Gus, Saya Tidak Repot Kok….

Orang tua satu ini memang seringkali membuat pernyataan yang tidak lazim. Kadang kala beberapa kalangan yang mendengarnya terkaget-kaget, telinganya memerah, kontroversial, emosinya meninggi dan perkataannya nyeleneh bahkan uedan tenan.

kabarindonesia.com

Banyak teman yang bertanya kepada saya “apa sich maunya orang tua satu ini ?” Saya hanya bisa tersenyum dan bingung untuk menjawabnya. Karena saya merasa tidak ada yang perlu dijelaskan dengan setiap pernyataan beliau. Tunggu saja nanti apa yang akan terjadi setelah penyataan beliau. Namun selagi menunggu saya tetap melakukan perenungan dan berusaha mencari jawaban secara komprehensif.

Menurut saya, pemikiran Gus Dur sudah jauh ke depan dibandingkan dengan pemikiran orang-orang pada umumnya atau mau disebut komprehensif dan representatif bagi umat manusia. Saya jadi teringat dengan hukum fisika-nya Newton Aksi=(-)Reaksi. Dari hukum fisika itulah yang mengingatkan saya untuk tidak terlalu reaktif dengan setiap pernyataan seseorang termasuk seorang Gus Dur sekalipun. Reaktif lebih mengundang energi negatif kepada diri. Untuk itu perlu aksi nyata untuk menghasilkan energi positif sehingga bisa memberikan suasana positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Dalam analogi berpikir saya, pernyataan Gus Dur ibarat kita sedang membuat nasi goreng. Digoreng sana, digoreng sini, ditekan sana, ditekan sini, dicampur ini dicampur itu dan sebagainya. Tetapi pada akhirnya menghasilkan nasi goreng yang enak dan dapat dinikmati bersama. Susah ? Ya susah sekali bahkan rumit dan merumitkan. Tetapi tetap jangan menjadi repot.

Walaupun almarhum kakek-nenek dan bapak saya berasal dari kalangan NU, terus terang saya tidak mengenal Gus Dur secara dekat apalagi bertatap muka kecuali melihatnya di TV dan membaca tulisan beliau lewat buku-bukunya. Saya sempat berdiskusi dengan almarhum Bapat tentang sosok Gus Dur ini. Gus Dur memang tokoh besar yang diakui secara nasional maupun internasional tapi ada yang membuat saya miris ketika melihat kondisi ekonomi para Nahdliyin apalagi kalau dibandingkan dengan Muhammadiyah. Rasanya tertinggal jauh sekali, tetapi tetap saja para Nahdliyin tidak pernah merasa mengeluh dan sangat menghormati kyai-kyainya termasuk Gus Dur. Dari situlah saya mengambil hikmah bahwa ada pemikiran yang berbeda antara saya dan Gus Dur (bukan mau disamakan atau sejajarkan, rasanya terlalu jauh dech hehehehe). Cara berpikir Gus Dur sangat makro dan global (mendunia), sementara saya masih berpikir mikro (selalu melihat segala sesuatunya dari apa yang terjadi di depan mata terutama nasib orang-orang berhubungan erat dengan pribadi saya). Untuk itulah saya selalu menganggap apa yang dikatakan Gus Dur lewat penyataan-pernyataannya di media massa bukanlah sesuatu yang merepotkan. Karena memang begitulah peran dan fungsi Gus Dur sebagai manusia di dunia.

GUS DUR memang baGUS untuk ditanDUR. Ibarat biji tumbuhan yang baik untuk ditanam walaupun dalam pertumbuhannya perlu dipelihara dan diperhatikan perjalanannya dimana seringkali kita tidak mau tahu akar-akarnya menjalar kemana, batang pohonnya bercabang kemana, yang penting tumbuh subur menghasilkan banyak buah yang baik.

Sekali lagi Gus, saya tidak repot kok…….. Justru setelah Gus Dur meninggalkan bangsa ini untuk selama-lamanya maka tidak ada lagi tokoh orang tua yang lantang mengingatkan tentang masalah bangsa yang nantinya akan merepotkan kami.

Selamat Jalan Gus…….Semoga segala amal ibadah Gus Dur diterima oleh Allah SWT dan ingat ya Gus jangan bikin repot di alam sana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s