HIJAU ITU DI DEPAN MATA

Badan ini terasa lelah dan langsung tertidur tanpa menghiraukan apa yang terjadi di rumah. Sungguh remuk redam badan ini setelah sehari sebelumnya mengikuti Kopdar II di TIM Jakarta yang dilanjutkan dengan begadang dengan rekan-rekan Kompasianer sampai pagi hari di rumah seorang kompasianer.

Tanpa terasa saya tertidur pulas dan bangun-bangun sudah mendekati waktu Maghrib. Betapa terkejutnya saya melihat beranda rumah yang telah berubah suasananya. Ya suasana yang adem dan asri. Tampak ibu dengan kursi rodanya sedang memperhatikan perubahan yang terjadi tersebut.

Perubahan apakah yang terjadi ? Sebetulnya sederhana dan sangat menyentuh serta mengena di hati. Selidik punya selidik ternyata Ibulah yang melakukan perubahan tersebut. Beliau meletakkan pot-pot berisi tanaman-tanaman yang indah di depan beranda dan memasang krei dari bambu yang berfungsi untuk melindungi tanaman-tanaman tersebut dan juga menahan tempiasan air hujan yang selalu menggenangi beranda rumah pada waktu musim hujan.

Perubahan yang terjadi (dok.pribadi)

Memang beliau sangat menyukai tanaman dan senang berkebun. Tetapi beberapa tahun ini konsentrasi beliau untuk berkebun dan mengotak atik tanaman mulai berkurang yang diakibatkan oleh penyakit stroke yang dideritanya.  Stroke menyebabkan aktifitas beliau menjadi terbatas dan bergantung kepada kursi rodanya. Sudah hampir 4 tahun beliau menderita stroke dan tidak bisa jalan.

Terus bagaimana beliau melakukan perubahan tersebut ? Rupanya sejak seminggu lalu beliau selalu duduk di depan beranda untuk menunggu penjual tanaman yang biasanya sering lewat. Kebetulan hari minggu ini beliau bisa bertemu penjual tanaman. Nah oleh beliau  penjual tanaman tersebut disuruh untuk merawat tanaman-tanaman kesayangan beliau yang kurang perhatian selama ini. Perawatan yang dilakukan adalah dengan mengganti media tanam yang baru, memberikan pupuk kandang atau kompos, menyirami dan mengganti tanaman yang mati dengan tanaman baru yang bunganya indah sekali.

Sempat saya menegur beliau agar jangan membeli tanaman sembarangan karena nanti uangnya habis ludes. Tetapi dengan entengnya beliau mengatakan biarkan saja uang habis yang penting hati ini menjadi hijau, nyaman, tenang dan segar. Kata beliau, hijaunya tanaman dapat menghilangkan stres dan pikiran yang macam-macam. Disamping itu dapat mengurangi perasaan sedih akibat ditinggal almarhum bapak 4 tahun yang lalu. Memang tidak mudah meninggalkan kenangan indah dalam kebersamaan dengan orang yang dicintainya.  Sungguh romantis dan penuh kenangan yang indah. Kata beliau lainnya, uang habis mudah  dicari tapi cinta abadi  susah ditemukan. Maka tanaman-tanaman hijau dengan bunga yang indah bisa mengobati kehilanan orang yang dicintainya. Lagipila tidak mungkin anak-anaknya tidak mau memberikan  uang kalau beliau tidak punya uang lagi heheheehe. Bisa saja, tapi beliau memang orang yang pantas untuk dicintai dan disayangi anak-anaknya.

Ada satu tanaman yang menarik perhatian dan sempat saya menanyakan ke beliau. Kalau sepintas melihat dapat dipastikan tanaman tersebut adalah tanaman mawar. Tetapi yang menarik adalah bunganya yang berwarna merah putih yang kebetulan sedang berbunga. Ketika saya menanyakan apa jenis mawar yang ditanam di pot, beliau hanya mengatakan bunga mawar merah putih tanpa menjelaskan bahasa latinnya karena memang keterbatasan pengetahuan beliau terhadap jenis-jenis tanaman mawar yang ada.

Bunga Mawar (dok.pribadi)

Beliau hanya mengatakan alasan menyukai mawar merah putih tersebut karena selain indah juga melambangkan cinta yang dilandasi oleh kesucian, keberanian, kebenaran dan kejujuran. Mungkin alasan itulah yang menyebabkan para pendiri bangsa memilih bendera berwarna merah putih sebagai ciri khas bangsa Indonesia yang terkenal dengan bangsa yang beragama dengan menghormati nilai kemanusiaan, persatuan dan berani bicara kebenaran serta jujur dalam setiap ucapan dan perbuatannya.

Wow, sebuah perkataan yang menyesakkan hati. Ternyata beliau telah mengingatkan saya tentang makna perubahan. Perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri sebelum melakukan perubahan terhadap orang lain. Sama halnya dengan cintailah dirimu sebelum mencintai orang lain, bangsa dan negara karena mencintai diri berarti mencintai Sang Empunya diri yaitu Allah SWT.

Itulah yang membuat beliau menyukai tanaman karena hijaunya daun memberikan efek menyejukkan dan nyaman dilihat mata sehingga dapat menyegarkan pikiran dan rasa untuk mencintai segala ciptaan Allah SWT. Dan sesungguhnya  hijau itu ada di depan mata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s