Menulis: Alah Bisa Karena Biasa

Menulis ? Ya menulis, suatu aktifitas yang mustahil dilakukan oleh saya sekitar 15 tahun yang lalu menurut  teman-teman SMP, SMA  sampai kuliah. Sepengetahuan mereka, saya adalah seorang yang terlalu pragmatis, simpel, tidak mau berbelit-belit dan tidak mau direpotkan oleh hal yang remeh temeh. Kalau disuruh buat proposal kegiatan saja pasti tidak selesai-selesai alias malas hehehehe. Disamping itu saya bukan orang yang rajin mencatat/menulis pada setiap rapat/pertemuan waktu kuliah dulu.  Semuanya mengandalkan otak untuk mengingatnya dan sering tidak runtun apabila bercerita tentang sesuatu.

Itulah yang menyebabkan teman-teman saya kaget ketika bertemu lagi dan mengetahui kalau sekarang saya rajin menulis di blog pribadi, FB ataupun jejaring sosial lainnya. Mereka tidak menyangka kalau jumlah tulisan saya sudah mencapai puluhan.  Tidak mungkin…tidak mungkin…tidak mungkin… itulah kalimat yang keluar dari mulut mereka ketika melihat dan membaca langsung tulisan-tulisan saya. Yang membuat mereka lebih kaget lagi dan sukar mempercayainya saat melihat puisi-puisi yang saya buat karena saya dianggap bukan orang yang romantis dan cenderung masa bodo kalau bicara tentang romantisme.

Mereka banyak bertanya-tanya  kepada saya, bagaimana awalnya kok saya bisa keranjingan menulis. Jawab saya adalah kepuasan hati dan seperti mendapatkan kenikmatan batin apabila sedang menulis walaupun saya tahu masih banyak kekurangan dan harus banyak belajar dari penulis-penulis hebat. Sebetulnya awal saya menulis adalah pada suatu saat menonton suatu peristiwa di TV dan membaca ulasan peristiwa tersebut di media cetak tapi semua ulasannya sama sebangun. Padahal ada satu perspektif pemikiran yang terlewatkan dimana perspektif itulah yang menjadi inti permasalahan dan dapat dicarikan solusi dengan mudah. Karena saya tidak punya akses untuk teriak-teriak atau demo dan yakin mana ada yang mau mendengar perkataan saya (siapa sich lo) maka saya hanya bisa diam. Tetapi diamnya saya dengan coba-coba buat tulisan yang berisi ulasan pemikiran saya. Sempat kaget, tidak menyangka, puas dan bingung harus mengatakan apa setelah saya menyelesaikan tulisan tersebut.

Kok bisa jadi ketagihan ? Tanpa disengaja, seorang teman yang bekerja sebagai editor sebuah tabloid membaca tulisan saya tersebut. Dia sempat tidak yakin kalau itu adalah tulisan saya. Dia hanya mengatakan ” Ini benar tulisan kamu cech ” Saya jawab ya dan tampak sekali raut mukanya tidak percaya. Akhirnya dia menyuruh saya untuk membuat tulisan yang lain dan menyerahkannya. Karena merasa tertantang ya sudah saya buat tulisan lagi tentang tema yang lain. Ehhh dilalah hanya dalam waktu 1 hari tulisan tersebut berhasil saya selesaikan dan diserahkan. Memang sich saya banyak dikritik habis oleh dia mulai dari runtutan cerita yang lompat-lompat,  teknik penulisan yang asal-asalan dan masih banyak lagi.

” Cech, sebenarnya kamu mempunyai bakat menjadi penulis. Coba dech kamu buat akun di blog A sebagai ajang pengasahan tulisan kamu karena disitu akan banyak komentar baik yang memuji maupun mencaci maki. Tetapi intinya kamu terus menulis berdasarkan pengalaman pribadi ataupun kejadian-kejadian di sekitar kamu. Peribahasa mengatakan “Alah Bisa Karena Biasa”.  Kamu akan bisa karena terbiasa alias terus melakukan. Memang sich peribahasa ini tidak hanya untuk aktifitas menulis saja tetapi semua aktifitas kehidupan kita di dunia ” Begitulah nasehat teman kepada saya. Awalnya sempat bingung mau menulis tentang apa tetapi saya terus mencoba dan melakukan terutama saat saya mendapatkan momen-momen penting dalam kehidupan saya dan juga mendapatkan waktu senggang (kebanyakan malam hari). Tanpa terasa kegiatan menulis ini menjadi suatu kebiasaan dalam keseharian saya.

Tulisan ini hanya sekedar berbagi ilmu dan pengalaman. Bukan berarti saya ini lebih mumpuni dalam menulis karena saya pun sampai saat ini masih belajar dan mencari bentuk tulisan yang cocok buat saya.

NB: Terus semangat dan menulis, jangan merasa terpaksa tapi jadikan aktifitas menulis ini sebagai saluran untuk memuaskan dan memberikan kenikmatan kepada hati nurani.

2 thoughts on “Menulis: Alah Bisa Karena Biasa

  1. Betul. Saya setuju dengan Anda. Menulis adalah kepuasan dan ia tidak bisa digambarkan.

    Semakin jaman maju, orang akan semakin butuh menulis. Contoh nyata adalah SMS. Teknologi ponsel mau tidak mau menuntut orang untuk menulis.

    Apalagi sekarang internet hadir. Hampir semua orang akrab dg Facebook. Nah, menulis status Facebook, berkomentar di dinding orang, membalas comment dan menulis email adalah bagian dari menulis. Saya berpendapat ini adalah era menulis.

    Salam, kawan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s