Siratan Seorang Anak Kecil (Kisah 3 Ekor Cecak)

” Assalamualaikum, Om Tjiploek “

” Wa alaikumussalam, eeeeeh kamu Dod ”
Sebuah salam yang memecah pembicaraan santai antara Tjiploek dengan 2 orang tamunya yaitu Kang Agus dan Mas Cipto di ruang tamu.

” Ada apa nich keponakanku yang cakep. Kemari sama Papa ? “

” Dodi sendirian saja dan kangen sama Om hehehehehe “

” Kangen atau …… “

” Dua-duanya “

” Ya nanti Om kasih. Buat apa sich ???? “

Tampak malu Dodi untuk menjawabnya. Dodi adalah anak berumur 10 tahun dan masih keponakan Tjiploek karena dia adalah anak pertama kakak kandung Tjiploek persis diatasnya. Dodi, anak yang sangat cerdas dan kadang-kadang orang tuanya kewalahan terutama kalau ditanya hal-hal yang menurut ukuran anak-anak tidak mungkin untuk menanyakan hal tersebut (orang dewasapun belum tentu menanyakan hal yang seperti ditanyakan oleh Dodi). Dodi memang sangat dekat dengan Tjiploek karena Tjiploek selalu dapat memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan yang diberikan oleh Tjiploek. Yang lebih mendekatkan keduanya, Tjiploek sungguh perhatian dan memberikan sedikit uang jajan untuk Dodi. Hehehehe dasar anak-anak (demikian yang selalu diucapkan Tjiploek setiap Dodi mau pulang).

” Om Tjiploek, Dodi mau tanya nich “

” Dodi mau tanya apa ? “

” Ini sebetulnya bukan pertanyaan serius tapi tebak-tebakan. Pasti Om tidak bakalan bisa menjawabnya “

” Memang kalau tebak-tebakan Om Tjiploek bukan jagonya hehehe “

” Begini Om, kalau di atas langit-langit rumah ada 3 ekor Cecak. Kemudian oleh kita diketapel dengan gelang karet dan hanya satu yang kena sehingga cecak tersebut jatuh ke lantai maka sekarang tinggal berapa cecak yang ada di langit-langit ? “

” Itu sich pertanyaan mudah Dod. Tinggal 2 cecaknya dong “

” Salah “

” Lho kok salah, khan Dodi belajar matematika di sekolah tiga dikurangi satu menjadi dua khan ? “

” Benar kalau menggunakan hitungan matematika tetapi tetap salah jawaban Om Tjiploek “

Terbelalak mata Tjiploek mendengar ucapan keponakannya tersebut.

” Terus yang benar tinggal berapa dong Dod ? “

” Hahahaha Om Tjiploek nyerah ya ? Begitu mudah pertanyaan ini Kok “

” Iya tapi yang benarnya berapa ? “

” Nol alias sudah tidak ada lagi yang Cecak bertengger di langit-langit “

” Kok bisa sich Dod “

” Bingung ya Om hehehehe “

” Ya bingung juga dengan jawaban kamu “

” Nih Dodi kasih tahu tapi nanti uangnya ditambah ya. Dodi mau beli buku ama mainan. Tabungan Dodi masih belum cukup buat beli “

” Oke pokoknya siiiplah “

” Begini Om, saat seekor cecak terkena ketapel karet gelang dian jatuh ke lantai maka kedua teman cecak yang ada di langit-langit bukan prihatin dan membantu temannya malah tertawa-tawa bahkan teriak-teriak kegirangan sambil bertepuk tangan tanpa menyadari tangan buat pegangan mereka di langit-langit terlepas sehingga keduanya ikut jatuh juga ke lantai . Akhirnya malah menjadi korban berikutnya mengikuti cecak pertama yang jatuh hehehehe “

” Ohhhh gitu ” (Tjiploek hanya geleng-geleng kepala sambil mengucap dalam hati ” rupanya saya dikerjain sama anak kecil nich “)

” Benar ga Om Tjiploek ? “

” Ya dech benar kamu hahaaahahahaha (sambil garuk-garuk kepala) “

” Jadi mana uangnya Om Tjiploek ? “

” Ya ya ya nanti Om kasih sekarang kamu masuk dulu ketemu nenek di kamar. sekalian temani nenek nonton TV ya ”
Segera Dodi masuk ke dalam kamar neneknya.

” Ploek, kok benar sich dan mengiyakan jawaban Dodi ? ” jawab Kang Agus

” Yaa benar tuh Kang Agus ” jawab  Mas Cipto

” Mana mungkin cecak tepuk tangan dan jatuh ke tanah cuma gara-gara lepas tangan hehehe kayak main sepeda aja ” ujar Kang Agus

” Kang Agus dan Mas Cipto memang benar tapi tahu ga maksud pertanyaan/tebak-tebakan Dodi tadi “

” Ga tahu Ploek ” serentak keduanya menjawab.

” Alhamdulillah, kembali Allah memberikan hidayahnya walaupun melalui seorang anak kecil “

” Kok jadi bawa-bawa nama Allah ” ucap Mas Cipto.

” Begini, semua yang terjadi tadi maupun apapun tidak datang dengan sendirinya alais ujug-ujug bahasa jawanya. Semua mengandung arti dan makna yang tersirat dari suatu kejadian. Sebetulnya kita diingatkan oleh Allah melalui Dodi. Ini sering kali kita melupakannya bahkan kita seperti mengalami ekstasi saking kita menikmatinya “

” Maksudnya Ploek ” tanya Kang Agus

” Kang Agus khan kerja dan seringkali mengeluh bagaimana sesama teman sekantor saling sikut-sikutan demi sebuah jabatan. Kalau ada teman yang dimarahi Bos karena ketidak beresan kinerja, kita malah senang dan bersorak gembira bahkan menyumpahi. Kemudian kalau kita yang dimarahi oleh Bos supaya tidak hanya kita saja yang dimarahi maka berharap ada teman sekantor yang berbuat salah pada hari itu  terutama pada hal-hal dimana kita berbuat salah pada masalah A misalnya sehingga berharap ada temannya dan tidak kita saja yang kena omelan. Benar ga ???? Bukan prihatin atau menyemangati  teman malah menjebloskan teman “

” Hehehehe benar juga sich “

” Trus Mas Cipto “

” Kok saya sich ? “

” Iya, Mas Cipto khan pebisnis/pedagang “

” Benar Ploek, terus … “

” Kalau misalnya ada pelanggan yang nakal dan bermental buruk tanpa mengenal etika bisnis sehingga membuat kerugian. Karena kita  sudah mencap jelek terhadap pelanggan tersebut maka pasti kita ga bakalan mau lagi berbisnis dengannya. Apabila suatu saat kita mendengar pelanggan tersebut berbisnis dengan teman seprofesi, kita malah membiarkan dan tidak mengingatkan teman seprofesi mengenai kondite pelanggan tersebut. Malah menyumpahi kalau ternyata teman seprofesi mengalami nasib yang sama dengan kita yaitu sama-sama dirugikan. Khan seharusnya kita pebisnis pada bidang yang sama atau istilah orang sekarang ada asosianya kompak untuk sama mengingatkan dan melakukan aksi boikot terhadap pelanggan-pelanggan yang nakal bukan membiarkan. Akhirnya yang terjadi malah semuanya dirugikan dan bisa berakibat kebangkrutan. Seharusnya biar kita saja yang rugi tetapi teman seprofesi jangan mengalami apa yang kita alami walaupun dianggap kompetitor. Itu yang dinamakan kompetisi yang sehat bukan cari teman yang sama-sama rugi hehehe. Dengan begitu khan kita bersama-sama menjaga dan mengendalikan keseimbangan bisnis. Itulah mengapa begitu banyak asosiasi bisnis yang tidak banyak perannya dan sepertinya pengusaha berjalan sendiri-sendiri padahal mereka selalu mengatakan rejeki sudah diatur oleh Allah SWT “

” Aduh kena dech kita diingatkan sama anak kecil Kang Agus “

” Tidak apa-apa malah bagus supaya kita makin hati-hati, jeli dan teliti “

” Mungkin ini yang dinamakan berat sama dipikul ringan sama dijinjing ya Ploek ” tambah Kang Agus

” Ya begitulah, saya kurang mengerti tentang peribahasa hehehe. Jadi kalau ada yang mengalami kesusahan atau musibah maka kita harus membantu ya minimal mendoakan agar tabah, sabar atau tawadulah  bukan malah teriak-teriak kegirangan dengan sekeras-kerasnya, tertawa-tawa sepuas-puasnya dan tepuk tangan senyaring-nyaringnya “

” Om Tjiploek, Dodi mau pulang mana uangnya ? “

Tjiploek langsung merogoh sakunya sambil mengeluarkan uang 10 ribu sambil berpikir bakalan tidak merokok lagi hari ini. Masalahnya sekarang bisa merokok karena pemberian Kang Agus. Tetapi tidak apa-apa, yang penting dapat ilmu hari ini.

” Salam buat Papa Mama ya Dod “

” Ya, Assalamualaikum “

” Wa alaikumussalam ” serentak Tjiploek, Kang Agus dan Mas Tjipto menyahut salam Dodi.

2 thoughts on “Siratan Seorang Anak Kecil (Kisah 3 Ekor Cecak)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s