Taruhan

http://www.erepublik.com

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah sms dari seorang teman yang isinya sebagai berikut

“teu baleugh uang gw ke laut”.

Segeralah saya membalas membalasnya untuk mengetahui apa maksud sms-nya tersebut .

” ada apa bos ? “

” gw kalah taruhan bola “

” berapa banyak bos ??? “

” 2250000 “

” kok bisa gitu, bos taruhan mana ama mana “

” gw pegang yunani ternyata korea yang menang “

Nah itulah sekilas sms seorang teman tentang taruhan bola pada pertandingan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Dengan serangkaian sms yang diterima beberapa hari ini, saya berusaha untuk memahami apa yang dilakukan oleh teman tersebut dan yakin kalau hal semacam ini juga dialami oleh sebagaian besar penduduk dunia yang gila bola.

Kadangkala saya memperhatikan fenomena taruhan ini. Dari sekedar iseng-iseng sampai yang serius untuk penghasilan tambahan. Tetapi ada satu yang menarik untuk direnungkan. Apakah ini dinamakan judi ? Kalau judi mengapa aparat hukum tidak melakukan tindakan apapun atau malah mereka juga ikut taruhan walaupun katanya kecil-kecilan dan sekedar iseng.

Bicara tentang keisengan atau senang-senang (pleasure) maka seringkali kita melihat beberapa kuis di TV yang bertebaran di layar kacil. Masyarakat diajak untuk mengirimkan sms sebanyak-banyaknya dan dari sms tersebut diperoleh nomor pin yang nantinya diundi. Apabila nomor pin keluar maka akan diberikan satu buah pertanyaan mudah yang pasti bisa dijawab dengan imbalan sekian juta rupiah. Saya malah pernah menyaksikan langsung bagaimana antara pembawa acara atau beberapa anggota masyarakat di TV melakukan taruhan dengan hadiah seadanya seperti traktir makan, rokok, dan sebagainya. Kembali lagi pertanyaannya adalah apakah ini judi terselubung atau sekedar permainan atau iseng-iseng (pleasure).

Dengan beberapa kejadian diatas, saya teringat pada satu peristiwa sekitar 8 tahun yang lalu. Saat itu saya sedang nongkrong di sebuah toko kelontong. Hampir tiap malam toko tersebut ramai dikunjungi orang. Bukan hanya beli rokok tapi di toko tersebut menjadi tempat berkumpulnya orang-orang kecil yang ingin memasang nomor togel (toto gelap) dan kebetulan pemilik toko tersebut sebagai agen bandar togel.

Suatu malam toko kelontong tersebut didatangi oleh sejumlah aparat alias penggerebekan judi togel katanya. Beberapa barang bukti disita seperti kupon nomor, uang dan lain-lain. Sungguh kaget saya menyaksikannya dan sempat saya berbicara dengan seorang anggota polisi untuk mempertanyakan alasan penggerebekan tersebut. Dikatakan penggerebekan dilakukan karena togel dianggap melanggar hukum dan meresahkan masyarakat.

Tapi ada yang mengganjal hati saya dan berusaha untuk mengajak diskusi anggota polisi tersebut. Saya mengatakan kepadanya kalau judi togel banyak dilakukan oleh rakyat jelata dengan penghasilan pas-pasan. Saya mengajaknya untuk melihat satu sisi menarik yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan untuk meringankan hukuman para pelaku. Saya mengatakannya untuk sekali-kali memperhatikan bagaimana asyiknya mereka yang memasang nomor. Ngecak sana ngecak sini bahkan sampai bermain dengan hal-hal berbau mistis. Lihat betapa gembiranya mereka melakukannya walaupun hasil ngecaknya meleset jauh.

Saya sempat bertanya apa alasannya mereka yang suka main togel tetap melakukannya hampir setiap hari. Kembali lagi kata-kata yang terucap adalah iseng-iseng berhadiah siapa tahu ada keberuntungan. Yang menariknya ada yang mengatakan kalau main togel layaknya orang pergi ke tempat hiburan seperti bioskop, lokasi wisata dan lain-lain. Contoh sederhananya adalah menonton film di bioskop, dari thrillernya kelihatan filmnya bagus tapi pada kenyataannya membosankan atau jelek jalan cerita ataupun aksinya. Khan sama saja dengan untung-untungan kata mereka. Kemudian kalau ke tempat wisata seperti Taman Impian Jaya Ancol, TMII, Kebon BInatang Ragunan dan sebagainya mereka tidak mempunyai dana yang cukup alias penghasilannya terbatas.

Jadi sebagian rakyat kecil menyamakan togel dengan hiburan untuk mencari kesenangan (pleasure) dengan alasan selama negara belum memberikan hiburan gratis kepada rakyatnya maka jangan sekali-kali melarang. Mengapa harus rakyat kecil yang selalu ditindak ? Bagaimana dengan taruhan bola yang sedang marak saat ini dimana banyak dilakukan oleh rakyat menengah ke atas dan kasat mata terjadi di layar kaca ? Mengapa tidak ada tindakan hukum oleh aparat kepolisian ? Walaupun alasannya sekedar iseng-iseng berhadiah atau mencari kesenangan (pleasure) juga.

Maka itu saya mengharapkan adanya ketegasan dari pihak berwenang dalam urusan “iseng-iseng berhadiah” ini. Jangan sampai ada kesimpulan adanya standar gandar dari aparat hukum negeri ini. Atau kalau perlu dilegalisasi di sebuah tempat khusus dimana hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang suka “iseng-iseng berhadiah”.

NB : Waktu di Seattle, saya pernah diajak oleh teman bule ke sebuah kasino. Dikatakannya ke kasino hanya sekedar mencari kesenangan (pleasure) untuk menghilangkan kejenuhan aktifitas sehari-hari. Dari rumah dia siapkan sejumlah uang untuk bermain beberapa jenis permainan seperti jackpot, rollet dan lain-lain. Tapi kalau uangnya habis karena kalah dalam permainan di kasino maka dia pulang ke rumah dan tidak penasaran dengan kehilangan sejumlah uangnya. Katanya ini hanya untuk mencari hiburan atau menyenangkan diri. Syukur-syukur kalau menang dan mendapatkan uang lebih, toh uangnya juga buat mentraktir teman-teman. Jadi main di kasino bukan untuk mencari tambahan penghasilan dan menghindari unsur spekulatifnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s