Tajimalela (Petilasannya ada di banyak tempat, salah satunya ada di Gunung Masigit, Cibubut Sumedang).

2. Prabu Lembu Agung (Petilasannya juga banyak tetapi yang terkenal ada di Makam Agung Desa Cipaku Sumedang).

3. Prabu Batara Anggara (Petilasannya juga banyak tetapi yang terkenal ada di Gunung Salak Bogor).

4. Prabu Tarumanagara atau terkenal dengan nama Sri Baduga Maharaja ( Petilasannya yang terkenal ada di Prasasti Batu Tulis Bogor).

5. Prabu Walang Sungsang Cakra Buana ( Petilasannya ada di daerah Turusmi, Cirebon).

6. Prabu Munding Wangi ( Kalau Prabu Munding Wangi dianggap Ngahyang alias tidak jelas dimana petilasan ata makamnya tetapi banyak yang menduga berada di Sancang 21 perbatasan Garut-Tasikmalaya).

7. Prabu Kian Santang (Sama seperti Prabu Munding Wangi yaitu menghilang alais tidak jelas makamnya tetapi banyak orang yang menziarahi ke Godog Suci Cibiuk Garut).

8. Prabu Geusan Ulun ( Raja Sumedang Larang sebagai penutup atau sengaja dihilangkan kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran dan makamnya ada di Makam-makam Raja Sumedang di Kota Sumedang).

Mudah-mudahan dengan penjelasan ini membuat orang Sunda atau merasa keturunan Sunda mulai menyadari akan jati dirin ya sebagai orang Sunda dan bukan hanya sekedar mengaku-ngaku. Ada satu hal yang perlu saya ingatkan bahwa banyak sekali orang Sunda yang membangga-banggakan barang-barang pusaka milik karuhun seperti kujang, kilab bahu, mahkota, dan lain-lain tetapi hanya sebatas bangga dan tidak pernah mau mencari tahu siapakah yang membuat barang-barang pustaka tersebut. Atau mencari tahu dimanakah makam-makam karuhun yang membuat barang-barang pusaka tersebut. Ziarahilah makam-makam mereka karena dari merekalah orang Sunda berasal dan jangan gampang mencap musyrik karena orang yang mengatakan musyrik tersebut justru yang tidak mengerti tentang jati dirinya. Jangan sampai kalian orang Sunda malah dikaitkan dengan istilah Dasar Sundel karena Sunda itu bisa berarti Susunan Dasar yang berlandaskan Pajajaran (sama ajarannya yaitu ketauhidan) dan bukan Pejajaran. Saya saja bukan orang Sunda tertarik terhadap budaya Sunda, masak orang Sunda sendiri tidak mau sama sekali tertarik dengan ajaran Sunda. Apa kata dunia ? Dari batukah asal kalian ?

Kisah Prabu Munding Wangi

Lambang Penyatuan Pajajaran (dilambangkan dengan sosok macan) dan Galeuh Pakuan (sosok naga) sehingga menjadi Kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran (dok. Cech)

Sudah cukup lama saya tidak menulis tentang sejarah Sunda terutama sejarah Kerajaan Pajajaran. Dalam rangka menumbuh kembangkan budaya tutur tinular yang merupakan warisan budaya nenek moyang (karuhun) maka sore ini saya menuliskan kembali bagian terkecil dari sejarah Kerajaan Pajajaran. Sejarah yang ingin saya tuliskan berkisah tentang salah satu Raja di salah satu kerajaan Pajajaran yaitu Prabu Munding Wangi (Prabu Siliwangi ke-6).

Mungkin banyak orang yang baru mengenal dan mendengar nama Prabu Munding Wangi. Perlu diketahui Prabu Munding Wangi ini adalah bapak dari Prabu Kian Santang yang terkenal itu. Prabu Munding Wangilah yang mengakhiri kerajaran Pajajaran. Kemudian Prabu Munding Wangi mengeluarkan wasiat yang sangat terkenal yaitu Uga Wangsit Siliwangi. Penghilangan kerajaan Pajajaran terjadi setelah Prabu Munding Wangi menyerahkan seluruh kerajaan Pajajaran termasuk isteri, rakyat dan 4 orang patihnya yang terkenal yaitu Sanghyang Hawu, Sanghyang Konang Hapa, Batara Nanggana, dan Batara Cengkar Buana kepada Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang Larang. Sejak saat itu nama kerajaannya menjadi Kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran dan selanjutnya menjadi Kerajaan Sumedang Larang.

Sebagai raja yang beragama Hindu, mungkin bagi banyak orang dikatakan aneh. Anehnya ? Beliau menyerahkan kekuasaan Kerajaan Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun dengan satu syarat yaitu seluruh rakyat Pajajaran dan Sumedang Larang termasuk 4 orang patihnya diharuskan masuk Islam. Nah sejak menjadi kerajaan Islam itulah keempat patihnya berubah nama menjadi Patih Jaya Perkasa, Konang Hapa (Mbah Jenggot), Nanggana dan Terong Peot.

Ketika ditanya oleh Prabu Geusan Ulun, mengapa syaratnya masuk Islam sedangkan Prabu Munding Wangi sendiri tetap menganut agama Hindu yang kemudian menghilang (konon ngahyang alias menghilang entah kemana). Jawaban beliau sungguh mengesankan yaitu

” Aku telah mengetahui akan datangnya ajaran penyempurna dai Sanghyang Wenang maka itu aku menginginkan anak cucuku menjadi manusia yang sempurna dan kelak menjadi penghuni surga nomor utama (Nirwana dalam Hindu). Ingat Geusan Ulun, ibarat awal mula air. Dari mata air mengalir ke sungai kecil, menjadi sungai besar, bermuara ke laut dan air di laut mengalami proses kondensasi menjadi hujan di gunung sehingga menjadi mata air. Jadi awal dan akhirnya jelas. Semuanya kuserahkan kepada anak cucuku untuk memilih. Mana yang terbaik dan diyakini oleh mereka. “

Luar biasa sekali dengan ucapan Prabu Munding Wangi. Mungkin sudah jarang kita melihat kejadian tersebut. Keikhlasan memberi tanpa mengharapkan apa-apa sekalipun pertaruhannya adalah harta, tahta dan wanita. Disitulah makna keadilan sebenarnya dan sesuai dengan yang dikatakan oleh Nabi Musa AS dalam mengartikan adil yaitu bersedia menderita demi kebahagiaan orang lain.

Singkat cerita, pada sekitar abad ke-14 ada sebuah kerajaan yang masih bagian dari kerajaan Pajajaran yaitu Kerajaan Gerbah Labuan. Pada saat itu kerajaan Gerbah Labuan dipimpin oleh seorang Raja sekaligus pendeta bernama Prabu Batara Anggara. Prabu Batara Anggara hanya mempunyai satu orang anak yaitu Pangeran Munding Wangi. Pada saat menjelang ajalnya Prabu Batara Anggara mengamanatkan kepada Patihnya yang masih adik kandungnya sendiri yaitu Patih Gerbah Menak dihadapan seluruh keluarga kerajaan. Apabila Prabu Batara Anggara mangkat maka kerajaan Gerbah Labuan diwariskan dan dikuasakan kepada anak tunggalnya yaitu Pangeran Munding Wangi.

Tepat mangkatnya Prabu Batara Anggara, Pangeran Munding Wangi masih berumur 9 tahun. Sesuai dengan amanat Prabu Batara Anggara maka kekuasaan kerajaan jatuh kepada anak tunggalnya. Karena masih anak-anak maka untuk sementara Pangeran Munding Wangi didampingi oleh pamannya sendiri., Patih Gerbah Menak.

Amanah tinggallah amanah. Memang sudah watak manusia yang selalu diselimuti oleh keserakahan. Rupanya Patih Gerbah Menak tergiur juga untuk menguasai kerajaan Gerbah Menak. Caranya adalah menyingkirkan Pangeran Munding Wangi dari tampuk kekuasaan. Karena masih keponakan sendiri, Patih Gerbah Menak tidak melakukan aksi pembunuhan kepada Pangeran Munding Wangi tapi dengan trik yang bisa dikatakan halus sekali.

Triknya adalah memberikan informasi yang salah yaitu untuk menjadi Raja maka Pangeran Munding Wangi harus melakukan satu acara ritual yaitu mandi 100- macam rempah-rempah. Dikatakan oleh Patih Gerbah Menak kalau acara ritual ini dilakukan agar Pangeran Munding wangi menjadi Raja yang sakti mandraguna dan dianggap sebagai utusan dewa. Karena masih usia kanak-kanak, Pangeran Munding Wangi mengiyakan apa yang dikatakan oleh pamannya sendiri. Kemudian acara ritual mandi di air kolam yang telah diisi oleh 1000 jenis rempah-rempah tepat jam 12 malam purnama.

Apa yang terjadi ? Betapa kagetnya Pangeran Munding Wangi melihat sekujur tubuhnya berubah menjadi hitam seperti orang kulit hitam setalah selesai mandi. Semua orang yang menyaksikan terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi. Karena tubuhnya yang berwarna hitam pekat maka Pangeran Munding Wangi merasa malu dan tidak mau keluar dari kamarnya. Hal ini dimanfaatkan oleh Patih Gerbah Menak untuk menguasai kerajaan Gerbah Labuan. Lama kelamaan Pangeran Munding Wangi menjadi seorang penyendiri. Kadang-kadang pikirannya kalut dan bertingkah laku layaknya orang gila.

Keadaan Pangeran Munding Wangi yang jatuh mental dan pamornya maka dengan tangkasnya Patih Gerbah Menak menyarankan Pangeran Munding Wangi untuk menyingkir dahulu dari rakyat dan kerajaan Gerbah Labuan. Pangeran Munding Wangi mengikuti saran pamannya yaitu menyingkir dari kerajaan dan tinggal di hutan. Di hutan itulah tempat yang tepat bagi Pangeran Munding Wangi untuk mengobati kelainan kulit yang dideritanya. Dikatakan juga oleh pamannya, sebaiknya jangan kembali ke kerajaan sebelum kulit tubuhnya kembali normal dan diiming-imingi kalau Pangeran Munding Wangi akan sering dikunjungi oleh keluarga kerajaan.

Selanjutnya apakah yang terjadi dengan nasib Pangerang Munding Wangi ? Ternyata apa yang dikatakan pamannya hanyalah isapan jempol belaka. Sejak masuk hutan, Pangeran Munding Wangi dibiarkan hidup sengsara dan sendiri di tengah hutan yang angker dan dipenuhi oleh bintang buas. Tak ada seoranpun keluarga kerajaan yang datang mengujunginya karena dilarang oleh Patih Gerbah Menak. Tanpa terasa waktu terus berjalan hingga 10 tahun.

Tapi kembali lagi Sanghyang Wenang mempunyai rencana yang lain bagi nasib Pangeran Munding Wangi. Saat Pangeran Munding Wangi yang telah berusia dewasa tertidur di saung sederhananya, Pangeran Munding Wangi bermimpi didatangi oleh seorang pria tua seperti resi agar dia bersabar dan tabah dalam menjalani hidup. Yakin kepada diri sendiri, yakin kepada Sanghyang Tunggal dan ingat selalu amanah/nasehat orang tua. Kemudian Patih Munding Wangi diperintahkan untuk pergi ke arah timur. Begitu kagetnya Pangeran Munding Wangi ketika terbangun dari tidurnya. Percaya tidak percaya dengan mimpinya, Pangeran Munding Wangi memutuskan untuk mengikuti mimpinya.

Setelah berhari-hari berjalan, Pangeran Munding Wangi tiba di sebuah daerah yang ternyata masih bagian dari Kerajaan Pucuk Umum. Kerajaan Pucuk Umum juga masih bagian dari kerajaan Pajajaran. Kemudian Pangeran Munding Wangi bertemu dengan sepasang suami istri berusia lanjut. Ternyata mereka adalah abdi dalam kerajaan Pucuk Umum. Sang Suami bekerja sebagai penjada dan perawat kuda kerajaan. Melihat penampilan Pangeran Pucuk Umum yang menyedihkan hati maka sepasang suami istri tersebut mengajak Pangeran Munding Wangi untuk menetap di rumahnya. Kebetulan pasangan ini tidak dikarunia anak sehingga sejak saat itu Pangeran Munding Wangi diangkat menjadi anaknya.

Setiap hari Pangeran Munding Wangi membantu ayah angkatnya sebagai pemelihara dan perawat kandang dan kuda kerajaan. Karena sikapnya yang baik, rajin, tidak pernah mengeluh, pemberani, ilmu kanuragannya yang tinggi dan ringan tangan maka Pangeran Munding Wangi disukai banyak orang. Cuma sayangnya kulit Pangeran Munding Wangi hitam legam sehingga menjadi kendala bagi para wanita yang ingin mendekatinya. Kebersahajaan Pangeran Munding Wangi sempat didengar oleh anggota kerajaan dan menjadi topik pembicaraan sehingga Raja Pucuk Umum pun menjadi tertarik untuk menemuinya.

Akhirnya Raja Pucuk Umum memanggil secara pribadi Pangeran Munding Wangi di istananya.

” Wahai anak muda, kudengar kau sangat disukai oleh rakyatku. Siapakah gerangan dirimu ? “

” Ampun baginda, saya hanyalah manusia biasa dengan kondisi tubuhku yang hitam legam. Aku datang dari negeri yang jauh sekali dan diangkat anak oleh sepasang suami istri tua yang telah mengabdi kepada Baginda bertahun-tahun. “

” Ohh begitu. Kalau kulihat dari penampilanmu. Memang rupa dan kulit tubuhmu sangatlah menyeramkan. Tetapi sesungguhnya kau orang baik. Siapakah namamu sebenarnya ? “

” Namaku Munding Wangi, Baginda “

Selanjutnya terjadilah pembicaraan yang panjang diantara keduanya.Tanpa diketahui oleh keduanya, ternyata Puteri Raja Pucuk Umum bernama Intan Dewata mengikuti pembicaraan tersebut. Dengan memperhatikan secara teliti sosok Pangeran Munding Wangi, Puteri Intan Dewata merasakan aura aneh dan luar biasa efeknya dari seorang Munding Wangi. Sejak saat itu Puteri Intan Dewata seringkali pergi ke istal kerajaan walau hanya sekedar melihat Pangeran Munding Wangi.

Akhirnya Puteri Intan Dewata tidak kuasa juga menahan keingintahuannya. Pada suatu hari Puteri Intan Dewata menghampiri Pangeran Munding Wangi. Dengan sedikit malu dan takut, Puteri Intan Dewata mengajukan banyak pertanyaan kepada Pangeran Munding Wangi. Karena tutur katanya yang sopan santun dan lembut di dengar maka tanpa terasa timbullah rasa suka Puteri Intan Dewata kepada Pangeran Munding Wangi.

Kemudian Puteri Intan Dewata mencurahkan perasaannya kepada Pangeran Munding Wangi.

” Hai Puteri Intan Dewata, apakah puteri tidak merasa malu berdekatan denganku ” Tanya Pangeran Munding Wangi.

” Mengapa harus malu ? Apakah ada yang salah bila aku mendekatimu ? “

” Kau tahu sendiri, bagaimana nanti orang-orang bicara ? Aku ini hanyalah pemuda biasa buruk rupa dan kulitku hitam. Berbeda dengan kebanyakan orang. “

” Kau salah Munding Wangi. Aku tidak melihat penampilan luarmu. Tapi aku melihat sesuatu yang luar biasa dari dirimu. Aura terang benderang yang hanya dimiliki oleh keturunan tetesan Wisnu. “

” hahahaha Puteri membuatku tertawa. Lupakan saja “

” Tidak, aku tidak mau. Aku meyakini kalau kau memang diutus oleh Sanghyang Wenang untuk mengisi relung hatiku “

” Hahahaha Puteri makin membuatku tertawa terbahak-bahak “

” Terserahlah kepadamu, Munding Wangi “

” Terus apa yang akan kau lakukan ? “

” Aku akan tetap mencintaimu karena aku yakin kaulah pria impianku. Munding Wangi, apakah kau tidak suka padaku ? “

Pangeran Munding Wangi langsung terdiam. Sebenarnya Pangeran Munding Wangi jatuh hati kepada Puteri Intan Dewata tapi Pangeran Munding Wangi merasa Puteri Intan Dewata tidak mungkin mencintainya. Akhirnya Pangeran Munding Wangi secara jujur menyatakan cintanya kepada Puteri Intan Dewata.

Bagaimana denga Raja Pucuk Umum setelah mengetahui Puteri satu-satunya menyukai pria buruk rupa dengan kulit hitam legam. Sebelum Raja Pucuk Umum mengetahui kabar tersebut dari pihak ketiga maka Puteri Intan Dewata menemui Raja dan mengatakan secara terus terang kalau Puteri Intan Dewata sangat mencintai Pangeran Munding Wangi. Diceritakan lah semua alasannya seperti mimpinya bertemu seorang pangeran tampan dengan ciri yang mirip dengan Pangeran Munding Wangi. Puteri Intan Dewata siap menerima resikonya. Tanpa diduga Puteri Intan Dewata mengatakan kalau Pangeran Munding Wangi akan berubah menjadi wujud aslinya tepat malam bulan purnama. Raja Pucuk Umum tidak bisa berbuat apa-apa karena rasa sayangnya yang teramat sangat kepada puteri satu-satunya tersebut.

Tepat malam bulan purnama, saat itu Pangeran Munding Wangi merasa gerah dan mandi di kolam dekat kandang kuda. Pangeran Munding Wangi tidak menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya setelah mandi. Tepat bulan purnama dimana posisi bulan tegak lurus dengan bumi, betapa Pangeran Munding Wangi merasa kaget saat melihat wajahnya di air kolam. Bak melihat cermin kaca, yang biasanya Pangeran Munding Wangi tidak melihat wajahnya di air maka pada malam itu Pangeran Munding Wangi melihat wajahnya dengan jelas. Betapa gembiranya Pangeran Munding Wangi menyambut perubahan fisik yang ada pada dirinya.

Berita perubahan fisik Pangeran Munding Wangi, akhirnya terdengar di telinga kerajaan. Raja Pucuk Umum sempat kaget dan terkagum-kagum saat bertemu Pangerang Munding Wangi, Wujud pria tampan, berkulit putih mulus tanpa cacat dan tampak sekali pancaran aura di wajahnya. Raja langsung memanggil Puterinya yang sejak awal meyakini adanya perubahan pada Pangeran Munding Wangi. Raja Pucuk Umum mengucapkan permohonan maafnya karena tidak mempercayai omongan puterinya sendiri. Ternyata keyakinan puterinya tidak meleset dan benar adanya pilihan hidup bagi puterinya tersebut.

Singkat cerita, akhirnya Puteri Intan Dewata menikah dengan Pangeran Munding Wangi. Pangeran Munding Wangipun menceritakan siapa dirinya kepada Raja dan Isterinya. Ternyata memang tidak salah pilihan Puteri Intan Dewata pikir Raja Pucuk Umum kalau Pangeran Munding Wangi masih keturunan bangsawan. Setelah mendengar secara detil cerita Pangeran Munding Wangi maka Raja memanggil seluruh perangkat kerajaannya. Raja memutuskan untuk melakukan penyerangan ke kerajaan Gerbah Labuan. Ini dilakukan untuk mengembalikan kembali hak Pangeran Munding Wangi. Pangeran Munding Wangilah yang sebenarnya Raja Gerbah Labuan.

Dalam waktu yang tidak lama, akhirnya Kerajaan Gerbah Labuan berhasil ditaklukkan dan Pangeran Munding Wangi dikembalikan posisinya sebagai Raja Gerbah Labuan. Sementara Patih Gerbah Menak ditangkap dan dihukum mati. Sejak itulah Pangeran Munding Wangi menjadi Prabu Munding Wangi dengan permaisurinya, Ratu Intan Dewata.

Begitulah kisah Prabu Munding Wangi yang diceritakan berdasarkan tutur tinular dari Uyut saya. Mudah-mudahan dapat diambil hikmahnya. Renungkanlah.

SAMPURASUN RAMPES

Situs Sejarah dan Makam Keramat Nasibmu Kini

Peristiwa kerusuhan di makam keramat Mbah Priok yang merupakan situs sejarah seharusnya membuka mata bangsa ini tentang bagaimana memperlakukan dan melestarikan peninggalan sejarah yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Sebelum membaca tulisan saya ada baiknya Kompasianers membaca terlebih dahulu Beberapa Situs Sejarah Mau Dihancurkan dan Bau Pesing di Monumen Soekarno. Dari dua buah artikel tersebut, saya mempersilahkan pembaca untuk memberikan penilaian sendiri.

Sebagai orang yang selama beberapa tahun ini rajin berkunjung dan menziarahi situs-situs sejarah atau makam keramat nenek moyang terutama yang berhubungan dengan sejarah Sunda maka saya sangat memahami betapa pentingnya pelestarian peninggalan nenek moyang (karuhun dalam bahasa Sunda). Banyak orang yang berkata sinis dan nyinyir ketika saya rajin berkunjung ke tempat-tempat tersebut.

” Orang mati saja masih kamu urusi “

” Apa yang kamu cari dari situs-situs sejarah atau makam-makam keramat tersebut “

” Musyrik Cech, masih senang saja main sama setan “

” Cari pesugihan Cech “

” Klenik, irasionil kok dikejar-kejar “

” Mau cepat kaya Cech “

Itulah beberapa kalimat yang dilontarkan terhadap diri saya. Tetapi semuanya saya anggap angin lalu karena saya pikir mereka tidak mengerti apa niat saya berkunjung atau berziarah ke tempat-tempat tersebut. Sebagaimana anjuran Rasulullah SAW kepada umatnya untuk melakukan ziarah kubur dan mendoakan para orang tua kita yang telah meninggal maka saya rajin melakukan ziarah. Disamping itu saya banyak mendapatkan ilmu dan pelajaran tentang arti sebuah sejarah terutama sejarah diri, warisan, buah karya dan amal ibadah yang dilakukan oleh para pendahulu pada masa hidupnya dahulu. Dari situlah saya berusaha untuk bersikap arif dan banyak belajar bagaimana sikap dan perbuatan yang baik dari leluhur dalam menghadapi sebuah persoalan.

Intinya saya banyak mengerti tentang sejarah para leluhur yang dahulu sangat dihormati karena kewibawaannya, kepemimpinannya, kewelas asihannya, keimanannya, dan lebih utama lagi saya belajar tentang sejarah/identitas diri. Saya ada saat ini darimana asalnya, siapa orang tua-orang tua saya sebenarnya dan masih banyak lagi.

Ada beberapa hal yang kadangkala membuat saya miris. Misalnya banyak museum sejarah di daerah yang menyimpan beberapa peninggalan sejarah nenek moyang seperti keris, tongkat, tombak, alat musik, tarian, lukisan, mahkota dan lain-lain. Semua benda tersebut begitu dibangga-banggakan dan dirawat dengan sangat amat khusus perlakuannya. Tetapi ketika ditanya siapa yang menciptakan dan dimana makam orang-orang atau nenek moyang yang menciptakan benda-benda tersebut, kebanyakan mereka tidak bisa menjawab. Lha kalau kagum dengan hasil cipta, rasa dan karsanya maka sudah sewajarnya bahkan seharusnya mereka juga harus tahu dimana para leluhur yang membuat benda-benda bersejarah tersebut dimakamkan. Tetapi yang terjadi kebanyakan bingung dan minim informasi tentang keberadaan makam-makam leluhur. Dan hanya bisa prihatin/menyesal tanpa berbuat apapun ketika tahu makam-makam leluhur yang biasanya disertai dengan peninggalan sejarah akan digusur atau dihilangkan dari muka bumi dengan berbagai alasan oleh pemerintah ataupun pihak ketiga yang mempunyai kekuatan uang.

Perlu diketahui, dengan adanya makam keramat dan situs sejarah sebetulnya justru menghidupkan roda perekonomian warga sekitar yang ketempatan situs sejarah tersebut. Contohnya saja makam-makam Wali Sanga (terutama pada acara Ziarah Wali Sanga), makam Bung Karno di Blitar, Dayeuh Luhur di Sumedang, Candi Borobudur, Candi Prambanan dan sebagainya. Kebanyakan penduduk sekitar mendapatkan keuntungan ekonomi dari kunjungan para penziarah. Dan inipun juga inisiatif dan kreatifitas warga sekitar yang dulunya tidak mendapatkan perhatian pemerintah daerah. Pemerintah daerah baru bergerak atau memberikan fasilitas ketika tahu adanya perputaran kegiatan ekonomi. Ironis.

Goa Masigit Sela (dok.pribadi)

Makam Prabu Guru Aji Putih (dok.pribadi)

Makam Dalem Santapura (dok.pribadi)

Makam Leluhur Sukapura Tasikmalaya (dok.pribadi)

Makam Eyang Wali Abdullah (dok.pribadi)

Makam Leluhur Pasarean Gede Sumedang (dok.pribadi)

Pusaka Prabu Tajimalela (dok.pribadi)

Simbol Penyatuan Galeuh Pakuan Pajajaran (Cap Kerajaan) (dok.pribadi)

Rasanya sudah cukup saya menyampaikan kegusaran hati selama ini. Berikut saya akan sampaikan beberapa info penting tentang situs-situs sejarah yang disertai dengan makam-makam leluhur. Tapi mohon maaf kalau info ini hanya terbatas kepada sejarah Sunda karena memang itulah yang saya mengerti. Saya berharap Kompasianers yang mengetahui tentang situs/makam sejarah leluhur dari daerah lain seperti Mataram, Majapahit, Sriwijaya, Makasar, Batak, Bali, Sumba dan sebagainya bisa tergugah hatinya untuk memberikan informasi lewat tulisan di Kompasiana ini.

Para Leluhur Orang Sunda dan Makam-makamnya

  1. Pangeran Jayakarta (Rawamangun Jakarta)
  2. Eyang Prabu Kencana (Gunung Gede, Bogor)
  3. Syekh Jaenudin (Bantar Kalong)
  4. Syekh Maulana Yusuf (Banten)
  5. Syekh Hasanudin (Banten)
  6. Syekh Mansyur (Banten)
  7. Aki dan Nini Kair (Gang Karet Bogor)
  8. Eyang Dalem Darpa Nangga Asta (Tasikmalaya)
  9. Eyang Dalem Yuda Negara (Pamijahan Tasikmalaya)
  10. Prabu Naga Percona (Gunung Wangun Malangbong Garut)
  11. Raden Karta Singa (Bunarungkuo Gn Singkup Garut)
  12. Embah Braja Sakti (Cimuncang, Lewo Garut)
  13. Embah Wali Tangka Kusumah (Sempil, Limbangan garut)
  14. Prabu Sada Keling (Cibatu Garut)
  15. Prabu Siliwangi (Santjang 4 Ratu Padjadjaran
  16. Embah Liud (Bunarungkup, Cibatu Garut)
  17. Prabu Kian Santang (Godog Suci, garut)
  18. Embah Braja Mukti (Cimuncang, Lewo Garut)
  19. Embah Raden Djaenuloh (Saradan, Jawa Tengah)
  20. Kanjeng Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan Tasikmalaya)
  21. Eyang Siti Fatimah (Cibiuk, Leuwigoong Garut)
  22. Embah Bangkerong (Gunung Karantjang)
  23. Eyang Tjakra Dewa (Situ Lengkong, Pandjalu Ciamis)
  24. Eyang Prabu Tadji Malela (Gunung Batara Guru)
  25. Prabu Langlang Buana (Padjagalan, Gunung Galunggung
  26. Eyang Hariang Kuning (Situ Lengkong Pandjalu Ciamis)
  27. Embah Dalem Salinggih (Cicadas, Limbangan Garut)
  28. Embah Wijaya Kusumah (Gunung Tumpeng Pelabuhan Ratu)
  29. Embah Sakti Barang (Sukaratu)
  30. Syekh Abdul Rojak Sahuna (Ujung Kulon Banten)
  31. Prabu Tjanar (Gunung Galunggung)
  32. Sigit Brodjojo (Pantai Indramayu)
  33. Embah Giwangkara (Djayabaya Ciamis)
  34. Embah Haji Puntjak (Gunung Galunggung)
  35. Dewi Tumetep (Gunung Pusaka Padang, Ciamis)
  36. Eyang Konang Hapa/Embah Wrincing Wesi (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  37. Embah Terong Peot/Batara Cengkar Buana (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  38. Embah Sanghyang Hawu/Embah Djaya Perkosa (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  39. Embah Nanggana (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  40. Prabu Geusan Ulun (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  41. Nyi Mas Ratu Harisbaya (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  42. Eyang Anggakusumahdilaga (Gunung Pusaka Padang Ciamis)
  43. Eyang Pandita Ratu Galuh Andjarsukaresi (Nangerang)
  44. Embah Buyut Hasyim (Tjibeo Suku Rawayan, Banten)
  45. Eyang Mangkudjampana (Gunung Tjakrabuana, Malangbong Garut)
  46. Embah Purbawisesa (Tjigorowong, Tasikmalaya)
  47. Embah Kalidjaga Tedjakalana (Tjigorowong, Tasikmalaya)
  48. Embah Kihiang Bogor (Babakan Nyampai, Bogor)
  49. Aki Wibawa (Tjisepan, Tasikmalaya)
  50. Embah wali Mansyur (Tomo, Sumedang)
  51. Prabu Nagara Seah (Mesjid Agung Tasikmalaya)
  52. Sunan Rumenggang (Gunung Batara Guru)
  53. Embah Hadji Djaenudin (Gunung Tjikursi)
  54. Eyang Dahian bin Saerah (Gunung ringgeung, garut)
  55. Embah Giwangkarawang (Limbangan Garut)
  56. Nyi Mas Layangsari (Gunung Galunggung)
  57. Eyang Sunan Cipancar (Limbangan garut)
  58. Eyang Angkasa (Gunung Kendang, Pangalengan)
  59. Embah Kusumah (Gunung Kendang, Pangalengan)
  60. Eyang Puspa Ligar (Situ Lengkong, Panjalu Ciamis)
  61. Kimandjang (Kalapa 3, Basisir Kidul)
  62. Eyang Andjana Suryaningrat (Gunung Puntang Garut)
  63. Gagak Lumayung (Limbangan Garut)
  64. Sri Wulan (Batu Hiu, Pangandaran Ciamis)
  65. Eyang Kasepuhan (Talaga Sanghiang, Gunung Ciremai)
  66. Aki manggala (Gunung Bentang, Galunggung)
  67. Ki Adjar Santjang Padjadjaran (Gunung Bentang, Galunggung)
  68. Eyang Mandrakuaumah (Gunung Gelap Pameungpeuk, Garut)
  69. Embah Hadji Muhammad Pakis (Banten)
  70. Eyang Boros Anom (Situ Lengkong, Pandjalu Ciamis)
  71. Embah Raden Singakarta (Nangtung, Sumedang)
  72. Raden Rangga Aliamuta (Kamayangan, Lewo-Garut)
  73. Embah Dalem Kasep (Limbangan Garut)
  74. Eyang Imam Sulaeman (Gunung Gede, Tarogong)
  75. Embah Djaksa (Tadjursela, Wanaraja)
  76. Embah Wali Kiai Hadji Djafar Sidik (Tjibiuk, Garut)
  77. Eyang Hemarulloh (Situ Lengkong Pandjalu)
  78. Embah Dalem (Wewengkon, Tjibubut Sumedang
  79. Embah Bugis (Kontrak, Tjibubut Sumedang)
  80. Embah Sulton Malikul Akbar (Gunung Ringgeung Garut)
  81. Embah Dalem Kaum (Mesjid Limbangan Garut)
  82. Mamah Sepuh (Pesantrean Suralaya
  83. Mamah Kiai hadji Yusuf Todjiri (Wanaradja)
  84. Uyut Demang (Tjikoneng Ciamis)
  85. Regregdjaya (Ragapulus)
  86. Kiai Layang Sari (Rantjaelat Kawali Ciamis)
  87. Embah Mangun Djaya (Kali Serayu, Banjarnegara)
  88. Embah Panggung (Kamodjing)
  89. Embah Pangdjarahan (Kamodjing)
  90. Syekh Sukri (Pamukiran, Lewo Garut)
  91. Embah Dipamanggakusumah (Munjul, Cibubur)
  92. Aki Mandjana (Samodja, Kamayangan)
  93. Eyang Raksa Baya (Samodja, Kamayangan)
  94. Embah Dugal (Tjimunctjang (
  95. Embah Dalem Dardja (Tjikopo)
  96. Embah Djaengranggadisastra (Tjikopo)
  97. Nyi Mas Larasati (Tjikopo)
  98. Embah Dalem Warukut (Mundjul, Cibubur)
  99. Embah Djaya Sumanding (Sanding)
  100. Embah Mansur Wiranatakusumah (Sanding)
  101. Embah Djaga Alam (Tjileunyi)
  102. Sembah Dalaem Pangudaran (Tjikantjung Majalaya)
  103. Sembah Dalem Mataram (Tjipantjing)
  104. Eyang Nulinggih (Karamat Tjibesi, Subang)
  105. Embah Buyut Putih (Gunung Pangtapaan, Bukit Tunggul)
  106. Embah Ranggawangsa (Sukamerang, bandrek)
  107. Eyang Yaman (Tjikawedukan, Gunung Ringgeung Garut)
  108. Embah Gurangkentjana(Tjikawedukan, Gunung Ringgeung Garut)
  109. Embah Gadjah Putih (Tjikawedukan Gunung Wangun)
  110. Ratu Siawu-awu (Gunung Gelap, Pameungpeuk Sumedang)
  111. Embah Mangkunegara (Cirebon)
  112. Embah Landros (Tjibiru Bandung)
  113. Eyang Latif (Tjibiru Bandung)
  114. Eyang Penghulu (Tjibiru Bandung)
  115. Nyi Mas Entang Bandung (Tjibiru Bandung)
  116. Eyang Kilat (Tjibiru Bandung)
  117. Mamah Hadji Umar (Tjibiru Bandung)
  118. Mamah Hadji Soleh (Tjibiru Bandung)
  119. Mamah Hadji Ibrahim (Tjibiru Bandung)
  120. Uyut Sawi (Tjibiru Bandung)
  121. Darya bin Salmasih (Tjibiru Bandung)
  122. Mamah Hadji Sapei (Tjibiru Bandung)
  123. Embah Hadji Sagara Mukti (Susunan Gunung Ringgeung)
  124. Eyang Istri (Susunan Gunung Ringgeung)
  125. Eyang Dewi Pangreyep (Gunung Pusaka Padang Garut)
  126. Ratu Ayu Sangmenapa (Galuh)
  127. Eyang Guru Adji panumbang (Tjilimus Gunung Sawal)
  128. Eyang Kusumah Adidinata (Tjilimus Gunung Sawal)
  129. Eyang Rengganis (Pangandaran Ciamis)
  130. Ki Nurba’in (Sayuran, Gunung Tjikursi)
  131. Buyut Dasi (Torowek Tjiawi)
  132. Embah Buyut Pelet (Djati Tudjuh Kadipaten)
  133. Embah Gabug (Marongge)
  134. Eyang Djayalaksana (Samodja)
  135. Nyi Mas Rundaykasih (Samodja)
  136. Nyi Mas Rambutkasih (Samodja)
  137. Eyang Sanghiang Bongbangkentjana (Ujung Sriwinangun)
  138. Eyang Adipati Wastukentjana (Situ Pandjalu Ciamis)
  139. Eyang Nila Kentjana (Situ Pandjalu, Ciamis)
  140. Eyang Hariangkentjana (Situ Pandjalu Ciamis)
  141. Embah Dalem Tjikundul (Mande Cianjur)
  142. Embah Dalem Suryakentjana (PantjanitiCianjur)
  143. Embah Keureu (Kutamaneuh Sukabumi)
  144. Ibu Mayang Sari (Nangerang Bandrek Garut)
  145. Eyang Prabu Widjayakusumah (Susunan Payung Bandrek Garut)
  146. Embah Sayid Kosim (Gunung Alung Rantjapaku)
  147. Embah Bang Sawita (Gunung Pabeasan Limbangan Garut)
  148. Uyut Manang Sanghiang (Banten)
  149. Eyang Ontjar (Nyampai Gunung Bungrangrang)
  150. Eyang Ranggalawe (Talaga Cirebon)
  151. Ibu Siti Hadji Djubaedah (Gunung Tjupu Banjar Ciamis)
  152. Mamah Sepuh ((Gunung Halu Tjililin Bandung)
  153. Embah Sangkan Hurip (Ciamis)
  154. Embah Wali Abdullah (Tjibalong Tasikmalaya)
  155. Mamah Abu (Pamidjahan Tasikmalaya)
  156. Embah Dalem Panungtung Hadji Putih Tunggang Larang Curug Emas (Tjadas Ngampar Sumedang)
  157. Raden AstuManggala (Djemah Sumedang)
  158. Embah Santiung (ujung Kulon Banten)
  159. Eyang Pandita (Nyalindung Sumedang)
  160. Embah Durdjana (Sumedang)
  161. Prabu Sampak Wadja (Gunung Galunggung Tasikmalaya)
  162. Nyi Mas Siti Rohimah/Ratu Liongtin (Jambi Sumatera)
  163. Eyang Parana (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
  164. Eyang Singa Watjana (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
  165. Eyang Santon (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
  166. Eyang Entjim (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
  167. Eyang Dempul Wulung (Djaga Baya Ciamis)
  168. Eyang Dempul Walang (Djaga Baya Ciamis)
  169. Eyang Giwangkara (Djaga Baya Ciamis)
  170. Embah Wali Hasan (Tjikarang Bandrek, Lewo Garut)
  171. Embah Raden Widjaya Kusumah (Tjiawi Sumedang)
  172. Dalem Surya Atmaja (Sumedang)
  173. Eyang Rangga Wiranata (Sumedang)
  174. Eyang Mundinglaya Dikusumah (sangkan Djaya, Sumedang)
  175. Eyang Hadji Tjampaka (Tjikandang, Tjadas Ngampar Sumedang)
  176. Eyang Pangtjalikan (Gunung Ringgeung Garut)
  177. Eyang Singa Perbangsa (Karawang)
  178. Embah Djaga Laut (Pangandaran)
  179. Raden Ula-ula Djaya (Gunung Ringgeung Garut)
  180. Raden Balung Tunggal (Sangkan Djaya, Sumedang)

Makam-makam diatas baru sebagian kecil saja yang bisa disampaikan. Masih banyak lagi situs sejarah dan makam keramat yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Wisata Batu Quran di Sanghyang Sirah

Batu Quran, Cibulakan Pandeglang (1.bp.blogspot.com)

Bagi para penziarah makam atau petilasan para nenek moyang (karuhun) orang Sunda pasti tidak merasa asing dengan nama wisata Batu Quran (Cibulakan) dengan Sumur Tujuhnya (Cikoromoi) yang merupakan salah satu tempat wisata ziarah Kabupaten Pandeglang, Banten (tepatnya 20 km dari kota Pandeglang). Batu Quran ini berkaitan erat dengan nama Syekh Maulana Mansyur, seorang ulama terkenal di jaman kesultanan Banten abad ke-15.

Syekh Maulana Mansyurlah yang meninggalkan warisan berupa Batu Quran tersebut(lebih lengkapnya bisa baca disini). Tapi tahukah kalau yang ada di Cibulakan itu adalah replika dari Batu Quran yang ada di Sanghyang Sirah, Taman Nasional Ujung Kulon. Mungkin banyak orang yang belum mengetahui tentang sejarah Batu Quran yang sebenarnya. Sejarah Batu Quran di Sanghyang Sirah berkaitan erat dengan sejarah Sayidina Ali, Prabu Kian Santang dan Prabu Munding Wangi. Apa alasan Syekh Maulana Mansyur membuat replika Batu Quran tersebut ?

Mungkin orang sudah banyak mengetahui sejarah masuk Islamnya Prabu Kian Santang yang diislam oleh Sayidina Ali ketika Prabu Kian Santang melakukan perjalanan ke jazirah Arab. Setelah masuk Islam, Prabu Kian Santang kembali ke tanah Jawa di daerah Godog Suci, Garut dimana Prabu Kian Santang mengajarkan Islam kepada pengikutnya.

Sebagai orang Islam sudah tentu harus dikhitan. Karena keterbatasan pengetahuan Prabu Kian Santang maka terjadi banyak kesalahan dalam melakukan prosedur khitan. Bukan yang ujung kulit penis yang dipotong tapi dipotong sampai ke ujung-ujungnya. Bisa bayangkan pasti banyak yang meninggal dengan kesalahan tersebut. Akhirnya Prabu Kian Santang mengutus orang untuk menemui Sayidina Ali di jazirah Arab dengan tujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang baik dan benar tentang Khitan secara Islami.

Sanghyang Sirah (dok.pribadi)

Kemudian Sayidina Ali dan orang suruhan Prabu Kian Santang pergi ke Godog Suci untuk memberikan pelajaran cara khitan dan beberapa pengetahuan tentang Islam. Disamping itu Sayidinna Ali ingin menyerahkan Kitab Suci Al Qur’an. Sebagai orang Muslim maka sudah pasti harus berpatokan kepada Al Quran. Karena sejak bertemu pertama kali Sayidina Ali belum pernah menyerahkan kitab Al Quran kepada Prabu Kian Santang.

Ternyata sesampainya di Godog Suci, Prabu Kian Santang telah meninggalkan tempat tersebut dan pergi menemui Prabu Munding Wangi yang telah tilem di Sanghyang Sirah, Ujung Kulon untuk memberitahukan kepada ayahandanya kalau beliau telah menetapkan hati sebagai seorang muslim. Mendengar berita tersebut Sayidina Ali mengejar ke Sanghyang Sirah sebagai bentuk amanah dan perhatian agar Prabu Kian Santang mempunyai pegangan yang kuat berupa Kitab Al Quran. Masak sebagai muslim tidak memiliki Kitab Al Quran.

Konon di batu karang ini Sayidina Ali melakukan Sholat (dok.pribadi)

Apa yang terjadi kemudian ? Ketika sampai di Sanghyang Sirah, Sayidina Ali hanya bisa bertemu Prabu Munding Wangi. Prabu Munding Wangi mengatakan kepada Sayidina Ali kalau Prabu Kian Santang telah pergi lagi dan menghilang entah kemana setelah mendapat restu dari ayahandanya. Prabu Kian Santang adalahg satu-satunya anak Prabu Munding Wangi yang menjadi raja tapi tidak pernah memerintah kerajaan karena hidupnya didedikasikan untuk penyebaran aga Islam.

Akhirnya Sayidina Ali menyerahkan dan menitipkan kitab Al Quran untuk disimpan dan berharap dapat diberikan kepada Prabu Kian Santang apabila berkunjung ke Sanghyang Sirah. Prabu Munding Wangi menerima kitab Al Quran dengan lapang dada dan disimpannya di dalam kotak batu bulat. Kemudian kotak batu berisi Al Quran tersebut ditaruh di tengah batu karang yang dikelilingi oleh air kolam yang sumber airnya berasal dari tujuh sumber mata air (sumur).


Didalam Gua Sanghyang Sirah (dok.pribadi)
Salah satu pintu masuk Gua Sanghyang Sirah (dok.pribadi)

Selanjutnya Sayidina Ali mohon diri tapi sebelumnya sholat terlebih dahulu di atas batu karang yang sekarang sering disebut Masjid Syaidinna Ali. Dengan kuasa Allah SWT, Sayidina Ali langsung menghilang entah kemana. Mungkin kembali ke jazirah Arab.

Peristiwa Batu Quran ini beberapa abad kemudian diketahui oleh Syekh Maulana Mansyur berdarkan ilham yang didapatnya dari hasil tirakat. Segeralah Syekh Maulana Mansyur berangkat ke Sanghyang Sirah. Betapa kagumnya Syekh Maulana Mansyur melihat kebesaran Allah lewat mukjizat Batu Quran dimana dari air kolam yang bening terlihat dengan jelas tulisan batu karang yanng menyerupai tulisan Quran. Sayangnya saat ini air kolam sudah keruh dan sulit untuk melihat batu karang dengan tulisan Quran karena banyaknya endapan di dasar kolam dan banyaknya penziarah yang membuang pakaian bekas mandiannya ke Batu Quran.

Batu Quran Sanghyang Sirah (dok.pribadi)
Jalan menurun menuju keluar gua dari Batu Quran (dok.pribadi)

Karena jauhnya jarak Sanghyang Sirah dan membutuhkan waktu dan energi yang luar biasa maka untuk memudahkan anak cucu ataupun umat Islam yang ingin melihat Batu Quran maka dibuatlah replika Batu Quran dengan lengkap sumur tujuhnya di Cibulakan Kabupaten Pandeglang. Saat ini saja untuk menuju Sanghyang Sirah lewat Taman Jaya membutuh waktu 2 hari satu malam dengan berjalan kaki dan membutuhkan waktu 5 jam dengan menggunakan kapal laut dari Ketapang, Sumur menuju Pantai Bidur yang dilanjutkan berjalan kaki selama hampir 1 jam menuju Sanghyang Sirah. Bisa dibayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesana pada jamannya Syekh Maulana Mansyur.

Prabu Siliwangi Benar-Benar Turun Gunung

Tulisan bersambung dari Prabu Siliwangi Turun Gunung

Keesokan harinya minggu tepat jam 07.00, kami melakukan ziarah ke makam utama yang ada di gunung Simpay yaitu makam/petilasan Prabu Tajimalela pendiri kerajaan Sumedang Larang. Prabu Tajimalela adalah anak tunggal dari Eyang Aji Putih yang merupakan pendiri kerajaan Galeuh Pakuan.

Sebetulnya saya ingin sekali naik ke puncak gunung Simpay karena sudah hampir 8 tahun saya tidak pernah lagi mengunjungi makam/petilasan Prabu Tajimalela. Tetapi Uyut berpendapat lain, beliau menyuruh saya untuk tetap tinggal di Padepokan untuk mengurus dan mengawasi persiapan acara Maulid Nabi SAW. Disamping itu saya ditugaskan untuk menemani para tamu yang datang ke padepokan. Kelihatannya mudah tetapi berat dalam menjalankannya karena perlu ada ilmu dan pengalaman lebih untuk mengetahui pernak-pernik budaya Sunda dalam menyambut acara Maulid Nabi SAW.

Sejak jam 09.00 WIB, panggung telah siap dengan peralatan musik tradisional sebagai pengiring tarian dan lagu-lagu tradisional Sunda. Sinden, para penari dan pemain musik mulai sibuk mempersiapkan diri. Sementara itu petasan sepanjang 5 meter telah diikatkan di atas pohon karena nantinya akan diledakkan tepat rombongan Uyut yang baru pulang ziarah mau memasukki padepokan. Alhamdulillah semuanya sudah sesuai dengan rencana.

Petasan penyambutan (foto pribadi)

Tepat jam 12.30, satu persatu anggota rombongan tiba di ujung jalan sekitar 200 meter dari pintu masuk padepokan. Belum tampak Uyut dan rombongan besarnya tiba. Namun beberapa menit kemudian ada aba-aba untuk segera mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan rombongan dan ini menjadi tugas Pak Singgih selaku orang yang paling tua diantara kami yang tidak turut ziarah.

Pak Singgih dkk sebagai penyambut kedatangan Uyut dan rombongan (foto pribadi)

Pak Singgih dan aparat Polsek Cibugel (foto pribadi)

Memang Maulid Nabi SAW tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya tidak ada penyambutan rombongan Uyut yang baru pulang dari ziarah sebelum memasuki pintu padepokan. Awalnya saya kurang mengerti dengan adanya tambahan acara ini tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari Uyut maka saya mengerti maksud penyambutan tersebut. Rupanya ada sesuatu yang istimewa.

Menjelang 100 meter menuju padepokan, tiba-tiba petasan diledakkan dan suaranya menggema kemana-mana. Alunan musik tradisionalpun dibunyikan. Tampak sekali suasana semarak dan magis. Tiba-tiba dari pintu padepokan keluarlah Ki Lengser dan Ambu untuk menyambut Uyut dan rombongannya. Dengan sedikit berpantun dalam bahasa Sunda, Ki Lengser (diperankan oleh seorang penari pria) memberikan sebuah penggambaran tentang suka citanya rakyat dan kerajaan Galeuh Pakuan menyambut kepulangan seorang raja yang habis bertapa atau lama pergi melanglang buana. Banyak adegan lucu Ki Lengser dan Ambu yang membuat saya tertawa.

Uyut dan rombongan ziarah (foto pribadi)

Ki Lengser memberikan penghormatan (foto pribadi)

Ki Lengser (foto pribadi)

Saya pikir ini hanya sebagai fragmen dari sebuah cerita sejarah jaman dulu. Ternyata perkiraan saya salah. Tiba-tiba Uyut tertawa terbahak-bahak dan suaranya telah berubah seperti suara seorang raja yang gagah perkasa sakti mandraguna. Suara tawanya keras sekali dan terdengar sampai radius 50 meter. Rupanya Uyut keancikan yaitu keancikan Prabu Tajimalela, Prabu Siliwangi pertama. Dari tatapan matanya saja sudah jelas ketegasan dan kewibawaan. Nyata sekali suasana mistis dan bulu kudukpun ikut berdiri.

Ki Lengser dan Ambu (foto pribadi)

Punggawa Kerajaan dengan payung agungnya (foto pribadi)

Uyut dan rombongan yang telah dipayungi (foto pribadi)

Di depan pintu padepokan telah berdiri punggawa istana dengan membawa payung agung dan diiringi oleh 4 orang hulubalang. Kemudian merekapun segera mendekati Uyut yang masih keancikan untuk memayunginya. Selanjutnya tiga orang penari perempuan cantik yang berpakaian seperti puteri raja menari dihadapan Uyut yang dianggap sebagai raja.

Para penari yang cantik menyambut kedatangan Uyut dan rombongan (foto pribadi)

Menuju masuk ke Padepokan (foto pribadi)

Sungguh sebuah pengalaman luar biasa yang saya peroleh dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Unsur budaya Sunda jaman dulu yang digabungkan dengan unsur keislaman jaman sekarang. Intinya adalah selalu mengingat sejarah masa lalu dan ambil hikmahnya untuk kehidupan yang akan datang yaitu sebagai makhluk Allah SWT maka kita harus bisa rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta).

Selanjutnya Uyut dan rombongan dituntun masuk ke dalam padepokan yang seolah-olah sebagai istana kerajaan. Dalam keadaan keancikan Uyut duduk di kursi kerajaan dan tampak tatapan mata beliau memperhatikan orang-orang yang hadir di dalam ruangan padepokan. Dengan menggunakan bahasa Sunda, Uyut memberikan wejangan kepada kami dan mendoakan agar hidup kami menjadi lebih baik daripada saat ini. Intinya adalah Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dunia dan akherat. Amin.

Uyut dan kursi kerajaan (foto pribadi)

Panggung hiburan (foto pribadi)

Setelah mendoakan kami, satu per satu dari kami memberikan penghormatan ala jaman dulu kepada Uyut yang masih keancikan. Kemudian Prabu Siliwangi yang ngancik ke Uyut mengucapkan rasa terima kasih dan mohon pamit meninggalkan kami semua. Beberapa saat kemudian uyutpun tersadar dan kembali normal seperti semula.

berjoget ria (foto pribadi)

Sinden panggung (foto pribadi)

Tari Jaipongan (foto pribadi)

Ini lagi menunggu cechgentong joget hehehehe (foto pribadi)

Sebagai acara penutup maka dipertunjukkanlah tari jaipongan, saweran, ngebodor dan sebagainya layaknya hiburan rakyat jaman baheula. Semuanya bergembira dan saling berinteraksi dalam ikatan silaturahim. Demikianlah acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun ini. Sampai jumpa Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 1432 H.

Prabu Siliwangi Turun Gunung

Tahun 2010 adalah tahun yang unik dan lain daripada yang lain. Mengapa ? Karena pada tahun inilah Tahun Baru Islam dan Maulid Nabinya tepat jatuh pada hari Jumat Kliwon. Menurut kepercayaan sebagian besar masyarakat Sunda, jumat kliwon dianggap sebagai hari yang penuh arti karena pada malam jumat kliwon itulah para karuhun (leluhur), malaikat dan makhluk-makhluk gaib diijinkan oleh Allah SWT untuk turun ke bumi. Untuk itulah mengapa setiap malam jumat kliwon diadakan acara tawasulan atau acara mendoakan para karuhun dan memohon kepada Allah memberikan rahmatNya dalam bentuk apapun.

Latihan Memainkan Kecapi Menjelang Ngebumbang (dokumen pribadi)

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran menggelar banyak acara dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Bagi keturunan Kusumah (Sumedang Larang), acara Maulid Nabi jatuh pada tanggal 14 Rabiul Awal. Karena bersamaan dengan Jumat Kliwon maka acaranya sudah dimulai sejak malam jumat kliwon.

Pada malam berikutnya (malam sabtu), diadakan acara ngebumbang dengan diiringi alunan musik kecapi atau dikenal dengan membuka sejarah dan ilmu Nabi Muhammad SAW dan para karuhun kepada para masyarakat yang datang ke Padepokan. Buka sejarah dan ilmu tersebut disampaikan oleh kakek buyut (Uyut) Ohan Wijaya Kusumah selaku Sesepuh Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran. Kami tidak tidur sampai subuh karena inilah momen yang tidak boleh dilepaskan dan banyak ilmu serta pengalaman Uyut yang sangat bermanfaat bagi diri kami.

Acara Ngebumbang (foto pribadi)

Beberapa orang yang masih melek mendengarkan petuah Uyut pada acara ngebumbang (foto pribadi)

Keesokan paginya acara dilanjutkan dengan melakukan ziarah ke makam Eyang Krincing Wesi yang merupakan salah satu patih kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran. Karena cuaca tidak yang diikuti dengan hujan deras, rencana melakukan ziarah ke Eyang Jangkung dan Eyang Wali Syekh Jafar Sidiq di gunung Masigit dibatalkan sehingga kami hanya ziarah ke Eyang Krincing Wesi di wilayah gunung Simpay saja.

Tampak jalan basah diguyur oleh hujan deras sebelum berangkat ziarah

Lokasi makam/petilasan Eyang Jangkung yang terhalang penglihatannya oleh kabut pada saat turun hujan (foto pribadi)

Pada malam minggunya, kami mengadakan tawasulan dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW dengan membacakan doa dan Al Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, para wali, alim ulama, karuhun sampai kepada orang tua kandung kami yang telah meninggal dunia.

Acara Tawasulan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW 1431 H (foto pribadi)

Kang Tajudin membuka acara tawasulan dengan memberikan keterangan yang detil tentang makna Maulid Nabi SAW dalam perspektif budaya Sunda (foto pribadi)

Seperti biasanya, acara dimulai pada pukul 21.30 dan berakhir pada pukul 00.00 WIB. Selanjutnya dilakukan acara ritual membersihkan diri dengan menggunakan air yang berasal dari mata air keramat sehingga diharapkan tubuh kami menjadi bersih dan mengurangi kotoran-kotoran yang melekat di tubuh dan hati kami.

(bersambung)