POUNDSTERLING….YES, RUPIAH …..NO

” Halo, selamat siang Pak, apakah benar ini rumahnya Pak Erwin ” kata seorang pria yang ternyata bernama Bapak D dalam bahasa Inggris.

” Selamat siang, Pak dan saya Pak Erwin. Darimana ya Pak ” jawab saya (E)

D : ” Saya dari PT W memberitahukan bahwa bapak diundang untuk mengikuti tes lamaran kerja di perusahaan kami besok siang setelah makan siang (after lunch bahasa kerennya) “

E : ” Baik, besok saya akan datang ke tempat bapak “

Begitulah dialog yang terjadi dan ternyata undangan untuk mengikuti tes pekerjaan di sebuah perusahaan multinasional yang bergerak dibidang makanan terutama permen (Candy).

Keesokan harinya, 15 menit lebih cepat saya datang ke PT W agar saya tidak terlambat mengikuti tes. Sesampainya disana, saya bertemu dengan resepsionis dan kebetulan resepsionis telah dipesankan oleh Bapak D agar saya menunggu sebentar karena beliau masih berada di luar kantor. Saya menduga mungkin beliau sedang makan siang. Sambil menunggu saya bertanya kepada resepsionis dan benar saja bahwa PT W ini adalah perusahaan multinasional yang tidak hanya bergerak di bidang makanan tapi farmasi juga.

Sekitar 20 menit kemudian, seorang pria masuk ke kantor dari luar dan langsung bertemu resepsionis. Kemudian Bapak tersebut menghampiri saya dan mengajak saya masuk ke dalam suatu ruangan (kelihatannya ruang rapat). Bapak tersebut memperkenalkan diri sebagai Bapak D (benar juga dugaan saya).


Bapak d memohon untuk keluar sebentar dan beberapa menit kemudian masuk dengan membawa beberapa berkas sambil menerangkan bagaimana mengisi berkas tersebut dan prosedur tes yang berlaku di perusahaan tersebut. Ternyat berkas-berkas tersebut adalah formulir tentang identitas pelamar kerja yang harus diisi dan beberapa tes yang tampaknya seperti psikotes (semuanya tertulis dalam bahasa Inggris.


Formulir identitas diri saya serahkan kepada Bapak D dan selanjutnya dilakukan psikotes selama 30 menit. Tanpa terasa waktu tes berlalu dan kelihatannya tidak ada gangguan sama sekali. Oleh Bapak D, saya disuruh untuk menunggu di luar dekan resepsionis.


Beberapa menit kemudian, saya dipanggil oleh resepsionis untuk masuk ke dalam ruangan kembali dan disana tidak tampak Bapak D. Tiba-tiba dari luar ruangan tampak seorang pria masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiri saya sambil berjabat tangan dengan sopannya. Beliau memperkenalkan diri sebagai Bapak R. Bapak R menerangkan bahwa saya telah lolos psikotes dan beliau akan melakukan wawancara. Awalnya wawancara berlangsung dalam suasana mengasyikkan tapi ketika Bapak R mulai menanyakan masalah yang lebih sensitif yaitu berapa besar gaji yang saya minta. Berikut adalah dialog yang berlangsung (maaf saya menulisnya dalam bahasa Indonesia karena keterbatasan berbahasa Inggris saya dan saya yakin yang membaca tulisan ini adalah orang Indonesia jadi supaya sama-sama enak hehehe)

R : ” Disini Bapak menulis angka 400. Maksudnya apa ya? “

E : ” Oh maaf Pak, boleh saya melengkapi karena tadi keburu-buru. “

Bapak R menyerahkan formulir tersebut dan saya langsung melengkapinya.

R : ” Apa ????? (dengan wajah kaget) Ini tidak salah Pak “

E : ” Salah yang mana Pak “

R : ” Jadi yang anda maksud 400 tadi itu 400 poundsterling Inggris (saat itu kurs Rp 13 ribu) “

E : ” Benar Pak “

R : ” Begini ya Pak Erwin, semua karyawan disni digaji dalam bentuk rupiah dan besar kecilnya disesuaikan dengan tingkat jabatan/posisinya kecuali orang asing yang bekerja disini “

Dengan berusaha tenang akhirnya saya mengatakan kepada Bapak R :

E : ” Saya mengerti dan paham dengan penjelasan Bapak tapi disini saya hanya ingin bersikap konsisten karena dari awal saya menulis lamaran kerja berdasarkan iklan lowongan kerja di surat kabar nasional K tertulis dalam bahasa Inggris, kemudian tes dan wawancara kerja yang berlangsung sekarang juga dalam bahasa Inggris. Jadi suatu yang wajar saya meminta gaji dalam bentuk poundsterling. Kalau perusahaan ini menggunakan standar gaji dalam bentuk rupiah seharusnya dari awal iklan sampai wawancara dalam bahasa Indonesia dan lagipula perusahaan ini juga beraktifitas di Indonesia serta tidak ada perbedaan antara pekerja lokal dan asing dalam hal penggajian. Maaf ya Pak R kalau saya berbicara ini “

R : ” OK, kalau begitu ”
Tanpa bicara apa-apa langsung Bapak R keluar ruangan. Dalam hati saya berkata mungkin Bapak R memanggil satpam (security) untuk mengusir saya keluar kalau perlu dilempar ke jalanan seperti dalam film-film Barat yang penuh aksi.



Kira-kira 10 menit kemudian, masuklah seorang wanita berperawakan orang asing alias bule. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Ibu A dengan jabatan Manajer HRD di perusahaan tersebut.

A : ” Tadi saya sudah mendengar semua cerita dari Bapak R tentang anda. Menurut saya, baru kali ini ada pelamar kerja yang meminta gaji dalam bentuk poundsterling dan ini menarik buat saya (kelihatan ibu satu ini sangat profesional dan cerdas serta santun sekali berbicaranya) “

E : ” Tidak ada sesuatu yang luar biasa Bu. Saya hanya ingin berusaha konsisten saja “

Tanpa terasa obrolan kami berlangsung selama 30 menit dan tidak secuilpun membicarakan tentang pekerjaan. Ibu A malah banyak bercerita tentang pengalamannya selama 4 tahun di Indonesia dengan segala suka dukanya sampai keheranan beliau terhadap orang Indonesia yaitu orang Indonesia sangat ramah tamah, sopan, dan toleran tetapi kenapa orang seperti beliau dipanggil bule ya. Hihihihih kalau melihat mimiknya bicara dan ekspresinya membuat saya tertawa dan perkiraan saya beliau orang Inggris/Australia berdasarkan logat/aksen bicaranya.

E : ” Maaf Bu, kelihatannya saya harus pamit dulu. ”

A : ” Ok Erwin, sesuai peraturan perusahaan ini Kami tetap akan memproses semua hal tentang Erwin. Masalah diterima atau tidaknya tergantung kepada keputusan Tim. Senang saya bertemu dengan Erwin “

E : ” Sama-sama, Sampai jumpa”

Saya langsung keluar ruangan dengan kepala berisi banyak hal, salah satunya saya pasti tidak bakalan diterima di perusahaan tersebut. Dan saya sempat berpapasan dengan Bapak W tapi beliau tidak mengatakan apa-apa dan sepertinya melengos saja disamping saya. Hehehehe

Sesampainya di rumah, saya menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada Bapak-Ibu. Almarhum Bapak langsung tersenyum penuh arti dan berkata, ” Dasar, memang kamu saja tidak punya niat untuk bekerja dan suka nyeleneh sendiri “

DASAR BOLOHO…..ENTEU BALEG ….NASIB…NASIB…NASIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s