Ikatan (Simpul/Simpay)

Tampak Tjiploek sedang menikmati bulan purnama di beranda rumahnya. Pikir Tjiploek saat itu, inilah saat yang tepat untuk melakukan tafakur diri atas apa yang terjadi seharian tadi. Baru akan melakukan sikap diam, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengucapkan salam.

” Assalamualaikum ”

“Wa alaikumussalam ”

” Sedang apa Mas Tjiploek ? Malam-malam begini duduk sendirian dalam kegelapan tanpa sinar lampu sama sekali. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang serius Mas…..”

” Ehhh Ustad Mamad, bikin kaget dan malu saja. Saya memang sedang menikmati malam sambil bertafakur diri tentang apa yang telah saya perbuat terhadap lingkungan seharian tadi hehehehe ”

” Apa yang diperoleh dari tafakur tadi Mas Tjiploek ? ”

” Belum juga dimulai dan baru meyiapkan posisi yang enak, tiba-tiba Ustad datang hehehe ya sudah saya hentikan dulu dan nanti juga bisa khan kapan saja bisa melakukan tafakur. Benar ga Tad ??? ”

” Mas Tjiploek bisa aja, saya rasa Mas sudah paham. Memang Mas Tjiploek selalu rendah hati ”

” Supaya lebih enak ngobrolnya bagaimana kalau saya buatkan kopi panas dulu…Ok ! ”

” Ga usah repot-repot Mas. ”

Kemudian Tjiploek masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan hidangan kopi panas buat Pak Ustad.

” Nah ini dia kopi panas racikan saya Tad. Mudah-mudahan ustad suka kopi buatan saya hehehehe ”

” Terima kasih Mas ”

” Omong-omong, ada angin apa yang membawa ustad mau berkunjung ke rumah saya. Saya berharap ustad mau membagi-bagi rejeki nich ”

” Ha ha ha, kalau bagi-bagi rejeki sich ga tapi kalau masalah iya. Ga apa-apa khan kalau saya bagi-bagi masalah ke Mas Tjiploek biar terasa seimbang antara nikmatnya kopi dengan nikmatnya masalah hehehehe ”

” Apa yang dapat saya bantu Tad ? Tolong jelaskan masalahnya ”

” Begini Mas Tjiploek, 4 hari yang lalu saya pulang kampung karena Bapak menelpon agar saya segera pulang. Tidak seperti biasanya Bapak bersikap demikian. ”

” Tapi maaf Tad, bagaimana kabarnya Pak Kyai Syafi’i ? Sehat? Beliau khan sudah sepuh sekali dan bagaimana perkembangan pesantrennya ”

” Eh Mas Tjiploek ini kalau tanya ga berhenti-henti, kondisi Bapak baik walaupun sudah sepuh tapi beliau sehat dan segar. Mungkin karena ibadahnya yang kuat sehingga tampak selalu sehat. Memang sekarang beliau sudah tidak mengajar dan lebih banyak istirahatnya.Nah inilah mengapa saya dipanggil oleh beliau. ”

” Maksud Ustad apa nich ”

” Bapak menyuruh saya untuk pulang kampung dan mengajar di pesantrennya selain itu beliau berharap saya untuk menggantikannya sebagai pimpinan pondok pesantren. Tahu sendiri khan Mas, kami hanya 3 bersaudara yatu saya dan 2 orang adik (laki-laki dan perempuan). Sebagai sulung, sudah kewajiban untuk meneruskan cita-cita beliau. Cuma masalahnya adalah tinggal saya yang masih lajang sedangkan kedua adik saya sudah menikah dan tinggalnya berjauhan, satu di Sukabumi dan yang lain di Kalimantan. ”

” Sudah saya duga sebelumnya dan senang mendengarnya kalu Ustad ditunjuk untuk menggantikan posisi Pak Kyai Syafi’i karena ustad punya kemampuan dan ilmu agama yang baik sekali. Trus masalahnya apa Tad ? ”

” Kemarin Bapak bicara dengan saya tentang kelajangan saya. Beliau telah mempunyai calon istri untuk saya. Kebetulan calon istri saya masih santri di pesantren Bapak. Kami sudah dipertemukan dan menurut saya, orangnya baik, alim dan sopan santun. Disamping itu saya sudah bertemu juga dengan orang tuanya (calon mertua) dan Bapak sudah meminta kepada mereka agar puterinya mau menjadi pendamping hidup saya. Alhamdulillah mereka menyetujui. Akhirnya saat itu juga Bapak melamar buat saya dan dengan kesepakatan 40 hari lagi dari saat itu, kami akan dinikahkan. ”

” Aduh, selamat ya Tad, senang saya mendengarnya. Saya pasti akan datang untuk menghadiri pernikahan Ustad walaupun harus melanggar 3 pantangan diri yaitu salah satunya menghadiri undangan pernikahan hahahaha ”

” Terima kasih Mas tapi masih ada satu hal yang mengganjal dalam diri saya ”

” Apa itu Tad kalau boleh tahu ”

” Saya dan Bapak belum menanyakan persetujuan kepada calon isteri apakah dia ikhlas untuk menerima pinangan dari kami. Kelihatannya orang tuanya juga khilaf dengan langsung menyetujui tanpa bertanya kepada puterinya. Sebagai anak, mungkin akan menyetujui saja keinginan orang tuanya sebagai tanda patuhnya anak kepada orang tua walaupun hatinya menolak atau berontak. Itulah Mas Tjiploek yang mengganjal pikiran saya dari kemarin. Menurut Mas Tjiploek bagaimana ? ”

” Wah Ustad bagaimana sich ? Tanya begitu ama saya, saya sendiri masih jomblo dan masih minim ilmu saya tentang hal beginian. ”

” Tapi bolehkan kalo saya minta pendapat Mas Tjiploek siapa tahu saya mendapatkan pencerahan. Siapapun dia kalau Allah SWT menghendaki akan menjadi sumber ilmu bagi manusia yang lain walaupun hanya seorang gelandangan ”

” Ya sudah kalau begitu. Sebelum saya bicara tentang hal tersebut, saya hanya ingin bercerita tentang sejarah jaman dulu sekitar abad ke-16 dimana cuma gara-gara hal yang seperti yang dialami ustad maka terjadilah peperangan diantara keduanya. ”

Tjiploek diam sejenak sambil menyalakan rokok Dji Sam Soenya dan tampak Ustad menunggu cerita dengan seksama.

” Lho kok diam Mas “

” Ga diam kok Tad, cuma lagi ngatur alur cerita yang pas tentang sejarah yang akan saya sampaikan ”

” Trus bagaimana Mas Tjiploek ? ”

” Begini, pada abad ke-16 ada 2 buah kerajaan yang saling berdampingan dan hidup dengan damai. Kedua kerajaan tersebut pada awalnya masih dalam satu rumpun kekerabatan yang kuat. Demi sebuah nilai kekeluargaan yang selalu hidup rukun dan berkeadilan maka dalam perjalanan waktu pecah menjadi beberapa kerajaan tapi hanya 2 kerajaan tersebut yang besar menurut ukuran wilayahnya ”

” Kerajaan tersebut dimana dan apa namanya Mas Tjiploek ? ”

” Maaf Tad, demi menjaga nama baik dan jasa besar seorang tokoh dalam perjalanan sejarah penyebaran agama besar di negeri ini maka saya tidak dapat menyebutkan namanya ”
Kemudian Tjiploek mendekat Ustad dan membisikkan sesuatu. Tampak Ustad menyimak apa yang dibisikkan oleh Mas Tjiploek sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

” Oh itu toh, ya saya mengerti maksud Mas Tjiploek untuk merahasiakan mengenai kerajaan-kerajaan tersebut. Tapi kelanjutannya bagaimana Mas ? ”

” Suatu hari seorang Pangeran dipanggil oleh kakeknya yang nota bene adalah seorang Raja Besar untuk segera menghadap. Oleh Raja Besar diperintahkan agar Sang Pangeran untuk menerima tugas dan amanah. Tugas dan amanah itu adalah untuk menggantikan Raja Besar dan melebur kerajaan menjadi satu kerajaan yang selama ini merupakan kekuasaan Sang Pangeran. Tapi ada syaratnya yaitu Sang Pangeran, 4 orang Patihnya dan seluruh rakyatnya untuk segera berganti agama dari agama Hindu menjadi agama Islam. Menurut Sang Raja Besar yang akan segera turun tahta dan menjadi pandita bahwa agama Islam adalah agama penyempurna dan dibawa oleh seorang Nabi Terakhir yang menyempurnakan seluruh ajaran agama di dunia termasuk agama Hindu yang dianut sang Raja Besar. Biarlah Sang Raja Besar dan beberapa pengikut setianya yang tetap menganut agama Hindu. Setelah itu diislamkanlah Sang Pangeran dan seluruh kerajaan oleh seorang Sunan Besar yang juga Raja dari Pantai Utara dan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Sang Pangeran. ”

Kembali Tjiploek menghisap rokoknya dan sesekali menikmati kopi pahit khas kesukaannya.

” Lantas kelanjutannya bagaimana Mas ? ”

” Setelah Sang Pangeran diislamkan maka dialah yang berhak atas kekuasaan dari kerajaan yang ditinggalkan oleh Raja Besar. Kemudian Sang Pangeran mulai mendalami ajaran Islam lewat ajaran Sunan Besar. Setelah beberapa tahun kemudian, karena dianggap pandai oleh Sunan Besar maka disarankan agar Sang Pangeran untuk mendalami ilmu yang lain dari ajaran Islam ke daerah Timur yaitu ilmu agama yang diajarkan oleh Sunan Jawa yang masih merupakan sahabat Sunan Besar. Maka berangkatlah Sang Pangeran beserta 4 Patihnya. Di dalam perjalanan ke Timur, di tengah hutan Sang Pangeran bertemu dengan seorang wanita cantik dengan kulit halus, cantik dan bertutur bahasa yang santun. Kemudian Sang Pangeran bertanya kenapa seorang wanita cantik ada di dalam hutan sedang melakukan apa disana. Dijawab oleh sang wanita bahwa hutan tersebut sudah bukan tempat yang menyeramkan karena memang tempatnya dia bermain dan bertafakur. Rupanya di dalam hutan tersebut ada sebuah rumah dengan gaya khas kerajaan Timur. Betapa kagetnya sang Pangeran dan bertanya kepada wanita tersebut apakah ada hubungan kekerabatan dengan Sunan Jawa yang juga bangsawan kerajaan. Dijawab oleh Sang Wanita bahwa benar dia masih ada kekerabatan dengan Sunan Jawa dan ternyata adalah adik kandung dari Sunan Jawa. Lama kelamaan terjadilah pembicaraan yang makin menarik dan cocok. Dari awal sang wanita memang sudah tertarik dengan Sang Pangeran yang selain ganteng, tinggi besar, semampai, gagah dan tampak maskulin. Tanpa disengaja keluarlah kalimat dari mulut Sang Wanita bahwa dia sangat mencintai Sang Pangeran dan berjanji tidak akan mencintai bahkan menikah dengan orang lain selain dengan Sang Pangeran yang disertai dengan kalimat demi Allah dan Rasul beserta alam semesta yang menjadi saksi ucapannya. Betapa kagetnya Sang Pangeran mendengar ucapan Sang Wanita dan segera beristighfar sambil mengingatkan Sang Wanita agar  beristighfar karena ucapan itu adalah doa maka berhati-hatilah dalam berbicara. kalau peribahasa sekarang adalah mulutmu adalah harimaumu. Karena sudah dihinggapi oleh nafsu asmara yang membara tetap saja sang wanita mengucapkan kalimat kecintaan yang mendalam terhadap Sang Pangeran. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka Sang Pangeran meminta Sang Wanita mengantarkan rombongannya ke tempat kakak kandungnya yang merupakan seorang bangsawan kerajaan yang terkenal dengan Sunan Jawa. ”

” Setelah ketemu dengan Sunan Jawa bagaimana selanjutnya Mas Tjiploek, ternyata makin seru saja ceritanya ”

” Nanti dulu Tad saya mau menyalakan rokok dulu Ok ”

” Ok Mas, atur saja ”

” Kemudian Sang Pangeran mulailah belajar ilmu agama Islam lanjutan yang merupakan ilmu khas Sunan Jawa. Karena di kerajaan tersebut ada aturan seperti pesantren sekarang yang membatasi hubungan perempuan dan pria maka tidak memungkinkan adanya pertemuan yang lebih dalam antara Sang Pangeran dan adik Sunan Jawa. Lagipula niat Sang Pangeran dari awal adalah mencari ilmu dan pengalaman agama Islam dari Sunan Jawa. Selain itu adik Sunan Jawa diperintahkan untuk belajar agama kembali kepada Sunan Besar tapi rasa cinta yang kuat masih bersemayam di hati wanita tersebut dan dengan tekad tidak akan mencintai pria lain apalagi menikahinya. Setelah beberapa tahun belajar dengan Sunan Jawa dan dianggap sudah semua ajaran diberikan maka saatnya untuk kembali pulang ke kerajaannya. seperti biasa dalam perjalanan pulang, Sang Pangeran mampir dulu ke kerajaan Sunan Besar yang juga merupakan gurunya dan betapa kagetnya Sang Pangeran melihat aktifitas yang terjadi di dalam ibu kota kerajaan. Oh rupanya akan diadakan pesta kerajaan. Rupanya akan diadakan acara pesta perkawinan. Betapa kagetnya Sang Pangeran setelah mendapatkan informas bahwa yang akan menikah adalah Sunan Besar dengan Sang Wanita (adik Sunan Jawa) sebagai isteri ke-41. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka Sang Pangeran tidak menghadiri acara ijab qabul dan pesta pernikahan tersebut dan bersama dengan rombongannya Sang Pangeran menginap dan beristirahan di Mesjid Agung Kerajaan Sunan Besar serta segera meninggalkan kerajaan setelah sholat Subuh keesokan harinya. ”

” Mas Tjiploek, tahu ga si wanita tersebut dengan kedatangan Sang Pangeran di kerajaan tersebut ? ”

” Sabar dong Tad tarik napas dulu hehehehehehe ”

” Atur aja Mas ”

” Rupanya Sang Wanita mengetahui kedatangan Sang Pangeran berdasarkan info dari para dayang. Benar saja malam harinya Sang Wanita dengan ilmunya yang didapat dari Sunan Jawa maka dapat menggendam seluruh kerajaan  termasuk suami barunya Sunan Besar agar dapat bertemu dengan pujaan hatinya. Baru akan memasuki pintu mesjid agung tiba-tiba sebuah pedang sudah mengarah ke lehernya. Pedang tersebut merupakan milik Patih Utama Sang Pangeran yang gagah perkasa. Ditanyalah oleh Sang Patih Gagah Perkasa apa maksud kedatangan Sang Wanita dan menggangu ketenangan Sang Pangeran yang sedang berzikir. Karena Zikir Sang Pangeran itulah maka seluruh rombongan tidak terkena gendaman Sang Wanita. Betapa kagetnya Sang Wanita mengetahui betapa saktinya ilmu Sang Pangeran dan terus memohon kepada Sang Patih untuk dapat bertemu. Setelah merampungkan zikirnya, Sang Pangeran segera menemui Sang Wanita dan bertanya apa maksud kedatangan Sang Wanita. Sang Wanita memohon maaf atas kesalahannya mengingkari janjinya untuk tidak menikah dengan orang lain. Diterangkan bahwa pernikahan itu dilakukan dengan tidak adanya keikhlasan dari Sang Wanita dan hanya merupakan wujud kepatuhan kepada Sunan Jawa (kakak kandungnya) serta mana mungkin  seorang santri wanita menolak pinangan Sang Sunan Besar yang nota bene adalah Kyai besar, teman akrab kakak kandungnya dan lebih utama adalah guru ngajinya yang sangat dihormati. Betapa kagetnya Sang Pangeran setelah mengetahui bahwa pernikahan itu tidak dihadiri oleh Sunan Jawa sebagai wali nikah Sang Wanita dan dilakukan oleh seorang penghulu yang masih merupakan santri Sunan Besar  serta tidak disampaikan ke forum nikah saat itu tentang persetujuan atau keikhlasan dari orang-orang yang hadir di pernikahan tersebut terutama pengantin wanitanya. ”

” Tragis sekali Mas Tjioploek pernikahannya ”

” Jangan bicara begitu Tad, tetap nasi sudah menjadi bubur dan itu merupakan contoh yang kurang baik dari pelaksanaan rukun nikah. ”

” Kemudian apa yang dilakukan oleh Sang Pangeran ? ”

” Dengan jiwa besar walaupun terasa berat, Sang Pangeran mengatakan bahwa ini merupakan suatu kealpaan dari seorang manusia dalam berbicara, berbuat dan bertindak. Sejak dari pertama kali Sang Wanita menyatakan janjinya, Sang Pangeran menyuruhnya untuk beristighfar dan mencabut janjinya tapi karena nafsu dan setan asmara yang merasuki hatinya maka tidak kuat menahannya. Kembali lagi masalah keimanan seorang manusia diuji. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka Sang Pangeran menyuruh Sang Wanita kembali ke kerajaan dan segera bersiap-siap pergi meninggalkan kerajaan sebelum matahari terbit. Tetapi apa yang terjadi ? Tanpa sepengetahuan Sang Pangeran, Sang Wanita mengikuti dari kejauhan perjalanan pulang. Tapi  kembali lagi Sang Patih Gagah Perkasa yang mengetahui gerak gerik Sang Wanita dan melaporkan kepada Sang Pangeran. Dengan segera diperintahkan agar rombongan menghentikan sejenak di perbatasan di kedua perbatasan sambil menemui Sang Wanita. Berkali-kali Sang Pangeran menyuruh Sang Wanita untuk kembali ke kerajaan tapi tetap Sang Wanita ngotot mengikuti Sang Pangeran dengan alasan sebagai bentuk rasa penyesalan yang mendalam akibat  ingkar janji. Maka diputuskan oleh Sang Pangeran bahwa boleh mengikuti Sang Pangeran hanya sampai di perbatasan dan diberikan tempat tinggal yang nyaman buat Sang Wanita. Disamping itu Sang Pangeran segera menyuruh seorang utusan untuk memberitahu Sunan Besar bahwa isteri barunya Sunan Besar ikut bersamanya dan berada diperbatasan serta segera untuk menjemputnya. Sebelum utusan Sang Pangeran tiba, keesokan paginya di kerajaan Sunan Besar terjadi kegemparan dimana isteri baru Sunan Besar menghilang dengan disertai ketidakberadaan rombongan Sang Pangeran. Terjadilah isu di dalam kerajaan bahwa isteri baru Sunan Besar dibawa kabur oleh Sang Pangeran. Benar saja dengan yang diduga sebelumnya bahwa betapa murkanya seluruh kerajaan Sunan Besar termasuk Rajanya (Sunan Besar) maka diperintahkan seluruh pasukan untuk bergerak keperbatasan untuk mengejar rombongan Sang Pangeran. Rupanya di tengah jalan kerajaan bertemu dengan utusan Sang pangeran tapi tanpa basa basi dibunuhlah utusan tersebut tanpa pernah menyampaikan isi surat yang dibawa oleh utusan tersebut karena angkara murka sudah merasuki hati manusia saat itu. ”

” Terus apa yang terjadi Mas ? ”

” Seperti diduga sebenarnya maka terjadilah peperangan. Tapi sebelumnya 4 Patih Sang Pangeran sudah mengetahui pergerakan pasukan kerajaan Sunan Besar dan kematian utusan Sang Pangeran. 4 Patih memerintahkan Sang Pangeran untuk menunggu di atas bukit dan seluruh rakyat kerajaan untuk mengungsi ke daerah yang aman. Tetapi tetap saja pasukan kerajaan Sunan Besar tidak dapat bergerak masuk ke dalam dan hanya sebatas sampai perbatasan karena kesaktian 4 patih tersebut. Dalam peperangan tersebut pada akhirnya merenggut nyawa Sang Pangeran yang dibunuh dengan cara memancing turun dari bukit setelah melihat seorang wanita cantik di tengah sungai  yang merupakan penyamaran satu makhluk gaib milik kakek Sunan Besar yang mengetahui kelemahan ilmu Sang Pangeran. Sang Wanita yang merupakan isteri ke-41 Sunan Besar ditebas kepalanya oleh pedang Sang Patih Gagah Perkasa sebagai bentuk kemarahan atas kematian Sang Pangeran dan penyebab peperangan tersebut yang seharusnya tidak perlu terjadi. ”

” Wao luar biasa cerita sejarahnya Mas Tjiploek ”

” Tapi saya anggap ini sebagai dongeng karena kita tidak mengalami, melihat dan merasakan kecuali ada satu pesan moral yang didapat dari cerita tersebut tentang ikatan perkawinan harus dilandasi oleh kejujuran dan keikhlasan kedua belah pihak antara pengantin pria dan pengantin wanita beserta keluarga yang hadir saat ijab qabul ”

” Terima kasih Mas Tjiploek atas ceritannya. Hal ini makin menguatkan hati saya untuk menanyakan terlebih dahulu kesediaan wanita pilihan Bapak dengan ikhlas untuk menjadi pendamping hidup saya agar tidak terjadi fitnah apalagi peperangan hehehehe ”

Kemudian keduanya duduk di beranda meneruskan pembicaraan dengan tema yang lain sambil menunggu azan Subuh.

2 thoughts on “Ikatan (Simpul/Simpay)

  1. Hmmm, jadi penasaran nech…kenapa sih, pantang menghadiri pernikahan? *usildotcom* Kawatir didaulat jadi penghulu ya? Hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s