CINTA PRODUK NASIONAL, YANG MANA…?????

Krisis global yang mulai merambah kemana-mana termasuk negara-negara maju dan Indonesia (walaupun katanya kecil dampaknya bagi Indonesia), membuat negara-negara di dunia melakukan revisi terhadap anggaran dan strategi pembangunannya. Mereka mulai melakukan optimalisasi produk dalam negeri agar perekonomian dapat terus berjalan. Bagaimana dengan Indonesia ? Pemerintah memang telah mencanangkan untuk memberikan semacam talangan kepada Industri dalam negeri dan mulai mengkampanyekan kembali pemakaian produk dalam negeri (produk nasional)

Hal ini ditandai dengan pernyataan Wapres Jusuf Kalla yang menghimbau seluruh pejabat mulai menggunakan produk nasional. Aksi nyata yang dilakukan oleh beliau adalah mendatangi Sentra Industri Sepatu di Cibaduyut, Bandung dan sempat membeli sepatu produksi Cibaduyut. Disamping Beliau kadang-kadang melakukan sidak kepada para pejabat terutama para menteri kabinet saat akan melakukan rapat dengan menanyakan dan meminta ditunjukkan oleh menterinya apakah sepatu yang dipakai oleh pejabat itu benar-benar produk dalam negeri. Dengan bangganya, beliau menunjukkan sepatunya yang dibeli oleh sang isteri adalah produksi industri sepatu di Tangerang walaupun nama mereknya memakai tulisan asing. Bahkan Menperin, Fahmi Idris sampai memperlihatkan sepatunya di meja dan menunjukkan kecintaannya kepada produk nasional.


Peristiwa selanjutnya adalah ketika artis Tamara Blezinsky berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai Duta Tinju. Di NTT, Tamara juga diangkat sebagai Duta Tenun Ikat khas NTT dan dengan bangganya menunjukka produk lokal NTT yang berkualitas baik apalagi dirancang oleh desainer muda Oscar Lawalatta.

Memang membanggakan karena tokoh-tokoh diatas secara bukti nyata jelas-jelas mendukung kampanye Cintailah Produk Indonesia. Tetapi pertanyaannya adalah sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan produk nasional agar kita sebagai bangsa Indonesia benar-benar bangga memakainya.

1. Apakah produk nasional itu adalah produk 100% berasal dari dalam negeri, maksudnya adalah mulai dari bahan baku, mesin-mesin produksi, modal kerja sampai pekerjanya memang berasal dari Indonesia ?
Terlalu ekstrimkah ????

2. Apakah suatu produk dianggap produk nasional apabila bahan baku, tenaga kerja, modal kerja 100 % lokal tapi mesin produksinya boleh dari luar ?

3. Bagaimana dengan kasus sepatu, makanan (mi, roti, biskuit, susu), kendaraan (motor, mobil), mesin-mesin produksi, sandang dan lain-lain ? Apakah produk-produk tersebut dianggap produk nasional ?


Saya akan memberikan contoh berdasarkan pengalaman saya. Misalnya sepatu, setahu saya, bahan baku kulit sepatu banyak berasal dari Korea Selatan dan Cina karena alasan lebih murah dibanding kulit dari Garut. Kemudian lem yang dipakai kebanyakan berasal dari luar negeri walaupun lemnya diproduksi di dalam negeri tetapi bahan bakunya dari luar negeri.


Kemudian industri yang menyentuh hajat hidup orang banyak yaitu industri makanan dan minuman. Mulai dari beras, gula pasir, cabe, bawang merah/putih dan bumbu-bumbu yang lain hampir sebagiian berasal dari luar negeri.


Produk susu, bahan baku susunya di dominasi oleh produk susu dari Australia dan Selandia Baru. Produk Mi instan, gandum berasal dari AS, Cina, Australia dan lain-lain. Kemudian bubuk cabe dan bumbu di dalam kemasan mie instan sebagian besar berasal dar Cina dan India bahkan Malaysia. Makanan ringanpun demikian adanya. Kemudian produk minuman, ekstrak atau esens yang dipakai banyak berasal dari luar Indonesia. Belum kemasan yang dipakainya banyak bahan bakunya berasal dari luar negeri.


Yang lebih parah lagi, mesin-mesin produksi maupun mesin kendaraan (mobil/motor) banyak berasal dari luar terutama didominasi oleh produk Jepang, Taiwan, Cina dan Korea Selatan. Hal ini juga terjadi pada alat-alat pertanian, bahkan sampai paculnya berasal dari Cina dan Vietnam. Bagaimana ini bisa terjadi. Memang ada juga yang berasal dari dalam negeri tapi masih kalah bersaing dengan produk luar negeri. Hal ini juga berlangsung pada produk sandang, mulai dari benang sampai produk jadinya seperti baju dan celana juga berasal dari luar negeri (import)

Alasannya selalu klasik yaitu harga produk luar lebih murah dari produk dalam negeri. Kenapa hal ini bisa terjadi ? Padahal semua bahan baku/komponen produksinya tersedia di Indonesia. Apakah benar mental bangsa ini hanya sebatas calo/broker/pedagang yang hanya mengambil keuntungan sesaat tanpa pernah berpikir jangka panjang untuk banyak membuka lapangan kerja lewat pembanguan pabrik-pabrik di Indonesia ? Perlukah suatu revolusi strategi pembangunan kita seperti India dan Cina yang lebih fokus untuk memanfaatkan potensi yang ada di dalam negeri dan membatasi pemakaian produk luar negeri ? Sanggup dan adakah keinginan (GOODWILL) dari setiap orang di Indonesia untuk sungguh-sungguh dan bukan sekedar berwacana memakai produk dalam negeri baik berada di Indonesia dan diluar Indonesia. Kalau perlu ada fatwa MUI yang menyatakan hukumnya haram memakai produk yang bukan 100% asli Indonesia (hehehehee mungkinkah ?? wong fatwa rokok saja tidak digubris )

Saya bermimpi, seluruh manusia di Indonesia memakai produk 100% dan selalu mencari/membeli produk Indonesia ketika sedang berwisata ke luar negeri seperti yang dilakukan orang Jepang bila sedang berada di luar negaranya. Dan saya berharap tidak ada lagi merek “STARMON” yang berasal dari luar negeri diplesetkan oleh perajin sepatu kita menjadi merek “SUTARMAN” agar sepatunya laku. Kalau perlu malah produk luar yang memplesetkan produk Indonesia.

Jadi mana dong yang 100% produk asli Indonesia ? Batik? Rokok ? Keris ? Tempe ? Wayang ? atau yang lain ?

Sumber gambar : desaingrafisindonesia.files.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s