Apakah Indonesia Baru Bisa Bersatu Bila Ada Bencana dan Musuh Bersama Terlebih Dahulu?

Tanpa terasa sudah 64 tahun Indonesia merdeka, tapi masih saja ada yang mengganjal dan menjadi pertanyaan kita sebagai anak bangsa mengenai nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila terutama nilai kemanusiaan dan persatuan.

kfk.kompas.com

Beberapa bulan ini, Indonesia mengalami banyak peristiwa yang membuat kita marah, sedih, benci, dan lain-lain. Bercampur aduk menjadi satu. Mulai dari terorisme, nasib tenaga kerja kita di luar negeri, klaim Malaysia terhadap beberapa seni budaya peninggalan nenek moyang sampai wilayah teritorial Republik Indonesia gempa bumi yang mengguncang pulau Jawa dan Sumatera (Sumatera Barat) dan kasus Prita Mulyasari.

Hampir seluruh rakyat di negeri ini bergerak, bangkit dan mengambil sikap. Kasus terorisme yang sempat membahana di pelosok negeri lewat siaran langsung oleh media TV yang dikemas secara dramatis sampai pengungkapan siapa-siapa saja yang terlibat dibalik aksi teror bom bunuh diri. Semua orang menyatakan sikap mengutuk, marah, mencaci, memberikan rasa salut kepada kepolisian bahkan menolak jenasah aksi pengeboman dikubur di daerahnya.

Kasus klaim Malaysia yang mengganggu hubungan saudara serumpun telah membuat seluruh rakyat Indonesia bersatu melakukan aksi demo, pembakaran bendera Malaysia dan adanya usulan tentang pemutusan hubungan diplomatik. Sebuah aksi yang menunjukkan masih adanya rasa nasionalisme di dalam hati sanubari rakyat Indonesia.

Peristiwa gempa bumi Sumatera yang mengakibatkan banyaknya saudara kita yang telah menjadi korban. Bukan hanya kehilangan harta benda tapi juga kehilangan sanak saudara yang meninggal dunia. Dari peristiwa gempa bumi tersebut tanpa perintah dan secara otomatis masyarakat Indonesia tergerak hatinya untuk menolong para korban bencana, ada yang berupa sumbangan makanan, minuman, pakaian sampai pengumpulan dana walaupun disana-sini masih saja ada kekurangannya. Tetapi intinya adalah nilai-nilai kemanusian dan persatuan yang ada di dalam hati nurani masyarakat Indonesia bergerak untuk melakukan aksi nyata. Hal ini bisa dibuktikan dengan pengumpulan dana lewat salah satu stasiun TV swasta yang berhasilkan mengumpulkan dana sebesar Rp 19,2 milyar belum termasuk donasi yang dilakukan lewat telepon. Kalau tidak salah ada yang menyumbangkan tanahnya seluas 2000 meter persegi secara hibah agar dapat dipakai untuk para korban yang telah kehilangan rumahnya karena lokasi rumah mereka telah hancur dan sudah tidak layak untuk dihuni kembali.

Yang terakhir dan masih hangat dalam ingatan kita yaitu solidaritas masyarakat Indonesia yang bersimpati kepada Prita Mulyasari karena dirasakan adanya ketidakadilan di hadapan hukum cuma gara-gara e-mail yang isinya berupa curhat Prita kepada seorang temannya tentang pelayanan yang kurang baik dari sebuah rumah sakit swasta di Tangerang yang akhirnya menyebar kemana-mana di dunia maya. Rumah sakit tersebut mengadukan Prita ke Kepolisian dengan tuduhan pencemaran nama baik dan melanggar UU ITE baik secara perdata maupun pidana. Dalam perkara perdatanya, Prita dianggap bersalah oleh Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi serta putusan terakhirnya Prita harus membayar denda kepada rumah sakit swasta tersebut senilai Rp 204 juta. Sementara perkara pidananya masih dalam persidangan. Melihat ketidakadilan ini, masyarakat Indonesia tanpa dikomandoi bergerak mengumpulkan uang receh atau koin dan berhasil mengumpulkan uang receh yang menurut kabar terakhir telah melewati Rp 1 milyar. Uang receh ini sebagai bentuk solidaritas masyarakat Indonesia untuk membantu Prita membayar denda kepada rumah sakit swasta tersebut berdasarkan keputusan pengadilan negeri walaupun Prita telah mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung untuk mendapatkan keputusan hukum tetap. Solidaritas masyarakat ini membuktikan kalau bangsa ini masih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persatuan dan keadilan.

Di satu sisi ada sebuah keironian dari bangsa ini, sejak reformasi berjalan hampir 12 tahun tampak ada yang hilang yaitu rasa toleransi, penghormatan kepada yang lebih tua, sopan santun dan tingkat kepercayaan terhadap pemimpin-pemimpin bangsa telah mencapai titik yang sangat memprihatinkan. Semuanya merasa paling benar, saling curiga, masa bodo dengan keadaan di lingkungan sekitar. Lihat saja bagaimana pemilu kemarin baik legislatif maupun presiden, dengan mudahnya uang dihambur-hamburkan demi sebuah kepentingan dan kekuasaan. Caci maki dan fitnah kerap kali diperdengarkan dan dipertontonkan. Sesuatu yang bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusian, persatuan, keadilan dan nasionalisme

Apakah bangsa Indonesia hanya bisa bersatu bila mempunyai musuh bersama dan mengalami bencana besar dulu ? Pertanyaan yang tampaknya mudah tapi sulit untuk dicari jawabannya dengan aksi nyata. Mari kita bersama-sama untuk mencari jawabannya lewat hati nurani. Merdeka !!!!

One thought on “Apakah Indonesia Baru Bisa Bersatu Bila Ada Bencana dan Musuh Bersama Terlebih Dahulu?

  1. With havin so much content and articles do you ever run into any problems of plagorism or copyright violation?
    My blog has a lot of exclusive content I’ve either created myself or outsourced but it seems a lot of it is popping it up all over the web without my agreement. Do you know any techniques to help prevent content from being stolen? I’d really appreciate it.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s