Kerokan di Malam Minggu

Kerokan di bagian tangan (doc. pribadi)

” Waduh kelihatannya saya masuk angin nich ? Tolong dong saya dikerok supaya anginnya bisa keluar “

Itulah salah satu permintaan seorang teman saat saya berkunjung ke tempat kontrakannya di daerah Kemayoran Gempol yang padat penghuninya pada malam minggu ini. Dan segeralah teman satu kontrakannya mengambil uang koin, minyak kayu putih dan tatakan piring

Sang teman membuka bajunya dan duduk di bangku kecil sambil menunggu teman kontrakannya menyiapkan segalanya untuk kerokan. Tampak piring telah diberi minyak kayu putih dan sebuah koin uang Rp 100 jaman dulu tergeletak di tatakan piring.

Mulailah sang teman menikmati kerokan tersebut. Tampak sesekali meringis menahan sakit  dan mulailah garis-garis berwarna merah di punggung teman saya. Ini menandakan bahwa sang teman memang benar-benar masuk angin. Dikerok satu persatu bagian punggung membentuk model kerangka tulang. Selanjutnya diteruskan bagian depan badan  sampai ke tangan. Sang teman mulai menikmati kerokan teman kontakannya dan tanpa disadari mata teman bercair dan kemerahan serta sekali-kali bersenggukan seperti mengeluarkan udara dari mulutnya.

Beberapa saat kemudian sang teman bertanya “Kok belum ada perubahan ya, kelihatannya angin di dalam perut masih berputar-putar “

Saya menjawab, ” Habis dikerok  sebaiknya pakai bajumu supaya badan tidak masuk angin lagi akibat pori-pori di tubuhmu yang dipaksa terbuka dapat dimasuki lagi oleh angin “

Teman saya mengiyakan apa yang saya katakan dan selanjutnya segera memakai bajunya. Kemudian saya sarankan segera meminum air bawang yaitu bawang merah yang telah dicuci tanpa menghilangkan kulit arinya dikeprek dengan batu ulekan dan masukkan ke dalam gelas teh. Kemudian tuangkan air panas yang mendidi ke dalam gelas tersebut sampai seperempat gelas. Tunggu air berisi bawang merah menjadi hangat-hangat kuku  dan langsung diminum. Memang air bawang tersebut mempunyai bau khas yang menyengat tapi harus dipaksakan agar cepat keluar anginnya.

Tak terasa sang teman mulai merasakan angin keluar dari badannya baik lewat kentut maupun segukan mulutnya.  Tampak sekali sang teman merasakan badan yang ringan dan merasa kantuk yang amat sangat. Kemudian sang teman minta ijin kepada saya untuk istirahat. Rupanya kondisi tubuhnya mulai baikan dan tertidurlah.

Kerokan ? Itu mah Indonesia banget, siapapun mengenal istilah kerokan dan tak mengenal tua atau muda, laki-laki atau wanita dan sebagainya. Kerokan sangat identik dengan masuk angin  dan ini cara yang paling mudah dan praktis dalam mengatasi masuk angin. Tanpa perlu obat-obat kimia cukup bahan dan peralatan yang sederhana.

Berikut adalah sebuah artikel yang membahas tentang ” Mengatasi MASUK ANGIN dengan KEROKAN! ” (ISFINATIONAL).

Masuk angin memang bukan penyakit berbahaya. Namun, bila sudah parah, virus mudah masuk tubuh. Untuk pencegahan bisa diatasi salah satunya dengan kerokan.

Kebanyakan orang Eropa mengatasi gejala flu (common cold) seperti pegal linu, perut kembung, batuk-pilek, pusing, sakit kepala, demam, meriang, dll, dengan makan sup panas, minum obat flu yang bisa didapat di toko-toko obat, lalu tidur berbungkuskan selimut.

Mirip dengan itu, orang timur khususnya orang Jawa mengatasi kondisi seperti itu dengan menghirup teh hangat atau minum ‘wedang jahe’ hangat. Sementara badan dibalur dengan minyak telon, kayu putih atau minyak apa saja yang bisa menghangatkan tubuh. Yang paling sering dilakukan adalah dengan kerokan.

Prinsip kerokan menurut Dr. Koosnadi Saputra, Sp.R, akupunkturis klinik, mirip prinsip pemanasan dengan menggunakan moxa yang sering dipakai saat jarum akupunktur ditusukkan pada tubuh untuk mengatasi masuk angin. Prinsip ini juga tidak jauh berbeda dengan model terapi kop yang biasanya menggunakan alat seperti tanduk, gelas, karet, tabung bambu dan lain-lain.

Di negeri asal teknik akupunktur, model terapi ini sudah resmi dipakai sebagai sarana penyembuhan. Menurut Mochtar Wijayakusuma, putra Hembing Wijayakusuma yang juga seorang akupunkturis, penelitian mengapa kerokan memiliki efek menyembuhkan juga pernah dilakukan di Universitas Ghuan Thou, sebuah universitas terkenal di Cina.

1. Memberi Rangsang Tubuh

– Dr. Koosnadi menyebutkan, prinsip kerokan adalah upaya meningkatkan temperatur dan energi pada daerah yang dikerok.

Peningkatan energi ini dilakukan dengan pemberian rangsang kulit tubuh bagian luar. Dengan merangsang permukaan kulit lewat dikerok, saraf penerima rangsang di otak menyampaikan rangsangan untuk menimbulkan efek memperbaiki organ yang terkait dengan titik-titik meridian tubuh seperti misalnya organ paru-paru.

– Dr. Handrawan Nadesul menambahkan, efek kerokan yang hendak dicapai adalah mengembangnya pembuluh darah kulit yang semula menguncup akibat terpapar dingin atau kurang gerak, sehingga darah kembali mengalir deras.

Penambahan arus darah ke permukaan kulit ini meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan virus.

Sementara itu alat kerokan biasanya menggunakan uang logam, koin, atau alat bantu khusus kerok yang terbuat dari plastik, tulang, keramik, batu giok, potongan jahe, potongan bawang, dan lain-lain. Alat-alat tersebut harus tumpul supaya tidak melukai kulit.

2. Berfungsi Menghangatkan

Fungsi minyak ini selain menghangatkan memang untuk melicinkan proses kerokan sehingga menghindari terjadinya kulit lecet.

Berbagai jenis minyak seperti minyak bayi, minyak jahe, dan minyak lain-lain bisa kita peroleh dengan mudah di toko-toko obat atau warung biasa. Namun jika kita malas pergi jauh-jauh atau keadaan sedikit darurat, artinya segera butuh bahan minyak, kita bisa gunakan minyak kelapa yang dicampur dengan jahe, kencur, sereh, laos, minyak kayu putih, bawang, cabai, dan lain-lain.

Bahan-bahan tersebut setelah dilumat dimasukkan ke dalam minyak yang hendak dicampur. Campuran dari bahan-bahan seperti ini sangat berguna karena minyak asiri yang terkandung di dalamnya juga berfungsi menghangatkan tubuh.

Saat dikerok, biasanya akan terjadi perubahan warna kulit. Kalau tidak merah, kulit bisa merah kebiruan, bahkan menghitam. Perubahan warna kulit ini menunjukkan tingkatan rasa sakit. Menurut Mochtar Wijayakusuma, warna kulit yang semakin menua menunjukkan semakin berat gangguan penyakitnya.

3. Sesuai Titik Meridian

– Kerokan biasanya dilakukan pada bagian tubuh seperti leher, bahu, punggung maupun pinggang. Atau bisa saja di seluruh bagian tubuh, kecuali alat kelamin, dubur, dan bola mata.

Koosnadi menyebutkan sebaiknya kerokan dilakukan dari arah atas ke bawah. Bisa juga mendatar. Sebaiknya arah kerokan disesuaikan dengan meridian. Supaya efektif kerokannya, sebaiknya berdasarkan pada titik akupuntur dan meridiannya sesuai dengan keluhan penyakit yang terjadi.

Satu hal yang patut diingat dan dilakukan bila Anda sudah kerokan adalah tidak mandi karena setelah kerokan, pori-pori kulit dalam kondisi terbuka. Lebih baik sekalah kulit dengan lap basah (yang dicelupkan pada air hangat lalu diperas).

Selain itu, Anda juga harus ingat bahwa kerokan hanyalah sebuah langkah pencegahan. Anda tetap harus memeriksakan dan mengkonsultasikan kondisi ini bila dalam tiga hari, sakit Anda tidak sembuh. Yang jelas, selama sakit lakukanlah hal-hal pendukung lainnya seperti misalnya banyak minum jus jeruk dan tomat, mengkonsumsi makanan dan minuman hangat (seperti wedang jahe, sup kaldu ayam segar yang ditambah wortel, brokoli, bawang merah dan putih) serta istirahat secukupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s