Bermula dari Data: Sebuah Tinjauan

Menteri Pertanian Suswono sangat peduli kepada data. Begitu dilantik jadi Menteri Pertanian segera mengekspose perlunya pendataan ulang mengenai luas lahan pertanian tanaman pangan. Mentan agaknya “kurang percaya” dengan data lahan pertanian tanaman pangan, karena dari tahun ke tahun luasannya tetap 7 juta hektar, sementara alih fungsi lahan cukup tinggi untuk pembangunan fisik, jalan dan perumahan. Keakuratan data ini penting untuk perencanaan dalam upaya melestarikan swasembada beras.

Menteri Pertanian-pun akan memprioritaskan pendataan ulang populasi sapi betina. Pendataan populasi sapi betina penting sebagai basis penentuan kebijakan pengembangan ternak sapi. Karena masyarakat ada kecenderungan pemotongan betina produktif sehingga diperlukan pengendalian.

Kegiatan ini perlu untuk mendukung program swasembada daging tahun 2014. Sebab salah satu peran adalah perlunya penyediaan calon sapi betina. Sehingga dapat dilakukan optimalisasi akseptor dan kelahiran IB. Apalagi pemerintah sudah menyediakan program kredit usaha pembibitan sapi.

Data lain yang menjadi perhatian Menteri Pertanian adalah pendataan ulang Rencana, Definitif Kebutuhan Kelompoktani (RDKK). Pemerintah sudah menetapkan distribusi pupuk subsidi secara tertutup dengan menyalurkan melalui Rencana, Definitif Kebutuhan Kelompoktani (RDKK).

Sehingga pemberian subsidi pupuk bisa lebih tepat sasaran. Apalagi pemerintah sudah menurunkan subsidi pupuk, sehingga volume yang menurun ini benar-benar bisa sampai pada petani yang membutuhkannya.

Data memang sangat penting dan mempunyai fungsi ganda. Boleh sebagai alat perencanaan, sebagai bahan evaluasi, sebagai bahan pemantauan dan sebagai pembuatan keputusan. Bahkan sebagai alat konfirmasi dan legitimasi terhadap penilaian program pemerintah.

Oleh karena itu rencana Menteri Pertanian untuk mengadakan ulang pendataan perlu diikuti dengan meningkatkan kompetensi dan kepedulian untuk menghasilkan data yang sesuai dengan prinsip-prinsip kegiatan statistik. Data yang berkualitas adalah data yang lengkap, akurat, relevan, tepat waktu dan berkelanjutan.

Sumber tulisan SINAR TANI ONLINE

Ilustrasi - bestconsultant.wordpress.com

Membaca tulisan diatas saya jadi teringat dengan seorang teman Bule yang mengajar bahasa Inggris di sebuah Lembaga Kursus Bahasa Inggris. Beliau pernah bertanya kepada saya, “Orang Indonesia kalau ditanya tentang sesuatu kok jawabnya mengambang kadang kemana-mana dan tidak jelas atau langsung ke pokok permasalahannya ” Contoh pertanyaan yang diberikan adalah bagaimana kemiskinan yang ada di Indonesia saat ini dan jawabannya kemiskinan di Indonesia besar, sedikit berkurang, bertambah banyak atau yang lainnya . Semuanya tidak mengacu kepada sebuah angka yang pasti atau mendekati misalnya dengan persentase (20%, 33% dan lain-lain). Apakah ini menjadi salah satu kelemahan bangsa Indonesia yang kurang memperhatikan angka-angka statistik atau kevalidan sebuah kondisi.

Kalau mengacu kepada pernyataan Menteri Pertanian mungkin ini menjadi semacam otokritik tentang lemahnya bangsa ini untuk mempunyai database yang komplit dan representatif sehingga tidak menimbulkan banyak penafsiran terhadap suatu kondisi/situasi sebuah negara. Contoh yang saya alami sendiri adalah ketika seorang teman menawarkan produk tanaman rempah-rempah yaitu Kapulaga atau kapol (Bahasa Sundanya). Ketika saya tanya seberapa besar produksi kapulaga di daerah yang ditawarkannya tersebut. Dijawabnya banyak….ya berapa jawab saya lagi dan tampak sekali ketidak mampuan dia menjawab pertanyaan saya. Saya katakan itu baru produksi kapulaga secara umum dan belum saya tanyakan jenis kapulaga yang ada merupakan jenis apa. Apakah kapulaga lokal yang banyak dipakai untuk minuman berenergi dan jamu atau jenis kapulaga sabrang yang biasa diekspor ke luar negeri. Makin sulitnya, teman saya menjawab. Yang lucunya ketika saya diajak langsung ke daerah penghasil kapulaga yang dikatakannya, ternyata teman dan orang di daerah tersebut tidak mengetahui bentukdan wujud kapulaga tersebut. Dan dikatakan oleh mereka bahwa dulu pernah ada program penanaman kapulaga oleh dinas pertaniaan setempat dengan cara tumpang sari bekerja sama dengan Perhutani sekitar 3 tahun yang lalu tapi tidak berjalan mulus karena tidak adapasar yang menampung produk kapulaga tersebut. Dalam hati saya wao baru katanya. Selidik punya selidik dan ini sungguh lucu atau bahkan bisa dikatakan ironis adalah setelah saya tunjukkan bentuk dan wujud tanaman kapulaga yang sebetulnya ada di belakang mereka yang sudah ditutupi ilalang maka barulah mereka mengerti dan langsung ramai-ramai mencabut tanaman tersebut untuk ditanam di pekarangan rumah mereka hehehe.

Itu baru kapulaga masih banyak lagi seperti jahe, apakah yang dibutuhkan jahe gajah (untuk asinan) atau jahe emprit (jamu dan minuman) atau jahe merah (obat dan jamu). Ketiga jenis jahe inipun masih harus dibagi lagi berdasarkan kebutuhan untuk lokal atau ekspor (apakah ke negara-negara Asia atau Eropa/Barat). Masih banyak lagi yang harus dijelaskan dengan data yang konkrit, jelas dan valid serta bukan menduga-duga alias katanya. Terus tanaman vanili, pinang, pala (lonjong atau bulat) dan masih banyak lagi. Yang parahnya tanaman-tanaman yang dicari hampir menyebar di seluruh Indonesia dengan produksi yang rendah dan tanpa ada pemeliharaan khusus. Ini membuktikan tidak adanya pemetaan dalam penetapan sebuah produk pertanian yang nantinya menjadi tanaman unggulan. Contohnya kakao sebaiknya ditanam di Sulawesi karena iklim dan cuacanya cocok untuk ditanam kakao. Terus tanaman pala kualitas ekspor (lonjong) sangat cocok ditanam di daerah kepulauan Maluku karena hasil produksinya optimal sehingga ketahuan berapa besar produksinya dalam setahun yang berakibat industri yang membutuhkan produk pala tersebut bisa mengatur stoknya yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Pokoknya masih banyak yang harus dibenahi dan itu harus disusun dengan data yang baik dan valid sehingga negara ini mempunyai database yang ajeg sehingga bisa dijadikan informasi yang terpercaya.

Disamping itu, dengan database yang kuat pemerintah dapat mempunyai skala prioritas yang jelas terhadap pembangunan nasional terutama pembangunan pertanian Indonesia. Jadi jangan gara-gara ngobrol di warung kopi Starbucks yang ramai pengunjung, tanpa data yang jelas tiba-tiba menjadi sebuah informasi bahwa starbuck membutuhkan kopi dan ini bisa menjadi bisnis yang menguntungkan. Hehehehe jenis kopinya apa bang ? Terus bubuk atau biji utuh ? Terus kopinya berupa bahan setengah jadi (blend) atau bubuk kopi yang sudah digiling tanpa campuran apapun ? Dan yang terakhir berapa banyak jenis dan bentuk kopi yang dibutuhkan Starbuck ? Ya tidak tahu, tahunya Starbuck ramai dan menguntungkan.

NB: sebagai bahan informasi, India sedang membuat sebuah lembaga berskala internasional yang nantinya akan menjadi Pusat Database segala hal yang ada di dunia. layaknya Google di dunia maya. Beberapa tahun kemudian anak cucu kita kalau mencari data tentang segala hal yang berhubungan dengan Indonesia harus mencarinya ke India. Apakah ini sebuah keironian cuma gara-gara kita kurang menghargai atau memperhatikan data-data statistik yang tampaknya rumit tapi banyak manfaatnya (berapa besar manfaatnya Bung hehehehe tanya lagi ). Satu hal lagi kita harus tahu mana yang data dan mana yang informasi hasil pengolahan data.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s