Peluncuran Peta Baru Daerah Rentan Pangan

PETA PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA (geospasial.bnpb.go.id)

Ada dua berita baru di dunia pertanian yang sengaja saya publikasikan di Kompasiana agar makin menyadarkan dan memotivasi kembali bangsa ini terhadap potensi-potensi yang ada di daerah dalam rangka mengurangi jumlah penduduk miskin dengan meningkatkan pemberdayaan penduduk sekitar akan potensi produk pertanian (produk unggulan) yang dimiliki masing-masing daerah di Indonesia. Dua berita baru di dunia pertanian tersebut disadur dari SINAR TANI ONLINE

Peta Baru Daerah Rentan Pangan

Dengan peta ini pejabat pusat dan daerah bisa tahu upaya apa yang perlu diprioritaskan untuk mengatasi busung lapar atau kerentanan pangan di suatu wilayah.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan hal itu saat meluncurkan (soft lounching) Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan 2009 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). ”Melalui Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan ini di antaranya dapat diketahui lokasi keberadaan kantong-kantong rawan pangan di tingkat kabupaten,” tambahnya.

Peta itu disusun Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan kerjasama dengan World Food Programme (WFP). Peta ini adalah penyempurnaan dari Peta Kerawanan Pangan (Food Insecurity Atlas – FIA) yang dibuat pada tahun 2005. Sejak peta Kerawanan Pangan 2005 dipublikasikan telah banyak dilakukan program atau kegiatan yang berkaitan dengan Peta Kerawanan Pangan itu, baik di tingkat pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten.

Di tingkat pusat, Peta Kerawanan Pangan dijadikan sebagai acuan dalam penetapan prioritas lokasi dan pengalokasian anggaran pada Program Badan Ketahanan Pangan seperti Program Aksi Desa Mandiri Pangan dan Pemberdayaan Daerah Rawan Pangan. Di tingkat nasional, peta tersebut juga digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam penyusunan DAK (Dana Alokasi Khusus).

Jaman berubah, kondisi kerawanan pangan masyarakat pun berubah. Kondisi tahun 2005 tentu berbeda dengan kondisi saat ini. Maka sejak awal tahun 2009 Badan Ketahanan Pangan (BKP) dan WFP melakukan pemuktahiran Peta Kerawanan Pangan 2005. Peta barunya diberi nama baru: ”Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan” (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA) tahun 2009.

Perubahan nama Peta Kerawanan Pangan (Food Insecurity Atlas) menjadi Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas) jelas Mentan perlu dilakukan dengan pertimbangan untuk memperjelas pengertian mengenai konsep ketahanan pangan.

“Saya berharap, bahwa penyusunan FSVA tidak berhenti sampai kabupaten saja, tetapi juga mencakup sampai ke tingkat kecamatan dan desa, sehingga setiap tingkatan pemerintahan (provinsi dan kabupaten/kota) dapat memprioritaskan dan mensinerjikan sumberdaya yang dimiliki untuk menurunkan kerawanan pangan,” tambah Suswono.

100 Kabupaten Paling Rentan Pangan

Dari 346 kabupaten yang dianalisis Dewan Ketahanan Pangan (DKP) terdapat 100 kabupaten yang memiliki tingkat resiko kerentanan pangan yang tinggi dan memerlukan skala prioritas penanganan.

Di antara 100 kabupaten berperingkat terbawah yang disebut dalam Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan 2009 tersebut dibagi lagi menjadi tiga wilayah prioritas, yakni: prioritas 1, prioritas 2 dan prioritas 3.

Ada 30 Kabupaten yang termasuk Prioritas 1 untuk mendapatkan penanganan, yakni sebagian besar kabupaten tersebar di Indonesia bagian Timur, terutama di Papua (11 kab), NTT (6 kab) dan Papua Barat (5 kab). Total jumlah penduduknya mencapai 5.282.571 jiwa.

Yang termasuk Prioritas 2 terdapat 30 kabupaten, yakni sebagian besar terdapat di Kalimantan Barat (7 kab), NTT (5 kab), NAD (4 kab), dan Papua (3 kab). Total jumlah penduduknya mencapai 7.671.614 jiwa.

Yang termasuk Prioritas 3 terdapat 40 kabupetan, yakni sebagian besar terdapat di Kalimantan Tengah (6 kab), Sulawesi Tengah (5 kab) dan NTB (4 kab). Total jumlah penduduk di wilayah Prioritas 3 ini 11.785.667 jiwa.

Penentuan status ketahanan dan kerentanan suatu wilayah dalam peta ini didasarkan pada 13 indikator yang dikelompokkan dalam 4 katagori. Pertama, ketersediaan pangan. Indikator yang dianalisis adalah 1) konsumsi normatif per kapita terhadap rasio ketersediaan bersih padi + jagung + ubi kayu + ubi jalar. Kedua, Akses terhadap Pangan. Indikatornya: 2) Persentase penduduk di bawah garis kemiskinan; 3) Persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai, dan 4) Persentase penduduk tanpa akses listrik.

Ketiga, Pemanfaatan Pangan (Konsumsi pangan, kesehatan dan gizi). Indikatornya adalah: 5) Angka harapan hidup pada saat lahir, 6) Berat badan balita di bawah standar, 7) Perempuan buta huruf, 8) Rumah tangga tanpa akses air bersih; dan 9) Persentase penduduk yang tinggal lebih dari 5 Km dari fasilitas kesehatan.

5 thoughts on “Peluncuran Peta Baru Daerah Rentan Pangan

  1. Tolong pak,… (Untuk meningkatkan SDM kami)

    I. Penentuan status ketahanan dan kerentanan suatu wilayah dalam peta didasarkan pada 13 indikator, misalnya untuk desa ?
    1). Dalam pengambilan data masing2x indikator ngambilnya dimana ya pak ?
    2). Instansi / stakeholder yang menangani data setiap indikator siapa saja ya pak misalnya indikator 1 datanya didapat di ……………., dan
    3). Apakah data tersebut bisa dipertanggungjawabkan
    4). Alasan masing-masing indikator tersebut
    5) Cara perhitungan masing-masing indikator

    2. Kalau bisa dikirimkan penjelasannya ke email

  2. Tolong infonya ….

    Penentuan status ketahanan dan kerentanan suatu wilayah dalam peta didasarkan pada 13 indikator, Untuk tingkat kabupaten diharapkan sampai tingkat desa ?

    1). Dalam pengambilan data masing2x indikator ngambilnya dimana ya pak ?
    2). Instansi / stakeholder yang menangani data setiap indikator siapa saja ya pak misalnya indikator 1 datanya didapat di ……………., dan
    3). Cara menentukan persentase masing2x indikator gimana ya ? misalnya …. persentase penduduk hidup dibawah garis kemiskinan per desa ? dan ….
    4). Apakah data tersebut bisa dipertanggungjawabkan
    5). Alasan masing-masing indikator tersebut
    6). Kebijakan yang bisa diambil dari dari masing2x indikator ?
    7). Penanganan kerentanan dan kerawanan pangan diperlukan melalui lintas sektor, lintas sektor tersebut yang mana ya pak ?

    2. Kalau bisa dikirimkan penjelasannya ke email

    3. Terima kasih sebelumnya, Maju untuk pembangunan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s