Mancing Bersama Itu Menyatukan Emosi

” Suka mancing, Pak ? ” tanya salah seorang security di tempat istri saya bekerja.

” Saya tidak suka mancing ikan. Kalau mancing emosi, saya suka hahahaha ” canda saya kepadanya.

Sudah lama sekali saya ingin mengadakan pancing bersama dengan seluruh security, office boy (OB) dan juru parkir yang bekerja di kantor istri. Saya sering mendengar mereka mengadakan mancing bersama tetapi dengan teman-teman seprofesi di kantor wilayah. Itupun tidak semuanya ikut serta.

Sesekali saya yang menjadi sponsor acara mancing bersama mereka. Oh ya di tempat kerja istri, mereka termasuk dalam Service Reception Team. Tujuan saya hanya ingin mereka makin kompak, semangat bekerja dan diperhatikan oleh pimpinan mereka. Walaupun mereka adalah pekerja outsourching tapi mereka mempunyai peran tidak kecil dalam memberikan kesan dan pelayanan yang baik terhadap nasabah yang datang dan melakukan transaksi di BCA KCP Setiabudi Bandung.

DSC_0004
Aba-aba dimulainya acara memancing oleh Pak Wawan (dok. Cech)
IMG-20170722-WA0062
Peserta sudah menduduki tempatnya masing-masing di sisi barat (dok. Cech)
IMG-20170722-WA0063
Peserta sudah menduduki tempatnya masing-masing di sisi timur (dok. Cech)

Setelah berulangkali gagal dilaksanakan karena susahnya mencari tempat memancing, akhirnya tanggal 22 Juli 2017 acara Mancing Bersama Service Reception Team terlaksana juga di kolam milik Family Villa Balebat Taman Bunga Dr Setiabudi. Disepakati saya menyediakan dana pembelian  ikan yang akan  dipancing (seharga Rp 27.500 per kg atau 1 kg sama dengan 3-4 ekor ikan). Selain itu saya memberikan Piala bagi peserta yang mendapatkan ikan terbanyak dan sejumlah uang bagi yang berhasil mendapatkan 1 ekor ikan mas berwarna merah. Sementara mereka berjumlah 22 orang patungan Rp 20.000/orang untuk keperluan konsumsi dan lain-lain.

Acara dimulai pada pukul 09.00 dengan dilakukan pengundian nomor tempat duduk kepada 22 peserta. Kemudian masing-masing peserta yang mendapatkan nomor tempat duduk bersiap diri di tempatnya masing-masing. Memancing dimulai setelah mendapatkan aba-aba dari Pak Wawan sebagai sesepuh acara tersebut. Acara pun dimulai. Tepat pukul 12.00 acara memancing dihentikan untuk makan siang dan dilanjutkan dengan bertukar tempat ke seberangnya. Setelah 1 jam istirahat makan siang, acara memancingpun dimulai lagi sampai pukul 16.00.

DSC_0017
Racikan umpan (dok. Cech)
DSC_0012
Om John serius dengan racikan umpannya (dok. Cech)
DSC_0045
Pemancing di sarang penyamun (dok. Cech)
20170722_123259
Ikan hasil pancingan (dok. Cech)

Ternyata faktor tempat, racikan umpan dan keberuntungan berpengaruh terhadap perolehan ikan yang berhasil ditangkap. Pada acara mancing bersama ini, peserta yang mendapatkan ikan terbanyak (21 ekor) adalah Pak Dudi (Security). Sedangkan peserta yang beruntung mendapatkan ikan berwarna merah adalah Pak Eko (Back Office). Walaupun demikian, mereka yang belum berhasil mendapatkan piala dan 1 ekor ikan berwarna merah tetap menunjukkan semangat, keceriaan, kebersamaan, kebahagiaan dan terlihat lepas menunjukkan emosinya. Mereka yang tidak mendapatkan satu ekor ikan pun tetap tertawa dan teman-teman yang lain tetap membagi ikan yang diperoleh kepada mereka. Acara mancing masih berlanjut walaupun sudah melewati pukul 16.00. Sebagian dari mereka mengatakan masih banyak ikan yang dibeli saya di kolam. Jadi sayang sekali kalau tidak tertangkap karena aturan yang berlaku adalah ikan-ikan yang dimasukkan ke dalam kolam dan tidak berhasil ditangkap menjadi milik yang punya kolam.

IMG-20170722-WA0095
Saya diapit oleh Pak Dudi dengan Piala Pemancing Tangguhnya dan Pak Eko sebagai pemancing beruntung dengan satu ekor ikan emas berwarna merah (dok. Cech)
DSC_0050
Foto bersama seluruh peserta mancing bersama (dok. Cech)

Hujan rintik-rintik turun di sekitaran kolam dan saatnya saya pulang dengan satu hal yang menjadi pengingat diri bahwa ternyata mancing bersama itu menyatukan emosi dan berharap dapat diadakan rutin setiap 3 bulan.

Giri Tirta : Mini Touring dan Halal Bihalal Forescom Bandung

Sejak pengukuhan pengurus Forescom Chapter Bandung masa 2017-2020 oleh Om Dudi, Ketua Umum Forescom Pusat, Giri Tirta Purwakarta merupakan  program mini turing pertama sekaligus halal bihalal DForescom (sebutan Forescom Chapter Bandung) pada tahun 2017. Pada awalnya terdaftar 18 member yang turut serta dalam kegiatan ini. Karena ada kegiatan lain maka 2 member dari Bandung, 1 member dari Cianjur dan 1 member dari Subang membatalkan keikutsertaannya.

IMG_20170719_110126
Pengurus DForescom 2017-2020 (dok. Cech)

Pada mini touring ini diadakan beberapa kegiatan antara lain wisata dan berenang di Giri Tirta Kahuripan, Presentasi tentang Asuransi Syariah Chubb, peluncuran dan pembagian baju resmi DForescom di Rumah Makan Kebon Tjengkeh.  Secara keseluruhan ada 14 mobil Ford Ecosport yang terlibat dengan total jumlah personil 36 orang.

Sesuai dengan kesepakatan, mini touring diadakan pada tanggal 16 Juli 2017 dengan titik kumpul Rest Area 125 tol Cileunyi bagi member yang berdomisili di Bandung dan pintu tol Jatiluhur bagi member berdomisili di Purwakarta.  Tepat jam 08.00 rombongan 12 mobil bergerak menuju pintu tol Jatiluhur dimana ada 2 mobil dari Purwakarta yang sudah menunggu. Dari titik kumpul Rest Area 125 menuju lokasi Giri Tirta Kahuripan membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan.

IMG-20170716-WA0025
Bentuk Silaturahim (dok. Panggih)
IMG_0112
Dok. Cech
IMG_0105
Dok. Feby
IMG_0109
Dok. Cech
DJI_0122
Kolam renang Giri Tirta kahuripan (Dok. Cech)

Setibanya di parkiran, mobil Ecos diparkir rapih dan berderet untuk persiapan pengambilan gambar baik dengan kamera maupun dengan drone. Sebagai seksi dokumentasi, fotografer andal om Panggih dan Om Feby bergerak cekatan dalam pengambilan foto sehingga diperoleh hasil foto yang memuaskan.

Setelah itu seluruh personil diberikan briefing oleh Om Budi atau Om Depz atau Om Zie Bunsu (banyak ya namanya). Diantaranya tiket masuk Giri Tirta seharga Rp. 25 ribu per orang dan tiket parkir Rp. 5 ribu per mobil sudah dibayarkan oleh kas pengurus DForescom. Sedangkan tiket masuk kolam renang bagi yang ingin berenang menjadi tanggung jawab sendiri. Bagi yang tidak berenang melakukan tour Giri Tirta yang dikelilingi oleh kebun buah manggis nan luas.

Pada pukul 13.00 seluruh personil harus sudah berada di Rumah Makan Kebon Tjengkeh untuk makan siang yang sudah disiapkan oleh pengurus DForescom. Setelah makan siang, khusus member DForescom mengikuti presentasi tentang Asuransi Syariah Chubb  yang disampaikan secara bergiliran oleh 4 orang dari pihak perusahaan asuransi.

IMG-20170716-WA0048
Suasana presentasi (dok. Panggih)
IMG_3282
Om Budi aka Om Depz aka Om Zie Bunsu memperkenalkan dan membagikan baju resmi DForescom (dok. Feby)
IMG_3285
Tampak Belakang Baju Resmi DForescom  (Dok. Feby)

Selama presentasi, banyak hal yang diperoleh oleh member DForescom terutama tentang Total Loss Only dan Comprehensive (dikenal dengan istilah All Risk). Banyak penawaran menarik dari pihak asuransi sehingga ada beberapa member yang berminat untuk mengikuti Asuransi Syariah Chubb pada saat asuransi mobil terdahulunya telah habis masa berlakunya. Satu jam lebih waktu presentasi yang tidak sia-sia.

Tepat pukul 15.00 Om Budi memperkenalkan  dan membagikan baju resmi DForescom. Segeralah member yang hadir saat itu antusias mencoba baju resmi tersebut. Walaupun ada sedikit masalah ukuran tetapi dapat diatasi dan member memberikan 2 jempol terhadap baju resmi tersebut sebagai tanda puas.

IMG_3294
Foto bersama member DForescom (dok. Feby)
IMG_3300
Foto bersama keluarga DForescom (dok. Feby)

Selanjutnya dengan mengenakan baju resmi DForescom, member mini touring melakukan pengambilan foto bersama dan diikuti pula oleh seluruh keluarga member DForescom. Wajah ceria, bahagia, puas dan sumringah terlihat jelas dalam foto yang menandakan tujuan mini touring tercapai yaitu meningkatkan tali silaturahim dan persaudaraan. Inilah yang dinamakan Bandung Kudu Kahiji, Lamun Teu Cabok Siah hahahaha…

Pukul 16.00 seluruh mobil ecos bergerak meninggalkan Rumah Makan Kebon Tjengkeh untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing dan makin berharap acara mini touring selanjutnya segera diadakan.

Jambore Forescom Rasa Bandung

Pembicaraan tentang Jambore Forescom 2 Yogyakarta-Magelang pada tanggal 21-23 April 2017 sudah dibicarakan jauh-jauh hari. Baru menjelang hari H tercatat ada 13 anggota Forescom chapter Bandung berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Malam hari sebelum hari H, tuntas sudah disepakati bahwa tim Bandung akan berangkat pada tanggal 21 April 2017 jam 04.30 dengan titik kumpul di sekitaran Kahatex. Saya dan om Banyu tidak dapat ikut dalam rombongan karena seperti om Banyu baru dapat berangkat setelah sholat Jumat. Sedangkan saya baru berangkat jam 7 pagi setelah mengantar istri ke kantor di bilangan Setiabudhi.

Tepat jam 7 pagi, mulai dari kantor istri, mobil Ford Ecosport bergerak secara meyakinkan. Dengan selisih waktu sekitar 3 jam, saya merasa yakin dapat menyusul rombongan Chapter Bandung. Pada saat mengisi BBM di Shell, saya mendapat kabar bahwa rombongan masih berada di Nagrek karena menunggu om Panggih.

Bensin terisi penuh, lagu ” Good Life” milik G-Eazy & Kehlani memberikan semangat berkendara  layaknya Dominic Toreto dalam film  The Fate of The Furious 8. Tanpa terasa pintu tol Cileunyi terlewati sejak keluar dari Pasteur. Sudah lama saya tidak melewati jalur selatan walaupun demikian masih hafal dengan seluk beluk atau titik-titik rawannya. Beberapa kali saya mendapat informasi dari WAG kalau rombongan akan berhenti di daerah Gentong tetapi dibatalkan. Selanjutnya saya kehilangan informasi tentang tempat istirahat rombongan. Saya memaklumi hal tersebut karena itulah Bandung Kahiji hehehe.

Terlintas dalam pikiran mungkin rombongan akan berhenti di Sidareja karena selain banyak warung makan, dekat pula dengan mesjid besar Sidareja. Ternyata apa yang terjadi ? Tidak ada sama sekali bau-baunya rombongan sehingga saya memutuskan untuk balik ke arah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah. Dilalah ketemu juga dengan rombongan yang katanya baru 5 menit tiba di Restoran Pringsewu yang jaraknya 2 kilometeran dari perbatasan propinsi. Artinya selama di perjalanan kecepatan mobil Ecos saya berapa km/jam ya? Hanya Allah SWT dan hamba Allah ini yang mengetahui.

DSC_0001
Rumah Makan Pringsewu (dok. Cech)
20170421_150336
Buka Tutup karena banyaknya perbaikan jalan (dok. Cech)

Karena hari jumat, beberapa anggota tim melaksanakan sholat Jumat terlebih dahulu. Setelah itu dilanjutkan makan siang. 2 jam sudah kami berada di restoran tersebut. Tepat pukul 14.15 keduabelas mobil Ecos bergerak beriringan menuju kota Yogyakarta. Kondisi jalan yang kurang baik membuat rombongan berjalan dengan kecepatan tidak lebih dari 60 km/jam. Lebih dari itu sudah merupakan mukjizat hahahaha.

Perbaikan jalan yang kelihatannya sedang dikebut untuk lebaran dilakukan mulai dari Majenang sampai Buntu. Buka-tutup pun dilakukan sehingga menghambat perjalanan kami. Tetapi kami menikmati itu semua.

Menjelang jam 6 sore, rombongan kami berhenti di sebuah SPBU di Kebasen. Setelah rehat sejenak dan ditentukan titik pemberhentian berikutnya, kami melanjutkan perjalanan. Memasuki kota Kebumen, hujan datang mengundang sehingga makin membuat perjalanan bergerak melambat. Selepas Purworejo, rombongan berhenti untuk makan malam di Rumah Makan Rejeki. 1,5 jam di rumah makan tersebut, selanjutnya rombongan dengan formasi seperti semula bergerak ke Yogyakarta. Hanya saja memasuki kota Yogya, rombongan terpisah menjadi 3 karena terhalang beberapa kendaraan. Tetapi akhirnya seluruh anggota rombongan tiba di Hotel Sahid Jaya dengan selamat pada pukul 00.00.

Sesampainya di hotel, kami pikir dapat segera istirahat ternyata banyak masalah dengan pelayanan hotel terhadap rombongan kami. Seperti kamar yang ingin ditempati belum dibersihkan, kamar mandi yang bocor, kamar mandi yang bau busuk, telpon yang tidak berfungsi, akses internet yang tidak terkoneksi dan lain-lain. Tetapi semuanya dapat diselesaikan dengan hati lapang walaupun masih bersungut-sungut hahahaha…

Pukul 03.00 saya keluar hotel untuk menjemput istri di Stasiun Tugu. Istri berangkat dari Bandung pada pukul 19.30 dengan kereta api Argo Turangga jurusan Bandung-Surabaya. Pukul 03.45 istri keluar dari pintu keluar dan langsung kami menuju hotel untuk rehat sejenak. Ya sekitar 2-3 jam cukuplah untuk istirahat karena pukul 07.00 acara Amazing Race segera dimulai.

IMG-20170422-WA0011
Foto dulu sebelum Amazing Race (dok. Forescom Bandung)

Pukul 07.00 beberapa anggota rombongan Bandung sudah berkumpul di sebuah meja bundar sambil menikmati sarapan pagi. Saya sudah menduga jam keberangkatan akan mundur lagi karena masih menunggu anggota yang belum keluar dari kamarnya dan sarapan pagi dulu. Setelah semua anggota sarapan pagi  maka kami melakukan evaluasi ulang rencana perjalanan hari itu. Pertimbangannya adalah hari itu adalah hari Sabtu alias weekend dimana kondisi lalu lintas di Yogyakarta akan padat merayap bahkan mendekati macet cet tak bergerak. Untuk mengatasi kejadian tersebut, om Yusuf meminta temannya yang tinggal di Yogyakarta untuk menjadi Tour Guide rombongan kami. Pukul 09.30 sang teman datang dengan sepeda motornya. Setelah memarkirkan motornya, rombongan bergerak menuju objek wisata pertama yaitu Pantai Depok.

Untuk menuju Pantai Depok, rombongan sempat mengalami lalu lintas padat merayap sehingga baru tiba di Pantai Depok pada pukul 11.25. Sesampainya di Pantai Depok, kami segera melakukan pengambilan foto bersama dan foto masing-masing anggota di pantai Depok dengan terik matahari yang menyengat. Saya dan istri tidak ingin lama berada di pantai tersebut dan langsung keluar gerbang sambil menunggu anggota rombongan lain.

IMG-20170422-WA0033
Foto rombongan chapter Bandung di Pantai Depok (dok. Forescom Bandung)
IMG-20170422-WA0104
Foto rombongan chapter Bandung di Hutan Pinus Mangunan (dok. Forescom Bandung)
IMG-20170422-WA0150
Foto om Panggih yang menjadi Juara 1 Lomba Foto Jambore Forescom (Dok. Panggih Raharjo)
IMG-20170422-WA0067
Hutan Pinus Mangunan (Dok. Cech)
IMG-20170422-WA0055
Foto rombongan chapter Bandung di Jurang Tembelan (Dok. Cech)

Karena waktunya makan siang maka kami berhenti terlebih dahulu di restoran Pringsewu. Nah di restoran ini, kami mengubah rute perjalanan. Awalnya kami ingin ke Dinding Breksi. Setelah mendengar penjelasan teman om Yusuf maka setelah makan siang rombongan akan menuju ke Hutan Pinus Mangunan dan Jurang Tembelan yang jauhnya hanya 14 km atau 20 menit dari restoran Pringsewu.

Pukul 14.30 rombongan melanjutkan perjalanan ke Hutan Pinus Mangunan dari restoran Pringsewu. Alhamdulillah perjalanan kami lancar dan tidak lebih dari 1 jam sudah sampai di Hutan Pinus Mangunan nan rindang dan menyejukkan. Nah di hutan pinus inilah om Panggih berhasil mengabadikan foto yang akhirnya menjadi juara 1 perlombaan foto yang diselenggaran oleh panitia Jambore.

Karena waktu yang sudah mepet, tidak lama di hutan pinus Mangunan, rombongan meneruskan perjalanan ke jurang Tembelan (bukan tambal ban ya hehehe). Tempatnya menarik dan banyak anggota rombongan mengambil foto. Tetapi baru setengah jam di tempat tersebut tiba-tiba datang hujan deras. Segeralah kami meninggalkan tempat dan menyepakati untuk kembali ke hotel.

Sementara rombongan kembali ke hotel, saya mohon ijin untuk berpisah karena ingin menikmati Mi Jowo Mbah Gito, . Dengan bantuan Google Map, kami berhasil menemukan lokasinya. Parkiran penuh dengan kendaraan, sekilas saya melihat pengunjung mengantri pesan makanan. Saya sempat berpikir untuk membatalkan makan di tempat tersebut. Tetapi istri kenal dengan beberapa pelayan sehingga kami mendapatkan tempat. Saya langsung memesan 2 mie Jowo, minuman uwuh, teh poci untuk kami berdua. Mie Jowo Mbah Gito memang jos tenan. Apalagi wedang Uwuhnya mengembalikan stamina saya setelah lelah sekali melakukan perjalanan selama 2 hari ini.

WhatsApp Image 2017-02-18 at 17.34.34
Warung Bakmi Jowo Mbah Gito (Dok. Cech)
IMG-20170422-WA0090
Wedang Uwuh yang menyegarkan (Dok. Cech)

Setelah dari Mie Jowo Mbah Gito, kami menuju Bakpia Pathuk  Kurnia daerah Puwodiningratan. Bakpia Pathuk ini adalah langganan saya apabila ingin membeli bakpia khan Yogya sebagai oleh-oleh. Rasanya mengalahkan semua bakpia yang ada dan murah pula hahahaa… Setelah membeli beberapa dus bakpia, kami kembali ke hotel. Tanpa terasa jam menunjukkan pukul 23.10. Saatnya istirahat untuk kegiatan berikutnya keesokan harinya.

Tanggal 23 April 2017 pukul 04.30, saya sudah berada di lobi hotel. Beberapa anggota rombongan telah duduk di meja bundar dan langsung sarapan pagi seadanya. Sesuai kegiatan panitia hari itu adalah sesi foto bersama seluruh kendaraan Ford Ecosport peserta Jambore di Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta maka persiapan dilakukan pada pagi hari sekali. Hal ini disebabkan butuh waktu untuk membentuk formasi kendaraan Ford Ecos dengan 3 pesawat latih milik TNI AU. Sesi foto ini merupakan kerjasama antara Forescom dengan Pangkalan TNI AU Lanud Adi Sucipto sekaligus menyambut Jogja Air Show yang akan berlangsung pada tanggal 25-30 April 2017.

Sesampainya di lapangan Jupiter Lanud Adi Sucipto, dibentuklah formasi apik gabungan antara 105 kendaraan Ford Ecosport, 1 Ford Focus, 1 Ford Everest dengan 3 pesawat latih milik TNI AU. Pengambilan foto dan video dipimpin oleh om Eko Sumartopo dari Jawa Timur. Tidaklah mudah mengatur dan membentuk formasi karena butuh kesadaran dan kesabaran peserta untuk mengikuti aba-aba pengatur formasi. Satu jam lebih waktu dibutuhkan untuk membentuk formasi yang diinginkan dan sesi foto  serta pengambilan video berlangsung lancar.

20170423_075012
Formasi kendaraan Ecos (Dok. Cech)
20170423_075133
3 pesawat latih dikeluarkan dari hanggar (Dok. Cech)
IMG-20170426-WA0002
Formasi yang terbentuk (Dok. Forescom Indonesia)
IMG-20170423-WA0134
Forescom Bandung di Lanud Adi Sucipto Yogyakarta (Dok. Cech)

Setelah sesi foto di Lanud Adi Sucipto, rombongan peserta Jambore kembali ke Hotel Sahid Jaya. Selanjutnya kami check out dan melanjutkan perjalanan ke Hotel Grand Artos, Magelang. Tetapi sebagian besar peserta Jambore selepas check out melanjutkan acara Lava Tour di daerah Gunung Merapi.

Dalam perjalanan ke Magelang, saya hanya ditemani oleh om Jasman dan keluarga. Tetapi sebelumnya kami membeli oleh-oleh khas Yogyakarta dan melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur karena anak-anak om Jasman ingin sekali ke Candi Borobudur. Sedangkan saya dan istri berfungsi sebagai tour guide saja. Pukul 17.30, kami sudah keluar dari parkiran Candi Borobudur menuju hotel Grand Artos dengan diiringi oleh hujan yang sangat deras sekali.

Sesampainya di hotel kami segera persiapan untuk menghadiri acara Gala Dinner. Ternyata Gala Dinner diundur satu jam karena masih banyak peserta Jambore yang belum tiba di hotel sepulang dari Lava Tour. Tepat pukul 20.00 acara dimulai. Suasana gala dinner terasa sekali karena makanan yang disediakan dapat dinikmati oleh seluruh peserta. Dalam acara Gala Dinner tersebut diselingi oleh pemberian beberapa Door Prize kepada pesera Jambore yang beruntung. Selain itu diumumkan pemenang lomba foto yang ternyata juara 1 berasal dari kota Bandung. Selamat untuk Om Panggih. Sedangkan video Amazing Race ditunda pengumuman pemenangnya karena baru 3 chapter yang mengirimkan videonya. Secara keseluruhan baik acara Gala Dinner dan kegiatan yang diselenggarakan oleh panitia berjalan dengan baik dan sukses. Bagi chapter Bandung, Jambore Forescom ini makin mengukuhkan kekompakan anggota sehingga ke depannya chapter Bandung dapat menjadi contoh bahkan leader bagi Forescom Indonesia. Forescom Bandung Memang Juara… Hidup Forescom Bandung Kahiji…

Japan Trip : 3 Jam di Kinkakuji Temple, Kyoto

Hari Sabtu, 4 Maret 2017 adalah hari pertama kami di Kyoto. Pukul 09.00 pagi kami sudah siap sedia untuk melakukan perjalanan wisata. Sesuai rencana, ada beberapa tempat wisata di Kyoto. Yang utama adalah Kinkakuji Temple dan Kyoto Imperial Palace.

Kebetulan hotel kami terletak diseberang pool bus kota Kyoto sehingga memudahkan untuk mendapatkan informasi tentang bus umum yang dapat mengantar kami ke Kinkakuji. Perlu diketahui halte bus persis berada di depan dan di seberang hotel. Nama halte bus tersebut adalah Kujoshakomae Bus Stop.

Berdasarkan petugas informasi dari pool bus, kami disarankan membeli tiket bus terusan (one day pass) seharga Yen 500. Nomor bus jurusan ke Kinkakuji adalah 205. Untuk menuju Kinkakuji, kami melewati 25 halte (bus stop) dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.  Kalau tanpa tiket terusan, dikenakan ongkos bus Yen 230 per penumpang. Setibanya di halte Kinkakujimichi, kami segera turun dari bus. Pada saat itu bus penuh dengan penumpang dan sebagian besar adalah turis asing terutama turis dari Peru.

Sebelum memasuki komplek Kinkakuji Temple, kami sarapan terlebih dahulu di sebuah kafe yang letaknya persis di depan halte bus. Kafe yang dimiliki oleh pasangan suami istri lanjut usia tersebut menyediakan banyak menu makanan. Kami langsung memesan minuman kopi dan coklat. Sedangkan untuk makanan kami memesan roti bakar.

Ada beberapa hal yang menarik dari kafe tersebut, selain dikelola oleh pasangan lanjut usia, pasangan tersebut memiliki koleksi mata uang asing yang diberikan oleh turis asing yang mampir ke kafe mereka. Uniknya sudah ada uang rupiah emisi  tahun 2016 yang dimiliki mereka yaitu 2000 dan 5000. Mereka juga mengkoleksi origami buatan sendiri. Walaupun terbata-bata dalam berbahasa Inggris tetapi pasangan tersebut mengerti maksud ucapan kami dalam berbahasa Inggris.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah sarapan pagi, kami berjalan kaki sekitar 100 meter menuju Komplek Kinkakuji Temple. Sebelum memasuki komplek, tertulis larangan menggunakan drone, merokok dan buang sampah sembarangan. Komplek Kinkakuji Temple dibuka untuk umum pada jam 09.00-17.00 setiap hari dengan biaya masuk Yen 400 per orang.

Beberapa ratus meter dari pintu masuk sudah terlihat bangunan unik khas Jepang berwarna emas. Banyak pengunjung mulai mengabadikan bangunan tersebut dan berselfia ria termasuk kami. Bangunan tersebut adalah Kinkakuji atau Kuil Paviliun Emas ( Temple of Golden Pavillion).  Kinkakuji adalah nama umum untuk Rokuonji (鹿苑寺 Kuil Taman Rusa) merupakan sebuah kuil di Kyoto, Jepang.

DSC_0081
Pintu masuk ke Komplek Kinkakuji Temple (Dok. Cech)
DSC_0083
Prasasti Kinkakuji Temple
DSC_0085
Sejarah Kinkakuji Temple (Dok. Cech)
DSC_0090
Kinkakuji Temple (Temple of Golden Pavillion) (Dok. Cech)
DSC_0095
Hojo, tempat tinggal Kepala Bikhsu (Dok. Cech)

Menurut sejarah, Komplek Kinkakuji adalah sebuah vila dengan nama  Kitayama-dai yang dimiliki oleh seorang tuan tanah  Saionji Kintsune.  Pada tahun 1397, Shogun Ashikaga Yoshimitsu membeli komplek vila tersebut dan memberi nama Komplek Kinkakuji. Ketika Yoshimitsu wafat, oleh anaknya komplek vila tersebut diubah peruntukkannya menjadi bangunan kuil Zen Budha sesuai keinginan ayahnya.

Selama perang Onin (1467-1477, seluruh bangunan dalam komplek tersebut terbakar. Pada tanggal 2 Juli 1950, kuil Paviliun Emas dibakar oleh seorang bikhsu berusia 22 tahun, Hayashi Yoken yang saat itu melakukan percobaan bunuh diri di belakang bangunan tetapi berhasil diselamatkan. Bikhsu tersebut dihukum 7 tahun penjara dan dibebaskan karena menderita gangguan mental (persecution complex dan schizophrenia) pada tanggal 29 September 1955. Pada tahun 1992, Kinkakuji Temple dinyatakan sebagai World Heritage Site oleh Unesco.

Kuil Kinkakuji (Paviliun Emas) terdiri dari 3 lantai. Keseluruhan paviliun kecuali bagian lantai dasar ditutupi dengan lembaran tipis emas murni, menjadikan kuil itu sangat berharga. Pada atap kuil terdapat fenghuang emas atau “burung phoenix”. Di hari yang cerah lembaran emas tersebut akan  memantulkan sinar matahari secara sempurna dan bayangan Kinkakuji terpantul di permukaan air. Kinkakuji Temple hanya dapat dilihat dari pinggir danau dan tidak dapat mendekati area dan ke dalam paviliun tersebut.

Kemudian di samping Kinkakuji Temple, terlihat satu bangunan besar yang dinamakan Hojo. Hojo adalah bangunan tempat tinggal mantan Kepala Bikhsu dimana seluruh pintu gesernya dicat. Sayangnya Hojo tertutup untuk umum.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selanjutnya kami berjalan sedikit menanjak dan terlihat taman nan indah. Di tengah taman terdapat sebuah kios yang menjual pernak-pernik tradisional khas Jepang (Kinkakuji Gift Shop) seperti gantungan kunci, patung kecil dari kayu, jimat keberuntungan dan lain-lain. Tidak jauh dari kios terdapat sebuah lokasi yang dinamakan Anmintaku Pond dimana ada beberapa patung tak berbentuk dari batu yang penuh dengan koin uang. Jadi siapapun yang berhasil melempar dan masuk ke dalam mangkok yang berada di beberapa patung tersebut maka akan mendapatkan keberuntungan.

Setelah melewati Anmintaku Pond dan taman, kami melihat sebuah tempat yang menyajikan minuman teh hijau yang disebut dengan Sekkatei Teahouse. Dengan membayar Yen 500, pengunjung dapat menikmati matcha tea dan manisan.

Beberapa puluh meter kemudian, kami melihat satu kuil kecil yang dinamakan Fudo Hall. Fudo Hall adalah sebuah kuil untuk menghormati salah satu 5 Raja Kebajikan yang melindungi umat Budha. Banyak pengunjung terutama warga Jepang melakukan ritual dan berharap mendapatkan keberuntungan di kuil tersebut.

Di dekat pintu keluar, ada beberapa kios yang menjual beberapa produk tradisional Jepang. Salah satunya adalah makanan tradisional khas Kinkakuji yaitu Meika Kinkaku (Classic Gold Leaf Cake). Harganya Yen 900 per kotak berisi 6 buah kue. Meika Kinkaku adalah kue khas Kinkaku yang dibuat oleh para pembuat kue di Senbon Tamajuken, distrik Nishijin, Kyoto.

Setelah keluar dari komplek Kinkakuji, awalnya kami akan mengunjungi Ryonji Temple dan Ninnaji Temple yang letaknya masih berdekatan dengan Komplek Kinkakuji. Karena hari sudah siang  maka kami memutuskan untuk melahjutkan perjalanan ke Kyoto Imperial Palace dengan menggunakan bus umum. 3 jam di Komplek Kinkakuji yang sungguh melelahkan.

 

 

Jambore Nasional 2 Forescom Antara Menyenangkan dan Mengenyangkan

17103571_1305806976232612_4726129486223901027_n
Dok. Forescom Indonesia

” Jambore Itu Menyenangkan, Berkumpul Itu Mengenyangkan “

Kalimat tersebut yang langsung terngiang di telinga saat mengetahui ada Jambore Nasional 2 Forescom di Yogyakarta-Magelang tanggal 21-24 April 2017.  Memang saya belum genap satu tahun bergabung dengan Forescom. Tetapi setelah mengikuti langsung kegiatan turing, kopdar acara HUT Forescom dan membaca  aktifitas Forescom di Facebook maka menambah ketertarikan saya terhadap komunitas ini.

Silaturahim dan berbagi adalah 2 kata kunci yang menjadi kekuatan komunitas ini. Jadi dengan adanya Jambore Nasional maka silaturahim dan berbagi makin jelas terwujud nyata. Selama ini silaturahim dan berbagi hanya sebatas pada kegiatan turing mini atau turing tiap chapter ke beberapa tempat wisata. Dengan berkumpulnya  beberapa chapter lengkap dengan anggota Forescom beserta keluarga maka terlihat bagaimana besarnya kekuatan silaturahim dan berbagi dalam komunitas ini.

Beberapa bulan ini, saya mengikuti sekilas bagaimana om-tante  panitia Jambore Nasional mempersiapkan kegiatan ini. Tidak hanya membuat rencana beberapa acara selama Jambore tetapi berjuang mencari beberapa perusahaan yang mau menjadi sponsor dalam Jambore tahun ini. Suasana batin dalam kepanitiaan dapat saya rasakan. Di tengah kesibukan dengan aktifitas kerja sehari-hari tetapi masih mauj  meluangkan waktu untuk turut aktif berpartisipasi  dalam kepanitiaan dengan harapan agar Jambore ini berlangsung lancar dan sukses.

Jambore Nasional tinggal menghitung hari. Jambore Nasional dengan tema “Amazing Discovery of Indonesia” pada tanggal 21-24 April 2017 di Yogyakarta dan Magelang ini akan diikuti oleh  8 Chapter  yaitu Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Jawa Timur, Yogyakarta  dan Papua dengan total kendaraan Ford Ecosport berjumlah  120 buah. Sponsor utama yang berpartisipasi dalam  acara Jambore ini  adalah RMA Indonesia dengan didukung oleh Castrol Magnatec, AKARI, Otomotif, AutoBild  Indonesia , AKA Group, Nusantara Group.

Selain itu Jambore Nasional ini diisi dengan berbagai macam kegiatan sebagai berikut :

  1. Amazing Race, sebuah perlombaan menarik antar Chapter. Tiap chapter dibebaskan untuk memilih minimal 3 lokasi wisata di Yogyakarta. Selama di beberapa lokasi wisata, tiap chapter membuat video yang unik dan menarik dengan durasi 3 menit. Pemenang lomba ditentukan oleh kebersamaan, keseruan dan kekompakan para anggota chapter selama Amazing Race.
  1. Lomba Foto perorangan. Lomba ini diikiuti oleh anggota atau non anggota Forescom. Foto terunik menurut panitia dinyatakan sebagai pemenang.
  1. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forescom untuk memilih Ketua Umum Forescom sebagai acara utama dan membuat rencana kegiatan selama satun ke depan.
  1. Foto bersama di Lanud Adi Sucipto.
  1. Kegiatan Bakti Sosial (Baksos) di Kulon Progo. Sebuah kegiatan rutin setiap Jambore diadakan dan bekerja sama dengan SOS Children’s.
  1. Gala Dinner yang diikuti oleh seluruh peserta dan keluarga serta para sponsor Jambore. Selain itu diumumkan pemenang beberapa lomba.

Kalau melihat pencapaian kerja panitia Jambore Nasional selama ini maka keyakinan saya bahwa Jambore itu menyenangkan dan berkumpul itu mengenyangkan benar adanya.Jambore Yukkkk !!! Sampai berjumpa di Yogyakarta-Magelang.

Japan Trip : Ke Kyoto Dengan N700 Series

Setelah makan siang, kami segera menuju ke Asakusa Station yang letaknya tidak jauh dari tempat kami makan. Kami langsung membeli tiket via mesin penjualan tiket untuk jurusan Tokyo Station. Harga tiket yang harus dibayar sebesar Yen 200 per orang (Ginza Line). Dengan Ginza Line (G) membutuhkan waktu 15 menit dengan 9 stasiun perhentian ke Kyobashi Station. Setibanya di Kyobashi Station, kami berjalan kaki selama 6 menit ke Tokyo Station.

IMG-20170303-WA0012
Tokyo Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0010
Suasana Peron 19 di Tokyo Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0017
Tiket Kereta Super Cepat Shinkansen Tokyo-Shin Osaka (Dok.Cech)

Di Tokyo Station, kami membeli tiket kereta Super Cepat Shinkansen N700 series jenis Nozomi (seatable atau dapat nomor tempat duduk) dengan harga sebesar Yen 13.910. Kereta Super Cepat Shinkansen nomor 285 adalah kereta jurusan Tokyo-Shin Osaka yang hanya berhenti di Nagoya dan Kyoto Station.

Ada 2-3 jenis keberangkatan Shinkansen sesuai dengan waktu tempuh dan banyaknya perhentian. Namanya berbeda-beda tergantung operator dan kecepatannya ada yang dinamakan  Super Express, Express, dan All-Stop (setiap statiun berhenti). Di Jepang, Shinkansen dioperasikan oleh beberapa perusahaan yang berbeda tergantung jalurnya, lima yang paling utama.

Pertama,  Tokaido Shinkansen (Tokyo-Shin Osaka) yang dioperasikan oleh JR Central, untuk jenis Super Express dinamakan Nozomi (seatable) Di bawahnya adalah jenis Hikari (unseatable) dan yang terakhir berhenti di semua stasiun adalah jenis Kodama (unseatable). Ketiga jenis tersebut menggunakan seri kereta 700 series. Untuk jenis Nozomi, kita  mendapatkan tipe Shinkansen yang paling baru, yaitu N700 series.Shinkansen ini dapat mencapai top speed 270-300km/jam, sedangkan Kodama  hanya sekitar 200km/jam karena  berhenti di setiap stasiun.

Kedua, Hokuriku Shinkansen  (Tokyo-Nagano-Kanazawa) dibedakan Kagayaki (paling cepat) dan Hakutaka. Keduanya menggunakan seri kereta  E7 series. Jalur ini sejak 2015 baru menyambung ke Kanazawa dan sangat populer untuk turis yang ingin menjelajah Murodo Dam, Alpine Route, dan Shirakawa-Go village.

Ketiga, Sanyo Shinkansen, sambungan dari Osaka ke Fukuoka (meliputi Kobe dan Hiroshima), dioperasikan oleh JR West.

Keempat, Tohoku Shinkansen, jalur Tokyo ke Utara hingga paling ujung pulau, dioperasikan JR East.

Kelima, Hokkaido Shinkansen, ini sambungan dari Tohoku Shinkansen, dibuka Maret 2016 yang menghubungkan Shin-Aomori dan Hakodate Hokuto melewati Seikan Tunnel bawah laut dengan kereta Shinkansen Hayabusa yang membuat jalur kereta ke Pulau Hokkaido semakin ringkas. Rencananya jalur shinkansen ini akan disambung hingga kota Sapporo.

IMG-20170303-WA0011
Shinkansen N700 series (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0036
Shinkansen sedang dibersihkan (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0020
Sinkansen jurusan Shin Osaka sedang dibersihkan oleh petugas (Dok. Cech)
DSC_0050
Keterangan di meja lipat tentang beberapa gerbang misalnya gerbong untuk perokok (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0024
Gerbong Shinkansen Nozomi dengan tempat dudul 2-3 (Dok. Cech)
DSC_0077
Pemandangan di luar Shinkansen (Dok. Cech)

10 menit sebelum Shinkansen berangkat (13.23 waktu Tokyo), kami diperbolehkan masuk  ke dalam gerbong 11 dengan nomor tempat duduk 11D dan 11E. Tipe tempat duduknya adalah 2-3. Kondisi gerbong bersih sekali dan sebagian penumpang adalah profesional yang bekerja atau bertempat tinggal di Nagoya, Kyoto dan Osaka.

Selama perjalanan, kami menikmati pemandangan di luar kereta walaupun agak sulit untuk mengabadikannya dengan kamera karena cepatnya kereta bergerak.  Terasa seperti berada di dalam pesawat terbang. Gelas atau botol minuman yang kami letakkan di atas meja tidak tergoncang sama sekali. Dibutuhkan waktu perjalanan ke Kyoto selama 2 jam 15 menit dan tepat waktu sesuai tertera di tiket.

Selanjutnya dari Kyoto Station ke Green Rich Hotel , kami berjalan kaki selama 20 menit (jaraknya sekitar 750 meter). Sepanjang jalan kami mengamati suasana perumahan dan daerah Minami-ku. Sore itu jalanan sepi, bersih, tenang dan aman. Sesampainya di hotel, kami disambut dengan ramah oleh resepsionis hotel. Kami diberitahu bahwa kedua koper yang dikirim dari Tokyo via Ta-Q-Bin telah berada di kamar.

Setelah rehat sejenak, malam hari dengan suhu 5 derajat Celcius kami memaksakan diri keluar untuk mencari restoran dekat hotel. Ternyata restoran Yoshinoya dekat dengan hotel dan malam itu kami makan menu khas Jepang dengan nikmatnya.

IMG-20170303-WA0031
Kyoto Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0013
Jalan menuju hotel nan sepi, bersih tapi aman (Dok. Cech)
Y346842131
Depan Green Rich Hotel
IMG-20170303-WA0039
Menu makan malam pertama di Kyoto (Dok. Cech)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Japan Trip : 2 Jam Terakhir di Tokyo

IMG-20170326-WA0082
Pemandangan Tokyo Tower dari lantai 4 Richmond Hotel Asakusa Premier International (Dok. Cech)

Pagi-pagi sekali, kami sudah bangun. Tanggal 3 Maret 2017 pukul 09.00 kami meninggalkan hotel. Tetapi sebelum keluar hotel, dari lantai 4 hotel kami sempat mengabadikan pemandangan Tokyo Tower. Rencana awal hari itu adalah berkunjung ke Senso-ji Temple dan Tokyo Imperial Palace. Karena hari Jumat, Tokyo Imperial Palace tutup untuk umum sehingga dari Senso-ji Temple kami menggunakan kereta bawah tanah dari Asakusa Station ke Tokyo Station.

Keluar dari hotel, kami berjalan kaki menuju Senso-ji Temple via 2 Chome 7 Asakusa. Dalam 10 menit kami sudah berada di komplek Senso-ji Temple. Suasana ramai orang terasa sekali di Komplek Senso-ji Temple terutama Main Hall yang sering disebut Hondo. Pengunjung yang berdatangan adalah wisatawan asing dan wisatawan lokal yang melakukan ibadah ritual di Senso-ji Temple.

DSCN3660
2 Chome 7 menuju Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3661
WC Umum nan bersih di 2 Chome 7 (Dok. Cech)

Kuil Senso-ji adalah  kuil Budha tertua di  Tokyo yang dibangun  pada tahun 645. Berdasarkan keterangan yang tertulis di salah satu tiang kuil diceritakan pada tahun 628  saat sedang memancing di sungai Sumida, dua orang kakak beradik yang bernama Hinokuma Hanamari dan Hinokuma Takenari menemukan sebuah patung Dewi Kannon (Bodhisattva Kanon) atau yang lebih di kenal sebagai Dewi Welas Asih. Ketika mereka mengembalikannya ke dalam sungai, patung tersebut kembali lagi kepada mereka. Mendengar cerita Hinokuma bersaudara tersebut,  sebagai bentuk penghormatan maka kepala desa Haji Nakatomo memutuskan untuk membangun sebuah kuil yang awal nya bernama Asakusa Kannon Temple yang sekarang kita kenal dengan Kuil Sensoji ini.

Pada tahun 645, seorang pendeta Budha terkenal Shokai mengunjungi Asakusa dan melihat kuil tersebut. Kemudian oleh Pendeta Shokai, kuil tersebut diperluas bangunannya dengan menambah tempat untuk sembahyang sehingga bangunan kuil terlihat seperti saat ini yang sering disebut Main Hall atau Hondo. Senso-ji dan Asakusa mempunyai kaitan yang kuat. Apabila ditulis dalam aksara Cina maka pengucapannya akan berbeda. Pengucapannya menjadi “Senso” bagi orang Cina. Sedangkan bagi orang Jepang, pengucapannya “Asakusa”.

DSCN3679
Patung Budha (Dok. Cech)
DSCN3662
Bronze Statue of Uryu Iwako (Dok. Cech)
DSCN3668
Salah satu Kuil Budha di Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3670
Kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine (Dok. Cech)
DSCN3675
Kolam Ikan Koi (Dok. Cech)

Sebelah barat  terdapat beberapa bangunan kuil, patung dan kolam ikan koi. Diantaranya ada kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine yang berdiri berdampingan dengan beberapa  kuil budha dalam komplek Senso-ji. Selain patung Budha, ada satu patung sosok perempuan yaitu Patung Perunggu Uryu Iwako.

Uryu Iwako lahir pada 15 Februari 1829 di Kitakata, Perfektur Fukushima. Nama sebenarnya adalah Iwa, sedangkan Iwako adalah nama populernya. Setelah Restorasi Meiji, Iwako mendorong anak-anak perempuan klan Aizu untuk sekolah. Selain itu Iwako mendirikan Fukushima Relief  Facility yang membantu kaum miskin dan anak yatim piatu. Iwako juga mendirikan Institut Riset Kebidanan (Midwifery Research Institute) dan Rumah Sakit Saisei di Kitakata. Iwako meninggal dunia pada 19 April 1897. Atas jasa dan pengabdiannya maka dibangunlah Patung Perunggu Uryu Iwako (Bronze Statue of Uryu Iwako) pada April 1901

Gerbang utama dari kompleks Kuil Sensoji ini disebut Kaminarimon Gate yang artinya Gerbang Halilintar. Gerbang ini pada awalnya terdiri atas dua panji raksasa dengan simbol trisula. Setelah melewati Kaminarimon Gate, pengunjung disuguhi dengan deretan toko   yang menjual bermacam-macam suvenir khas Asakusa.

Mereka menjual barang tradisional Jepang seperti yukata, gantungan kunci, kipas lipat, jimat keberuntungan, kaos, dan camilan lokal seperti  “Kibidango” yaitu snack yang dibuat berdasarkan cerita anak-anak terkenal di Jepang (Momotaro si Buah Persik) Kibidango sangat spesial karena hanya dijual di tempat ini, tidak dijual di toko kelontong atau supermarket.

Camilan lain yang dijual adalah penganan berbahan dasar kacang merah yang disebut Agemanju (kue bertabur roti yang digoreng) dan Ningyoyaki (camilan berbahan dasar kue). area deretan toko sepanjang 20 meter tersebut dikenal dengan nama  Nakamise DoriDari Nakamise Dori pengunjung dapat melihat  Hozomon Gate. Disebelah timur terdapat Bentendo Hall dan di sebelah barat terdapat  sebuah pagoda 5 tingkat yang di namakan Five Storied Pagoda

DSCN3716
Hozomon Gate (Dok. Cech)
DSCN3718
Foto sejenak di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3720
Seorang pedagang es krim di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3721
Suasana ramai di Nakamise Dori (Dok. Cech)

Setelah melewati Hozomon Gate pengunjung  akan melihat bangunan utama dari kuil ini yaitu Main Hall (Hondo). Di tempat utama ini, warga Jepang beragama Budha  melakukan ritual dan berdoa meminta segala sesuatu yang diinginkanya. Pengunjung non agama Budha  diperbolehkan untuk masuk ke dalam area Hondo.

Sebelum masuk, biasanya pengunjung melakukan ritual mengusapkan asap dari hio yang menyala ke wajah. Selanjutnya membersihkan tangan atau meminum air suci yang letaknya dekat dengan pintu masuk Hondo.

DSCN3683
Ritual mengusapkan asap hio ke wajah (Dok. Cech)
DSCN3685
Air Suci (Dok. Cech)

Di dalam Hondo pengunjung dapat melihat betapa megahnya bangunan tersebut dan indahnya mural (lukisan) di atap Hondo. Selain itu pengunjung dapat pula melakukan doa permohonan ala agama Budha atau disebut Omikuji. Omikuji dilakukan untuk mengetahui keberuntungan hidup kita.

Jadi pengunjung melakukan doa diikuti dengan menggoyang-goyangkan boks besi yang di dalamnya terdapat banyak batang kayu/bambu yang bertuliskan keberuntungan atau kesialan kita. Di boks besi tersebut terdapat lubang kecil yang cukup untuk mengeluarkan sebatang kayu/bambu. Pada batang kayu/bambu tersebut ada nomor bertuliskan kanji. Setelah sebatang kayu/bambu keluar dari boks, maka kita dapat melihat nomor berapa yang keluar.

Selanjutnya kita membuka salah satu loker kayu yang telah dinomori sesuai dengan nomor di batang kayu/bambu. Pengunjung tinggal mengambil selembar kertas yang menuliskan tentang keberuntungan atau kesialan. Selanjutnya kertas tersebut dilipat dan diikat ke sebuah kawat besi bersusun yang terletak dekat dengan pintu keluar.

DSCN3712
Kuil Senso-ji (Dok. Cech)
DSCN3700
Indahnya lukisan (mural) di atap Hondo (Dok. Cech)
DSCN3699
Tentang Senso-ji Temple (Dok. Cech)

Tak terasa selama  2 jam, kami mengelilingi komplek Senso-ji Temple. Selanjutnya kami makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Tokyo Station untuk membeli tiket Kereta Cepat Shinkansen ke Kyoto. 2 jam terakhir di Tokyo yang  berkesan dan mungkin kelak kami dapat kembali ke Tokyo untuk mengunjungi beberapa tempat wisata menarik lainnya di Tokyo.