Kenapa Harus Budi Bukan Bedu….

" Ini Budi, Ini..... (three.co.id)

Masih ingat dengan iklan operator telepon seluler “3” ini khan ? Iklan tersebut menampilkan beberapa pemain klub sepakbola asal Inggris Manchaster United yang sedang belajar membaca bahasa Indonesia “Ini Budi”, “Ini Bapak Budi” dan seterusnya. Iklan yang tadinya dibuat untuk menyambut kedatangan kesebelasan MU yang ingin bertanding melawan kesebelasan nasional Indonesia tapi batal dilaksanakan karena adanya peristiwa bom yang meledak di Hotel JW Marriot, tempat menginap para pemain dan official MU. Tetapi saya tidak akan mengulas dengan kedatangan mereka dan peristiwa pemboman hotel tempat mereka menginap.

Sungguh luar biasanya pengaruh metode pengajaran membaca ” Ini Budi ” terhadap kelancaran membaca anak-anak sekolah dasar sehingga dijadikan tema iklan tersebut. Hal inilah yang menggelitik pikiran saya tentang metode membaca tersebut.

Dari dulu sewaktu saya di SD sampai sekarang metode membaca yang menggunakan kata Budi ini masih diterapkan dan kelihatannya metode ini lebih mempercepat kemampuan membaca seorang anak. Mungkin beberapa tahun jauh sebelum saya di SD kelas satu, metode ini sudah diterapkan.

Buku Pelajaran Bahasa Indonesia - devarrizaldhi.files.wordpress.com

Pertanyaannya adalah kenapa harus menggunakan kata Budi, Wati, Iwan, Bapak dan Ibu. Siapakah yang menemukan metode pengajaran membaca ini ? Apa yang melatarbelakangi penggunaan kata Budi bukan Badu atau yang lainnya ? Adakah makna filisofis yang mendasari penggunaan kata Budi ?

Ada beberapa orang yang menyatakan alasannya yaitu dalam mengajarkan anak belajar membaca maka diperkenalkan terlebih dahulu huruf vokal a,i,u,e,o baru kemudian huruf konsonan. Selanjutnya diajarkan pengejaan seperti b u = bu, b i = bi atau dalam kasus budi ini dieja b u-bu d i-di digabung menjadi budi. Seorang anak akan lebih mudah mengingat tetapi kenapa bukan dengan bubu, bibi, bobo atau bebe.

Kemudian ada lagi yang mengatakan penggunaan kata Budi, Wati, Iwan, Bapak dan Ibu lebih mengajarkan seorang anak tentang makna keluarga yang utuh yaitu ada Bapa-Ibu dan 3 orang anaknya yaitu Budi, Wati, Iwan.

Selain itu ada juga yang mengatakan kata Budi mengandung arti yang baik dan berhubungan dengan sikap yang baik dari seorang anak yaitu budi pekerti, budi luhur, dan budi bahasa. Jadi ada nilai sopan santun yang diajarkan dan seorang anak menjadi terbiasa dengan rasa sopan santun.

Apakah alasan yang dikatakan sebagian orang tentang penggunaan kata Budi, Wati, Iwan, Bapak atau Ibu benar adanya ? Saya tidak dapat berkomentar apapun kecuali para pembaca mempunyai cerita atau mendapatkan informasi minimal sejarah awal penggunaan metode pengajaran membaca “Budi” tersebut.

Kelihatannya sepele dan tidak penting tetapi setidaknya menggambarkan bagaimana guru-guru kita dahulu kala terutama yang menemukan metode ini ternyata sangat mumpuni dan menjiwai dengan sepenuh hati arti mendidik dan mengajar.

Dari suatu yang sepele bila dikaji dapat menghasilkan suatu yang bermanfaat. Dari suatu yang kecil bila ditekuni dapat menghasilkan suatu yang besar. Lihatlah bagaimana seorang Ibu dengan tekun, telaten, dan perhatian terhadap anaknya dari baru lahir sampai anaknya dewasa. Selamat Hari Ibu…..Ibu Kandung, Ibu Tiri, Ibu Pertiwi, Ibu Mertua, Ibu Guru, Ibu Dokter, Ibu Pejabat, pokoknya semua yang berposisi sebagai Ibu. Kalau Ibu kota termasuk atau tidak ya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s