Kerja Dong…Kerja…Carikan Dong

Suatu hari seorang teman mengajak saya untuk mengunjungi saudara kandungnya di Tebet dan kami pergi menggunakan motor saya. Sebagai gambaran teman saya adalah korban PHK dari tempat kerja yaitu sebuah perusahaan periklanan dengan jabatan terakhir sebagai manajer umum. Pada saat itu sudah 7 bulan menganggur dan katanya susah sekali untuk mendapatkan pekerjaan padahal dia sudah mengajukan lamaran ke berbagai tempat baik lewat media cetak maupun dunia maya. Tetapi apa lacur, belum ada satupun perusahaan yang mau memakai tenaganya. Apakah karena umurnya yang tidak masuk kualifikasi kerja atau perusahaan kebingungan untuk menentukan gaji yang cocok buat dia? Wallahu alam. Di satu sisi saat diPHK, sang istri sedang hamil 2 bulan dan sungguh cobaan yang harus dihadapinya.

Singkat cerita, maksud kedatangan teman ke rumah saudara kandungnya adalah meminta tolong pinjamkam uang untuk membiayai proses kelahiran anaknya yang tinggal hitungan hari. Akhirnya kami sampai juga di rumah saudara dan dipersilahkan masuk oleh pembantu. Tampak sekali saudara kandungnya ini mempunyai kehidupan yang lebih baik kalau dilihat luasnya rumah hampir 300 meter persegi, dua tingkat dan di dalam suatu komplek perumahan.

Setelah menunggu lama, dari atas tangga terdengar suara kaki yang turun ke bawah. Baru saja teman ini mau mengucapkan salam, tiba-tiba tampak seorang wanita dengan suara yang sinis dan keras, “Ada apa kamu mau datang ke sini. Mau pinjam uang ya ” Sungguh kaget saya mendengarnya apalagi teman saya. Tampak sekali wajah teman yang merah padam menahan malu, amarah dan kesal. Lalu dijawablah oleh teman, “Kok ngomongnya begitu sich Mbak” Saudaranya balik menjawab, ” Trus saya harus ngomong apa, khan sudah jelas kalau kamu ke sini pasti mau pinjam uang. Saya tidak uang makanya kerja dong kerja jangan malas dan cari dong pekerjaan khan banyak di luaran sana asal kamu rajin ” Langsung teman saya mengucapkan, “Terima kasih masih mau menemui saya. Assalamualaikum” Dengan perasaan geram teman mengajak saya untuk keluar dari rumah saudaranya tersebut. Di dalam perjalanan teman saya diam saja dan nyaris tidak ada ngomongan dari mulutnya.

Kebetukan sekali dalam perjalanan saya melihat orang jualan es kelapa muda dan langsung motor saya arahkan ke tempat tersebut. Awalnya teman masih diam tapi dengan sabar saya menenangkan dan menghibur dengan gurauan-gurauan yang mungkin membuat dia tersenyum. Alhamdulillah akhirnya dia tersenyum dan mulai berbicara. ” Terlalu…terlalu banget tuh orang (saudaranya red) malu saya jadinya sama Mas Cech ” Saya hanya menjawab tidak apa-apa biasalah namanya orang lagi di bawah biasanya dipandang sebelah mata oleh orang yang ada di atas (tidak semua sich).

Kemudian teman mulai bercerita sambil menghabiskan es kelapa mudanya. Orang tersebut adalah kakak iparnya dan memang dari dulu selalu bicara kurang santun apabila bicarakan uang. Sepertinya kakak iparnya akan jatuh miskin kalau mengeluarkan uang dan kalau bicara tidak pernah jauh-jauh dari masalah uang. Sementara kakak kandungnya (laki-laki) sangat takut dan kelihatan tidak punya sikap bila berhadapan dengan istrinya. Memang kalau dengar sejarah kakak kandung dengan iparnya sudah berbeda kelas. Si perempuan lebih kaya daripada si pria. Ohhhhh pantesan saja dalam pikiranku. Kemudian saya katakan bahwa sungguh miris mendengar ucapan kakak iparnya itu bahkan sempat emosi dan hampir saja saya mau santet ehhhh tempeleng tuh orang. Untung saja tidak kejadian, coba kalau kejadian bisa-bisa urusan dech sama polisi.

Masih dalam keadaan bingung, teman meminta tolong kepada saya tentang apa yang harus dia lakukan sementara sang istri masih di rumah sakit dan menunggu kabar baik tentang biaya persalinannya. Saya jawab bagaimana kalau saya antar dia ke rumah sakit dulu sambil putar otak mencari jalan keluar. Bismillah, itulah kalimat yang keluar dari mulut saya.

Benar saja, di ruang UGD rumah sakit tampak istrinya sedang mengerang kesakitan. Syukurnya ada adik istrinya yang menemani selama teman saya keluar.  Akhirnya dokter memberitahukan bahwa isterinya harus segera ditangani karena memang sudah saatnya melahirkan. Tetapi masih ada yang harus diselesaikan sebelum persalinan yaitu teman harus menyelesaikan administrasi dulu. Wah tambah bingung tuh teman. Kemudian saya katakan bahwa biar masalah administrasi saya yang tangani dan menyuruh teman yang mendampingi istrinya (sudah pengalaman ini ngurus yang beginian dalam hati saya). Pokoknya beres….beres apaan dalam pikiran saya trus dari mana uangnya. Dengan keyakinan yang tinggi saya menghampiri bagian administrasi sambil memohon keringanan agar tanpa DP, istri teman dapat melakukan persalinan. Seperti yang diduga, tetap saja bagian administrasi menolah permintaan saya dan dikatakan bahwa ini sudah menjadi prosedur rumah sakit. Hampir 3o menit saya debat kusir tapi tetap tidak ada kelonggaran. Waduh bagaimana ini saya harus berbicara dengan teman saya.

Kemudian saya putuskan untuk menenangkan pikiran dulu di pojokan sebuah ruang tunggu  sebelum menemui teman  untuk memberitahukan ketidak berhasilan saya meyakinkan pikak administrasi rumah sakit. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba tanpa sadar bibir ini mengucapkan kata ALLAH…ALLAH…ALLAH dan seterusnya. Karena takut dianggap orang gila maka saya menahan diri dan mengucapkannya dalam hati ALLAH ALLAH ALLAH ALLAH ALLAH….. (langsung saya teringat pengalaman yang sama sewaktu membawa ibu saya ke rumah sakit dan saat itu kami tidak uang sepersen).  Sambil memejamkan mata dan menundukkan kepala terus dalam hati saya mengucapkan nama ALLAH sampai akhirnya saya tertidur. Tiba-tiba ada yang membangunkan saya dan memanggil-manggil nama saya. ” Cech…cech…cech bangun “. Sepertinya suara orang yang saya kenal dan langsung saya bangun. Betapa terkejutnya ternyata yang membangunkan  adalah seorang yang sudah lama saya kenal. ” Eh kamu Fad (Fadli bukan nama sebenanya). Lagi ngapain loe disini ”

Fadli sambil tersenyum balik bertanya ” Ga salah tuh. Harusnya gue yang tanya ama loe Cech. Loe sendiri lagi ngapain di rumah sakit. Siapa yang sakit ? Nyokap ? Gue tadi sempat kaget lihat loe di pojokkan ini. Bisa-bisanya loe tiduran di sini. Loe keliahatannya kurang tidur ya ”

Banyak amat pertanyaan Fadli sama saya dalam hati hati. ” Sorry nich, bukan nyokap yang sakit. Yang sakit isterinya teman gue mau melahirkan. Gue tadi ketiduran karena sudah pusing mikirin masalah ini ehhh malah ketiduran hehehehe ”

Fadli balik bertanya, ” Kok elo yang pusing. Bini orang kok, kemana suaminya ? ”

Saya balik jawab,” Ada sich lagi nemenin bininya, cuma masalahnya tadi gue sudah kadung janji bantuin dia masalah administrasi. Tahu khan masalah uang muka kalau ga ada uang ga bisa ditangani segera. Maksud gue minta keringanan khan mereka orang susah.  Sementara bininya ngerang kesakitan melulu. ”

” Oh gitu masalahnya, baik amat loe Cech. Berapa sich biaya persalinannya ?  ”

” Wah gue kurang tahu Fad, emangnya kenapa ? ”

” Dimana tuh ruangan administrasinya ? ”

” Disana Fad. Loe mau ngapain Fad ? ”

” Gue mau bantu loe, ayo temenin gue ”

” Banyak duit loe ”

” Udah ah jangan banyak tanya ”

Segera saya dan Fadli ke ruangan administrasi. Setelah tanya detil mengenai biaya persalinan baik persalinan normal maupun operasi cesar, Fadli langsung membayar uang mukanya dan menjadi penjamin pasien kalau kurang biayanya. Setelah menyelesaikan seluruh administrasi, kami berdua menemui teman dan isteri yang sejak lama menungggu dengan cemasnya di ruang UGD maka segeralah dilakukan persalinan. Dalam hitungan jam, isteri teman berhasil dengan selamat melahirkan seorang bayi perempuan. Saya dan Fadli menungguinya sampai selesainya persalinan. Oh ya tak lupa teman dan isterinya mengucapkan terima kasih kepada Fadli atas pertolongan pada saat kami ingin pamit pulang. Ternyata benar kalau Allah itu Maha Mendengar dan ketika manusia mengalami tingkat keputusasaan yang tinggi PASTI Allah SWT akan menolong dan memberikan petunjuk-NYA.

Perlu diketahui bahwa Fadli ini adalah teman saya yang pernah mengalami hinaan dari mertuanya pada saat dulu dia menganggur dan kata-kata mertuanya juga sama “Kerja dong kerja dasar pemalas ” Kejadiannya sekitar 13 tahun yang lalu. Saat itu Fadli minta tolong kepada saya untuk dicarikan kerja. Kebetulan sekali saat itu ada teman dengan jabatan General Manager yang bekerja di sebuah perusahaan keramik dari Inggris dan memang sedang membutuhkan tenaga teknik untuk produksi keramiknya. Dan ternyata pas banget dengan basic ilmu Fadli yaitu teknik geologi dan langsung saya perkenalkan dengannya lengkap dengan surat lamarannya. Alhamdulillah Fadli bisa diterima di perusahaan tersebut. 3 bulan kemudian, Fadli dikirim untuk magang ke Manchaster Inggris selama 1 tahun, ke Afrika Selatan selama 8 bulan, dan Australia selama 6 bulan.  Senang rasanya melihat kesuksesan Fadli. Sekarang Fadli bekerja di sebuah perusahaan konsultan tambang asal Australia yang berkedudukan di Melbourne.

Maka itu jangan hanya bisa ngomong “Kerja Dong Kerja  Dasar Pemalas”. Kalau kita memang tidak mau membantu mencarikan solusinya. Seharusnya, ” Ayo Kamu Bawa CV Kamu Ke Tempat Teman Saya Yang Sedang Membutuhkan Tenaga Kerja. Langsung Test Dan Nego Sendiri Gajinya. Masalah Diterima atau Tidak Tergantung Kemampuan Kamu. Puas Khan. Enak Khan. Ayo Mau Kemana, Tak Gendong Kemana-mana “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s