Bertemu Kembali Sosok Kyai Bersahaja

” Cech, lagi dimana ? ” tanya Uyut.

” Saya lagi di Purwokerto ” jawab saya.

” Kalau bisa mampir ke Pak Kyai Ali Hasan, karena Uyut sudah lama kehilangan kabar beliau. Sekalian bawakan kalender tahun 2010 Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran untuk beliau ” permintaan Uyut Saya.

” Siap, Uyut, setelah urusan saya rampung. Pasti saya akan datang bersilaturahmi ke sana ” jawab saya

Selama dua hari ini saya memang melakukan perjalanan ke Purwokerto dengan kereta api untuk mengurus keperluan keluarga atas perintah Ibu. Sebetulnya saya mempunyai rencana setelah urusan selesai maka saya langsung pulang ke Jakarta.

Kebetulan sekali urusan keluarga kelar dengan cepat. Pas saat itu waktu menunjukan pukul 14.36 WIB (Jum’at Siang). Ya Sudah, karena ada perintah uyut, maka saya bersama kakak langsung berangkat ke pesantren Kyai Ali Hasan di daerah Bumiayu, Kabupaten Brebes dengan menggunakan mobil kakak. Selama perjalanan saya masih kuatir jangan-jangan Pak Kyai tidak ada di tempat dan berharap Pak Kyai sehat mengingat usia beliau kalau dihitung-hitung mendekati usia 90 tahun. Sebuah umur yang menurut ukuran normal dianggap sudah sangat sepuh dan mulai banyak kemunduran kemampuan panca inderanya.

Perjalanan ke tempat beliau ditempuh dalam waktu 1 jam (jaraknya kurang 40 km dari kota Purwokerto). Saya sempat berhenti ke sebuah toko kelontong untuk membeli oleh-oleh berupa makanan kaleng yang memang menjadi kesukaan beliau.

Tepat jam 15.46, saya tiba di pesantren beliau. Ternyata banyak sekali perubahan yan terjadi secara fisik di pesantren tersebut. Pesantren yang dulunya hanya beberapa ruang kelas, sekarang sudah makin banyak ruang kelasnya dan asrama tempat santrinya (baik pria maupun wanita) sudah makin luas. Kalau dipikir-pikir, telah terjadi perubahan besar-besaran dan areal pesantren makin luas.

Mobil yang disetir kakak saya sengaja di parkir persis di depan Mushola Pesantren karena kami tahu kebiasaan beliau kalau pada jam segitu pasti ada di mushola (berzikir setelah sholat Ashar). Kebetulan sekali, baru saja kami keluar mobil, salah satu anak beliau yang sudah kami kenal keluar dari rumah Pak Kyai. Sepertinya ingin mengetahui siapa tamu yang datang. Baru saja mengetahui kami datang, maka anak beliau langsung memeluk kami satu per satu seperti tidak percaya kalau kami yang datang (terutama saya yang memang sudah hampir 9 tahun tidak datang ke pesantren). Akhir kami langsung dibawa masuk ke ruang tamu dan dihidang berbagai macam makanan dan minuman.

Tepat seperti dugaan kami, tiba-tiba Pak Kyai nongol dari mushola. Langsung saya menghampiri beliau. Pada mulanya beliau bingung dan tidak percaya kalau yang datang saya. Segera saya mencium tangan beliau sebagai tanda hormat kepada orang yang dituakan. Dengan kata khasnya ” Masya Allah ” beliau segera mengajak kami ke ruangan khusus beliau padahal saat itu banyak tamu beliau yang datang sudah lebih dulu dari kami.

Setelah melepas kangen, kemudian saya menyampaikan amanah Uyut yaitu menanyakan keadaan beliau dan menyerahkan kalender tahun 2010 Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran. Setelah saya perhatikan, kondisi fisik beliau tidak ada perubahan antara lain ditunjukkan dengan gigi yang masih utuh, pendengaran yang masih baik, masih suka melakukan perjalanan (seminggu yang lalu baru pulang dari Jakarta dan Sukabumi) dan tampaknya beliau sehat walaupun telah berumur mendekati 90 tahun.

KH Ali Hasan

Betapa senangnya beliau terhadap kedatangan kami, tetapi beliau tampak lebih senang setelah mendapatkan kalender Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran yang di dalamnya ada kumpulan foto-foto kegiatan padepokan. Yang paling diperhatikan beliau dan selalu dilihat berulang kali adalah foto Uyut saya yang sedang memegang benda pusaka peninggalan Prabu Tajimalela (Pendiri kerajaan Sumedang Larang) dengan latar belakang foto Bung Karno. Memang beliau sangat mengagumi Bung Karno. Beliau mengatakan kangen dengan Uyut saya (panggilan beliau kepada Uyut saya adalah Mbah Uyut hehehehe) Beliau juga kaget ketika melihat fisik Uyut saya yang ternyata tidak berubah sama sekali dan awet tua hahahaha walaupun sudah 12 tahun tetap saja tubuh Uyut masih kelihatan seperti umur 50 tahun dan masih gagah.

Cover Depan Kalender 2010
Halaman Kedua Kalender 2010

Melihat Pak Kyai yang berulang kali menyebut-nyebut nama Uyut, langsung saya menelpon Uyut lewat HP. Setelah mendapatkan respon maka saya serahkan HP ke Pak Kyai. Terjadilah pembicaraan yang lebih banyak berisi kangen-kangenan dan doa dari Uyut dimana berulang kali Pak Kyai mengucapkan kata “Amin”. Pembicaraan berlangsung hampir 30 menit dengan suasana segar dan tawa (itulah kebiasaan Uyut yang selalu dapat mencairkan suasana dengan canda/humornya bahkan seorang Kyai Ali Hasan yang terkenal lembut, pendiam dan sangat jarang bicara kalau tidak penting sekali bisa dibuat tertawa terbahak-bahak oleh Uyut hehehehehe…dasar turunan kabayan begitulah selalu saya katakan atas kebiasaan humor Uyut).

Karena kami ada janji dengan orang lain ba’da maghrib maka kami undur diri alias pamit untuk kembali ke Purwokerto sambil mengingatkan Uyut atas undangan kepada Pak Kyai menghadiri Acara Tahun Baru Islam (1 Muharam 1431 H atau 1 Suro) tepatnya tanggal 18 Desember 2009. Pada acara tersebut Padepokan Uyut ingin mengadakan tawasulan (doa bersama atas kebesaran Allah yang telah memberikan banyak kenikmatan dan mendoakan para leluhur (baca karuhun) yang telah berjuang/berjasa sehingga kami bisa seperti sekarang ini. Tetapi Pak Kyai belum memberikan jawaban atas undangan Uyut dan katanya nanti akan dikonfirmasikan apabila Pak Kyai tidak ada acara.

Tampak sekali raut wajah senang sekaligus sedih dari Pak Kyai sepertinya mengharapkan kami untuk menginap 1 malam saja di tempat beliau. Tetapi kami berjanji akan menginap lain waktu. Tatapan Pak Kyai tidak lepas ke mobil kami, ini yang saya lihat dari dalam mobil saat mobil berjalan keluar pesantren. Sungguh Kyai yang bersahaja. Ya Allah, panjangkanlah umur beliau sehingga kami masih mendapatkan kesempatan untuk menggali ilmu dan pengalaman beliau terutama tentang ilmu kebersahajaan kepada tamu. Amin.

NB : Sosok KH Ali Hasan ini pernah saya tulis di kompasiana dan bisa dibaca disini

2 thoughts on “Bertemu Kembali Sosok Kyai Bersahaja

  1. sudah lama saya gg soan ke rumah abah yai Ali Hasan, saya senang dulu pernah menimba ilmu di pesantren manba’ul ulum. banyak suka cita yg saya alami ya itu lah kehidupan di pesantren. saya do’a kan semoga abah yai di beri kesehatan terus Amiiiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s