” PEKERJAANKU HANYA MENJAGA LILIN TETAP MENYALA …. “

Tampak wajah kebingungan yang ditunjukkan oleh Mang Acing dan sesekali melihat jam dinding. Kapan ya Tjiploek keluar dari kamar kerjanya. Sementara jam sudah menunjukkan pukul 11.30, tiba-tiba terdengar suara pintu di buka dari kamar kerja Tjiploek. Dan benar saja perkiraan Mang Acing bahwa dari tadi Tjiploek memang tidur di kamar kerjanya. Tjiploek keluar dari kamarnya dengan hanya menggunakan sarung dengan telanjang dada dan sambil tersenyum segera menghampiri Mang Acing.

T : ” Maaf, lama ya menunggu saya. Tadi saya ketiduran dan hari ini memang enak sekali tidur “

Dalam hati Mang Acing berkata ” Sialan dari tadi rupanya saya hanya menunggu orang tidur. Kalau tahu begini, mending dari tadi saja pamit melalui Minah. Sudah begitu ngomong lagi enak tidur di hari ini padahal hari panas sekali buktinya baju saya basah dengan keringat. Apes amat saya hari ini. “

T : ” Oh ya Mang Acing mau pamit sama saya. Menurut saya sebaiknya nanti saja bada’ Zuhur. Pokoknya Mang Acing tenang saja, mudah-mudahan persoalan Mang Acing dapat segera selesai. “

P : ” Ya memang dari tadi saya mau pamit karena kalau sudah siang begini, saya tidak bakalan dapat barang tapi sudahlah memang harus begitu hehehehe (dengan senyum kecut dan jengkel) “

Beberapa saat kemudian terdengar suara azan Zuhur dan Acing memohon kepada Tjiploek untuk pamit.

T : ” Ga shalat dan makan siang dulu di rumah saya “

P : ” Waduh ngerepotin lagi, tidaklah Pak. Saya mau shalat Zuhur di Mesjid saja. Terima kasih “

T : ” Ok kalau maunya Mang Acing seperti itu tapi ingat ya Mang hari ini Allah akan memberikan rejeki kepada Mang Acing hari ini “

P : ” Amin “

Kemudian Acing bersalaman dengan Tjiploek dan pamit keluar. Tjiploek mengantar Mang ACing smapai ke depan pintu masuk.

Tanpa terasa siang berganti malam dan malam berganti siang yang diawali oleh pagi hari. Secara rutinj Tjiploek selalu buang sampah di pagi hari. Alangkah terkejutnya Tjiploek ketika mendekati tempat sampah, ternyata Mang Acing sudah duduk dan sepertinya memang menunggu Tjiploek. Saat itu jelas terlihat wajah sumringah meliputi raut muka Mang Acing.

P : ” Assalamualaikum Mas Tjiploek “

T : ” Eh Mang Atjing, wa alaikumussalam. Pagi-pagi sudah ada disini. Ayo masuk ke dalam “

Seperti hari kemarin, Mang Acing disuguhkan kopi dan pisang/tahu goreng yang melengkapi obrolan antara Mang Acing dan Tjiploek.

P : ” Terima kasih ya Mas atas doanya ” (sambil menyerahkan 3 batang rokok Dji Sam Soe kepada Tjiploek )

T : ” ehhh apa ini ? “

P : ” Rokok Djie Sam Soe buat Mas Tjiploek dari saya dan mohon diterima “

T : ” Tahu darimana Mang Acing saya suka merokok “

P : ” Kemarin Bi Minah cerita kalau Mas Tjiploek kuat sekali merokoknya dan beliau merasa kasihan sama Mas Tjiploek kalau ga ada rokok maka Mas Tjiploek sering mengumpulkan puntung-puntung rokok di asbak atau dimana saja untuk diambil tembakaunya dan melinting sendiri agar dapat terus merokok “

T : ” hahahaha bisa saja Bi Minah. Mang, kadang yang kecil dan terbuang itu kurang mendapatkan perhatian dari yang besar. Jadi daripada terbuang percuma maka saya daur ulang lagi dengan mengambil bekas tembakaunya “

P : ” Oh gitu ya Mas “

T : ” Ya sudah rokok ini saya terima dan kebetulan saya memang lagi tidak punya rokok. Lagi cekak Mang hehehee “

Kemudian Mang Acing menyalakan korek api dan diberikan kepada Tjiploek.

T : ” Maaf ya Mang, saya curiga jangan-jangan….. “

P : ” Iya Mas. Alhamdulillah berkat doanya Mas Tjiploek, kemarin saya dapat uang berupa keuntungan bersih sebesar Rp 120 ribu. Yang 50 ribu saya titipkan teman untuk diberikan kepada istri saya di kampung ke bos dan sisanya saya pakai buat modal cari barang hari ini. Kebetulan ada lebih, saya belikan rokok 6 batang. 3 batang untuk Mas Tjiploek dan 3 lagi untuk saya. Lumayan mas buat nemeni n kiata ngobrol “

T : ” Omong-omong, bagaimana ceritanya kok, Mang Acing bisa dapat untung. Khan saat itu Mang Acing tidak punya uang sama sekali. “

P : ” Begini Mas ceritanya. Selepas dari rumah Mas Tjiploek, saya mampir ke mesjid untuk sholat zuhur. Kemudian saya mencari barang di sekitar komplek mewah di seberang komplek rumah Mas Tjiploek. Saat itu saya sempat berpikir apa bisa saya mendapatkan uang dan barang. Ketika saya keliling di kompleks tersebut, saya berkenalan dengan orang yang ternyata seorang pedagang beras di pasar tradisional dekat kompleks mewah tersebut. Beliau memanggil saya untuk menjual barang bekasnya berupa kipas angin rusak, gulungan kabel, koran/majalah bekas dan lain-lain di gudangnya. Saya katakan kepada beliau bahwa saya tidak punya uang untuk membeli barang-barang bekas tersebut dan saya ceritakan semua yang dialami oleh saya. Tanpa dinyana, Beliau menyuruh saya mengambil semua barang bekasnya secara gratis. Karena banyaknya barang saat itu samapi-sampai gerobak saya penuh dengan barang dan agak susah juga saya membawanya ke pul. Dan satu hal yang membuat saya kagum adalah beliau keturunan Cina dan baik sekali sama seperti Mas Tjiploek, beliau memberi saya makanan dan minuman. “

T : ” Syukur dech Mang Acing “

P : ” Dan satu lagi, Beliau sempat bertanya tentang asal muasal saya. Saya ceritakan semuanya. Rupanya beliau tertarik untuk berkunjung ke tempat saya. Mungkin karena kampung saya sentra beras maka ini ada hubungannya dengan bisnis beliau (pedagang beras). Bahkan beliau berminat untuk menyewa tanah yang digadaikan oleh penduduk kampung saya selama 3 tahun agar mudah pasokan berasnya atau sebagai cadangannya.”

T : ” Bagus dong Mang “

P : ” Iya Mas, tapi omong-omong hari ini saya harus menunggu Mas Tjiploek tidur lagi ga ? “

T : ” Hahahahaha, memangnya kenapa Mang ? “

P : ” Kalau memang Mas Tjiploek menyuruh saya tunggu, saya akan menunggu. Pokoknya tergantung Mas Tjiploek dech “

T : ” Ok, sebentar ya, saya mau masuk kamar dulu dan memang kebetulan ada pekerjaan kecil. Sabar ya Mang menunggunya. Nanti saya akan beritahu kapan Mang Acing boleh pergi hehehehehe Aya-aya wae ”
Kemudian Tjiploek masuk kamar. Sementara Mang Acing duduk di ruang tamu sambil membaca koran ‘Poskota” yang ada di meja. Tanpa terasa sudah hampir 2 jam, Tjiploek belum juga keluar kamar kerjanya. Lama sekali pikir Mang Acing. Tiba-tiba timbul keingintahuan Mang Acing tentang apa saja yang dikerjakan oleh Tjiploek di dalam kamar kerjanya dan seperti kemarin terdengar suara tidur dengan mengorok keras sekali. Hal ini makin membuat bingung dan bertanya siapa ya sebenarnya Tjiploek karena kalau dilihat penampilan kurang meyakinkan seperti warna kulitnya gelap, kurus, rambutnya panjang dan yang selalu diingat adalah pakaiannya hanya sarungan tanpa pernah memakai baju. Eksentik sekali penampilan Mas Tjiploek dalam hati Mang Acing.
Beberapa saat kemudian pintu kamar kerja Tjiploek terbuka dan keluarlah Tjiploek dengan senyum khasnya.

T : ” Maaf ya lama menunggu tapi emang enak tidur hari ini. Omong-omong sudah jam berapa sekarang Mang Acing ? “

P : ” Sekarang jam 09.50 Mas “

T : ” Oh gitu ya nanti saya beritahu kapan Mang Acing boleh pergi dari rumah saya “

Tak lama kemudian Mas Tjiploek ke ruang tamu sambil membawa kopi pahit khas dengan sedikit gula.

T : ” Oke dech Mang Acing boleh berangkat dari rumah saya (tepat pukul 10.08) “

P : ” Saya pamit Mas Tjiploek “

T : ” Oh ya, hati-hati di jalan mudah-mudahan rejekinya 2 kali lipat dari yang kemarin heheheheehe “

P : ” Amiinnnnnn “

Keesokan paginya, terjadi lagi hal yang sama yaitu pagi-pagi Mang Acing sudah nongol di dekat tempat sampah dan kembali menceritakan bagaimana hari kemarin mendapatkan rejeki 2 x lipat dari hari sebelumnya. Tidak lupa, hari itu Tjiploek mendapatkan rokok Djie Sam Soe sebanyak 6 batang rokok. Lumayan pikir Tjiploek yang terus menghembuskan rokoknya. Hal ini berlangsung selama 7 hari. Mulailah timbul keingintahuan yang lebih dari Mang Acing terhadap sosok Tjiploek yang aneh, sederhana tetapi ucapannya seperti “Seceduk Metu, Seucap Nyata”. Dan yang membuat gempar terutama di kompleks perumahan Tjiploek adalah hampir setiap pagi banyak gerobak yang mangkal di rumah Tjiploek. Rupanya Mang Acing banyak cerita dengan teman-teman tukang loak tentang kejadian-kejadian dan keberuntungan yang dialaminya setelah bertemu dengan Tjiploek. Banyak warga bertanya kepada Tjiploek. Ada apa sebenarnya yang terjadi ? Apakah Tjiploek punya bisnis barang-barang bekas ? Tetapi setiap ditanya oleh warga mengenai pekerjaannya, selalu dijawab oleh Tjiploek, ” Pekerjaan saya menjaga lilin… ” Nah loh apakah Tjiploek memelihara babi ngepet “. Inipun juga menjadi pertanyaan bagi Mang Acing.

Tepat hari ke-9, Mang Acing mencoba-coba menyelinap di dekat jendela kamar kerja Tjiploek yang memang selalu terbuka tirainya untuk sekedar menjawab keingin tahuanya. Alangkah terkejutnya Mang Acing atas apa yang dilihat. Kemudian dengan seksama, Mang Acing mencatat dan mengingat-ingat apa saja yang terjadi di dalam kamar. Tetapi hal ini tidak disebarluaskan ke teman2teman apalagi ke masyarakat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah hari ke-15, Mang Acing tidak pernah menampakkan hidungnya lagi di depan rumah Tjiploek. Tjiploek hanya tersenyum dan berdoa mudah-mudahan Mang Acing sukses dan segala keinginannya diijabahi oleh Allah SWT.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, sampailah pada saat bulan Ramadhan yang hampir mendekati Idul Fitri (kalau dihitung mungkin sudah hampir 5 bulan). Tiba-tiba terdengarlah suara telpon berdering di rumah Tjiploek.

T : ” Halo Assalamualaikum “

P : ” Wa alaikumussalam, ini Mas Tjiploek ya “

T : ” Ya, waaaah ini pasti Mang Acing. Kemana saja kok menghilang “

P : ” Malu jadinya, Mas Tjiploek hari ini ada di rumah khan ? Saya mau ke rumah sekalian mo cerita macam-macam “

T : ” Main saja ke rumah, saya juga kangen sama Mang Acing “

Malam harinya waktu menunjukkan pukul 19.50, Mang Acing sampai di rumah Tjiploek. Kemudian keduanya berpelukan seperti dua orang saudara yang sudah lama tidak bertemu.

T : ” Bagaimana Mang Acing kabarnya ? Kelihatan dari wajah dan penampilan sudah sukses ya “

P : ” Ah Mas Tjiploek bisa aja, kabar saya baik, juga istri dan anak saya ” (tampak Mang Acing memakai kemeja baru beli karena stiker harganya masih menempel di kerah bajunya dan sepertinya membawa banyak kantong plastik dengan tulisan RAMAYANA)

T : ” Darimana Mang Acing ? Tetapi kayaknya tidak dari rumah ya, habis belanja ya buat Lebaran nanti “

P : ” Iya Mas, saya dari RAMAYANA. Beli baju dan celana buat anak-anak. “

T : ” Itu apaan Mang Acing. Sepertinya kotak perhiasaan. Oh ya itu stiker harga dikerah dicopot dulu. “

P : ” Mas Tjiploek perhatian aja. Ya ini perhiasan buat istri saya karena selama ini saya belum pernah membelikan perhiasan buat dia sejak kami menikah. Oh masalah stiker, karena ingin menghormati Mas Tjiploek, di Ramayana saya tukar dengan baju rombeng saya hehehe. Oh ya ini ada 1 slop rokok Djie Sam Soe buat Mas “

T : ” Aduh, terima kasih banget Mang Acing. Berarti lebaran ini saya ga pusing lagi cari rokok “

P : ” Begini Mas, saya ada ingin tanyakan dan sekaligus cerita. Sebelumnya saya minta maaf kalau saya lancang dan bersikap kurang sopan “

T : ” Ada apa ya ? Perasaan saya, Mang Acing orangnya baik, sopan, lugu dan tidak berbuat macam-macam “

P : ” Begini Mas, waktu hari terakhir saya ketemu Mas Tjiploek dan kemudian saya menghilang selama 5 bulan. Saya sempat cari tahu tentang apa saja yang dilakukan oleh Mas Tjiploek di dalam kamar kerja. Saya sempat mengintip dan apa yang terjadi saya catat serta hafalkan. Gara-gara hal tersebut saya bisa seperti sekarang ini. “

T : ” Oh gitu ” (sambil tersenyum Tjiploek memperhatikan raut wajah ketakutan)

P : ” Setelah itu saya banyak mengalami keberuntungan dalam hidup. Ingat ga Mas, Orang Cina pedagang beras yang pernah saya ceritakan dulu “

T : ” ya ya ya saya ingat, Kenapa memangnya dia “

P : ” Suatu hari saya dipanggil ke rumahnya. Beliau menyuruh saya mencari tanah sawah di kampung yang mau disewakan selama 2 tahun. Nantinya tanah sawah itu akan diigarap oleh saya. Kemudian hasilnya bagi hasil. Alhamdulillah Mas, berkat doa Mas Tjiploek dan semuanya dech saya mendapatkan tanah sawah hampir 8 ha. Itu semua saya yang garap Mas. Maka dari itu saya jarang lagi main ke rumah Mas karena lagi musim tanam. Memang awalnya saya takut kalau rugi dan mengecewakan Bapak itu. Saya takut berbuat salah dan jangan sampai tidak dipercaya orang. Tiap hari saya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Mas Tjiploek di dalam kamar. Inilah yang terjadi sekarang, saya dapat membahagiakan keluarga saya dan Mas Tjiploek walaupun hanya sekedar rokok tapi ini sebagai penghormatan saya kepada Mas Tjiploek (tampak raut wajah seperti orang ingin menangis) “

T : ” Sudahlah Mang Acing jangan bersedih dong. Khan sebentar lagi mau fitrah. Saya ga marah kok dan bersyukur tanpa sengaja Mang Acing mengikuti apa yang saya lakukan untuk tetap menjaga lilin agar selalu menyala hahahahaha “

P : ” hahahahahahahaha, benar Mas Tjiploek sungguh luar biasa Surat Al Fatihah “

Sejak saat itu Mang Acing lebih banyak tinggal di kampung bersama anak istinya dan kadang ke rumah Tjiploek setelah panen padi dan tidak lupa membawa 2 slop Djie Sam Soe kesukaan Tjiploek.

One thought on “” PEKERJAANKU HANYA MENJAGA LILIN TETAP MENYALA …. “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s