Wisata Ziarah: 1 Muharram 1431 Hijriyah

Posted on Updated on

Sebagai orang keturunan Muslim, setiap tahun saya selalu merayakan acara Tahun Baru Islam 1431 H atau lebih dikenal dengan Suroan. Lho kok keturunan muslim sich. Khan saya lahir ke dunia sudah dianggap muslim karena Bapak-Ibu saya beragama Islam. Jadi bisa dikatakan keturunan Muslim yang masih memegang ajaran orang tua-orang tua jaman dulu yang selalu merayakan Suroan (1 Muharram) tiap tahunnya. Lagipula memang inilah tahun baru Islam yang sudah seharusnya dirayakan.

Sudah sebulan yang lalu, saya mempersiapkan diri untuk merayakan acara Suroan yang diadakan oleh Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran milik Kakek Buyut (Uyut) di Sumedang. Pada tahun ini ada suatu yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena pada suroan kali ini yang bersamaan dengan Jumat Kliwon akan diperdengarkan kembali Gong Renteng Kabuyutan (Pusaka berupa alat musik Gong yabg sangat dikeramatkan oleh masyarakat Sumedang Larang). Gong ini tidak boleh sembarangan diperdengarkan pada waktu-waktu tertentu dan dilarang dimainkan bertepatan dengan malam Jum’at Kliwon. Tetapi kenapa pada tahun ini justru Gong Renteng Kabuyutan justru dimainkan pas malam 1 Muharram yang kebetulan bertepatan dengan malam Jumat Kliwon. Ada pertanda apa ini ? Tidak ada yang tahu kecuali yang tahu.

Kamis pagi tepat jam 5 pagi saya berangkat ke stasiun Gambir dengan menggunakan kereta api menuju Bandung. Tepat jam 6.10 pagi kereta Argo Gede berangkat menuju Bandung. Selama di dalam kereta api, saya mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk Suroan nanti. Tetapi ada satu yang kurang yaitu kamera digital tidak bisa dibawa karena sedang diperbaiki akibat jatuh pas ada acara pernikahan teman. Mau ga mau saya menggunakan kamera HP 2 Mega Pixell dengan harapan diperoleh gambar yang bagus atau minimal tidak jelek-jelek banget. Setelah dicoba-coba beberapa kali hasil jepretan kamera HP diperoleh hasil gambar yang lumayanlah. Cuma yang jadi kendala adalah pada saat pengambilan gambar malam hari. Saat itu saya berharap mendapatkan momen yang bagus.

Tanpa terasa kereta api sampai di Bandung tepat pukul 9.20 pagi. Sesuai dengan rencana yang dibuat bersama teman di Bandung, saya akan dijemput di stasiun Bandung dan langsung diantar ke Sumedang. Memang saya sempat menunggu beberapa menit dan datanglah mobil teman asal Bandung dengan warna khas jingganya. Tanpa berlama-lama, kami langsung menuju Padepokan Galeuh Pakuan di Gunung Simpay, Kampung Cibubutl, Desa Jaya Mekar Kecamatan Cibugel Kabupaten Sumedang. Akhirnya kami sampai di padepokan sekitar pukul 11.00 dan sudah banyak tamu yang berdatangan.

Sesampainya di Padepokan, kami langsung menghampiri Uyut yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa tamu yang kebanyakan sudah saya kenal akrab. Sebagai anak sudah menjadi kebiasaan kami untuk mencium Uyut yang sangat kami hormati dan sebagai orang tua yang selalu memberikan perhatian yang sangat besar kepada seluruh anak-anak atau orang-orang yang sudah mengenal beliau.

Tiba-tiba terdengar suara musik yang sepertinya pengiring gerakan pencak silat yang dilakukan mulai dari pesilat dewasa sampai pesilat berusia muda. Tampak sekali adanya harmonisasi antara suara musik dengan gerakan pencak. Sungguh indah peninggalan para leluhur (karuhun) Sunda jaman dulu yang masih tetap eksis sampai sekarang.

Acara Pencak Silat diiringi musik pencak

Sayang sekali, saya hanya bisa mengabadikan momen tersebut lewat kamera HP yang hasilnya kurang maksimal seandainya memakai kamera SLR mungkin hasilnya memuaskan.

Tanpa terasa hari mulai sore dan acara pencak silat suadh selesai ditampilkan. Tamu-tamu dari berbagai daerah berdatangan dan halaman padepokan sudah dipenuhi mobil para tamu dimana tidak menyisakan tempat secuilpun sehingga tidak semua mobil bisa parkir di dalam padepokan (di luar padepokan pun sudah berjejer mobil-mobil yang parkir).

Bolak-balik saya melihat Uyut menyambut tamu yang datang. Di pendopo mulai dari satu sudut ke sudut yang lain menyambangi dan berbicara dengan para tamu. Kemudian pergi lagi ke ruang tamu di rumah utama menerima tamu yang baru datang. Sungguh melelahkan tapi tampak sekali tidak ada raut kelelahan di wajah Uyut.

Sesekali Uyut melakukan pembicaraan di warung depan padepokan bersama tamu

Tepat jam 21.00, acara tawasulan di mulai dimana uyut memimpin doa kepada Allah SWT bagi keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan para tamu serta mendoakan para karuhun yang telah meninggal dunia mulai dari karuhun yang makamnya ada di barat jawa sampai ke timur Jawa bahkan ada yang makamnya di Sumatera dan luar Indonesia. Kalau ditotal mungkin jumlah bisa sekitar 700 karuhun, Tiap-tiap karuhun dibacakan suratul Fatehah. semoga para karuhun hidup tenang dan bahagia di alam sana serta diterima amal ibadahnya.

Dalam acara suroan tersebut juga dilakukan pencucian benda-benda pusaka baik yang ada di Uyut maupun milik pribadi para pengunjung. Acara ini berlangsung sekitar 3 jam. Setelah itu kami disuruh mandi yang airnya berasal dari bekas cucian benda pusaka. Saya hanya berpikir bahwa ritual ini hanya bagian dari budaya para karuhun yang mengandung makna pembersihan diri dari segala kotoran yang melekat di dalam diri selama 1 tahun ini. Kembali lagi acara tawasulan tidak bisa diabadikan dengan foto karena kamera HP saya tidak mampu mengambil gambar yang baik dan fokus pada malam hari.

Setelah mandi, tepat jam 00.30, gong renteng kabuyutan dimainkan dan suasana magis langsung terasa pada saat itu. Karena pada saat dimainkan seluruh lampu dimatikan dan sebagai penerang adalah obor bambu dengan bahan bakar minyak tanah. Ada beberapa orang tiba-tiba tanpa sadar seperti kesurupan menari dengan mengikuti langgam musik yang dimainkan. Baik laki-laki maupun perempuan yang terkena suasana magis ikut menari dengan gerakan-gerakan yang unik dan indah. Tanpa terasa acara dimainkannya Pusaka Gong Renteng Kabuyutan berlangsung selama 2 jam lebih dan selesai sebelum subuh.

Esok paginya, tidak seperti tahun lalu maka suroan kali ini kami tidak melakukan ziarah ke makam Prabu Tajimalela ( Prabu Siliwangi, pendiri kerajaan Sumedang Larang) yang lokasinya berada di puncak Gunung Simpay. Tetapi ziarah dialihkan ke makam Eyang Parana yang berada di daerah Cipatujah Tasikmalaya. Eyang Parana sebenarnya adalah Prabu Mundiwangi (Prabu Siliwangi Ke-5, bapak dari Prabu Kian Santang). Selain itu kami direncanakan akan melakukan ziarah ke beberapa tempat yang lokasinya masih berdekatan dengan makam Eyang Parana.

Sudah siap berangkat ziarah
Boboho juga ikut ziarah lho hehehehe

Pukul 8.30 pagi, dengan menggunakan mobil berjumlah 8 buah saya dan rombongan berangkat menuju ziarah yang lokasinya berada di daerah sekitar Tasikmalaya sebelah selatan. Dengan selalu melakukan koordinasi selama perjalanan, akhirnya kami tiba dan berkumpul dulu di Mesjid Jami Al Asykari Sukapura Tasikmalaya untuk melakukan shalat Jumat terlebih dahulu.

Jarak lokasi makam dan mesjid berjarak kurang lebih 2 km sehingga sebelum menuju ke makam maka saya dan rombongan mengisi perut dulu di warung makan sederhana yang ada di sekitar mesjid. Setelah selesai makan, kami langsung menuju Komplek Makam yang bernama Makam Leluhur Sukapura Baganjing Tasikmalaya.

Posisi kompleks makam berada di atas sebuah bukit yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar. Tampaknya kompleks makam tersebut dirawat dengan baik dan ada kuncen yang jumlahnya 2 orang yang selalu menuntun doa bagi para pengunjung. Kompleks makam terdiri dari beberapa makam. Beberapa meter dari pintu gerbang dengan jalan menanjak tampak bangunan makam dengan 3 buah nisan yang bercat putih ( menurut kuncen 3 makam tesebut adalah makam dari 3 orang istri Mbah Dalem Sawidak).

Kemudian mengikuti tangga menanjak menuju puncak bukit terdapat 2 buah bangunan makam. Bangunan pertama hanya terdapat 1 makam yang pada nisannya tertulis SBDL Abdul. Saya kurang mengerti singkatan apa SBDL tersebut karena sibuknya saya melakukan pengambilan gambar di sekitar bangunan pertama tersebut. Bangunan kedua inilah merupakan bangunan makam utama yang terdapat 2 makam yang ramai dikunjungi dan dilakukan doa. 2 makam ini ditutupi oleh kelambu berwarna putih. Dari tulisan yang tertera di nisan dari kedua makam tersebut, makam pertama merupakan makam RAA Wiradadaha (Bupati Sukapura, 1632-1674) dan makam yang kedua tertulis makam R. Anggadira atau lebih dikenal dengan Mbah Dalem Sawidak. Rupanya Mbah Dalem Sawidak ini merupakan cucu dari RAA Wiradadaha. Kenapa disebut Sawidak (60), karena jumlah isteri 60 orang.

Sebenarnya Mbah Dalem Sawidak adalah Pangeran Sugih yang makamnya ada di Gunung Puyuh Sumedang. Selain sugih hartanya, belaiu juga sugih istrinya yang berjumlah 60 orang dengan keterangan 48 orang isteri di Sumedang dan 12 orang isteri di Sukapura Tasikmalaya. Wao banyak sekali hehehehe. Jadi mana yang makam atau mana yang maqom, jawabannya tidak ada yang tahu kecuali yang tahu. Di dalam makam utama tersebut rombongan kami melakukan doa dengan mengucapkan Al Fatehah dan Al Ikhlas bagi ke dua karuhun yang ada di tempat itu dan dipimpin langsung oleh kuncen kompleks makam tersebut.

Ada cerita lucu tentang Mbah Sawidak ini, pertama kali Kuncen makam mungkin karena baru jadi tidak mengenal Uyut tapi setelah melihat wajah dan rambut Uyut menimbulkan keingintahuan kuncen. Oleh Uyut diceritakan secara lengkap 2 orang karuhun yang dimakamkan tersebut. Dengan wajah terbengong-bengong atau mungkin takjub dimana kuncen sendiri kurang mengerti tentang sejarah kedua karuhun tersebut maka sambil mencium tangan, mereka minta di syahadatkan kembali atau istilahlah dikukuhkan kembali secara adat penunjukkan mereka sebagai kuncen oleh Uyut sebagai sesepuh. Dan sebagai oleh-olehnya, Uyut diberikan tasbih dari biji asem yang sudah mengeras.

Gerbang Makam Leluhur Sukapura Baganjing
3 makam dari isteri-isteri Mbah Dalem Sawidak
Pemandangan dan rindangnya suasana sekitar makam
Beberapa makam tanpa keterangan di Kompleks Makam Sukapura
Makam RAA Wiradadaha dan Mbah Dalem Sawidak di Bangunan Utama (2)
Makam yang ada di Bangunan Utama (2)
Makam SBDL Abdul di Bangunan Utama (1)

Setelah itu perjalanan ziarah karuhun dilanjutkan ke daerah Cibalong (kurang lebih 15 km dari Sukapura). Di Cibalong tersebut ada sebuah makam karuhun yang bernama Eyang Wali Abdullah. Posisi makam beliau lebih sukar dan berjarak sekitar 1/2 km dari jalan besar naik ke bukit. Sepanjang jalan menuju makam, kami rombongan harus hati-hati karena jalan ditutupi oleh ilalang atau semak belukar sehingga sering menyulitkan kami dan kadang-kadang membuat kami kesasar beberapa kali. Dengan niat yang baik, akhirnya kami sampai juga di makam Eyang Wali Abdullah.

Posisi makam ada di atas sebuah yang dilingkupi oleh pohon besar yang mungkin umurnya sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun sehingga membuat rindang dan sejuk sedikit lembab. Tidak ada penulisan nama di makam tersebut, Hanya berupa makam yang disusun rapi dari beberapa batu. Makam Eyang Wali Haji Abdullah terdapat di dalam saung sederhana yang tampaknya tidak terawat baik dan banyak kotoran sampah yang ada di sekitar makam baik di dalam maupun di luar makam. Eyang Wali Abdullah adalah salah satu murid Syekh Abdul Muhyi. Bersama Syekh Abdul Muhyi, Eyang Wali Abdullah menyebarkan agama Islam di daerah Tasikmalaya. Nama mereka sangat dikenal oleh masyarakat Tasikmalaya sebagai ulama besar. Syekh Abdul Muhyi dimakamkan di Pamijahan dan selalu ramai dikunjungi oleh para penziarah terutama ziarah wali songo. Kembali lagi kami melakukan doa kepada Allah SWT supaya segala amal beliau diterima Allah SWT dan diberikan tempat yang terbaik oleh Allah SWT.

Siap-siap menuju Makam Eyang Wali Abdullah
Seekor Ayam Jago yang selalu mengikuti kami menuju makam Eyang Wali Abdullah
Suasana di Makam Eyang Wali Abdullah sambil menunggu yang lainnya sampai
Aktivitas di dalam Makam Eyang Wali Abdullah

Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan terutama menaiki dan menuruni bukit yang lumayan untuk menyesakkan dada dan nafas yang ngos-ngosan bagi para perokok dan pemalas olah raga seperti saya ini, maka kami putuskan untuk istirahat dulu di warung makan di daerah Cibalong sampai bada Maghrib.

Perjalanan ziarah kembali dilanjutkan bada maghrib menuju daerah Cipatujah dengan jarak kurang lebih 45 km dari Cibalong. Karena hari sudah malam, beberapa kali rombongan kami kesasar. Untungnya dengan bantuan penduduk setempat akhir makam Eyang Parana berhasil ditemukan. Uyut sudah lupa lokasinya karena sudah 15 tahun yang lalu tidak pernah lagi menziarahi Eyang Parana sehingga sudah banyak perubahan lokasi dan jalan menuju ke makam. Saat itu jam menunjukkan pukul 22.30, segeralah kami menuju ke lokasi makam yang letaknya seperti makam-makam sebelumnya yaitu di atas bukit dan agak susah dinaiki karena suasana gelap dan tidak ada jalan setapak. Dengan semangat yang tinggi, rombongan kami tiba di makam Eyang Parana. Walaupun gelap gulita, saya bisa merasakan bahwa makam beliau tidak terurus karena banyak sekali puing-puing keramik yang lepas dari tembok makam.

Selain itu di sekitar makam yang terbuka tanpa ada yang menaingi banyak sekali semut merahnya yang menyebabkan terganggunya konsentrasi dan kekhusu’an kami saat berdoa. Sayangnya lagi saya tidak bisa mendokumentasikan makam Eyang Parana dalam bentuk foto karena keterbatasan kemampuan teknis kamera HP. Apa boleh buat, yang penting rangkaian wisata ziarah hari Jumat Kliwon dapat dilaksanakan dengan lancar. Persis jam 00.00, acara doa di makam Eyang Parana selesai.

Selanjutnya masing-masing kelompok dalam rombongan memutuskan untuk pamitan ke Uyut. Mereka langsung pulang ke rumahnya masing-masing. Begitupun dengan saya, cuma bedanya saya harus ke Bandung dulu baru meneruskan perjalanan pulang ke Jakarta dengan menggunakan kereta api.

About these ads

6 pemikiran pada “Wisata Ziarah: 1 Muharram 1431 Hijriyah

    R. Eno Al - Jiffar berkata:
    November 16, 2010 pukul 9:03 pm

    sya ingin lebih jelas lagi silsilah dri tumenggung wiradadaha III yg putrinya di nikahi oleh syeh h abdul muhyi…..
    atau tentang eyang wangsadirana…..

      ruddabby responded:
      November 17, 2010 pukul 1:56 am

      Saya kurang hapal. Kalau ada kesempatan datang ke kakek buyut saya di Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran Kampung Cibubut Desa Jaya Mekar Kecamatan Cibugel Kabupaten Sumedang. Beliau akan menjelaskan secara utuh Pak terima kasih

    F.H.Herman berkata:
    Juni 22, 2011 pukul 6:10 pm

    Assalamualaikum..apa bisa saudara guide saya ke makam-makam tersebut dan untuk ketemu dgn uyut pada muharam tahun ini..sms saya +60198410381

      ruddabby responded:
      Juni 27, 2011 pukul 1:57 pm

      uyut saya sudah meninggal dunia bulan april 2011 kemarin. Kalau mengantar bisa saja tetapi tidak sekarang karena saya sedang tidak tinggal di Indonesia. terima kasih Mas Herman

    Gunawan berkata:
    Juli 22, 2011 pukul 2:36 am

    Panjalu knp d lewat…???

      ruddabby responded:
      Agustus 6, 2011 pukul 12:09 pm

      itu masalah waktu aja kang Gunawan. situ panjalu khan ? Lembu Borosngora belum sempat saya buat liputannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s