Sanghyang Dulang

Sanghyang Dulang bagi banyak orang terasa asing didengar. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui siapakah sebenarnya Sanghyang Dulang. Dari namanya “Dulang” maka orang akan mengingat tempat penumbuk gabah yang terbuat dari batu. Jaman dulu orang menggunakan dulang dan alu untuk menumbuk gabah.

Perlu diketahui Sanghyang Dulang masih berkaitan erat dengan sejarah orang Sunda atau lebih dikenal dengan Karuhun Urang Sunda. Tetapi siapakah Sanghyang Dulang ? Sanghyang Dulang adalah nama lain atau gelar yang diberikan kepada Ibu Ratu Nawang Wulang, permaisuri kerajaan Galeuh Pakuan dan isteri dari Prabu Tajimalela (putera Eyang Aji Putih). Prabu Tajimalela adalah raja pertama kerajaan Galeuh Pakuan yang selanjutnya berubah menjadi Kerajaan Sumedang Larang.

Banyak orang salah kaprah antara Galuh dan Galeuh. Galeuh berarti hati atau inti diri dan pakuan berarti iman. Jadi Galeuh Pakuan berarti hati yang beriman, maka itu kerajaan Sumedang Larang menerapkan syariat Iman bukan syariat Islam sejak jaman Prabu Geusen Ulun ( Raja Sumedang Larang pada jaman Islam). Bagi keturunan Sumedang Larang yang menggunakan lambang Kembang Cangkok Wijaya Kusumah dengan Naga Paksinya, keimanan kepada Yang Maha Kuasa harus ditanamkan terlebih dahulu sebelum menjalankan syariat Islam.

Bagaimana dengan Galuh ? Galuh merupakan sebuah kerajaan di daerah Ciamis yang masih bagian dari kerajaan Pajajaran yang didirikan oleh Aji Sakti (makamnya di gunung Galunggung). Jadi jelas perbedaan antara Galeuh dengan Galuh. Penggabungan nama Galeuh Pakuan Pajajaran berlangsung sejak Prabu Munding Wangi (Prabu Siliwangi VI) menyerahkan kekuasaan Kerajaan Pajajaran kepada raja Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.

Selanjutnya Sanghyang Dulang memang diberikan kepada Ibu Ratu Nawang Wulan karena kemampuan beliau menciptakan dulang dari batu dan cekatan dalam menumbuk padi (gabah). Sanghyang Dulang mempunyai banyak petilasan dan salah satunya berada di Gunung Simpay, Cibubut, Sumedang. Karena keingintahuan tentang sejarah beliau maka saya berziarah ke petilasannya.

Sanghyang Dulang yang dikunjungi berada di daerah pegunungan yang sejuk dan dingin. Tetapi tetap butuh stamina yang cukup untuk mencapainya karena melewati beberapa kali tanjakan yang menguras tenaga. Di Sanghyang Dulang terdapat sumber mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi penduduk di sekitarnya. Selain itu dipetilasan tersebut ditemukan Dulang peninggalan beliau yang sekarang disimpan di sebuah tempat di Sumedang.

Berikut adalah foto-foto pribadi perjalanan saya ke Sanghyang Dulang. Jalan-jalan sambil mengenal sejarah nenek moyang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s