Mengapa Anak-anak Bertanya “Mengapa”

Why-Ilustration (livescience.com)

Para peneliti mengatakan bahwa seorang anak tidak akan pernah berhenti bertanya “Mengapa” kepada orang tuanya atau orang dewasa. Hal ini terjadi secara ilmiah karena anak-anak selalu berusaha mencari kebenaran terhadap segala sesuatu yang dilihat dan dirasakannya. Disamping itu anak-anak mempunyai kemampuan lebih baik dalam merespon beberapa penjelasan yang diberikan orang tuanya atau orang dewasa.

Penemuan baru ini didasarkan pada dua bagian penelitian yang melibatkan anak-anak berusia 2 sampai 5 tahun. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak-anak jauh lebih aktif dalam menimba banyak pengetahuan.

Frazier Brendi peneliti utama dari University of Michigan kepada LiveScience mengatakan “Bahkan dari pagi-pagi sekali ketika mereka mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”, mereka langsung meminta kami para peneliti untuk mendapatkan penjelasan,”

Ketika penjelasan diberikan kepada anak-anak dan dilakukan penelitian lanjutan. Frazier menemukan bahwa anak-anak lebih berperan aktif belajar tentang dunia di sekitar mereka dari apa yang kita duga.
Tetapi penemuan baru ini tidak dapat digeneralisasi untuk semua anak karena ukuran sampelnya kecil menurut Jurnal Child Development yang terbit pada bulan Nopember/Desember 2009.

Untuk mengetahui tentang ‘tanggapan anak-anak atas pertanyaan-pertanyaan yang berbeda maka Frazier dan rekan-rekannya meneliti transkrip dari percakapan sehari-hari enam anak-anak (berusia 2 sampai 4) yang berbicara dengan orang tua, saudara, dan pengunjung di rumah. Dengan hanya enam anak-anak, para peneliti menganalisis lebih dari 580 transkrip percakapan 6 orang anak-anak tersebut sebagai unit analisa. Secara keseluruhan, terdapat lebih dari 3.100 kausal pertanyaan bagaimana dan mengapa. Contohnya adalah “Mengapa perut saya begitu besar, ibu ?” “Kenapa kita tidak menyimpan cahaya ?” dan “Bagaimana ular dapat mendengar jika mereka tidak punya telinga ?”

Hasilnya menunjukkan anak-anak itu akan mengajukan pertanyaan mereka kembali lebih dari dua kali bahkan lebih kepada jawaban tanpa penjelasan dibanding jawaban dengan penjelasan. Dan ketika mereka mendapatkan penjelasan maka sekitar 37 persen dari waktu mereka, anak-anak tersebut mengajukan pertanyaan lanjutan sebanyak empat kali atau lebih. Pertanyaan lanjutan tersebut sebagai bentuk respon lanjutan anak-anak supaya mereka mendapatkan mendapatkan penjelasan lebih rinci.

Hasil awal dari studi baru yang terpisah dari Frazier dkk menyarankan ada hal-hal seperti terlalu banyaknya informasi dalam sebuah respon. “Sepertinya anak-anak mungkin memiliki tingkat keingintahuan yang optimal dari apa yang mereka minati,” kata Frazier.

Bagian selanjutnya dari penelitian baru adalah berbasis laboratorium dan melibatkan 42 orang anak prasekolah (usia 3 sampai 5) yang memonitor obrolan mereka ketika dipancing lewat mainan, buku cerita dan video. Item-item tersebut sengaja diciptakan agar mempunyai efek mengejutkan dan memprovokasi situasi. Sebagai contoh, anak-anak diperlihatkan sekotak krayon berwarna merah-merah, puzzle dengan potongan yang tidak cocok, dan sebuah buku cerita yang menggambarkan seorang anak yang menuangkan air jeruk pada sereal.

Orang-orang dewasa yang menemani anak-anak tersebut diperintahkan untuk memberikan 2 jenis respon yaitu respon dengan penjelasan dan respon tanpa penjelasan. Jadi seperti yang diharapkan, contohnya ketika anak-anak bertanya tentang skenario jus jeruk: “Mengapa ia melakukan itu ?” Kemudian orang dewasa akan merespon dengan penjelasan, “Dia pikir itu susu dalam kendi,” atau respon tanpa penjelasan, “Saya ingin menempatkan susu pada sereal saya.”

Mereka menemukan perbedaan yang signifikan dalam jenis reaksi jawaban penjelasan versus yang tanpa penjelasan. Hampir 30 persen dari anak-anak sewaktu akan setuju, mengangguk atau mengatakan “oh” setelah mendapatkan penjelasan yang benar. Sebaliknya hanya di bawah 13 persen dari anak-anak yang mengangguk setuju atau mengatakan “Ohh” terhadap respon tanpa penjelasan.

Studi yang baru diterbitkan ini didanai, sebagian, oleh National Science Foundation dan Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s