Syech Gentong, Siapa Sich?

Makam Syech Gentong (http://www.kaskus.us/showthread….D2794162)

Cerita tentang nama Syech Gentong ini diperoleh dari cerita Uyut saya sebagai bagian dari budaya tutur (tutur tinular) yang ditularkan kepada saya. Maksudnya adalah supaya budaya tutur dapat terus dipelihara dan dijaga sampai generasi yang akan datang atau sampai akhir jaman.

Banyak orang-orang bertanya kepada saya, kenapa saya selalu menggunakan nama CECH GENTONG. Saya jawab, cech gentong bukan sembarangan nama karena akan terkait dengan nama Bapaknya Wali-wali (Walisongo) atau Syech Abdul Qadir Jaelani dari negeri Azra Irak. Syech Gentong yang selalu saya plesetin cech gentong mempunyai peran yang tidak kecil dalam penyebaran agama Islam di Indonesia terutama tanah Pasundan.

Pada suatu masa, ada seorang Syech besar di sekitar daerah Karawang bernama Syech Quro yang mempunyai puteri bernama Subang Keranjang yang sangat cantik. Syech Quro melakukan syiar agama Islam karena pada saat itu masyarakatnya beragama Hindu dan dikuasai oleh Kerajaan Pajajaran dengan rajanya bernama Tarumanagara (Prabu Siliwangi Ke-4).

Suatu hari Subang Keranjang pergi ke hutan untuk mecari kayu bakar dan menikmati bunga-bunga. Tiba-tiba datanglah seorang pria yang ternyata adalah Prabu Siliwangi, Tarumanagara. Saat itu Tarumanagara sedang berburu bersama rombongan kerajaan. Tarumanagara terkejut dan terpukau dengan kecantikan Subang Keranjang.

Tarumanagara bertanya kepada Subang Keranjang, ” Sedang apa seorang wanita sendirian berada di hutan dan bertempat tinggal dimana ? dan bersama siapa ? ”. Subang Keranjang menjawab, kalau dirinya sedang mencari kayu bakar dan menikmati bunga-bunga indah di hutan untuk melepas lelah setelah seharian bekerja serta bertempat tinggal bersama ayahnya berdua tidak jauh dari situ.

Karena terpesona dengan kecantikan wanita itu, Tarumanagara menawarkan diri untuk mengantarkan Subang Keranjang ke rumah sekaligus ingin bertemu dengan Syech Quro sekaligus memberi makan dan minum pasukannya dan kuda-kudanya. Ternyata Tarumanagara bukan hanya mengantarkan ke rumah saja, saking terpukaunya saat bertemu Syech Quro disampaikan maksud kedatangannya dan secara mengejutkan Tarumanagara mengajukan lamaran kepada Syech Quro untuk meminang Subang Keranjang. Rupanya Subang Keranjang sejak awal bertemu sudah ada ketertarikan kepada Tarumanagara dan menyetujui lamaran itu.

Tetapi Syech Quro tidak begitu saja setuju. Dikatakannya boleh meminang Subang Keranjang, asalkan Tarumanagara dapat menemukan jimat “BINTANG BERDERET (BINTANG SAKETI)”. Setelah menemukan jimat barulah boleh menikah dengan putrinya. Tarumanagara menyetujui keinginan Syech Quro karena cinta.

Setelah itu Tarumanagara kembali ke kerajaan dan dikumpulkan para menteri dan para pendeta untuk mendiskusikan dan mencari tahu jimat bintang berderet itu. Disebarlah orang-orang suruhan Tarumanagara untuk mencari jimat itu di seluruh antero kerajaan bahkan di luar kerajaan Pajajaran. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, hasilnya nihil, sampai Tarumanagara melakukan meditasipun tidak menemukan jawaban. Wah ga bisa kawin nih katanya seperti putus asa.

Suatu hari diam-diam, Tarumanagara pergi ke hutan sendiri untuk bertemu Subang Keranjang sambil melepaskan kerinduan. Dijelaskan kepada Subang Keranjang bahwa dia sudah putus asa dan frustasi. Tiba-tiba Subang Keranjang menjelaskan kepadanya bahwa jimat Bintang Berderet itu ada di rumahnya tepatnya di dalam kamar sang ayah. Tarumanagara bertanya “apa itu ?” Ternyata itu adalah TASBIH.

Mereka berdua akhirnya pergi ke rumah untuk mengambil jimat itu. Saat akan diambil oleh Tarumanagara, muncullah Syech Quro di hadapannya. Syech Quro berkata tidak boleh sembarang orang boleh menyentuh Tasbih itu kecuali orang itu talah beragama Islam. Tarumanagara bingung dan bertanya apa itu Islam. Dijawab oleh Syech Quro, untuk tahu Islam harus masuk Islam dan syaratnya adalah membaca 2 kalimat Syahadat.

Karena cintanya kepada Subang Keranjang, tanpa pikir panjang Tarumanagara menyatakan masuk Islam dan mengucapkan 2 kalimat syahadat dengan diawali Basmalah. Karena orang Hindu, Tarumanagara tidak bisa mengucapkan Basmalah dengan baik diucapkan menjadi Bismillah Nirakam Nirakim dan terkejutnya dia setelah mengucapkan itu terdengar suara-suara aneh dilihatnya tumbuhan, hewan, benda mati bisa berbicara dengannya.


Tarumanagara
bertanya mengapa bisa begitu kejadiannya dan menggunakan ilmu apa. Kemudian Tarumanagara menyatakan keinginan untuk belajar kepada Syech Quro. Dikatakan oleh Syech Quro untuk belajar semua itu harus di tengah lautan dan tidak didengar oleh makhluk ciptaan Allah yang ada di sekitar dan diajarkan tidak secara terbuka tetapi dengan batin.

Suatu masa pergilah berdua ketengah lautan untuk belajar ilmu agama menggunakan sampan. Di tengah lautan dengan meditasi dan belajar secara batin akhirnya diajarkan semua ilmu Syech Quro kepada Tarumanagara. Tetapi ada kejadian yang tidak terduga, saking gembiranya mendapatkan ilmu tanpa disadari Tarumanagara lepas bathin dan mengeluarkan kata-kata yang keras seperti menghapal amalan yang diberikan Syech Quro.

Apa yang terjadi. Muncullah manusia-manusia dihadapan mereka. Ternyata mereka adalah jelmaan akibat dari amalan itu. Ketika akan berangkat sampannya bocor dan ditambal dengan tanah merah yang di dalamnya terdapat cacing dan di dalam sampan ada gentong. Tanah merah berubah wujud menjadi manusia yang diberi nama Syech Lemah Abang, Cacing berubah menjadi Syech Siti Jenar, Gentong berubah menjadi Syech Gentong dan ada satu ikan yang muncul di permukaan berubah menjadi Puteri Duyung.

Itulah kebesaran Allah dengan Kun Faya Kun-nya apabila Allah berkehendak “Jadi maka Jadilah”. Sebagian besar nama-nama yang disebut pada cerita ini ada makam-makamnya yaitu di daerah Pulau Bata Karawang. Siapakan Syech Quro ? Sebenarnya Syech Quro itu adalah Syech Abdul Qadir Jaelani atau Sadat Safir (namanya di negeri Campa/Kamboja) atau Syech Abdul Mukhyi yang ada di Pamijahan Tasikmalaya. Nama-nama itu satu orang tetapi berlainan di setiap tempat dalam rangka syiar agama Islam. Begitulah ceritanya dibalik nama Syech Gentong atau yang diplesetin Cech Gentong.

Tempat Baca Al Qur’an di Lokasi Makam Syech Quro (http://www.kaskus.us/showthread….D2794162)

NB: Ini sekedar cerita bisa dianggap dongeng ataupun kisah legenda di tanah Pasundan tergantung penilaian masing-masing. Makam Syech Gentong dan Syech Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.

3 thoughts on “Syech Gentong, Siapa Sich?

  1. ahh..cerita dongeng …..HOAX jaman baheula
    mana mungkin orang masuk Islam dengan begitu gampang ?
    menurut sejarah, Siliwangi justru marah besar kepada anak-anaknya yang memaksa Siliwangi untuk masuk Islam
    apalagi cucu-cucu Siliwangi yang menganut Islam justru durhaka dan menyerang kakeknya sendiri
    sejak dulu orang Indonesia sering menyebarkan agama melalui cerita ajaib …HOAX
    maaf . . .menyebarkan agama dengan cara HOAX adalah ajaran IBLIS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s