” Dia orang sukses lho… “

forum.belmont.edu

Tidak tahu mengapa saat saya menonton berita sore hari tapi pikiran saya tidak fokus ke berita melainkan melayang jauh dan mengingat peristiwa sekitar 11 tahun yang lalu saat saya sedang duduk berduaan dengan seorang teman yang sedang menyetir (sebut A) dalam perjalanan pulang dari Jogja menuju Jakarta lewat jalur selatan. Sepanjang perjalanan, teman bercerita tentang seorang teman juga (sebut B) yang jadi buah bibir di angkatan kami karena dianggap orang yang paling sukses dan berhasil di angkatan kami. Kebetulan B ini pernah satu bangku dengan saya dan sudah lama saya tidak pernah bertemu.

Sudah lama saya ingin bertanya sejauh mana suksesnya B. Teman-teman apalagi A sangat antusias kalau menceritakan tentang A karena memang akrab dan mengatakan kalau B dengan umur masih di bawah 30 tahun sudah mempunyai rumah mewah 2 tingkat, tanah disebelah rumahnya seluas 300 meter, 4 mobil untuk disewakan, 2 mobil untuk pribadi dan keluarganya bahagia (1 isteri, 1 putera, 1 puteri). Saya hanya tersenyum-senyum saja saat A menceritakan dengan detilnya. A sempat marah dengan saya dan mengatakan kalau saya kurang senang mendengar keberhasilan B, iri terhadap B, menganggap biasa terhadap B dan lain-lain. Tetapi saya anggap angin lalu.

Maka itu saat A ingin mengajak saya untuk mampir di kota B berada maka saya sangat senang sekali karena alasan silaturahim dan tidak ada hubungannya dengan kesuksesan atau tendensi apapun lagipula kebetulan ada urusan bisnis dekat dengan daerahnya B. Pagi hari kami sampai di kota B tinggal, selepas subuh kami berangkat ke rumah B dan tepat jam 5.45 pagi kami sampai di rumah B. B sempat kaget ketika melihat saya dan heran dengan perubahan yang terjadi dengan saya. Kemudian disalami kami dan diperkenalkan dengan keluarganya.

Ternyata apa yang dikatakan A selama ini benar adanya, sungguh mewah rumah yang dimiliki dan saya merasa kagum melihat keberhasilan B. Tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal hati saya dari dulu sampai saat itu. Dan itu belum bisa saya ungkapkan. Sudahlah saya abaikan pikiran macam-macam dan kami pun minum kopi, merokok dan makan pisang goreng ramai-ramai. Sungguh pertemuan yang luar biasa.

Sampai pada satu waktu ketika A sedang tidur dan saya bicara berduaan dengan B maka momen tersebut saya pergunakan untuk menanyakan hal-hal yang mengganjal hati saya selama ini.

” B, kamu ini sebetulnya kerja dimana ? “

” Di Pajak cech “

” Berarti pas lulus SMA kamu langsung masuk STAN ? “

” Betul “

” Saya senang sekali dengan kesuksesan kamu “

” Sukses apa cech “

” Banyak teman angkatan kita yang mengatakan kamu adalah orang yang paling sukses dibanding teman2 yang lain.

” Ahhhh itu bisa-bisanya mereka saja berbicara “

” Tetapi benar lho kamu sukses B. Coba lihat rumah, mobil, keluarga yang kau miliki “

” Alhamdulillah Cech “

” Maka itu saya ingin belajar dengan kamu supaya bisa seperti kamu “

” Belajar apaan “

” Belajar bisnis lah dengan kamu “

” Saya ini PNS bagaimana bisa bisnis “

” Terus kamu bsa seperti sekarang. Apa dong caranya “

” Ya Cech kayak tidak tahu saja. Saya ini PNS dan urusan Pajak lagi. Tahu khan maksud saya “

” Ya ya ya ya ya gitu toh caranya. Tapi tidak takut kena apesnya B “

” Mainnya harus cantik dong dan tidak serakah “

” Tapi omong-omong kalau sudah berduit biasanya godaannya perempuan lho, B “

B langsung terdiam dan mengajak saya jalan-jalan mengelilingi kompleks rumahnya. B bercerita banyak hal termasuk keluarganya. Yang B jalani selama ini adalah semu semata. Anak-anak diajari mengaji tapi orang tuanya jarang mengaji. Semua yang dinikmati dan dirasakan berasal dari suatu yang dipertanyakan keberkahannya. Segala kebutuhan isteri dipenuhi termasuk perhiasan dan lain-lain tapi dapatkah membahagiakan suami ataupun sebaliknya, ternyata tidak, B mengaku telah mempunyai wanita simpanan yang telah menghasilkan satu orang bayi perempuan dan wanita simpanan itu adalah teman sekelasnya pada saat mengikuti pendidikan lanjutan yang diadakan oleh kantor. Masih banyak lagi yang diceritakan oleh B dan ini hanya saya yang diberitahu. Padahal baru saat itu saya bertemu kembali dengan B.

Setelah puas bercerita, akhirnya kami kembali ke rumah B. Tampak A sudah duduk di teras dengan raut muka bertanya-tanya. Dari mana saja saya dan B jalan-jalan. Kemudian saya mandi. Tepat jam 8.30, saya dan A pamit mau kembali ke Jakarta tapi sebelumnya mau ke daerah Cp yang dekat dengan rumah B. B memeluk erat tubuh saya sambil berbisik kalau semua itu adalah rahasia kita berdua. A tampak kaget melihat kedekatan saya dengan B tapi kuanggap tidak terjadi apa-apa.

Di dalam mobil, A bertanya kepada saya tentang apa saja yang diceritakan kepada saya dan membenarkan apa yang dikatakan olehnya selama ini kalau B memang benar-benar orang sukses diantara angkatan kita. A mengatakan kepada saya agar saya jangan menganggap enteng, iri, sirik dan lain-lain terhadap B karena terbukti kalau kondisi B benar adanya. Kembali lagi saya hanya bisa tersenyum.

Ternyata benar, jaman Orde Baru-nya Pak Harto telah menciptakan bom waktu kepada generasi muda yang akan datang terutama anak-anak yang lahir tahun 70-an dan 80-an. Pak Harto memang berhasil membangun secara fisik tapi secara mental terjadi degradasi moral dan nilai-nilai. Semuanya serba dinilai dengan segala hal yang berbau materialistis. Seseorang dianggap sukses apabila mempunyai rumah mewah, mobil mewah, tempat kerja di lingkungan elit, dan sebagainya. Orang dengan berpenampilan biasa-biasa kebanyakan tidak dianggap. Dan itu masih berlangsung sampai sekarang sehingga tidak usah kaget kalau korupsi tetap ada.

Jaman orang tua saya dulu, orang dianggap sukses apabila orangnya jujur, ikhlas bekerja, semuanya satu tujuan untuk kemajuan bangsa dan negara, bercita-cita agar bisa mengabdi kepada bangsa dan negara dan lain-lain. Tetapi Almarhum Bapak mengatakan kepada saya, orang bisa dikatakan sukses apabila dengan ilmu, pengetahuan dan pengalamannya dapat bermanfaat bagi diri dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

4 thoughts on “” Dia orang sukses lho… “

  1. Memang seperti itu lah saat ini yang terjadi. Seseorang dianggap sukses dari materi yang bisa diraihnya, karena materi itulah yang bisa dilihat oleh orang tersebut. Sehingga saat ini orang berbondong-bondong mencari materi dengan tidak memperhatikan halal dan haramnya… Astaghfirullahal’aziim…

  2. Lebih cool jadi orang sederhana ya…mereka ga punya keinginan yang neko-neko, apalagi ambisi.hidup dijalani apa adanya.pikiran pun,insya Allah,ga macem-macem…(moga-moga q bisa menjadi bagian dari golongan orang2 tsb…:-D)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s