Jadi Mahasiswa Kok Takut Bertanya

Tugas mahasiswa itu belajar. Saya setuju. Tugas mahasiswa itu melakukan aksi demo bila melihat adanya ketidakadilan di tengah masyarakat. Saya juga setuju. Tetapi….. Nah ini ada tapinya. Jadi mahasiswa itu harus tahu hak dan kewajibannya.

Berikut adalah pembicaraan saya dengan seorang mahasiswa yang katanya aktifis kampus selepas pulang dari demo mengenai BBM di Bundaran HI beberapa waktu yang lalu :

” Habis darimana Mas ? ”

” Dari bundaran HI Pak ”

” Ada apa di bundaran HI, kelihatannya ramai sekali sampai bawa beberapa metromini ”

” Bapak, apa tidak tahu kalau hari ini mahasiswa se jabotabek melakukan aksi demo mengenai BBM (kalo tidak salah masalah konversi minyak tanah menjadi gas elpiji). Khan di TV diberitakan Pak “

” Waduh saya kurang mengikuti berita Mas. Terus apa yang didemokan Mas ”

” Ya, kami mahasiswa sejabotabek menuntut pemerintah untuk membatalkan kebijakan konversi minyak. Kami kasihan melihat rakyat kecil terutama para pedagang mie ayam, gorengan, bakso dan lain-lain akan terbebani dengan kebijakan tersebut. “

” Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Tapi saya lihat Pak JK tetap kukuh untuk menjalankan kebijakan tersebut karena membebani APBN dan subsidinya terlalu besar. Lagipula harga yang hauis dibayar oleh pemerintah untuk pembeliaan minyak tanah tidak sesuai dengan harga yang dijual ke masyarakat dan jauh timpang Mas “

” Tapi Pak, apa tidak ada kebijakan yang lain dimana rakyat kecil tidak dibebani dengan biaya yang tinggi untuk membeli gas. Rakyat harus mengeluarkan uang sebesar 3 kg gas sementara selama ini rakyat bisa membeli 1 liter minyak tanah disesuaikan dengan uang yang dimiliki “

” Benar juga, seharusnya dari dulu kebijakan energi bangsa ini harus dirubah dan tidak bergantung kepada minyak bumi dan batu bara. Mungkin harus ada alternatif energi yang lain seperti angin, matahari (solar cell), gelombang laut dan sebagainya “

” Wah bapak kelihatannya mengerti sekali ”

” Tidak juga semuanya saya dapatkan dari membaca di koran dan nonton berita di TV. Sesekali mendengar diskusi/dialog di TV tapi saya kurang menguasai tentang hal tersaebut. Saya yakin Mas lebih mengerti tentang energi alternatif, Kalau tidak mengerti mana mungkin Mas dan teman-teman mau melakukan demo dan meyakini kalau apa yang didemo bisa didengar oleh pemerintah dan bisa memberikan solusi yang terbaik buat Indonesia terutama masalah energi. “

” Bapak, tinggal dekat kampus sini ? ”

” Ah tidak, saya kebetulan aja lagi di halte depan kampus ini karena lagi tunggu metromini yang menuju Grogol. Tadi dari Cileduk mau pulang. Karena jalanan macet ya sudah saya turun dulu disini daripada kegerahan di dalam metromini. Sekalian cari makan Mas. Perut sudah keroncongan “

” Ohhhh gitu ”

” Mas kuliah di kampus ini ”

” Ya Pak ”

” Semester berapa ? ”

” Semester 6 Pak ”

” Wah sebentar lagi pasti skripsi ya Mas ”

” Hehehehe masih jauh Pak ”

” Lho emang kenapa kok bisa masih jauh ”

” Tahu sendirilah Pak. Aktifis Kampus. Kuliahnya bolong-bolong ”

” Lho apa tidak diabsen oleh dosennya ? ”

” Titip teman Pak ”

” Catatan kuliahnya bagaimana ? Apalagi kalau pas mau ujian ”

” Tinggal copy saja catatan teman terus ada beberapa literatur yang saya copy juga kalau dosen mereferensikan literatur tersebut “

” Enak ya Mas, hehehe Trus apa orang tua tidak tanya-tanya kepada Mas kok bisa terlambat kuliahnya ”

” Kadang-kadang tanya sich tapi saya ….ya begitulah Pak hehehehe”

” Kasihan orang tua Mas. Biaya kuliah khan mahal apalagi per sks ada biayanya khan. Benar ga Mas “

” Benar Pak, per semesternya sekian. Tetapi namanya aktifis mau tidak mau harus ada yang dikorbankan hehehehe “

” Kalau saya lihat Mas orang pintar dan cerdas. Tidak salahlah dikatakan kaum intelektual. Pasti nilainya bagus-bagus ya. “

” Ah tidak juga Pak. Nilai saya biasa-biasa saja ”

” Berapa IP-nya Mas kalau boleh tahu ? Maaf ya Mas ”

” Tidak apa-apa kok, IP saya 2,xxx ”

” Berarti rata-rata nilainya B ama C ya Mas ”

” Ahhhh ga juga sich ada juga D bahkan ada yang E. Khusus yang E semester depan saya akan ulangi kuliahnya “

” Kok bisa D dan E sich Mas ”

” Tahu tuh Pak. Padahal saya belajar serius pas mau ujian walaupun saya aktifis kampus. Memang dosennya aja yang killer “

” Maksudnya Killer ??? ”

” Kayak tidak suka dengan kami terutama para aktifis kampus. Mungkin kegiatan kami dianggap hanya hura-hura….. cari sensasi. “

” Apa hanya kalian saja yang diberi nilai jelek ”

” Tidak juga Pak tapi tuh dosen pelit ama nilai paling tinggi diberi nilai B. Itupun dianggap mahasiswa jenius kali hehehehe “

” Pernah ga kalian bertanya langsung kepada dosen tersebut. Mengapa diberi nilai kurang baik ”

” Waah tidak pernah Pak. Kami dengar dosennya killer dan cepat tersinggung atau marah kalau ada yang tanya macam-macam apalagi masalah nilai ujian “

” Khan baru katanya, apakah kalian pernah mengalami langsung dan bertanya kepada dosen tersebut dengan cara baik-baik “

” Memang belum sich Pak. Kenapa sich bapak omongin beginian sampai detil ”

” Tidak apa-apa Mas. Saya hanya kasihan dengan anak teman saya yang kuliah di perguruan tinggi seperti Mas. Dengan keterbatasan ekonomi orang tuanya, dia harus kuliah sungguh-sungguh dan berusaha untuk tidak mengecewakan orang tuanya “

” Maksudnya Pak ”

” Begini Mas, kalau dia harus mengulang kuliah berarti dia sudah menambah waktu kuliah. Ini berarti ada tambahan biaya, mahal lagi. Terus dia tidak bertambah pintar. Jalan di tempat “

” Maksudnya jalan di tempat ???? ”

” Ya jalan di tempat ”

” Ini mah nyindir saya ”

” Ga kok Mas, coba mas bayangkan karena takutnya akan bayang-bayang tentang sosok dosen killer membuat Mas menjadi bodoh. Bodoh karena ketidak beranian kita bertanya. Padahal itu hak Mas sebagai mahasiswa untuk mendapatkan ilmu dan membuat Mas jadi tambah pintar. “

” Maksudnya Pak ”

” Khan dosen itu dibayar oleh mahasiswa dengan uang SPP dan sks kita. jadi dosen berkewajiban untuk mentransfer ilmu untuk mahasisiwanya. Dosen berkewajiban untuk memberikan jawaban apapun kepada mahasiswa terutama sekali yang berhubungan dengan akademik. Apalagi nilai akademik. Itu yang diperjuangkan dan menjadi hak mahasiswa Mas. Kalau Mas merasa benar dan yakin telah belajar sungguh, hak Mas sebagai mahasiswa bertanya kenapa diberikan nilai B, C, D atau E ? Mas harus tanya alasan dosen tersebut memberikan nilai tersebut. Kalau ada yang salah dari jawaban ujian, Mas berhak juga mendapatkan jawaban yang benar dari seorang dosen supaya Mas tahu kesalahannya dan mengerti semengerti ngertinya. Mas khan jadi tambah pengetahuan dan kalau ada pertanyaan yang sama pas ujian Mas bisa jawab sesuai dengan keinginan dosen tersebut. Pasti dech Mas dapat A “

” Wah itu mah terlalu ekstrim. Tidak ada mahasiswa yang mau melakukan itu ”

” Tidak ekstrim kok tergantung niat kita. Tapi harus dilakukan dengan cara yang sopan dan santun serta memberikan penghormatan kepada dosen tersebut agar beliau merasa dihormati. Lagipula kasarnya ini berlaku hukum ekonomi Mas “

” Lho kok hukum ekonomi sich Pak ”

” Ya hukum ekonomi. Dosen digaji dari uang SPP dan SKS seperti yang saya sebutkan tadi. Jadi ada take and give hehehehe. Mas bayar kok jadi punya hak untuk mendapatkan pelayanan yang baik. Kayak bisnis jasa saja tapi tidak 100% bisnis. Ya lebih banyak nilai pendidikannya dan humanisme. “

” Ohhh gitu ”

” Masak Mas berani melakukan demo dan berteriak-teriak tentang ekonomi rakyat tetapi pas berhubungan langsung dengan kepentingan sendiri untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Mas malah tidak berteriak tentang ekonomi keluarga Mas terutama ekonomi orang tua. Hukum ekonomi hukum ekonomi Mas hehehehe “

” Waduh benar juga Pak. Omong-omong Bapak dosen atau wartawan ? ”

” Hehehehe bukan kedua-duanya. Saya hanya orang biasa dan buan paranormal hahahahaha ”

” Ah Bapak bisa aja ”

” Ya memang bisa saja tetapi menjadi bisa karena biasa. Biasa berpikir tentang hal-hal kecil di depan mata saya hehehehe. Harus berani Mas. Masak berani protes terus demo sama pemerintah, sama dosen sendiri takut hehehehe Sudah ah saya jalan dulu sudah tidak macet lagi. Salam reformasi “

ilustrasi - petiusang.wordpress.com

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar secara detail tentang hak dan kewajiban mahasiswa. Saya hanya menyoroti satu kasus saja yaitu tentang hak mahasiswa bertanya kepada dosennya bila mendapatkan nilai kurang baik (D dan E). Apakah mahasiswa menyadari tentang haknya untuk mencari tahu kesalahannya menjawab saat ujian kepada dosen ? Apakah mahasiswa di Indonesia hanya bisa pasrah bila mendapatkan nilai yang kurang baik ? Apakah hak bertanya mahasiswa mengenai nilai ujiannya dianggap tidak lebih penting dibandingkan dengan hak mereka melakukan aksi demo yang marak di negeri ini ?

Saya berkeyakinan sebagian besar pembaca pernah menjadi mahasiswa. Tulisan ini hanya sekedar mengingatkan tentang hak seorang mahasiswa untuk mendapatkan ilmu, menjadi pandai dan cerdas, bersikap kritis dan menghargai hak asasi diri pribadi.

Seiring dengan makin mahalnya biaya pendidikan di Indonesia maka dibutuhkan perjuangan yang keras dan tanggungjawab yang tinggi dari seorang mahasiswa kepada orang tua yang membiayai kuliahnya (lain persoalan dengan yang mendapatkan beasiswa ). Belajar yang tekun dan tidak main-main serta segera menyelesaikan kuliah merupakan bagian dari nasehat orang tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s