Jakarta Memang Gudang Uang

Tjiploek sedang menikmati ayam bakar dengan sambal khas di kantin ITC Cempaka Mas, tetapi ada sesuatu yang mengganjal dari awal Tjiploek mulai menyantap.

“Ada apa ya, kok dari tadi orang-orang selalu memperhatikan saya. Apakah ada yang salah dengan makanan dan cara makan saya ? ” pikir Tjiploek.

Tetapi kok kelihatannya banyak suara-suara yang datang dari belakangnya. Rasa keingintahuan Tjiploek timbul. Ketika melihat persis di belakang badannya.

“oooooh rupanya ini toh yang menjadi perhatian orang-orang dari tadi. Membuat nafsu makan berkurang saja ”
Setelah diperhatikan ternyata orang-orang memperhatikan seorang wanita berbadan kecil, kulit hitam seperti orang tidak mandi selama 1 tahun, tanpa alas kaki, sedang merokok, didampingi oleh seorang anak laki-laki balita dengan ingus yang meler dan tampak cuek dengan segala pandangan orang terhadapnya. Rupanya wanita ini sedang menunggu pesanan ayam bakar persis yang dimakan oleh Tjiploek.

Setelah menyelesaikan makanannya, Tjiploek dihampiri oleh ibu penjual ayam goreng dan berdiri persis di depan meja makan.

” Bu, itu siapa ya ? Kok orang seperti merasa aneh dan jijik melihatnya “

” Oh, itu langganan saya. Namanya Onah dan hampir setiap hari makan disini. ” Tiba-tiba Onah balik badan dan seperti merasa dibicarakan oleh Tjiploek dan ibu penjual ayam bakar.

Tjiploek tanpa sengaja membalikkan dan sambil menganggukan kepala serta tersenyum kepada Onah. Onahpun membalasnya dengan hal serupa yang dilakukan oleh Tjiploek.
Kemudian Tjiploek meneruskan pembicaraan dengan Ibu penjual ayam goreng.

” Omong-omong, dia tinggal dimana. Apakah tiap hari dia bawa anak balita tersebut. “

” Ya, tiap hari dia bawa anaknya. “

” Ohh jadi itu anaknya, sebenarnya apa pekerjaan Onah, Bu ? Kenapa tiap hampir tiap hari makan di tempat ibu. “

” Jangan kaget ya Mas. Onah itu adalah seorang pengemis yang sering mangkal dibawah jembatan Pasar Senen. Emang tiap hari dia makan di tempat saya. Pada awalnya orang-orang yang berdagang di kantin mengusir dia ketika duduk di meja makan panjang ini. Orang-orang berpikir dia membuat dagangannya tidak laku karena jijik melihat penampilan Onah. Tetapi herannya, saya merasa kasihan dan ketika itu Onah memesan ayam bakar. “

” Bayar dia Bu ??? “

” Itulah yang membuat saya kaget dan terharu. Dia bayar dan menolak untuk diberi makan secara gratis. Katanya waktu itu, Onah masih sanggup bayar kalau hanya makan. “

Tiba-tiba terdengar suara Onah dari belakang.

” Bu, bisa minta tambah air putihnya ” . Tampak Onah menikmati ayam goreng sambil menyuapi anaknya.

” Sebentar ya Neng ” Ibu mengambil air putih dan meletakkan di meja makan Onah.

” Ya begitulah mas “

” Menarik juga si Onah ini Bu. “

” jangan kaget ya Mas. Nanti setelah makan, Onah akan mengeluarkan semua yang ada di dalam tasnya “

Benar saja setelah makan, Onah memanggil Ibu dan mengeluarkan semua yang ada di dalam tasnya. Ternyata uang kertas dan logam dalam bentuk pecahan 500, 1000, 5000, 10000 dan 20000. Mulailah Onah merapikan uang kertas berdasarkan pecahannya dan dalam waktu singkat sudah diatur dalam bentuk puluhan ribu terutama yang 1000.

” Bu, Ini yang ingin saya tukar hari ini ” Ternyata Onah ingin menukar uang-uang tersebut ke dalam bentuk 50000 dan memang Ibu butuh uang recehan buat kembalian.

” Berapa yang kamu dapat hari ini ? “

” Hitung sendiri saja Bu, ini juga sudah saya susun rapi “

” Saya hitung ya. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh dan seterusnya. Wah banyak juga kamu dapat uang hari ini Onah “

” Semuanya berapa Bu ? “

” Rp. 283 ribu Nah. Ini sudah saya tukarkan dengan uang 50000 dan 100000 tapi ada yang ganjil. Tolong digenapkan biar jadi 300000 ”
Kemudian Onah menghitung uang logam dan ternyata diperoleh uang sebesar Rp 68000.

” Ini saya bayar makan saya dan sisanya untuk genapi. Yang lainnya saya simpan “

Tampak orang-orang mulai banyak memperhatikan kejadian tersebut. Ada yang heran, geleng-geleng kepala, kaget, tersenyum dan lain-lain.

” Onah ini simpan di plastik. Uang yang 300 ribu dan sisanya dimasukkan ke tas. Hati-hati nanti hilang “

Tjiploek makin penasaran ingin mengetahui langsung tetang sosok onah ini.

” Maaf Dik, saya dapat info dari Ibu. Adik sering makan disini “

” Panggil saya Onah saja Pak “

” Oh ya, omong-omong hari ini banyak dapat uangnya ya Onah. “

” Ya lumayanlah Pak, lagi ramai. “

” Hampir tiap hari Onah mendapatkan uang sebesar itu “

” Ga juga Pak. Kalau lagi sepi paling banter saya dapat Rp. 150000 “

” Itu dari minta-minta saja “

” Ya “

” Sudah lama Onah jadi pengemis, maaf ya Onah “

” Ah ga pa pa Pak, sudah hampir 5 tahun “

” Ini anaknya Onah “

” Ya ini anak saya. tiap hari saya bawa “

” Umur berapa ? “

” Baru 3 tahun Pak “

” Jadi….. “

” Ya saya jadi pengemis dulu sendirian. Karena punya anak dan di rumah ga ada yang ngurus. Ya saya bawa saja tiap hari “

” Ga takut anaknya sakit “

” Tidak Pak sudah biasa “

” Saya pikir ini anak sewaan hanya untuk mengemis seperti yang pernah saya dengar “

” Ngga Pak. Ini benar-benar anak saya “

” Lantas kenapa Onah mau jadi pengemis “

Tampak Onah diam sebentar dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

” Saya jadi pengemis karena terpaksa Pak “

” Kok terpaksa, apakah suami tahu Onah kerja beginian. Maaf ya Onah kalau saya lancang “

” Dia tahu Pak dan masa bodo ”

” Lho kok begitu ??? “

” Dia kerjanya hanya di rumah. Kalau malam main judi, pulang-pulang mabuk trus marah-marah kalau saya pulang tidak bawa uang bahkan saya sering dipukuli “

” Kurang ajar dan tega sekali. Kok kamu diam saja “

” Ga tahulah Pak. Mungkin sudah nasib saya. (wajah Onah tampak merah dan emosi sekali). Saya lahir sudah yatim piatu, ke Jakarta berharap dapat kerja dan merubah nasib. Awal-awal sekali, suami banyak menolong saya dan sering membantu segala kebutuhan saya termasuk tempat tinggal. Saya merasa hutang budi dan berpikir dia orang yang baik. Ternyata tidak seperti yang saya kira. “

” Kenapa Onah bisa jadi pengemis ? “

” Kebetulan tetangga kontrakan saya berprofesi sebagai pengemis dan untuk menghilangkan kesulitan hidup saya sering ikut diajak oleh tetangga mengemis di jalan. Lama kelamaan saya jadi ikut-ikutan dan lumayanlah uang yang saya peroleh “

” Ga malu kamu dengan profesi ini “

” Ga Pak, biar orang mau omong apa. Masa bodo, toh mereka yang mencibir kami juga tidak bisa membantu nasib perekonomian rumah tangga kami termasuk pemerintah yang kerjanya mengusir dan menangkap kami tanpa pernah memberikan jalan keluar “

” Hebat juga kamu bicaranya. Omong-omong nama kamu sebenarnya siapa ? “

” Nama saya Siti Maemunah dan anak saya M. Azis “

” Nama yang bagus sekali …. “

” Udah dulu ya Pak, sudah malam takut suami saya ngamuk karena saya belum pulang. Bu terima kasih ya besok saya kemari lagi bawa uang tukaran hehehehe “

” Hati-hati ya “

Onah membetulkan kain yang dipakai untuk menggendong anaknya dan memasang kembali jilbab yang biasa dikenakan sewaktu mengemis dan berjalan meninggalkan kami dengan kaki telanjang. Luar biasa dan ironis, begitu yang terucap dalam hati Tjiploek.

Tjiploek terdiam dan langsung terbayang pengalamannya mendapatkan uang di sepanjang jalan di Jakarta terutama saat ingin membuktikan apakah benar Jakarta memang gudang uang dengan berjalan kaki dari Ciputat sampai Cempaka Putih sekitar 6 tahun yang lalu sambil mengingat-ingat uang yang dipungutnya sebesar Rp. 13.725 yang masih tersimpan di celengannya.

Tuhan memang Maha Pemurah asal manusia memang sungguh ingin berikhtiar.

NB : Tjiploek bertemu kembali dengan Onah yang terkena operasi penertiban di Polda Metro Jaya.

2 thoughts on “Jakarta Memang Gudang Uang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s