KONTEMPLASI 2010 : PETANI KECIL

Beberapa tulisan ini disadur dari sebuah situs pertanian SINAR TANI ONLINE dengan harapan agar bangsa ini tidak melupakan kultur asli masyarakat Indonesia yaitu kultur masyarakat agraris. Senin, 09/02/2009, Sinar tani On line mengeluarkan tulisan di kolom situsnya dengan judul JASA PETANI KECIL. Berikut adalah pemaparannya :

Dalam sebuah diskusi yang mencoba mengkritisi prestasi pemerintahan SBY di bidang pertanian terungkap bahwa sebagian besar produksi pangan nasional sangat bergantung pada petani gurem berlahan sempit. Artinya, sebagian besar produksi pangan nasional dihasilkan para petani kecil yang memiliki sumberdaya sangat terbatas. Bukan hanya lahan mereka yang sempit, mereka umumnya juga terbatas dalam modal, pengetahuan, informasi dan juga pasar.

Oleh karena itu banyak pihak menilai ketergantungan pada petani gurem ini berbahaya bagi keamanan pangan nasional di masa depan. Berbagai keterbatasan petani kecil beresiko tinggi menggoncang ketersediaan pangan. Pengalaman membuktikan goncangan kecil saja bisa membuat petani terpuruk. Lihat saja kasus kelangkaan pupuk yang berlangsung hanya beberapa saat telah membuat ribuan petani terpukul. Musibah banjir yang terjadi di berbagai tempat juga telah menghancurkan ribuan hektar lahan petani.

Ilustrasi - formatnews.com

Padahal data faktual menunjukkan jumlah petani kecil setiap tahun cenderung terus meningkat. Tahun 1993 jumlah petani kecil hanya 51,9% dari 20,8 juta rumah tangga petani. Sepuluh tahun kemudian, tahun 2003 porsi petani gurem naik menjadi 53,9%, dan tahun 2008 diperkirakan jumlah petani kecil sudah mencapai 55,1% dari jumlah total rumahtangga petani. Data lain juga menunjukkan jumlah petani kecil yang tergusur dari lahannya setiap tahun juga cenderung terus meningkat. Ini mengindikasikan pemilikan lahan mereka juga cenderung semakin sempit.

Oleh karena itu sudah saatnya kita serius menghargai jasa petani kecil yang selama ini telah menjadi penopang produksi pangan nasional. Penghargaan itu diwujudkan dengan lebih serius memperhatikan nasib mereka. Salah satu yang terpenting adalah menghindari pemilikan lahan yang semakin sempit dan melindungi mereka dari kemungkinan tergusur. Sementara komitmen untuk memberdayakan mereka bisa dilakukan dengan memperkuat sumberdaya yang mereka miliki. Lahan yang sempit tetap bisa menjadi kekuatan potensial bila didukung sumberdaya yang kuat.

Upaya kongkrit yang bisa dilakukan adalah memberi bantuan modal usahatani. Hal ini sudah dilakukan pemerintah, termasuk memberi subsidi pupuk dan sarana produksi. Langkah ini terbukti mampu memberi hasil positif bagi peningkatan produksi lahan petani. Hal ini tentunya juga berkorelasi positif dengan peningkatan pendapatan petani.

Hampir satu tahun kemudian, kembali Sinar Tani Online mengingatkan kepada bangsa ini tentang nasib petani kecil di balik kenaikan produktivitas padi yang ditulis oleh Sumarno dan Unang G. Kartasasmita – Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor (sumbernya DISINI). Berikut adalah tulisan lengkapnya:

Produktivitas padi sawah yang cukup tinggi, dibarengi harga jual gabah yang bagus dalam waktu dua tahun terakhir membawakan berkah keberuntungan bagi petani padi, yang berakibat pula terhadap kenaikan kesejahteraan petani. Betulkah hal tersebut terjadi pada seluruh petani padi di perdesaan? Jawabannya ternyata terbagi dua: ya, bagi sebagian kecil, dan tidak bagi sebagian besar petani. Walaupun jawaban tersebut sudah dapat diduga sebelumnya, namun anatomi mengapa demikian dan berapa pendapatan petani dari usaha tani produksi padi sawah, menarik untuk diketahui.

Bagi kita yang biasa berhitung secara ekstrapolatif atau berdasarkan konversi, adalah sangat mudah menghitung keuntungan usaha tani padi per hektar, dan berapa nisbah atau rasio antara keuntungan dengan ongkos usaha. Untuk memberikan gambaran “keuntungan” petani dari usaha tani padi sawah pada lahan milik sendiri disajikan pada Tabel 1. Petani yang memiliki lahan sawah dua hektar akan mendapat keuntungan sekitar Rp 21,9 juta sekali panen (jangka waktu 4 bulan), atau sekitar Rp 5,48 juta per bulan. Bila petani memiliki lahan sawah 5 hektar, pendapatan per bulan mencapai sekitar Rp 13,7 juta, dan bila petani hanya memiliki 1 hektar, pendapatan per bulan hanya Rp 2,7 juta. Pendapatan dari usaha tani padi dinilai cukup layak bagi penghidupan keluarga petani apabila petani memiliki lahan sawah 2 hektar, atau minimal 1 hektar.

Jadi, adalah benar bahwa produktivitas padi sawah yang tinggi dan harga jual gabah yang bagus, membawa keberuntungan usaha bagi petani, yaitu petani pemilik lahan yang agak luas, lebih dari satu hektar. Dan memang seharusnyalah, petani padi memiliki lahan sawah sendiri, idealnya minimal 2 hektar per KK. Seperti halnya petani padi di Thailand, mereka rata-rata memiliki luas lahan garapan 5 hektar /KK, di Malaysia 4 hektar /KK, dan bahkan di Australia mencapai 100 hektar /KK. Sayangnya petani padi di Indonesia kepemilikan lahan sawahnya rata-rata hanya 0,5 hektar. Di Karawang dan di Indramayu, Jawa Barat, memang ada beberapa petani yang luas sawahnya 50 hektar, bahkan ada yang lebih. Akan tetapi, jumlah pemilik lahan yang luasnya demikian hanya sedikit, kurang dari 1%, sedangkan yang terbanyak antara 0,3-0,7 hektar. Dapat dibayangkan betapa akan sejahteranya petani Indonesia apabila skala usahanya sama dengan petani Thailand, apalagi bila sama dengan petani Australia.

Ilustrasi - desaingrafisindonesia.wordpress.com

Petani Penggarap

Petani penggarap tidak mempunyai lahan sawah, mereka menanam padi atas dasar bagi-hasil dengan pemilik lahan. Petani penggarap merupakan petani padi aktif, karena ia mengerjakan usaha tani padi dari sejak membuat persemaian, olah tanah, tanam, pemupukan dan seterusnya hingga panen. Bahkan, petani penggarap membeli benih, pupuk, pestisida, dan membayar ongkos pengolahan tanah dengan traktor dan membayar tenaga kerja tanam, penyiangan, dan panen. Faktor yang membedakan petani penggarap dengan petani padi biasa adalah mereka tidak memiliki lahan sawah yang mereka garap. Istilah lain petani penggarap adalah petani pemaro, pengedok, atau petani bagi hasil. Dalam bahasa Inggris, petani penggarap disebut sebagai share-cropper. Dalam istilah lain, petani penggarap ini dapat juga disebut sebagai buruh tani atau petani kuli kendo.

Jaman dulu sebelum 1960 di perdesaan sudah ada petani penggarap, tetapi jumlahnya sangat sedikit, mungkin hanya 1-3 KK pada setiap pedukuhan yang terdiri atas 50-70 KK petani. Dengan demikian, petani penggarap dapat hidup dengan nyaman, karena di desa tersedia banyak pekerjaan dari petani pemilik lahan, di samping lahan sawah bagi hasil yang ia kerjakan. Masyarakat desa pada umumnya memberikan keringanan kepada petani tanpa lahan untuk tidak usah membayar iuran untuk pembuatan jalan desa, iuran pemeliharaan saluran irigasi, atau iuran pembangunan tempat peribadatan. Bahkan warga desa yang baik hati, sering memberi bagian hasil panen padi kepada petani tanpa lahan yang pernah “membantu bekerja” di sawahnya, dalam jumlah yang lumayan. Demikian juga untuk hasil panen komoditas lain, seperti jagung, kacang, bawang merah, cabe, labu, atau pisang. Memberi bagian panen kepada keluarga petani tanpa lahan merupakan kebanggaan bagi keluarga petani yang mampu. Akan tetapi itu dahulu, antara tahun 1950-an hingga tahun 1960-an, pada waktu jumlah petani penggarap atau buruh tani atau kuli kendo di perdesaan kurang dari 3% dari total KK petani.

Bagaimana Status Petani Tuna Lahan pada Abad XXI?

Sungguh sangat mengejutkan, di beberapa kabupaten di Jawa Barat, petani tanpa lahan yang berstatus sebagai petani penggarap jumlahnya mencapai 30-60%, bahkan mereka yang berstatus sebagai buruh tani atau kuli kendo di beberapa desa mencapai 75%. Ini suatu porsi jumlah yang sangat banyak, apalagi pada kondisi kepemilikan lahan sawah petani (bagi petani yang memiliki lahan) kurang dari 0,5 hektar. Petani pemilik lahan secara faktual tentu tidak dapat menyerap tenaga kerja ”tuna lahan” yang jumlahnya melebihi petani pemilik lahan, sehingga terdapat ”pasokan tenaga” yang berlebihan atau labour over supply di perdesaan.

Kalau kita membaca tulisan diatas, suatu masalah yang sudah sering diukas dan dibicarakan lewat berbagai macam forum. Bahkan mulut-mulut para pengamat, pemerhati dan pelaku di bidang pertanian mungkin sudah berbusa-busa atau malah sudah kaknya musim kemarau. Seingat saya jaman ORBA dulu sewaktu GBHN masih menjadi pedoman untuk menentukan arah pembangunan Indonesia yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) sudah sangat jelas bahwa sektor pertanian menjadi skala prioritas utama dalam pembangunan bangsa ini. Selain itu sudah sangat jelas juga rencana pembangunan pertanian kita bukk hanya pertanian yang menghasilkan produksi bahan baku tetapi sudah pada pengembangan teknologi yang disertai tumbuhnya industri-industri di sektor pertanian. Terlepas kaitannya dengan gonjang ganjing politik, makin kesini pembangunan sektor pertanian bangsa ini makin tidak jelas. Sepertinya bangsa ini hanya bisa berwacana, beretorika dan menjadi konsumen bagi komoditi-komoditi pertanian yang berasal luar negeri terutama Cina, India, Malaysia, Thailand, Australia, Amerika Serikat dan sebagainya.

Memang benar, pembangunan sektor pertanian bukanlah pekerjaan yang mudah tetapi setidaknya bangsa ini menyadari sektor inilah yang menjadi keunggulan kompetitif bila ingin bersaing dengan bangsa lain. Butuh kerja keras, sinerji dan koordinasi yang komprehensif dari seluruh pihak yang berkompeten di bidang pertanian serta dukungan yang kuat dan besar dari seluruh rakyat Indonesia. Kapan lagi kalau bukan sekarang, bangsa-bangsa lain sudah memulai. Saya hanya bisa berharap tahun-tahun berikutnya tidak ada lagi tulisan tentang Petani Kecil tetapi yang menonjol adalah keberhasilan Petani Kecil yang sukses dan bangga menjalani profesinya sebagai PETANI.

One thought on “KONTEMPLASI 2010 : PETANI KECIL

  1. Ping-balik: Pembuatan Jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s