SUSAH DINAIKIN, NAIK DISUSAHIN

Ini bukan tebak-tebakan tetapi omongan seorang anak berumur 10 tahun putera dari kawan lama yang sudah lama tidak dikunjungi.

Tidak tahu kenapa tiba-tiba tadi siang saya ingin bertemu teman-teman lama saya yang sudah lama tidak bertemu. Walaupun malamnya begadang alias melototin tv saya usahakan untuk pergi juga dengan menggunakan kendaraan umum, mobil saya tinggal di rumah.

Perjalanan pertama saya menuju daerah jembatan merah menteng dalam dekat manggarai dimana teman saya tinggal. Ternyata kondisi lingkungannya tidak berubah sama seperti 4 tahun yang lalu yaitu rumah kecil ukuran 4 x 6 meter persegi yang ditempati lima orang. Dengan mengucapkan salam khas saya, mereka terkejut dan tidak menduga saya dating. Mereka pikir saya tidak akan pernah lagi datang berkunjung.

Tiba-tiba datiang anak berusia 10 tahun menghampiri saya dan dengan malu-malu itu siapa. Dijelaskan oleh bapaknya tentang siapa diri saya. Kemudian anak itu mengerluarkan pernyataan yang sangat aneh yaitu “Om susah dinaikin, naik disusahin, apaan itu?” Saya bilang adik mau main tebak-tabakan dan dijawabnya bukan tebak-tebakan. Tiba-tiba ibunya datiang dengan mimik kecewa, marah bercampur aduk perasaannya. “Syech itu maksudnya sekarang sudah hidup susah barang-barang dinaikkin harganya, setelah dinaikkin harganya eh..barangnya yang susah” jawabnya Rupanya istri teman sudah seharian mencari gas tabung ukuran 3 kg tapi tidak ada barangnya dan sudah begitu rencananya mau dinaikkan lagi harga gasnya.

Kemudian teman bercerita kehidupan mereka selama ini yang serba minim tetapi tidak putus asa dan selalu optimis. Sebagai informasi, teman saya ini adalah mantan napi yang telah masuk penjara 3 kali dengan kasus ke-1 membunuh marinir di Surabaya gara-gara memperebutkan lahan parkir, kasus ke-2 membunuh pamannya sendiri tapi tidak samapi mati karena pamannya menghabiskan uang warisan ibunya yang merupakan warisan keluarga mereka, kasus ke-3 adalah kasus 27 Juli 1996 (Kasus PDI Pro Mega) dengan hukuman 3 tahun tetapi dijalaninya hanya 1,5 tahun dengan kondisi siksaan seperti tangan dan kaki diinjak meja sewaktu interogasi sehingga sampai sekarang jari tangannya tidak bias digerakkan dengan normal.

Empat tahun lalu saya bertemu di padepokan Uyut saya setelah itu kami dekat tetapi kami berbeda tujuan yaitu dia pro Ibu Mega (PDIP) dan saya tetap netral sampai sekarang walaupun saya mengagumi Bung Karno. Saya selalu mengingatkan kehidupun berpartai penuh dengan intrik kekuasaan dan kita harus tahu tempat bergantung kita memperhatikan kehidupan kita atau tidak dan bukan hanya membutuhkan pada saat punya kepentingan. Ternyata dia mendengarkan omongan saya dan sejak pembicaraan itu dia tidak terlalu intens lagi terhadap partai. Kemudian saya belikan alat untuk menggergaji kayu yang digunakan untuk membuat bingkai foto serta mnjual foto-foto Bung Karno dan Alhamdulillah jalan sampai sekarang selain ada bisnis kecil-kecilan seperti jadi calo karcis kereta api, tanah, dan instalatir listrik.

Dia bilang’ Syech, ketika kami sekeluarga untuk mulai hidup lagi dan bangkit dari kemiskinan tanpa bantuan pemerintah, kok biasa-bisanya pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membuat rakyat makin susah sehingga timbul keinginan saya untuk kembali lagi ke partai, bagaimana ini syech”, Saya jawab,”Apakah selama ini partai membantu kehidupan kalian sekeluarga? Khan tidak, sama dengan pemerintah itu khan hanya elit-elitnya saja yang ribut akan kekuasaan dan membutuhkan orang-orang dibawah pada saat ada kepentingan pribadi/golongan, Kita harus optimis selama kita bisa memperbaiki diri sendiri tanpa mencampuri orang lain, hidup kita akan bahagia lahir batin kok. Kalau hidup kita bahagia setidaknya memberi kebahagiaan kepada lingkungan disekitar kita berupa energi kebahagian yang tidak bisa dinilai dengan uang atau materi.”. Omongannya kayak motivator aja walaupun saya sendiri mengalami beban/masalah juga dalam hidup saya. Maka itu hidup itu adalah kelakuan bukan perbuataan.

Setelah 2 jam penuh berkunjung , saya pamit untuk mengunjungi teman lama yang sudah saya rencanakan sebelumnya. Kata-kata. ‘ Susah dinaikkin, naik disusahin selalu terngiang di telinga saya dalam perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s