Ternyata Sakit Itu Nikmat

qurratulaini.wordpress.com

Seorang Ustadz Rumah Sakit Islam Jakarta dalam satu khotbahnya mengatakan kalau kalian yang sakit apapun sakitnya adalah kekasih Allah SWT yang diuji kesabarannya. Apabila Si Sakit mampu sabar dan pasrah menerima penyakitnya maka Allah akan menaikkan derajatnya atau “naik kelas” dan disegerakan kesembuhannya.

Dari uraian Pak Ustadz tersebut maka sebenarnya sakit itu bukanlah suatu yang tidak mengenakan dan menyenangkan tapi ada beberapa kenikmatan yang bisa diperoleh oleh si sakit apabila mau bersikap arif dalam menilai penyakitnya.

Kenikmatan yang pertama kali didapat adalah saya bisa berkenalan dengan seorang dokter dengan gelar Profesor. Dia adalah Prof.Dr. Iskandar Zulkarnaen, seorang dokter senior yang dalam menangani saya di rumah sakit bekerja dengan runtun dan tidak langsung asal mengambil kesimpulan. Semuanya berdasarkan hasil laboratorium dan beliau selalu hadir pada saat pagi, sore, malam bahkan dini hari. Beliau sempat tertawa dan bertanya kepada saya “Kok bisa orang kota kena malaria dan ini khan penyakit orang dulu. Pasti, kamu habis jalan-jalan di sebuah tempat. ” Ketika saya jawab kalau saya habis dari Ujung Kulon selama 10 hari, langsung beliau tersenyum dan berkata kalau diagnosanyanya benar dan ini jelas-jelas malaria bukan DBD. Tapi menurut beliau, mencari obatnya yang susah sekali di Jakarta. Benar saja, ada satu obat malaria yang harus dicari obatnya tetapi hampir sebagian besar apotik di Jakarta termasuk Rumah Sakit Islam Jakarta tidak mempunyai barang. Ternyata berdasarkan informasi dari beliau kembali maka obat malaria tersebut hanya ada di Apotik Titi Murni dengan alamat Jl. Kramat Raya No. 128 Senen, Jakarta Pusat. Tambahlah kenikmatan saya karena saya mendapatkan pengetahuan tentang apotik-apotik yang menjual obat-obat jaman dulu.

Kenikmatan kedua adalah dengan sakit maka saya baru merasakan nikmatnya punya tubuh. Karena selama ini saya seringkali tidak menyadari kalau tubuh dan jiwa yang ada di dalam diri saya seharusnya dijaga dan dirawat. Ketahuannya pada saat saya menggigil, hampir semua tubuh, organ tubuh, dan pikiran ikut merasakan betapa dinginnya tulang yang ada di dalam tubuh saya. Nafas tersengal-sengal pada saat siklus menggigil, kepala pusing, ulu hati seperti ditusuk-tusuk, seluruh badan meriang dan akibatnya tidur tenangpun tidak bisa. Maka itu hargai dan rawatlah jiwa dan raga yang kita miliki. Allah SWT menunjukkannya dihadapan saya dengan berbagai penyakit yang diderita oleh orang-orang berada dalam satu ruangan dengan saya. Misalnya, penyakit prostat, penyakit batu ginjal, kanker usus, kebocoran tulang belakang, bergesernya muka tenggorak sebelah depan dan masih banyak lagi.

Kenikmatan ketiga adalah merasakan nikmat untuk bisa tidur secara nyenyak. Kuncinya adalah di doa. Pada saat saya meriang dengan demam tinggi maka sungguh susah untuk memejamkan mata. Kalaupun terpejam maka pikiran saya melayang kemana-mana sehingga membuat pusing kepala. Pada suatu hari saya mencoba konsep doa. Setiap saya mau tidur maka saya selalu berdoa dan meminta kepada Allah untuk mengosongkan semua pikiran yang ada di otak saya sehingga konsentrasi saya hanya fokus kepada tidur. Terus menerus saya lakukan dalam kondisi apapun dan efektif juga mengurangi demam tinggi pada saat meriang.

Kenikmatan keempat adalah nikmatnya mempunyai teman. Betapa luar biasanya perhatian teman-teman saya baik yang berasal dari Kompasiana, FB, teman SMP sampai teman kuliah. Semuanya memberikan dukungan kepada saya untuk cepat sembuh dan dapat berkumpul kembali dengan mereka. Kadang-kadang pada saat sehat, seringkali baik disengaja maupun tidak disengaja melupakan dan mengabaikan mereka yang dengan tulus menjunjung nilai-nilai pertemanan yang ideal.

Kenikmatan yang kelima adalah pada saat saya bertemu dengan para dayang-dayang dengan wajah yang cantik-cantik. Setiap hari mereka memberikan perhatian lebih dan saya diperbolehkan untuk menyuruh mereka serta saya dibebaskan untuk memandanginya dengan puas. Tetapi dengan satu syarat yang tidak boleh saya langgar yaitu dilarang untuk memegang dan menyentuh kulit mereka. Pada awalnya senang-senang saja memandangi para dayang tapi lama-kelamaan bosan juga dan saya meminta diijinkan untuk memegang dan menyentuhnya. Akhirnya seorang dayang senior datang menemui saya dan mengatakan saya diperolehkan untuk memegang dan menyentuh para dayang tapi…tapi…tapi… Saya balik bertanya tapi apa sampai 3 kali dan barusan dayang senior mau mengatakan tapinya… tiba-tiba saya dibangunkan oleh kakak saya kalau hari ini saatnya pulang ke rumah dan hari sudah malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s