Orang Gila Yang Tidak Gila

Ilustrasi (useillusion1.wordpress.com)

Saat itu saya baru pulang dari Temanggung menuju Yogyakarta. Hari mulai mendekati senja dan saya terdampar di terminal Magelang. Hal ini terjadi gara-gara saya salah memilih bis. Saya pikir bis yang ditumpangi jurusan Temanggung-Yogyakarta ternyata jurusan Temanggung-Magelang. Ya sudah, terpaksa saya harus menunggu bis jurusan Semarang-Yogyakarta.

Entah kenapa pada hari itu bis jurusan ke Yogyakarta seperti hilang ditelan bumi. Biasanya beberapa menit sekali masuk terminal Magelang untuk mengangkut penumpang ke Yogyakarta. Rupanya ada mogok massal para awak bis. Memang ada satu dua bus AKAP berukuran sedang seperti metromini yang mengambil trayek Magelang-Yogyakarta. Tetapi saat itu saya enggan menggunakan bis tersebut.

Kebetulan saat itu perut terasa lapar sekali karena sejak pagi saya belum makan nasi kecuali sebungkus roti dan sebuah botol aqua sedang. Saya memutuskan untuk mencari warung makan di sekitar terminal. Baru saja saya berjalan beberapa meter, terdengar suara orang menyanyi dengan teriakan keras dan menari-nari. Terdengar pula orang-orang mengusirnya jauh-jauh supaya tidak mendekati warung dagangannya bahkan ada beberapa orang yang mengganggu dan usil kepada orang tersebut. Ohhhh ternyata orang gila dalam hati saya.

Awalnya saya tidak menghiraukan dan peduli dengan setiap tingkah laku orang gila tersebut. Tetapi saat dia menyanyikan sebuah tembang Jawa yang artinya saya sedikit mengetahuinya maka tanpa sadar saya memperhatikannya. Setelah lama mengamati dan memperhatikannya, saya merasa yakin kalau orang tersebut tidak gila. Sesekali saya lihat pandangan matanya dan sepertinya orang gila tersebut tahu kalau saya melihatnya.

Langsung saja saya menghampiri orang gila tersebut sambil membawa 2 buah teh botol dingin. Banyak orang mengingatkan saya agar tidak mendekati orang gila tersebut tapi tetap saja saya mendekatinya untuk membuktikan kalau orang gila tersebut tidak gila.

Begitu saya menghampiri, orang gila tersebut diam dengan tatapan tajam dan sesekali tersenyum. Langsung saya pegang tangannya dan mengajak duduk di trotoar terminal. Herannya orang gila tersebut tidak menolak tapi malah menyanyi tembang Jawa lagi.

” Pak… pak… pak… minum ” teriak saya

” Ahhh … ya “

” Sudahlah Pak berhenti nyanyinya. Ayo minum dulu ” saya memberikan teh botol dingin.

Langsung saja teh botol dingin tersebut diminumnya dan dalam waktu singkat kosonglah isi botolnya.

” Mau lagi Pak “

” Haaaa apa? lalalalalala “

” Mau lagi Pak teh botolnya. Mau khan? Bu pesan satu lagi teh botolnya “

Dengan perasaan takut-takut ibu penjual teh botol mendatangi kami berdua sambil memandangi saya dan orang gila tersebut. Tiba-tiba orang gila tersebut tersenyum kepada saya dan senyuman itu menandakan sambutannya untuk menerima kehadiran saya. Nah inilah saat yang tepat untuk bertanya kepadanya pikir saya saat itu.

” Maaf ya Pak, dari tadi saya perhatikan bapak. Sebetulnya bapak tidak gila khan ? “

” Hahahahahahahahahahahahahahaha…..hahahahahahahahahahaha ” orang gila tersebut tertawa dengan keras sampai terdengar oleh orang lain sehingga menarik perhatian orang yang lalu lalang.

” Ada apa Pak ? Kenapa tertawa ? Benar khan omongan saya ? “

” Hahahahaha hahahaha kalau saya gila, memangnya kenapa ? “

” Ya tidak apa-apa. Cuma aneh wong tidak gila kok mau jadi gila ? “

” Hmmmmmm “

” Okelah kalau begitu, kita makan ya Pak. Pasti bapak belum makan. Perut saya sudah berbunyi “

Tanpa banyak bicara orang gila tersebut mau mengikuti apa yang saya tawarkan. Segeralah saya menuju ke warung makan. Setelah makan, saya melanjutkan pembicaraan sebelumnya walaupun saya tahu banyak orang bisik-bisik merasa heran dan aneh. Kok mau-maunya berteman dengan orang gila. heheehe.

” Bagaimana Pak ? Sudah kenyangkan ? “

” Sudah Mas ” sungguh kaget saya mendengar jawabannya.

” Syukur dech. Omong-omong kenapa bapak harus jadi orang gila “

” Hmmm saya memang gila kok “

” Kok bapak bicaranya seperti itu “

” Ya memang harus begitu. Orang-orang waras itu pasti akan mengatakan saya gila atas apa yang saya lakukan selama ini “

” Memangnya apa yang bapak telah lakukan “

” Lalakon Mas “

” Apa itu Pak “

” Lalakon ya lalakon … itu lho menjalankan perbuatan untuk mencari jati diri. “

” Maksudnya bapak ini sedang melakukan perjalanan spiritual “

” Ya kayak begitu “

” Tapi kenapa harus jadi orang gila “

” Ya harus jadi gila. Coba mas perhatikan. Ada nggak orang gila mengganggu orang waras ? “

” Saya jarang lihat Pak. Yang ada malah orang waras yang selalu mengganggu dan menggoda orang gila “

” Nahhhh jadi sebenarnya siapa yang gila Mas “

” Aduh susah saya menjawabnya Pak. Saya tidak mengerti. “

” Dari gila itulah saya mengerti dan memahami enaknya jadi orang gila “

” Kok bisa Pak. Enaknya dimana ? “

” Enaknya ya sewaktu diganggu, digoda, diludahi,dimarahin, dipukul, dipermainkan dan diusir-usir oleh orang yang merasa dirinya waras “

” Wah wah wah dalam sekali apa yang bapak katakan “

” Biasa saja Mas. Saya jadi tahu dan merasakan langsung bagaimana orang-orang suci dulu seperti rasul, nabi, wali ataupun aulia diperlakukan seperti orang gila sama dengan apa yang saya alami Mas pada saat menjalankan kebenaran Ilahi. Ternyata saya merasakan kenikmatan yang luar biasa “

” Makin tidak mengerti saya “

” Kalau merasa waras, orang tidak akan mudah marah, mengganggu, menggoda, mempermainkan, meludahi, memukul atau merusak apalagi mengecilkan semua ciptaan Gusti Allah termasuk orang gila. Orang gila khan juga ciptaan Gusti Allah. Manusia tahu perannya di dunia sebagai kalifah yang memberikan rahmat bagi alam semesta ya semua yang diciptakan Gusti Allah. “

” Luar biasa penjelasan Bapak. Ini ajaran sufi ya Pak “

” Saya tidak tahu Mas apa itu sufi yang saya tahu ini lalakon untuk mencari sejatinya diri manusia “

” ohhhhhh gitu ” saya sampai terkagum-kagum sambil berpikir apa makna yang terkandung di dalam penjelasan bapak yang dianggap gila ini.

” Sudah ya Mas. Itu bis ke Yogyanya sudah datang. Cepetan sana. Nanti malah ketinggalan lagi “

” hah kok tahu sich saya mau ke Yogya aneh ” dalam hati saya.

” Cepetan Mas “

” Oh ya saya pamit dulu Pak. Terima kasih ilmunya Pak “

” Saya yang harus terima kasih karena sudah diberi makan oleh Mas heheheehe lalalalalalalala “

Kembali bapak tersebut bernyanyi dan menari-menari sambil keluar dari warung meninggalkan saya. Sayapun buru-buru membayar makanan yang kami santap dan menuju ke bis yang menuju Yogyakarta.

Ilustrasi (isfahangraphic.com)

Ketika bis mulai bergerak meninggalkan terminal Magelang, saya sempat melihat bapak tersebut kembali menjadi orang gila dan bergerak meninggalkan terminal juga. Sebuah pengalaman yang luar biasa dalam hidup saya. Ya Allah, terima kasih dan saya bersyukur kepadaMu karena Engkau telah memberikan ilmu dan petunjukMu lewat orang gila yang bukan gila itu. Engkau Maha Kuasa, Penguasa Langit dan Bumi.

6 thoughts on “Orang Gila Yang Tidak Gila

  1. Sama seperti orang gila dekat TK anak saya. Alex namanya. Dia biasa berbugil ria di daerah Maguwoharjo, bahkan tak jarang berjalan sampai ringroad utara di dekat casa Grande. Sering terlihat meracau dan marah-marah sendiri. Pernah waktu dia nangkring di TK anak saya, ibu2 yang sedang menunggu anaknya takut kalau2 alex mendekat. Akhirnya sayalah yang mendekati Alex. Dan saya tawarkan rokok, dia malah minta rokonya disulut sekalian…bahkan dia minta beberapa batang lagi…ah, ternyata orang gila pun bisa menikmati rokok…

    salam

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/05/02/police-goes-to-kindergarten-tk/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s