Seandainya Para Pendiri Bangsa Bersikap Egois Maka….

Foto Kompas - Agus Susanto
Foto Kompas - Agus Susanto

Beberapa hari ini saya merasa terusik dengan beberapa tulisan yang berhubungan dengan NKRI. Dengan gamblang dan lugas beberapa tulisan itu menyalahkan konsep NKRI dan tetap kukuh menyatakan bahwa konsep merekalah yang paling benar dengan alasan adanya ketidakadilan secara ekonomi

Untuk itu saya ingin mengajak  pembaca untuk merenungkan kembali tentang makna Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan melihat kembali sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.

Kadangkala saya merenung dan menerawang jauh memasuki masa kolonialisme Hindia Belanda sekitar awal abad ke-19. Seandainya para pendiri bangsa hanya memikirkan kepentingan pribadi (egosentris). Apa yang akan terjadi ? Saya akan mengambil perumpamaan sebagai berikut :

Seandainya waktu itu Soekarno yang mempunyai latar belakang bangsawan dan diberi keleluasaan atau kesempatan untuk belajar sampai perguruaan tinggi dimana untuk mendapatkan pendidikan yang layak saja sangat susah (maksimalnya lulusan Sekolah Rakyat). Saat itu Soekarno mendapatkan fasilitas lebih dari pemerintah Hindia Belanda maka Soekarno bisa saja bergabung dengan Hindia Belanda setelah lulus dari perguruan tinggi. Mungkin Soekano akan mendapatkan posisi yang cukup baik dibandingkan sebagian besar rakyat Indonesia yang masih bodoh. Bahkan Soekano bisa memperkaya dirinya dan berleha-leha serta tidak perlu berepot-repot ria beragumentasi, berpidato, bersusah payah kesana kemari untuk mempersatukan daerah-daerah seluruh Indonesia sampai rela di penjara.

Seandainya waktu itu, Profesor Rooseno seorang sahabat Soekarno di THS Bandung (ITB) yang pada tahun 1932 menjadi satu-satunya pribumi di antara 12 orang yang lulus dari insitut tersebut langsung bekerja dengan pemerintah Hindia Belanda. Mungkin beliau akan menjadi orang kepercayaan pemerintah Hindia Belanda dengan kekayaan yang melimpah dan tidak perlu repot-repot memikirkan pengembangan ilmu teknik di Indonesia dimana membutuhkan energi yang besar dan melelahkan untuk meletakan dasar berdirinya fakultas tehnik di UI dan UGM.

Seandainya waktu itu Bung Hatta yang lulusan Nederland Handelshogeschool (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Universitas Erasmus) dalam bidang ilmu perdagangan/bisnis memutuskan menetap di negeri Belanda. Dengan latar belakang pendidikannya mungkin saja beliau akan menjadi profesional hebat bahkan bisa saja menjadi pengusaha yang sukses di Eropa. Beliau tidak perlu meninggalkan negeri Belanda yang telah didiaminya selama 11 tahun hanya untuk sekedar memberikan pencerahan kepada rakyat Indonesia tentang ilmu ekonomi terutama yang berhubungan dengan Koperasi.

Begitupun dengan Sutan Sjahrir yang lulusan Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Kalau saja beliau memikirkan dirinya sendiri mungkin saja bisa menjadi pengacara hebat untuk pemerintah Belanda dan hidup nyaman. Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru tidak perlu sampai dibuang ke Boven Digul. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.

Kemudian Agus Salim, lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau. Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.
Setelah lulus, Agus Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Dengan melihat perjalanan hidupnya, Agus Salim bisa saja hidup nyaman dan tidak perlu susah payah meletakkan dasar jurnalistik di Indonesia.

Masih banyak lagi para pendiri bangsa Indonesia seperti Frans Kaisiepo, Dr. Gerungan Saul Samuel Yacob Ratulangi, Mr. Johanes Latuharhary, Mohammad Husni Thamrin, dan lain-lain (bisa dilihat DISINI)

Tetapi para pendiri bangsa melihat terjadinya penjajahan dalam segala hal oleh pemerintah Hindia Belanda. Rasa ketidakadilan yang menimpa rakyat Indonesialah yang mengakibatkan para pendiri bangsa melakukan pergerakan, perlawanan dan berjuang untuk lepas dari penjajahan Hindia Belanda. Mereka bersatu dan tidak bergerak sendiri-sendiri karena mereka tahu dengan bersatulah maka bangsa Indonesia bisa merdeka.

Sebagai bahan pendukung tulisan ini bisa klik MALU KAMI MENJADI ANAKMU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s