Menemukan Lukisan Yesus Kristus Berkulit Hitam Di Fiji

Penemuan lukisan Yesus Kristus berkulit hitam di Fiji berawal dari obrolan iseng dengan seorang pria bule berkewarganegaraan Amerika Serikat di atas kapal Cruise yang membawa kami keliling gugusan pulau Mamanuca (baca: ma-ma-nu-da) dan Yanuca (baca: ya-nu-da).

” Cech, pernahkah kamu mengunjungi Black Church ? ” tanya pria bule.

” Black Church ? Saya baru mendengarnya. Dimana lokasinya ? ” Saya bertanya balik.

” Lokasinya di Naiserelagi (baca: Nai-si-re-la-ngi) dekat kota Rakiraki “

” Kok disebut Black Church ? ” tanya saya kembali

” Nah ini yang menarik. Disebut Black Church karena di dalam gereja tersebut terdapat beberapa lukisan Yesus Kristus berkulit hitam atau identik dengan kulit orang Fiji asli “

” Wao menarik juga untuk dikunjungi. saya sudah tinggal 3 tahun di Fiji, baru kali ini saya mendengar ada gereja unik seperti itu. “

” Datanglah ke sana. Pasti kamu suka “

Setelah pertemuan dengan pria bule tersebut, saya langsung mencari informasi tentang gereja tersebut via Google. Dan baru 2 bulan kemudian saya mendapatkan  kesempatan untuk mengunjunginya dengan beberapa teman Indonesia.

dsc_0006-5
Gereja St Francis Xavier dari depan (Dok. Cech)
dscn1267
Tampak samping (dok. Cech)

Tidaklah sulit untuk menemukan lokasi gereja tersebut karena terletak dekat dengan jalan raya Kings Road walaupun letaknya agak masuk ke dalam sekitar beberapa ratus meter dari jalan raya. Lokasi gereja berada di atas bukit dan menghadap ke utara  yaitu Teluk Vitilevu atau disebut Bligh Water. Pemandangan lautnya indah sekali, apalagi pada saat sunset kalau dilihat dari atas bukit. Lebih jelasnya gereja tersebut terletak di dusun Navuibutu (baca: na-vui-mbu-tu), desa Naiserelagi, Propinsi Ra. Dari ibukota propinsi Ra, Rakiraki berjarak 25 km ke arah tenggara untuk menuju gereja tersebut.

Pada kunjungan tersebut, saya belum dapat masuk ke dalam gereja sehingga belum banyak informasi diperoleh kecuali nama gereja katholik tersebut adalah Gereja St Francis Xavier. Karena saat itu hari minggu, gereja masih dipergunakan untuk misa penduduk sekitaran Propinsi Ra.Jadi saya hanya mengambil foto dari luar dan berbincang-bincang dengan beberapa pemuda lokal yang baru selesai misa. Mereka mempersilakan saya balik lagi sore hari apabila ingin mengetahui segala hal tentang gereja termasuk mengambil foto lukisan di dalam gereja.Tetapi saya tidak dapat kembali mengunjungi di sore hari karena saya dan teman-teman masih ada acara di Nadi.

dsc_0007-3
Bangunan yang berada persis berhadapan dengan gereja dimana terdapat papan kayu yang dipukul dengan kayu sebagai tanda kedatangan tamu (dok. Cech)
dsc_0009-3
Pemandangan dari bukit terlihat dengan jelas jalan raya Kings Road dan Teluk Vitilevu (dok. Cech)
dsc_0015-2
Foto dengan pemuda setempat yang baru selesai misa (dok. Cech)

Tiga minggu kemudian, pagi-pagi saya memutuskan untuk kembali ke gereja tersebut tapi pada hari Sabtu. Karena pada hari Sabtu, misa dilaksanakan pada sore hari.Dari Suva ke Naiserelagi membutuhkan waktu sekitar 2 jam sehingga saya tiba menjelang siang hari.

Sesampainya di lokasi, saya segera menuju ke dalam gereja. Sebelum masuk, saya bertemu dengan seorang wanita Fiji. Kemudian saya menjelaskan maksud kedatangan ke gereja katholik tersebut. Wanita Fiji tersebut menyambut saya dengan baik sekali dan memberikan banyak informasi tentang gereja tersebut.

Gereja St Francis Xavier selesai dibangun oleh penduduk lokal bersama misionaris katholik dari Perancis pada tahun 1917. Misionaris katholik tersebut sudah ada di Propinsi Ra sejak tahun 1870. Sepintas bangunan gereja mirip dengan bangunan tradisional Eropa. Lebih tepatnya mengikuti arsitektur bergaya Yunani mulai dari salib di atas gereja, jendela dan dinding yang terbuat dari batu berwarna abu-abu. Di atas pintu gereja terdapat tulisan latin yang merupakan motto gereja yaitu Venite ad me omnes (Come to me, all of you atau Datanglah kepadaKu, Kalian semua). Kemudian saya diperbolehkan masuk ke dalam dan ambil foto. Tidak seperti gereja di Indonesia, gereja tersebut tidak tersedia tempat duduk, Jemaah gereja duduk di lantai yang beralas tikar anyaman khas Fiji dari tanaman Pandanicus dan hanya ada satu altar.

black-mural
Denah gereja St. Francis Xavier (Courtesy of Etuate Katalau)
dsc_0004-5
Gereja bergaya arsitektur Yunani (dok. Cech)
dscn1314
Motto gereja Venite ad me omnes (Come to me, all of you atau Datanglah kepadaKu, Kalian semua) (dok. Cech)
dscn1315
Di dalam gereja terdapat altar dan di belakangnya terdapat 3 lukisan Yesus Kristus berkulit hitam lengkap dengan budaya bangsa Fiji (dok. Cech)
dscn1321
Dok. Cech

Kemudian wanita tersebut menjelaskan mengapa gereja tersebut disebut Black Church. Dikatakan Black Church karena gereja tersebut  memiliki keunikan tersendiri dan berbeda dengan gereja-gereja yang dibangun di Fiji yaitu beberapa lukisan Yesus Kristus berkulit hitam dengan mengenakan Sulu (sarung khas Fiji) lengkap dengan kondisi dan budaya yang terdapat di Fiji. Benar-benar menggambarkan kearifan lokal di dalam gereja walaupun ajaran katholik dibawa oleh bangsa Eropa tapi unsur budaya Fiji menonjol sekali.

Lukisan di dalam gereja dikerjakan oleh pelukis asal Perancis yaitu Jean Chalot yang dibantu oleh istriny, Zohman dan putranya, Martin antara 23 September 1962 sampai 4 Januari 1963. Menariknya Jean Charlot mau datang ke Fiji dan membuat lukisan tersebut karena permintaan Monsignor (Mgr) Fanz Wasner, seorang guru menyanyi keluarga terkenal Austria Von Trapp (keluarga bangsawan yang diceritakan dalam film Sound of Music).

dscn1324
Lukisan Yesus Kristus berkulit hitam persis di belakan altar utama (dok. Cech)
dscn1320
Lukisan di sebelah kiri altar utama (dok. Cech)
dscn1319
Lukisan di sebelah kanan altar utama (dok. Cech)

Persis di belakang altar terdapat lukisan Yesus Kristus berkulit hitam mengenakan sulu dari kain tapa bermotif masi disalib  di tengah kebun sukun (uto) dan talas (dalo) serta dekat kakinya terdapat tanoa (wadah kayu untuk minuman kava). Sebelah kiri terlukis Yesus Kristus berkulit hitam sedang syiar didampingi seorang anak keturunan India dan disambut karangan bunga oleh wanita   keturunan India berpakaian sari  serta disaksikan seorang petani keturunan India yang sedang membawa 2 ekor sapi. Sedangkan sisi kanan, Saint Peter Channel, misionari asal Perancis memegang Waka (senjata khas Fiji yang dipakai untuk membunuhnya saat menyebarkan agama katholik) didampingi oleh seorang anak Fiji, Uskup Agung (Archbishop) Fiji, Petero Mataca membawa tabua (gigi ikan paus) dan dua orang Fiji membawa sesembahan sebagai bentuk penghormatan khas Fiji.

Sementara itu dinding sebelah barat atau disebut The Annunciation terdapat lukisan Bunda Maria sedang menganyam tikar tradisional Fiji dari daun Pandanicus . Sedangkan dinding sebelah timur atau disebut St. Joseph’s Workshop terdapat lukisan Yesus muda membantu Joseph, sang tukang kayu.

dscn1326
Dinding sebelah barat atau disebut The Annunciation (dok. Cech)

 

navala-13
Dinding sebelah timur atau disebut St Joseph’s Workshop (dok. Cech)

Perlu diketahui sebelum mengunjungi gereja St Francis Xavier, saya sempat bertanya kepada beberapa orang Fiji tentang gereja tersebut. Sebagian besar tidak mengetahuinya dan baru tahu dari saya. Tetapi ada dua orang Fiji (bukan beragama katholik)  yeng tahu tentang gereja tersebut dan mengatakan gereja tersebut adalah gereja sesat karena menggambarkan Yesus Kristus secara sembarangan.

Meskipun demikian tidak terjadi kontroversi tentang lukisan tersebut sejak lukisan selesai dibuat hingga sekarang. Bahkan otoritas Vatikan tidak mempermasalahkan dan mengapresiasi lukisan sebagai karya seni dengan menjunjung tinggi kearifan lokal bangsa Fiji. Apabila terjadi di Indonesia, apakah yang terjadi ? Kontroversi berkepanjangan ? Penistaan agama ? Hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

Mengantar Para Mujahid Kembali Ke Tanah Air

Foto bersama ABK Indonesia (dok. Cech)
Foto bersama ABK Indonesia (dok. Cech)

” Dapat berbicara dengan Cech ? Saya John Lee dari Zhong Fei Shipping … ” ujar seorang pria dengan suara lembut.

” Ya, saya sendiri. Dari mana bapak mendapatkan nomor saya ? ” tanya saya.

” Saya mendapatkan nomor dari salah satu ABK asal Indonesia. Sayasudah menghubungi nomor konsuler KBRI Suva tetapi tidak dapat dihubungi. Kemudian saya telpon kantor KBRI, diperoleh kabar bahwa pejabat konsuler sedang cuti ke Indonesia ” jelas pria tersebut.

” Ya benar pejabat konsuler sedang cuti merayakan Hari Natal di Indonesia. OK, ada apa ya Pak John Lee ? Mungkin saya bisa bantu. “

” Begini, semalam ada kejadian serius. Beberapa ABK Indonesia diserang oleh sekumpulan ABK Vietnam. 2 orang ABK Indonesia saat ini dirawat di Colonial War Memorial Hospital (CWM Hospital). Satu orang terkena sabetan pisau di pipinya. yang satu lagi terkenal sabetan di kepala dan pipi. Hanya ada 1 orang ABK yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya. Berdasarkan  keterangan 4 orang ABK yang selamat, 1 ABK tebut terjun ke laut untuk menyelamatkan diri tetapi sampai sekarang belum diketemukan oleh pihak kepolisian. Maka itu saya ingin bertemu Cech di rumah sakit sekarang”

” Ok, kalau begitu saya segera menemui Pak John ” Segeralah saya berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan taksi walaupun saat itu hari libur Boxing Day merayakan Natal di Fiji dan waktu menunjukkan jam 8 malam pula. Perlu diketahui tidaklah mudah mendapatkan taksi sekitaran tempat tinggal saya di daerah Caubati.

Sesampainya di rumah sakit saya segera menuju  ruang rawat inap di lantai dua. Sebelum masuk ruangan sudah terlihat dua orang Fiji yaitu polisi dan John Lee. Setelah melihat dan mendapatkan informasi dari dokter dan John Lee tentang kondisi kedua orang ABK, polisi ingin bicara dengan saya secara khusus. Dari keterangan polisi diperoleh informasi bahwa telah terjadi salah target penyerangan. Sebenarnya yang diincar oleh beberapa orang ABK Vietnam adalah ABK Filipina. Karena perawakan orang filipina mirip dengan orang Indonesia, beberapa ABK Vietnam menyerang secara membabi buta. Ada 6 orang ABK di kapal pada saat itu. 2 orang ABK sedang berada di dapur, 1 orang ABK di ruang mesin dan 3 orang ABK berada di geladak sedang makan malam. Semuanya mengalami penyerangan oleh beberapa ABK Vietnam yang membawa golok dan batang besi. Kecuali yang di geladak, semuanya selamat dan tidak mengalami luka sama sekali karena berhasil mengunci pintu. Sedangkan yang di geladak, 2 orang mengalami luka dan 1 orang ABK menceburkan diri ke laut (belum diketemukan orangnya dan polisi masih mencari dengan menyelam ke laut). Saya meminta polisi untuk terus mencari 1 orang ABK yang belum diketemukan. Karena sudah malam akhirnya saya mohon diri untuk pulang ke rumah.

Keesokan harinya jam 06.30 secara bergantian John Lee dan polisi menelpon saya bahwa polisi berhasil menemukan 1 orang ABK Indonesia yang telah meninggal dunia. Jasadnya ditemukan persis di bawah kapal. Polisi meminta saya untuk datang ke King Wharf sebagai saksi bersama 1 orang ABK Indonesia lainnya yang ternyata sepupu ABK yang meninggal. Segera saya pergi ke King Wharf dan tidak lupa mengabarkan pihak Kedutaan Republik Indonesia di Suva tentang kejadian ini.

Sesampainya di King Wharf, dari jauh saya melihat satu kantung mayat yang masih tergeletak dekat kapal. Seorang komandan polisi mendekati dan menerangkan proses pencarian jasad ABK tersebut. Bersama dengan 1 orang ABK (sepupu korban), polisi membuka kantung dan menanyakan kepada sepupu korban apakah benar mayat korban adalah sepupunya. Sepupu korban menyatakan benar karena melihat tanda lahir pada tubuh korban. Tugas saya hanya sebagai saksi dan penterjemah untuk sepupu korban yang kurang fasih berbahasa Inggris. Dugaan sementara polisi, korban meninggal karena terlalu banyak meminum air laut dan diduga pula korban tidak mempunyai kemampuan berenang. Sepupu korban membenarkan bahwa korban tidak mempunyai kemampuan berenang. Aneh dalam hati saya, ABK kok tidak bisa berenang. Ada sesuatu yang salah dalam perekrutannya dari agen tenaga kerja di Indonesia karena salah satu syarat utama untuk menjadi ABK dan dikirim ke luar negeri maka ABK harus dibekali Basic Safety Training (BST) dimana salah satu pelatihannya adalah berenang. Ternyata dugaan saya benar adanya, setelah saya tanya sepupu korban diketahui bahwa mereka tidak melakukan BST tetapi membayar sejumlah uang untuk mendapatkan sertifikat BST. Saya prihatin mendengarnya. John Lee juga merasakan hal yang sama setelah saya menjelaskan kepadanya.

Selanjutnya saya melaporkan kejadian tersebut kepada pejabat KBRI Suva. Kemudian KBRI Suva meminta Kemlu RI di Jakarta untuk memberitahukan keluarga korban dan menanyakan apakah jasad korban dimakamkan di Fiji atau dikirimkan ke Indonesia? Untuk dikirimkan di Indonesia maka menjadi tanggung jawab Agen Tenaga Kerja di Indonesia dimana korban melakukan perjanjian kontrak kerja karena berkaitan dengan biaya dan asuransi. Selain itu Kemlu RI akan berkoordinasasi dan memantau bersama dengan Agen Tenaga Kerja untuk proses pemulangan dan pemakaman. Kemlu RI juga akan memastikan apakah asuransi jiwa korban sudah dibayarkan atau belum kepada keluarga korban oleh Agen Tenaga Kerja.

Bukan hanya sampai disitu, polisi dan John Lee sebagai wakil agen pemilik kapal di Suva meminta saya sebagai saksi dalam proses otopsi atau post mortem yang dilakukan oleh pihak rumah sakit. Apabila telah dinyatakan jasad korban dipulangkan di Indonesia maka saya juga diminta menyaksikan proses pemandian mayat oleh pihak Fijian Moslem League yang diminta oleh pihak agen pemilik kapal apabila korban seorang muslim sampai pengecekan barang milik korban dan dimasukkan ke dalam peti serta mendapatkan Airways Bill dari paket peti mayat yang dikirimkan oleh agen pengiriman barang ke Indonesia. Hal tersebut membutuhkan waktu 2-3 minggu karena berkaitan dengan banyak pihak berwenang seperti Departemen Kesehatan Fiji, Rumah Sakit, Kepolisian dan Protokol Bandara sebuah negara yang mengijinkan paket peti mati dapat masuk ke Bandaranya.

Dok. Cech
2014-11-23-10-17-29
Ruang penyimpanan mayat berupa kontainer (dok. Cech)

Inilah pengalaman pertama saya membantu pengurusan mayat ABK Indonesia yang akan dikirimkan ke Indonesia. Ada hal menarik saat saya menyaksikan proses post mortem sampai dimasukkan ke dalam peti yaitu saat mayat dikeluarkan dari ruangan mayat, saya harus memastikan nomor jasad yang ada di form polisi dengan rumah sakit yang biasanya dikaitkan di jempol kaki mayat. Saya harus ikut petugas rumah sakit dan polisi untuk mengecek hal tersebut. Kalau nomornya cocok maka mayat dapat dikeluarkan dari kontainer. Tahu sendirikan bagaimana suasananya dan rasanya mengerikan karena ruang mayat di rumah sakit Fiji berbeda dengan ruang mayat di Indonesia. Di Fiji, mayat disimpan ke dalam sebuah  kontainer yang didalamnya dibuat semacam rak memanjang sampai 2 tingkat sehingga sempit sekali. Seringkali tubuh saya bersentuhan dengan mayat lainnya karena sempitnya ruangan. Setelah itu saya merasakan perut mual dan sempat 3 hari malas makan karena masih terbayang wajah mayat dan bau tidak enak di dalam ruang mayat. Tetapi lama kelamaan saya terbiasa dan menemukan cara supaya perut tidak mual yaitu dengan mengunyah permen karet.

Ada satu peristiwa menarik pada saat saya mengurus ABK Indonesia yang meninggal dunia karena sakit di perairan internasional dekat Samoa. Kemudian mayat tersebut dibawa ke Suva, Fiji dan membutuhkan waktu 15 hari. Kebetulan ABK tersebut berada tanggung jawab perusahaan agen pemilik kapalnya John Lee. Saat mayat dimandikan oleh beberapa anggota Fiji Moslem League, John Lee terlihat meneteskan air mata. Kemudian saya bertanya mengapa John Lee menangis ?

Mayat dimandikan oleh Fijian Moslem League (Dok. Cech)
Mayat dimandikan oleh Fijian Moslem League (Dok. Cech)
2014-11-23-10-48-36
Mayat dikafani (dok. Cech)
2014-11-23-10-40-45
John Lee memeriksa dan mengecek kembali barang milik ABK yang akan dimasukkan ke peti mati (dok. Cech)
2014-11-23-10-53-11-2
Mayat dimasukkan ke dalam peti bersama dengan barang miliknya (dok. Cech)
2014-11-23-10-53-13
Dok. Cech
2014-11-23-11-10-35
Setelah peti mati dibungkus dengan beberapa kemasan plastik sampai rapat, jenasah didoakan bersama (dok. Cech)

” Lihat Cech, mayat tersebut. Saya teringat anak saya karena seumur (sambil menunjukkan data tenaga kerja dan foto copy paspor). ABK itu masih muda sekali. Bayangkan Cech, masih berumur 19 tahun. Saya yakin ABK itu tidak pernah membayangkan kerasnya bekerja di kapal. Kerja selama 22 jam saat menarik umpan, makan seadanya, dan belum lagi dipukuli oleh kapten atau tafunya (mandor). Dalam pikiran ABK tersebut kerja di kapal enak, berangkat ke luar negeri, berharap mengumpulkan banyak Dollar Amerika dan saya yakin ABK tersebut dari keluarga miskin dan tinggal di pedesaan. Yang parahnya lagi, ABK tersebut tidak mempunyai kemampuan sebagai pelaut dan tetap saja agen tenaga kerja di Indonesia mengirimnya ke Fiji karena hanya berpikir meraup keuntungan. Masih muda dan mati sia-sia. Saya prihatin dan merasa kasihan dengan keluarganya. Berharap mendapatkan uang tapi kembali hanya nama di peti mati. “ jelas John Lee.

Saya pun merasa sedih dan membenarkan pernyataan John Lee tentang kondisi sebenarnya tenaga kerja Indonesia terutama ABK yang dikirimkan ke luar negeri oleh agen tenaga kerja yang kebanyakan abal-abal.

” Ini bukan hanya tugas kementerian tenaga kerja. Harusnya menjadi tugas masyarakat Indonesia terutama di lingkungan tempat tinggalnya. Setelah kejadian meninggalnya ABK ini seharusnya pejabat di daerahnya mulai dari kepala dusun, kepala desa, camat dan bupati bersama dinas tenaga kerja harus lebih mengontrol pengiriman warganya sebagai ABK ke luar negeri. Satu nyawa warga saja yang hilang, berharga sekali nilainya bahkan tak ternilai. Disamping itu para pemuka agama baik ustad, ulama, kyai, pendeta atau pastor berperan aktif membantu pemerintah mengingatkan umatnya untuk hati-hati, jeli dan teliti dalam setiap menerima tawaran kerja ke luar negeri baik jadi ABK atau Buruh Migran. Jangan menilainya dari uang atau pertumbuhan ekonomi tapi nyawa seorang manusia. “ tegas John Lee.

Perlu diketahui, kalau melihat perjanjian kontrak kerja antara ABK dengan Agen Tenaga Kerja secara hukum posisi ABK lemah. Dalam kontrak kerja banyak sekali hal yang janggal seperti besaran gaji ABK. Bagi pemula hanya dibayar USD 300 dimana selama 6 bulan gaji dipotong oleh agen tenaga kerja, ABK hanya mendapatkan gaji USD 50 di kapal dan sisanya dikirim ke keluarga ABK (sistem delegasi). Itupun kalau agen tenaga kerjanya amanah dan terpercaya karena seringkali saya mendapatkan kasus 3 bulan pertama saja dibayar setelah itu menghilang alias kabur melarikan gaji yang menjadi hak ABK dan pura-pura menyatakan bangkrut. Padahal untuk ukuran pemula, ABK asal Cina, Vietnam, Filipina, Myanmar dll digaji USD 450 utuh di kapal dan tidak ada istilah sistem delegasi.

Seringkali ada tarik menarik antara agen tenaga kerja dan pemilik kapal tentang siapa yang bertanggung jawab dalam membiayai pengiriman mayat ABK ke Indonesia dan pembayaran asuransi jiwa kepada keluarga ABK. Selama ini Kemlu RI sangat tegas dalam menyelesaikan persoalan ini karena ancamannya adalah dilaporkan ke polisi dan meminta imigrasi Fiji menghentikan pemberian visa kerja bagi ABK yang akan bekerja di kapal-kapal yang kantornya berkedudukan di Fiji.

Biaya pengiriman mayat ke Indonesia sangat mahal mencapai kurang lebih FJD 6000-7000 (sekitar IDR 40 juta-an). Nah ini yang sering dimanfaatkan oleh agen tenaga kerja dengan membujuk keluarga ABK agar mayat ABK dimakamkan di Fiji saja karena biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar dan seringkali membohongi keluarga ABK tentang kondisi sebenarnya.Maka itu dengan adanya Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kemlu RI sangat membantu keluarga ABK karena pendampingan direktorat tersebut terhadap keluarga maka hak-hak ABK terlindungi.

Dalam kasus khusus yaitu mayat ABK yang meninggal karena sakit dan diketahui mengidap HIV maka perlu kerja ekstra dari KBRI Suva untuk meminta secara khusus kepada Departemen Kesehatan Fiji untuk mengeluarkan surat ijin agar mayat ABK dapat dikirimkan ke Indonesia. Biasanya peti matinya harus khusus dan sesampainya di tempat tinggal ABK segera dimakamkan dan peti mati tidak boleh dibuka oleh siapapun. Hal ini membutuhkan waktu yang lama sekali sekitar 1 bulan lebih.  Selain itu kita masih harus menunggu kepastian protokol  bandara negara mana yang mau menerima peti mati  sebagai tempat transit karena tidak ada penerbangan langsung dari Fiji ke Indonesia.

Dalam satu tahun rata-rata KBRI Suva menangani ABK yang meninggal dunia sekitar 3 orang. Ada yang dikirimkan ke Indonesia dan ada yang dimakamkan di Fiji. Kebanyakan penyebab kematian adalah sakit. Biasanya saya dan pejabat konsuler KBRI Suva setiap awal tahun berdoa agar tidak ada lagi ABK Indonesia yang meninggal dunia karena sangat menguras perasaan, hati dan pikiran  dan tidak mampu membayangkan perasaan keluarga ABK.

Menurut saya, para ABK baik yang masih hidup dan bekerja di kapal dan yang meninggal dunia adalah para mujahid. Dengan keterbatasan yang dimiliki, mereka berjihad dengan bekerja keras, kuat dan tabah dalam menghadapi kerasnya kehidupan di laut selama berbulan-bulan  demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga di tanah air.  Salut.

ABK Indonesia yang mengidap sakit parah dan berhasil diselamatkan dan sembuh kembali (dok. Cech)
ABK Indonesia yang mengidap sakit parah di tengah laut dan berhasil diselamatkan dan sembuh kembali (dok. Cech)

Touring Ranca Upas Yang Layak Dikupas

13932914_10209839314323256_3668599575397666325_n
Dok. Forescom 2016

” Cech, tanggal 20-21 Agustus 2016 Forescom akan mengadakan Touring ke Ranca Upas, Bandung. Ikut Cech ? ” Begitulah ajakan kawan Edi Sembiring, salah satu pengurus Forescom sehari setelah saya melakukan registrasi keanggotaan Forescom. Saat itu saya belum memberikan jawaban karena pada tanggal tersebut saya dan istri ada acara ke Kamojang, Garut.

Ada sih keinginan untuk ikut serta dalam acara touring tersebut karena acara tersebut saya dapat jadikan silaturahim awal sebagai anggota baru untuk berkenalan dengan kawan-kawan Forescom. Dua hari setelah pembicaraan dengan Kawan Edi Sembiring, saya mendapatkan info bahwa touring diundur minggu depannya yaitu tanggal 27-28 Agustus 2016. Dengan mundurnya acara tersebut memberikan kemungkinan besar bagi saya untuk ikut serta. Melalui WA Group Chapter Bandung, saya mendapatkan informasi bahwa saya dapat menghubungi Om Chandra untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap dan bagaimana cara melakukan pendaftaran. Tanpa pikir panjang segera saya menghubungi Om Chandra dan mentransfer uang pendaftaran.

Awalnya saya pikir dari chapter Bandung bukan hanya saja yang turut serta karena beberapa hari menjelang hari H, beberapa teman chapter Bandung terlihat antusias. Saya senang sekali dapat bertemu teman-teman dari chapter Bandung. Tetapi pas hari H, hanya saya saja dari chapter Bandung. Walaupun demikian saya tetap semangat untuk ikut karena tujuan utama saya adalah silaturahim awal dengan komunitas Forescom.

Sesuai pembicaraan saya dengan Om Chandra via WA, titik kumpul saya dengan rombongan touring adalah exit toll Moh. Toha Bandung. Sebelum jam 8 pagi, saya sudah tiba di lokasi tersebut. Menunggu kurang lebih 20 menit, beberapa mobil rombongan Forescom keluar tol Moh. Toha. Salah satu mobil mendekati saya, rupanya mobil Om Chandra dan meminta saya untuk bersiap diri.

Sebagai Newbie, saya tidak terlalu banyak bertanya, hanya mengamati dan mengikuti jalannya mobil rombongan di depan saya. Sesekali saya berbicara dengan beberapa anggota Forescom pada saat rombongan berhenti sejenak. Penilaian awal saya terhadap teman-teman Forescom adalah baik dan interaktif.

Setelah berjalan lebih dari satu jam, rombongan tiba di Situ Cileunca. Satu per satu mobil parkir teratur di lokasi parkir yang besar Situ Cileunca. Terus terang saya baru pertama kali ke tempat ini. Sebelum kami mulai mencari lokasi untuk pemotretan, Panitia meminta kami berkumpul dan melakukan foto bersama baik dengan kamera biasa maupun drone.

DSCN3199
Dok. Cech
DSCN3204
Suasana Situ Cileunca nan terik (dok. Cech)
DSCN3202
Salah satu aktifitas di Situ Cileunca (dok. Cech)
DSCN3206
Aktifitas pemotretan di Situ Cileunca (dok. Cech)

Selanjutnya kami bergerak mendekati situ Cileunca. Hari itu terik sekali matahari, tapi tidak menyurutkan kami untuk melakukan pemotretan. Ada yang memotret pemandangan sekitar situ, ada yang Wefie/Selfie, ngobrol dengan sesama anggota termasuk saya dan lain-lain. Terlihat raut wajah kegembiraan dan lepas dari suasana kepenatan saat aktifitas kerja sehari-hari. Tanpa terasa satu jam terlewati di lokasi tersebut. Kemudian panitia memanggil kami untuk berkumpul dan segera bersiap diri untuk meneruskan perjalanan ke Rumah Bosscha (Malabar Tea House).

Perjalanan menuju Rumah Bosscha terbilang lancar walaupun jalanan hanya cukup untuk dua mobil, berliku, melewati pedesaan dengan kebun teh khasnya dan beberapa area jalan yang tampak rusak tapi tidak menghalangi rombongan Forescom. Kurang lebih satu jam perjalanan menuju Rumah Bosscha. Awalnya saya pikir rumah Bosscha terletak di Lembang (Utara Bandung, teringat teropong Bosscha) ternyata rumah Bosscha adalah tempat tinggal Bosscha dikelilingi oleh perkebunan teh yang sejuk dan indah serta termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung (selatan Bandung) dekat sekali dengan daerah Pengalengan.

DSC_0001
Kebun Teh dekat Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0002
Berhenti sejenak sebelum masuk ke Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSCN3207
Lokasi parkir Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0005
Kumpul lagi setelah makan siang untuk sesi pemotretan (dok. Cech)

Sekarang Rumah Bosscha merupakan bagian dari  Wisma Malabar, lokasinya di atas bukit dan dikeliling oleh perkebunan teh Malabar milik PT. Perkebunan Nusantara VIII – Malabar. Wisma Malabar menjadi sebuah penginapan nan asri dan sejuk. Dengan harga yang cukup di atas rata-rata dibanding penginapan lain di Pangalengan, Wisma Malabar ini memang menawarkan lokasi dan pemandangan yang indah. Harga per kamar untuk tipe twin bed room : 450 ribu IDR / malam, termasuk sarapan nasi goreng untuk 2 orang. tidak ada fasilitas berlebihan di dalam kamarnya, ada tv kecil, bathtub/shower dengan air panas, handuk, toiletries. Rumah Boscha merupakan rumah tua peninggalan K.A.R. Bosscha, seorang Belanda yang mendirikan pertama kali kebun teh di wilayah Malabar.

Dua jam kami berada di Wisma Malabar. Aktifitas yang dilakukan adalah makan siang, shalat dhuhur dan menunggu satu mobil dari Bekasi yang datang terlambat sehingga jumlah mobil yang ikut serta lengkap 25 mobil dengan total peserta 45 orang. Selain itu ada pemotretan bersama untuk dokumentasi.

Dari Rumah Bosscha, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi utama touring camp yaitu Ranca Upas. Rombongan membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Setibanya di Ranca Upas hari sudah mendekati senja. Segeralah kami parkir mobil mendekati tenda tempat kami menginap. Ada 2 tenda yang sudah berdiri  yaitu tenda untuk pria dan wanita. Pada saat itu lokasi camp dikelilingi oleh beberapa tenda kecil yang sudah berdiri sebelum kedatangan kami. Suasana lokasi sangat ramai.Tapi yang terpenting bagi saya adalah kamar mandi. Ternyata kamar mandi banyak sekali didirikan sehingga tidak menyusahkan pengunjung saat ingin buang hajat atau mandi.

Baru saja memasuki tenda, cuaca mulai mendung dan hujan rintik-rintik. Karena perut terasa lapar, saya pergi ke warung depan. Sesampainya di warung saya memesan Indo Mie Telur dan memakan beberapa gorengan sambil menikmati kopi susu. Beberapa menit kemudian, satu anggota Forescom yaitu Om Ikhtiar tiba di warung dan memesan menu yang sama dengan saya. Rupanya Om Ikhtiar kelaparan juga. Setelah itu hujan turun dengan lebatnya. Wahh… langsung kami berpikir rencana latihan pemotretan malam hari bakal dibatalkan karena hujan.

2 jam kami di warung dan hujan mulai berhenti, tiba-tiba panitia Forescom termasuk Ketum Om Dudi datang ke warung. Rupanya mereka kelaparan juga. Sambil menikmati wedang jahe dan gorengan, kami ngobrol ngalor-ngidul dengan diselingi tawa dan canda. Setelah itu kami memutuskan untuk menyalakan api unggun dan melakukan sesi pelatihan memotret malam hari (yang utama adalah pelatihan foto Steel Wool)

FB_IMG_1472442447697
Suasana pelatihan pemotretan di malam hari (dok. Forescom)
FB_IMG_1472442458889
Teknik pemotretan dengan kombinasi tulisan dan gambar (dok. Forescom)
14080028_10209976509873059_5333958485918599863_n
Steel Wool (dok. Forescom)

Malam makin larut dan penat tak tertahankan sehingga tubuh ini butuh istirahat. Saya segera menuju tenda penginapan dan tertidurlah. Tepat jam 4 pagi saya terbangun. Setelah beberes kasur, selimut dan tas bawaan, segera saya bawa ke mobil. Kemudian saya pergi ke warung semalam untuk menikmati kopi di pagi hari. Jam 7 pagi semua peserta sudah terbangun. Ada yang langsung makan pagi, mandi dan hunting foto di sekitaran Ranca Upas. Rupanya semangat melakukan pemotretan masih tinggi. Walaupun tanah becek tetap tidak menghalangi aktifitas pemotretan.

DSCN3214
Suasana parkiran mobil di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3221
Tenda-tenda yang berdiri dekat tenda Forescom di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3217
Candid Camera pasangan yang sedang melakukan foto Pre-wedding (dok. Cech)
DSCN3218
Om Chandra tampak serius dengan hapenya (dok. Cech)
DSCN3220
Om Ikhtiar asyik dengan kameranya (dok. Cech)
FB_IMG_1472442428415
Foto bersama sebelum meninggalkan Ranca Upas (dok. Forescom)

Setelah perut kenyang, pemotretan, pemberian hadiah kepada pemenang foto  sepanjang perjalanan dan mobil satu per satu dapat melewati jalan yang becek maka selanjutnya perjalanan menuju Situ Patenggang sebagai destinasi terakhir.

Kembali rombongan bergerak teratur menuju Situ Patenggang yang melewati jalan berkelok dengan sisi kebun teh yang asri. Kurang lebih satu jam kami tiba di Situ Patenggang. Terlihat dengan jelas hamparan situ nan indah dari atas bukit, tempat parkir berada. Segeralah kami menyebar dan melakukan aksi pemotretan di areal Situ Patenggang.

DSCN3222
Rumah makan berbentuk kapal tradisional di atas bukit (dok. Cech)
DSCN3229
Pemandangan Situ Patenggang dari atas rumah makan (dok. Cech)
DSCN3228
Model kamar penginapan dekat Situ Patenggang (dok. Cech)
DSCN3223
Toilet nan bersih di Situ Patenggang (dok. Cech)

Hari mulai siang, perjalanan dilanjutkan menuju rumah makan Sindang Barang sebelum pembubaran acara touring camp dan kembali ke rumah masing-masing. Setelah makan siang dan rehat yang cukup maka Om Ketum membubarkan acara touring camp yang dianggap sukses sekaligus memberi informasi kegiatan selanjutnya di Jawa Timur. Bagi saya, touring camp merupakan wahana yang baik untuk menambah persaudaraan dan meningkat silaturahim bagi para pemilik mobiil Ford Ecosport. Walaupun awalnya saya agak heran mengapa panggilan kepada anggota pria adalah om dan wanita adalah tante. Tetapi bagi saya tidak masalah karena mungkin panggilan tersebut untuk mempererat persaudaran komunitas. Berharap agar kegiatan Forescom berikutnya dapat diikuti oleh seluruh anggota komunitas ini.

Ranca Upas layak dikupas
Bagai kipas
Angin terhempas
Letih lelah menjadi impas
Tawa bahagia tampak puspas
Tak ada ampas
Semuanya terasa pas

“Ayahmu Lebih Penting Daripada Tim”

Cristiano-Ronaldo-embraces-his-former-manager-Sir-Alex-Ferguson

mirror.co.uk

Kami baru saja mengalami kekalahan dalam satu pertandingan di kompetisi domestik. Setelah pertandingan, bos marah besar. Semua benda yang ada di dekatnya ditendang ke segala arah dengan emosionalnya.

Sementara itu saya baru saja mendapat kabar bahwa ayah saya mengalami koma di rumsh sakit dan keluarga meminta saya untuk pulang menjenguk. Dalam situasi saat itu sepertinya saya kuatir permintaan pulang (cuti pulang) tidak akan diberikan oleh bos karena 2 hari lagi ada satu pertandingan yang sangat menentukan untuk keberlanjutan tim kami di liga regional yaitu Liga Champions.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk menghadap bos.

” Bos, saya ingin mengajukan cuti pulang ke negara saya selama 2 hari “

” Memangnya ada apa sehingga kamu mau cuti pulang?” tanya bos

“Saya baru dapat kabar ayah saya sakit dan mengalami koma di rumah sakit. “

” Pergilah ” tegas Bos.

” Terima kasih dan lagi pula saya hanya cuti 2 hari sebelum pertandingan liga champions saya sudah bersama tim”

” Tidak… tidak… Pergilah kau menemani ayahmu yang koma. Mau 2 hari … Seminggu … bahkan lebih dari itu sampai ayahmu sadar dan sehat kembali”

” Lalu bagaimana dengan pertandingan Liga Champions yang tinggal 2 hari lagi. Itu pertandingan penting bagi kita”

” Tidak, Ronaldo. Pulanglah. Kamu lebih penting dan lebih dibutuhkan oleh ayahmu dari pada tim” jelas Bos Sir Alex Ferguson.

Di tahun kompetisi tersebut MU menjuarai Liga Champions. Dari kejadian tersebut itulah CR7 sangat respek dan menganggap SAF bukan hanya sebagai bos tapi sebagai Bapak baik di luar maupun dalam lapangan.

Mesjid Bayan Beleq Yang Membuat Mata Melek

Suhu Lombok yang mendekati 33 derajat Celcius berimbas kepada kepala saya sakit. Selesai makan pagi di hotel, saya segera konsumsi obat sakit kepala. Akibatnya selama perjalanan menuju Pusuk Sembalun saya lebih banyak tertidur sehingga kurang dapat menikmati indahnya alam yang menuju ke sana.

Tanpa terasa kurang lebih 2 jam perjalanan terlewati dan saya terbangun karena mobil berhenti di satu tempat. Terpampang tulisan ” Taman Nasional Pusuk Sembalun “, segera saya keluar dari mobil dan mengikuti istri ke satu tempat yang kelihatannya bagus untuk foto-foto. Untungnya cuaca di Sembalun cerah tapi tidak panas menyengat bahkan boleh dikatakan sejuk.

DSCN2879
Dok. Cech 2016
DSCN2880
Dok. Cech 2016

Setelah 2 jam kami menikmati udara sejuk di Sembalun, perjalanan dilanjutkan menuju tempat pembuatan dan penjualan mutiara khas Lombok. Kembali saya tertidur rupanya pengaruh obat belum hilang juga.

Tiba-tiba mobil berhenti di satu tempat dan tanpa terasa kurang dari satu jam saya tertidur.

“Ini tempatnya Mas Cech yang kemarin saya ceritakan”  ujar Pak Nasib, sang supir.

” Tempat apa ya Pak? ” tanya saya.

” Mesjid tertua di Lombok, Mesjid Bayan Beleq ” jelasnya.

Segera saya keluar dari mobil, panas mulai terasa di badan. Letak mesjid tersebut berada di pinggir jalan utama Lombok Utara. Sebelum masuk terpampang tulisan Mesjid Kuno Bayan Beleq Yang termasuk National Heritage atau dilindungi negara. Tepatnya mesjid ini ada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan Lombok Utara.

DSCN2904
Dok. Cech 2016

Di pintu masuk kami langsung dipandu oleh seorang anak muda yang sepertinya pemandu wisata mesjid tersebut. Kami diharuskan mengisi buku tamu dan dipersilakan untuk memberikan sumbangan sukarela karena tidak ada ketentuan membayar tiket masuk ke area mesjid tersebut.

Dari tempat pengisian buku tamu, bangunan tua seperti bangunan mesjid pada umumnya jelas terlihat. Posisinya berada di dataran tinggi, bentuk bangunan mesjid tersebut serupa dengan bentuk bangunan rumah-rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Bangunan mesjid berbentuk bujursangkar berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah-bilah bambu. Pondasi mesjid menggunakan batu kali tanpa semen.

DSCN2895
Tampak depan mesjid (Dok. Cech)
DSCN2891
Tampak belakang (Dok. Cech)
DSCN2893
Gentong penampung air wudhu (Dok. Cechgentong)

Di depan pintu mesjid terdapat gentong yang diikatkan pada sebuah pohon. Mungkin fungsinya untuk penyimpanan air wudhu. Seperti diketahui Lombok merupakan wilayah kering dan tadah hujan. Selanjutnya ketika saya ingin berjejak ke dalam mesjid. pintu mesjid tertutup dan istri ingin kembali ke mobil karena suhu udara saat itu panas sekali.

Menurut pemandu, Mesjid tidak lagi dipakai untuk umum dan hanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti acara Maulid Nabi SAW Itupun dengan peraturan yang sangat ketat karena daya tampungnya hanya untuk 40 orang saja dan sebagian besar adalah kyai. Itulah mengapa pintu mesjid terkunci rapat. Tetapi wisatawan masih diperkenankan mengambil foto dari celah dinding bambu yang seperti sengaja diberi celah yang cukup untuk kamera.

Selain itu pemandu juga menjelaskan tentang adanya makam besar (Beleq) yang terdapat di dalam tersebut yaitu makam Syekh Gaus Abdul Rozak, salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan Bayan. Ada 4 tiang soko guru dari pohon nangka yang menyangga bangunan mesjid. Beduk kayu terlihat juga didalam mesjid dan tergantung di tiang atap mesjid. Di belakang kanan dan depan kiri mesjid terdapat 2 gubuk kecil. Di dalam kedua gubuk tersebut terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus mesjid ini sedari awal. 

DSCN2897
Beduk kayu (Dok. Cech)
DSCN2899
Atap mesjid (Dok. Cech)
DSCN2902
Bangunan belakang kanan (Dok. Cech
DSCN2896
Bangunan depan kiri (Dok. Cech)

Berdasarkan informasi dari pemandu, Mesjid Bayan Beleq didirikan pada abad ke-17 oleh Sunan Ampel. Dalam penyebaran agama Islam di Lombok Sunan Ampel dibantu oleh salah satu muridnya Syekh Gaus Abdul Rozak yang berasal dari Irak. Tetapi berdasarkan beberapa literatur belum jelas diketahui siapa yang pertama kali membangun Mesjid Kuno Bayan Beleq.

Tidak terasa 1 jam saya berada di lingkungan mesjid tersebut. Setelah itu saya memberikan salam perpisahan kepada pemandu dan segera menuju ke mobil. Baru saja saya membuka pintu,  tiba-tiba istri mengatakan, “Serem Mas tempatnya maka itu tadi saya kabur duluan ke mobil. Kalau menurut mas bagaimana?” Saya pun menjawab ” Hmmm, justru Mesjid Kuno Bayan Beleq ini membuat mata saya melek. Melek adanya bukti penyebaran Islam di Lombok dan melek terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kasat mata seperti…. Iiiihhh serem!!!  “

Mobil langsung digas oleh Pak Nasib menjauhi lokasi mesjid kuno tersebut menuju Pantai Nipah untuk kembali melek menikmati Sunset.

DSC_0057
Sunset di Pantai Nipah (Dok. Cech)

PERISIEAN Beradu Maka Hujanpun Datang

DSCN3050

” Pak, acara gebuk-gebukan khas Lombok apa namanya ya?  Tanya saya kepada Pak Nasib, Supir mobil sewa yang mengantar kami keliling pulau Lombok.

” Oh PERISIEAN namanya. Mau melihat? Saya akan antar ke lokasinya. Seminggu diadakan 4 kali dan Dinas Pariwisata Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat yang menyelenggarakannya. Biasanya dimulai pada pukul 16.00. ” jelas Pak Nasib.

” Menarik, kami ingin melihatnya, Pak ” pinta kami.

” Oke, Mas Cech ”

Ternyata lokasinya berada di daerah Cakranegara Utara, Mataram. Lokasinya cukup strategis di tengah kota Mataram dan berada di dalam area kuil Hindu yang berdekatan dengan mesjid. Walaupun hujan, tak menyurutkan kami untuk menyaksikan PERISIEAN. Dengan membeli tiket VIP Rp. 20.000 per orang segera kami diantar menuju panggung sehingga kami dapat melihat dengan jelas pertarungan para pepadu. Sementara Pak Nasib dipersilakan masuk secara gratis karena berhasil membawa wisatawan luar Lombok untuk menyaksikan PERISIEAN.

DSC_0059

image

image

Arena pepadu masih lengang walaupun para penonton memasuki area kuil. Penonton masih masih mencari tempat berteduh karena hujan masih deras. Walaupun hujan, panitia telah menyiapkan segalanya mul dari alat musik tradisional, tongkat pepqdu, tamèng,  kursi pengamat, karpet untuk masing-masing kubu pepadu dan lain-lain.

Saat kami menunggu hujan reda, seorang tetua menghampiri kami dan menjelaskan bahwa PERISIEAN adalah acara adat suku Sasak. Nenek moyang suku Sasak melakukan PERISIEAN dengan tujuan mendatangkan hujan karena sebagian besar wilayah suku Sasak daerah jarang hujan atau daerah kering. Hujan dipercayai akan datang apabila kepala salah satu pepadu bocor berdarah akibat kena pukulan tongkat rotan yang keras sekali. Tetapi saat ini PERISIEAN diselenggarakan sebagai acara budaya saja supaya abadi dan lestari.

image

image

Tepat pukul 16.00 acar dimulai. Pembawa acara meminta penonton untuk mendekati arena. Kebetulan hujan telah berhenti. Musik tradisional dimainkan, wasit utama berkaos kuning, 2 pengumpul sawer dan manajer kedua kubu memasuki arena sambil menari dengan girangnya.

Ada 3 sesi acara PERISIEAN hari itu yaitu sesi pertama untuk pepadu pemula, kedua untuk 2 pasang pepadu remwjw dan terakhir sesi utama 5 pepadu dari Narmada melawan 5 pepadu dari Semoyang. Menariknya sebelum dimulai, pembawa acara mengingatkan para hadirin tentan 4 pilar kebangsaan Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Dan suku Sasak adalah salah satu suku di Indonesia yang akan mempertahankan 4 pilar kebangsaan Indonesia tersebut.  Para hadirin menyambut dengan semangat, bersorak sorai dan bertepuk tangan sebagai tanda kesetiaannya. Luar biasa.

image

image

Panitia mengumumkan aturan main dalam PERISIEAN diantaranya pepadu dilarang menusut tongkat ke tubuh lawan, pepadu dilarang memukul apabila lawan terjatuh, dan pepadu dinyatakan menang apabila kepala lawan bocor berdarah terkena pukulan tongkat rotan. Pertarungan dinyatakan seri apabila tidak ada pepadu yang bocor berdarah kepalanya. Ada 4 ronde dalam satu pertarungan. Waktu setiap ronde 60 detik.

image

image

Tanpa terasa sesi pertarungan pertama dan kedua berakhir seri. Selanjutnya acara utama yang mempertemukan 5 pepadu dari wilayah Narmada dan Semoyang dimulai. kelima pepadu dari kedua kubu diperkenalkan di sudutnya masing-masing. Kemudia Manajer dan dukun kedua kubu dikumpulkan oleh wasit utama di tengah arena. Wasit utama mempersilakan kedua kubu bersalaman. Kemudian wasit utama menjelaskan aturan main secara detil kepada kedua kubu.

image

image

image

Kelima pepadu bertarung dengan semangatnya. Kedua pendukung bersorak sorai memberi semangat pepadu jagoannya. Ngeri juga melihatnya tetapi para pepadu tidak terlihat kesakitan walaupun jelas terlihat badannya lembam terkena sabetan tongkat rotan nan keras. Senyum seringai dan kepuasan dari wajah penonton tampak sekali walaupun pertarungan berakhir dengan seri.

” Ini bukan masalah menang atau kalah tapi peninggalan leluhur tetap lestari dan terjaga. Persaudaraan suku Sasak tetap kuat ” terang tetua pertarungan.

Bertumbuh Dalam Lantunan Ilahi

DSCN2345

Saat kau dibenamkan ke dalam tanah, suara azan dilatunkan.

Seiring lantunan kalam ilahi terbaca dalam hati doa-doa agar kau dapat tumbuh besar dan bermanfaat bagi alam semesta.

Saat ini kau telah tumbuh besar dan berbuah lebat. terdengarlah rasa syukur.

Ternyata keistiqomahan dalam merawat, membesarkan, memanjakan, dan mendoakanmu terbukti dan menjadi kenyataan.

Buahmu mulai banyak tumbuh dan sedang menuju kematangan.

Namun demikian kau terus dilatunkan kalam-kalam KemenanganNya.