REPUBLIK VOTING

Republik kami dikenal dengan nama Republik Indo-Voting. Pemberian nama ini diperoleh setelah melalui proses sidang yang sangat panjang, melelahkan, membuat kantong jadi tongpes dan pengambilan suara dengan voting yang berulang-ulang kali. Voting, voting, voting, voting dan seterusnya voting.
Nama voting ini diambil dari bahasa asing dengan tujuan memberikan efek keren, gaya, mentereng, mejeng dan sebagainya. Nama ini juga diharapkan agar Republik kami dihormati, dihargai, bermartabat, kelihatan demokrasinya oleh dunia internasional walaupun kamipun juga tidak tahu apakan voting ini memang cocok dengan kondisi masyarakat, budaya, ekonomi, sosial dan hankam republik ini.

Sedangkan nama Indo menunjukkan bahwa kami adalah keturunan dari berbagai suku bangsa ras, agama yang unggul di dunia. Kalau anda datang ke republik kami maka jangan heran dunia hiburan kami terutama sinetron dan film banyak dibintangi oleh artis-artis Indo yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng sehingga terasa di surga.

Republik Indo-Voting terkenal dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, elit-elit kekuasaannya banyak hartanya, rakyatnyapun bermimpi jadi kaya, bergaya seperti orang kaya supaya bisa gaya walaupun hanya di dunia maya. Bukti republik ini kaya adalah semua merk mobil dari yang  murah sampai mahal berseliweran di jalan-jalan, motor-motor merk apapun dan tipe terbaru tiap hari diproduksi dan laku dijual, mall-mall selalu ramai, pokoknya kami adalah republik yang kaya raya dan kalaupun menurut dunia internasional  dikatakan bahwa kami adalah salah satu negara pengutang yang besar di dunia, penganggurannya meningkat, angka kemiskinan tiap tahun meningkat, negara pengimpor beras, BBM, sampai peniti dan lain-lain maka kami selalu katakan “GO TO HELL”, itu data kemiskinan menggunakan metode penelitiannya yang mana, angka pengangguran juga demikian. Republik Indo-voting selalu dapat membuktikan bahwa data internasional  itu salah.

Buktinya :
1. Wajarlah kami mengutang karena kami punya kekayaan alam yang melimpah dan yang memanfaatkan khan juga bukan kami (negara-negara yang punya kuasa di dunia internasional). Ya jadi kompensasinya adalah mengutang yang banyak dan dibayarnya dengan cara memanfaatkan kekayaan kami sampai habis kalau perlu kami jual satu persatu aset kami. Wong enakan disitu kok dibilang macam-macam.

2. Apakah dunia internasional tidak sadar bahwa kami adalah negeri voting dimana untuk melakukan dan memutuskan segala sesuatunya harus dengan voting. Khan supaya menang kami harus menyediakan dana yang sangat besar sehingga dapat dipakai untuk membayar orang demo kalau kalah dalam pemilihan umum dari daerah sampai pusat, membiayai serangan fajar menjelang pemilihan, membayar orang-orang agar memilih kami sehingga mendapatkan suara terbanyak, membayar aparat yang berwenang seperti komisi pemilihan, panitia pemilihan sampai hakim konstitusi apabila kami melakukan sidang peninjauan kembali hasil pemilihan dan masih banyak lagi.

3. Perlu diketahui oleh masyarakat internasional, republik kami mempunyai dasar negara yang teranyar yaitu Panca Voting.
– Ketuhanan Yang Maha Esa ditentukan oleh suara terbanyak, jadi siapa yang mempunyai suara terbanyak maka Tuhan dan agamanya yang menjadi hukum di negeri kami
– Kemanusian yang adil dan beradab ditentukan dengan voting. Jadi manusia dikatakan beradab dan adil apabila manusia itu mendapatkan suara terbanyak atau mayoritas.
– Persatuan Indo-voting. Kaum minoritas harus bersatu dengan kaum mayoritas dan mengikuti ajaran/agama kaum mayoritas
–  Demokrasi ditentukan oleh voting (suara terbanyak)
–  Keadilan sosial ditentukan oleh voting (suara terbanyak). Jadi salah sendiri kalau miskin karena tidak mengikuti voting sehingga tidak punyak hak untuk menentukan nasibnya dan berkewajiban mengikuti keputusan kaum mayoritas. Jadi apabila rakyat golput walaupun suaranya lebih banyak dari kaum mayoritas yang ikut voting tetap tidak punya hak untuk mengatur nasibnya dan  harus ikuti aturan mayoritas.

Panca voting ini telah menjadi pegangan hidup, pandangan hidup dan ideologi masyarakat kami dan telah mengakar dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Contohnya adalah dalam satu keluarga, setiap keputusan bukan ditentukan oleh kepala keluarga tetapi harus divoting.

Kebutuhan pangan, sandang, papan ditentukan dengan voting sampai hal terkecil seperti menentukan saluran TV harus divoting. Dalam masyarakat yang lebih luas, apabila ada sengketa apapun maka keputusan mutlak harus dengan voting sampai masalah terkecilpun dalam masyarakat seperti anak-anak kita berkelahi maka keputusan siapa yang benar/salah harus divoting tergantung pada jumlah massa yang mendukung. Berkendaraan di jalan raya pun juga demikian, aparat kepolisian tidak punya hak,untuk memutuskan apabila ada motor yang ditabrak mobil karena pengendara motornya berlaku seenak udelnya dan tanpa aturan kadang-kadang di kanan/dikiri maka keputusan yang benar/salah ditentukan oleh voting pada saat kejadian. Jadi kalau pendukung pengendara motor lebih banyak (biasanya sih demikian)  maka mobilnya yang disalahkan karena pendukungnya sedikit.

Ya begitulah Republik Indo-Voting yang sangat kami cintai walaupun nenek moyang kami atau para pendiri awal bangsa kami mempunyai UUD yang berbeda dengan kami dimana semuanya harus dimusyawarahkan untuk mencapai kemufakatan.

Tadinya apa yang dilakukan oleh orang tua kami berjalan baik dan mulus. Gara-gara disalah gunakan arti musyawarah untuk mufakat  oleh pemimpin generasi ke-dua kami yang berlaku otoriter, memperkaya diri, keluarga dan kroni-kroninya tanpa melakukan pemerataan kepada masyarakat maka kami protes, melakukan reformasi dengan menurunkan pemimpin generasi kedua  tersebut. Memangnya republik ini hanya milik keluarga mereka dan seenak udelnya menguasai kekayaan alam Republik Indo ini. (saat itu masih bernama Republik Indo) sehingga perlu ada  perubahaan yang mendasar seperti merubah nama negara menjadi Indo-Voting, UUD, dan sistem demokrasi kami adalah demokrasi panca voting

Dan generasi kami (penerus) sepakat  menolak apa yang diwariskan nenek moyang kami karena tidak mentereng, tidak keren, tidak gaya, tidak kelihatan jagoannya dan tidak kelihatan demokrasinya karena khan sekarang jaman globalisasi yang serba “borderless (tanpa batas)” sehingga kami takut dikucilkan oleh dunia internasional kalau tetap menjalankan sistem musyawarah untuk mufakat. Jadi susah dech memberikan pinjaman kepada kami dan kalau miskin bagaimana nasib kami padahal kami sangat ketergantungan kepada utang. Biarlah harta kami habis yang penting kami bahagia, gaya, keren, modis, mentereng, modern dan bodoh hehehehe

Pertanyaannya apakah kami senang dengan kondisi sekarang dan sampai kapan kami dapat sejahtera dan bahagia? Jawabannya adalah tanyakan saja pada rumput yang bergoyang, dunia ini adalah panggung sandiwara, biarkan waktu berlalu dan sejarah akan mencatat prestasi kami. Hidup VOTING!!!!! Ehhh nanti orang-orang yang mencatat sejarah kita  ditentukan oleh voting ya supaya bisa diatur dan dicatat yang bagus-bagus. Hidup VOTING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s