” AKU MAMPU MAKA AKU KELUAR “

” Assalamualaikum ”

” Wa alaikumussalam ”

” Nasruminullah ”

” Wa Fathun Qarib ”

” Kun Faya Kun ”

” Rabbi Kun ”

” Amithaba ”

” Sancai ”

Begitulah kebiasaan Ardi mengucapkan salam saat bertemu Tjiploek.

” Ehhh Ardi, apa kabar ? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Wah tambah makmur saja kamu ya !!! ”

” Kabar baik hehehehe, biasa saja Mas Tjiploek. Bagaimana kabarnya Mas Tjiploek dan ibu ? ”

” Baik, kalo ibu juga baik tapi sudah sepuh jadi harus banyak istirahatnya. Tuh beliau ada di kamar. Biasalah sedang nonton sinetron hahahaha ”

Ardi langsung masuk ke kamar ibunya Tjiploek untuk menyapa beliau karena memang sudah lama tidak bertemu.

” Mas, saya lihat ibu baik-baik saja dan tambah sehat ”

” Ya begitulah kondisinya seperti yang Ardi lihat. Cuma sekarang seperti anak kecil dan suka ambekkan. apalagi kalau tidak punya uang dan cucu-cucunya datang ke rumah heheheehe ”

” Yaa khan Mas Tjiploek memang sayang sekali dengan ibu dari dulu dan banyak uang. Jadi seringnya ibu minta dengan Mas hehehe ”

” Tidak juga Di ? Semua saudara-saudara sayang beliau kok bukan hanya saya ”

” Mas, boleh minta air putih ? Haus sekali nich ”

” Ehh iya sampai lupa sebentar ya DI ”

Kemudian Tjiploek mengambilkan air putih di dapur walaupun ada Bi Minah, tetap saja Mas Tjiploek yang melayani sendiri tamu-tamunya.

” Ini saya buatkan minuman dengan gelas besar biar hausnya hilang hehehehe ”

” Begini Mas, saya sebenarnya lagi risau dan kecewa ”

” Ada apa Di ? ”

” Masalah kantor terutama Bos ”

” Khan kamu sudah enak dan lumayan posisi kamu disana ”

” Memang sich tapi keliatannya Bos kurang perhatian dengan karyawan dan lebih mementingkan orangnya sendiri ”

” Maksudnya ? ”

” Bos lebih perhatian dengan karyawan yang masih ada hubungan saudara dan pertemanan ”

” Perhatian bagaimana ? Saya lihat posisi kamu sebagai salah satu manager di perusahaan itu membuktikan Bos kamu tidak pilih kasih…. Apa masalah gaji ? ”

” Itu salah satunya ”

” Apa gaji kamu lebih kecil dibanding dengan karyawan yang menurut Ardi ada hubungan dengan saudara dan pertemanan tersebut ”

” Tidak juga, memang ada yang di atas saya gajinya dan ada juga yang di bawah. ”

” Masalah fasilitas perusahaan yang kurang memadai ”

” Tidak juga, saya merasakan apa yang diberikan oleh perusahaan cukup baik terutama fasilitas kesehatan, kendaraan dan lain-lain. ”

” Terus apa dong ? jadi bingung hehehehe ”

” Saya khan sudah 6 tahun bekerja tetapi kenapa saya belum ada promosi jabatan. Sementara ada orang baru masuk. Memang sich dia jebolan perusahaan multinasional, pendidikannya lebih tinggi dari saya dan masih teman Bos sewaktu kuliah dulu di Inggris tapi langsung diangkat sebagai salah satu direktur yang membawahi divisi saya Mas Tjiploek. Apakah Bos tidak melihat kualifikasi yang saya punya ? Saya sanggup kok bersaing dan mampu untuk memajukan perusahaan. ”

” Oh jadi masalahnya itu. Terus tanggapan karyawan yang lain bagaimana ? ”

” Ada yang pro dan ada yang kontra tetapi menurut saya lebih banyak yang kontra. Mereka menduga akan ada perubahan yang mendasar di dalam perusahaan. ”

” Wajar khan kalau ada perubahan setiap pergantian pimpinan selama tidak mengubah visi, misi dan tujuan perusahaan. Saya yakin yang berkeluh kesah kebanyakan adalah karyawan-karyawan yang memang dekat dengan Ardi. Betul ? ”

” Lho kok Mas tahu ? Memang benar, mereka sekarang pada kasak kusuk dan kuatir terkena dampak perubahan pimpinan baru. ”

” Sudah berapa lama ini terjadi ? ”

” Hampir 6 bulan Mas Tjiploek ”

” Selama 6 bulan kinerja pimpinan baru bagaimana ? ”

” Memang sich ada perubahan dan lebih disiplin terutama masalah anggaran dan target perusahaan pada tahun ini. Tapi Mas ….. ”

” Tapi apa ? ”

” Harusnya Bos melihat dan memberikan kesempatan kepada saya sebagai orang yang lebih lama untuk dapat membuktikan kemampuan. Saya mampu dan bisa memenuhi apa yang diinginkan perusahaan ”

” Hahahahahahahahaha ”

” Kok malah tertawa Mas Tjiploek ini bagaimana sich ”

” Sebelum saya menjawab, saya akan ceritakan tentang seorang manusia yang bernama Jumadi dan satu lagi almarhum Bapak ”

” Siapa itu Jumadi ? Kenapa almarhum ? Apa hubungannya dengan saya ? ”

” Tunggu ya, saya mau merokok dulu. Sebentar ya….hm hm hm Jumadi….Jumadi…Jumadi ”

” Ayo dong Mas, ceritanya bikin penasaran saja ”

” Jumadi adalah seorang manusia yang sederhana sekali. lugu, santun seerti layaknya orang Jawa yang bicaranya selalu lemah lembut bahkan saya sering menilainya sebagai manusia yang apa adanya dan tanpa punya cita-cita ”

” Maksudnya Mas Tjiploek ? ”

” Beliau saat ini mungkin berumur 42 tahun dan masih tinggal di kemayoran, suatu daerah kumuh yang menurut ukuran saya kurang memadai. Sudah hampir 22 tahun beliau bekerja sebagai kanvaser (sales keliling) sebuah perusahaan makanan nasional yang cukup ternama. Setiap hari beliau berkeliling kota Jakarta menjajakan dagangan perusahaannya dengan menggunakan mobil boks perusahaan. Gajinya saat ini hanya Rp. 1.400.000,- setaraf dengan UMR. Beliau mempunyai 3 orang anak dan salah satu anaknya dititipkan ke ibunya mertuanya di Karang Anyar Jawa Tengah. Alasan beliau menitipkan anaknya dan di sekolahkan di kampung adalah supaya dapat meringankan beban biaya sehari-hari atau bulanan. Karena menurutnya hidup di Jakarta sangat berat apabila melihat gajinya sebesar itu. Selama di Jakarta beliau, istri dan 2 anaknya yang masih kecil tinggal di tempat kontrakan 1 kamar dengan ukuran 4 x 3 meter. Semua dijalaninya dengan sabar, senyum, tawa dan lebih utama adalah tampak sekali wajah keikhlasan dalam mengarungi hidup di ibu kota ini. ”

” Lantas Mas Tjiploek ”

” Saya pernah bertanya apakah tidak ada keinginan untuk pindah kerja agar pendapatannya lebih baik. Dijawabnya hanya dengan senyum, sekarang ini susah mendapatkan pekerjaan lagipula Jumadi sudah sangat bersyukur dapat kerja dan memperoleh penghasilan walaupun tidak cukup ya dicukup-cukupkan. Tidak ada manusia yang pernah puas Mas Tjiploek, jawab Jumadi kepada saya. Sejarah Jumadi dengan perusahaan ini panjang sekali, dari sejak muda Jumadi bekerja dan bersyukur kepada Tuhan karena mendapatkan pekerjaan dan Bos yang perhatian dengannya.Jumadi bersyukur juga karena dengan bekerja dapat menghindarkan diri dari keinginan untuk berbuat jahat seperti mencuri, maling, nodong, menipu dan lain-lain. ”

” Masa sich Jumadi tidak pernah mengeluh atau apa gitu ??? ”

” Saya pernah bertanya kepada Jumadi dan jawabnya sederhana, ” Mana ada manusia yang tidak pernah mengeluh tapi saya nikmati toh rejeki sudah ada yang mengatur tergantung kepada ikhtiar atau istiqomah kita kepada Gusti Allah, Mas Tjiploek. Mungkin orang lain akan menilai saya miskin tapi biarkan, yang penting saya tidak miskin iman seperti orang-orang di atas sana itu lho Mas Tjiploek ” ”

” Luar biasa sekali Jumadi ini ”

” Saya juga mengungkapkan hal yang sama tapi beliau tetap dengan senyumnya yang khas dan menjawab yang penting kita sebagai manusia tidak menambah dosa dan bagaimana caranya kita mengurangi dosa walaupun dosa tidak bisa dikurangi hehehehehehe ”

” Wah malu saya jadinya Mas ”

” Lho kok malu ??? ”

” Iya Mas, malu karena ternyata selama ini saya kurang bersyukur dengan apa yang saya peroleh. Trus Mas tentang almarhum Bapak bagaimana ceritanya ? ”

” Kamu tahukan riwayat hidup Almarhum Bapak sewaktu muda sampai pensiun karena masalah kesehatan. Bagaimana Almarhum mulai bekerja dengan orang lain sampai punya usaha sendiri dengan hasil yang nyata yaitu pabrik, rumah, kendaraan dan lain-lain. Padahal almarhum sebelum buat usaha sendiri pernah bekerja di sebuah perusahaan besar skala nasional milik salah satu Konglomerat dengan jabatan setingkat dengan Presiden Direktur dan menjadi orang yang dipercaya oleh Bos. ”

” Benar Mas Tjiploek. Saya mendengar langsung sejarah Almarhum dari Ibu mas Tjiploek dan melihat almarhum sebagai orang yang sangat “low profil” tapi mempunyai ilmu pengetahuan yang sangat luas terutama masalah bisnis. ”

” Tahukan Di, kalau almarhum jarang banyak omong apalagi ngomongi orang lain. Kalau ada orang lain gosip maka almarhum pasti akan pergi dan masuk kamar sambil mendengarkan berita di radio. Tapi Almarhum senang sekali berdiskusi tentang apapun terutama hal-hal yang berhubungan dengan orang banyak dan sering memberikan ide-ide yang brilian. Maksudnya adalah supaya hidup orang yang diajak diskusi tersebut makin baik, hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini dan seterusnya. Intinya adalah waktu itu harus kita hargai dan dimanfaatkan dengan hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain ”

” Ya..ya… saya pernah ngobrol dengan almarhum. Benar apa yang dikatakan Mas Tjiploek. Terus Mas … ”

” Karena almarhumlah saya keluar dari pekerjaan saya dulu dan memulai usaha sendiri “


” Maksudnya ? “

” Almarhum bapak pernah memberi wejangan kepada saya. Begini wejangannya, saat kamu bekerja dengan orang lain (BOS) maka kamu harus menanamkan nilai-nilai syukur. Karena dengan bekerja kamu mendapatkan penghasilan berupa gaji yang nantinya dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu. Jadi bersyukurlah kepada Allah, karena masih ada orang (BOS) yang mau memenuhi kebutuhan hidup kamu. “

” Itu saya sudah mengerti, Mas Tjiploek. Itu khan sudah konsekuensi orang bekerja yaitu dapat penghasilan “

” Benar, tapi kata almarhum adalah selama kamu bekerja dengan Bos dan lewat gaji yang diberikan oleh Bos maka jangan sekali-kali menjelek-jelekan atau ngomongi Bos di belakang karena kurang baik. Lebih baik diam dan menikmati pekerjaan yang diberikan. Ingat, ini bukan menjadi penjilat tapi sebagai rasa penghargaan kepada bos yang dengan uangnya (gaji) maka kamu dapat memenuhi kebutuhan hidup. Kecuali satu hal “

” Apa itu Mas ??? “

” Kecuali kamu sudah tidak butuh lagi dengan Bos atau sudah mendapatkan pekerjaan lain dengan gaji yang lebih besar atau kamu sudah merasa mampu untuk mandiri dan tidak mau bekerja dengan orang lain alias membuka usaha sendiri. Nah di saat kamu membuka usaha sendiri maka akan terasa hukum karma yaitu kalau kamu selama kerja dengan orang lain selalu kasak-kusuk, jelek-jelekin dan gosipin Bos maka saat kamu jadi Bos maka kamu akan mengalaminya yaitu dijelek-jelekin anak buah di belakang kamu. Lebih baik kamu berterus terang kepada anak buah dengan kondisi usaha dan mengatakan kepada mereka bahwa kamu hanya bisa memberi gaji sekian. Apabila merasa kurang cukup lebih baik mencari pekerjaan di tempat lain dengan gaji yang lebih besar dari tempat kamu. Atau menasehati mereka untuk belajar dulu tentang usaha dan tekuni agar mereka bisa mandiri dan mempunyai usaha sendiri. Jadi selain tidak menambah dosa tapi mendapatkan ilmu pengertahuan yang dapat dimanfaatkan untuk diri dan keluarganya. “

” Ohhhh gitu Mas, Saya jadi tambah mengerti dan makin mantap dengan tujuan hidup saya “

” Itulah Di, hidup kita sudah penuh dengan dosa maka jangan ditambahi lagi dosanya. Kalau kamu mampu untuk mandiri maka kamu keluarlah dari tempat kerjamu. Itu tindakan yang elegan daripada menjadi seorang provokator di perusahaan. Sudah ngomongi/jelek-jelekin Bos tapi masih mau menerima uang (gaji) dari Bos dan itu untuk kasih makan anak istrinya lagi “



” Waduh, terima kasih Mas Tjiploek….AKU MAMPU MAKA AKU KELUAR….AKU MAMPU MAKA AKU KELUAR…AKU MAMPU MAKA AKU KELUAR !!!! “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s