Wisata Batu Quran di Sanghyang Sirah

Batu Quran, Cibulakan Pandeglang (1.bp.blogspot.com)

Bagi para penziarah makam atau petilasan para nenek moyang (karuhun) orang Sunda pasti tidak merasa asing dengan nama wisata Batu Quran (Cibulakan) dengan Sumur Tujuhnya (Cikoromoi) yang merupakan salah satu tempat wisata ziarah Kabupaten Pandeglang, Banten (tepatnya 20 km dari kota Pandeglang). Batu Quran ini berkaitan erat dengan nama Syekh Maulana Mansyur, seorang ulama terkenal di jaman kesultanan Banten abad ke-15.

Syekh Maulana Mansyurlah yang meninggalkan warisan berupa Batu Quran tersebut(lebih lengkapnya bisa baca disini). Tapi tahukah kalau yang ada di Cibulakan itu adalah replika dari Batu Quran yang ada di Sanghyang Sirah, Taman Nasional Ujung Kulon. Mungkin banyak orang yang belum mengetahui tentang sejarah Batu Quran yang sebenarnya. Sejarah Batu Quran di Sanghyang Sirah berkaitan erat dengan sejarah Sayidina Ali, Prabu Kian Santang dan Prabu Munding Wangi. Apa alasan Syekh Maulana Mansyur membuat replika Batu Quran tersebut ?

Mungkin orang sudah banyak mengetahui sejarah masuk Islamnya Prabu Kian Santang yang diislam oleh Sayidina Ali ketika Prabu Kian Santang melakukan perjalanan ke jazirah Arab. Setelah masuk Islam, Prabu Kian Santang kembali ke tanah Jawa di daerah Godog Suci, Garut dimana Prabu Kian Santang mengajarkan Islam kepada pengikutnya.

Sebagai orang Islam sudah tentu harus dikhitan. Karena keterbatasan pengetahuan Prabu Kian Santang maka terjadi banyak kesalahan dalam melakukan prosedur khitan. Bukan yang ujung kulit penis yang dipotong tapi dipotong sampai ke ujung-ujungnya. Bisa bayangkan pasti banyak yang meninggal dengan kesalahan tersebut. Akhirnya Prabu Kian Santang mengutus orang untuk menemui Sayidina Ali di jazirah Arab dengan tujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang baik dan benar tentang Khitan secara Islami.

Sanghyang Sirah (dok.pribadi)

Kemudian Sayidina Ali dan orang suruhan Prabu Kian Santang pergi ke Godog Suci untuk memberikan pelajaran cara khitan dan beberapa pengetahuan tentang Islam. Disamping itu Sayidinna Ali ingin menyerahkan Kitab Suci Al Qur’an. Sebagai orang Muslim maka sudah pasti harus berpatokan kepada Al Quran. Karena sejak bertemu pertama kali Sayidina Ali belum pernah menyerahkan kitab Al Quran kepada Prabu Kian Santang.

Ternyata sesampainya di Godog Suci, Prabu Kian Santang telah meninggalkan tempat tersebut dan pergi menemui Prabu Munding Wangi yang telah tilem di Sanghyang Sirah, Ujung Kulon untuk memberitahukan kepada ayahandanya kalau beliau telah menetapkan hati sebagai seorang muslim. Mendengar berita tersebut Sayidina Ali mengejar ke Sanghyang Sirah sebagai bentuk amanah dan perhatian agar Prabu Kian Santang mempunyai pegangan yang kuat berupa Kitab Al Quran. Masak sebagai muslim tidak memiliki Kitab Al Quran.

Konon di batu karang ini Sayidina Ali melakukan Sholat (dok.pribadi)

Apa yang terjadi kemudian ? Ketika sampai di Sanghyang Sirah, Sayidina Ali hanya bisa bertemu Prabu Munding Wangi. Prabu Munding Wangi mengatakan kepada Sayidina Ali kalau Prabu Kian Santang telah pergi lagi dan menghilang entah kemana setelah mendapat restu dari ayahandanya. Prabu Kian Santang adalahg satu-satunya anak Prabu Munding Wangi yang menjadi raja tapi tidak pernah memerintah kerajaan karena hidupnya didedikasikan untuk penyebaran aga Islam.

Akhirnya Sayidina Ali menyerahkan dan menitipkan kitab Al Quran untuk disimpan dan berharap dapat diberikan kepada Prabu Kian Santang apabila berkunjung ke Sanghyang Sirah. Prabu Munding Wangi menerima kitab Al Quran dengan lapang dada dan disimpannya di dalam kotak batu bulat. Kemudian kotak batu berisi Al Quran tersebut ditaruh di tengah batu karang yang dikelilingi oleh air kolam yang sumber airnya berasal dari tujuh sumber mata air (sumur).


Didalam Gua Sanghyang Sirah (dok.pribadi)
Salah satu pintu masuk Gua Sanghyang Sirah (dok.pribadi)

Selanjutnya Sayidina Ali mohon diri tapi sebelumnya sholat terlebih dahulu di atas batu karang yang sekarang sering disebut Masjid Syaidinna Ali. Dengan kuasa Allah SWT, Sayidina Ali langsung menghilang entah kemana. Mungkin kembali ke jazirah Arab.

Peristiwa Batu Quran ini beberapa abad kemudian diketahui oleh Syekh Maulana Mansyur berdarkan ilham yang didapatnya dari hasil tirakat. Segeralah Syekh Maulana Mansyur berangkat ke Sanghyang Sirah. Betapa kagumnya Syekh Maulana Mansyur melihat kebesaran Allah lewat mukjizat Batu Quran dimana dari air kolam yang bening terlihat dengan jelas tulisan batu karang yanng menyerupai tulisan Quran. Sayangnya saat ini air kolam sudah keruh dan sulit untuk melihat batu karang dengan tulisan Quran karena banyaknya endapan di dasar kolam dan banyaknya penziarah yang membuang pakaian bekas mandiannya ke Batu Quran.

Batu Quran Sanghyang Sirah (dok.pribadi)
Jalan menurun menuju keluar gua dari Batu Quran (dok.pribadi)

Karena jauhnya jarak Sanghyang Sirah dan membutuhkan waktu dan energi yang luar biasa maka untuk memudahkan anak cucu ataupun umat Islam yang ingin melihat Batu Quran maka dibuatlah replika Batu Quran dengan lengkap sumur tujuhnya di Cibulakan Kabupaten Pandeglang. Saat ini saja untuk menuju Sanghyang Sirah lewat Taman Jaya membutuh waktu 2 hari satu malam dengan berjalan kaki dan membutuhkan waktu 5 jam dengan menggunakan kapal laut dari Ketapang, Sumur menuju Pantai Bidur yang dilanjutkan berjalan kaki selama hampir 1 jam menuju Sanghyang Sirah. Bisa dibayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesana pada jamannya Syekh Maulana Mansyur.

7 thoughts on “Wisata Batu Quran di Sanghyang Sirah

  1. assalamualaikum….., sy fathur petukangan gmana kabar cech lama g ketemu. sejarah adalah alamat rumah kita….., kalau kita lupa kan sejarah…, kemana kita mau pulangkan tubuh ini…..?. dan sy memberikan kabar juga, ayahku telah pulang kehasirat Allah SWT. pesan pd kita ‘cintai anak yatim’ ini skaligus jd wasiat tuk sy. 114 yatim titipannya hrs kita santuni dan cintai……, terima kasih cech, bg sy mencari jati diri seperti juga mencari sejarah kita, keimanan hanya sebuah langkah dalam ibadah. ibadah layaknya sejarah yang harus selalu terulang dan diulang tuk menuju ketaqwaan. smoga sy tdk ngawur…..

    1. Wa alaikumusalam kabar saya baik mas. semoga mas fathur dan keluarga sehat juga. Saya hanya bisa mengucapkan innalillahi wa innalillahi roji’un atas wafatnya bapk mas Fathur. Semoga Almarhum bisa kembali kepada Sang Pemilik dengan mudah atau jalan yang lurus. Itu amanah mas mengenai anak yatim jadi harus dijaga dan dilaksanakan. Saya meras salut dengan apa yang dilakukan mas Fathur. Mengenai sejarah sebetulnya kita belajar mengetahui jati diri mas. Terima kasih atas komentarnya. kapan2 kita bertemu kembali Nasruminullah

  2. dalam cerita ini ada perbedaan waktu yg sangat jauh sekali syd. ali pd abad ke 7. kian santang abad 14 kapan ketemunya . yg mirip itu rakyan sancang anak dr rj Tarumanagara (rj kertawarman)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s