Sportivitas Dan Arti Kemenangan

Nuer Menyaksikan Bola Melewati Garis Gawang (id.sports.yahoo.com/football/world-cup)

Pertandingan big match antara Jerman melawan Inggris dalam babak 16 besar kemarin malam memang seru dan banyak dihujani gol terutama gol-gol yang dilesakkan oleh pemain-peman Jerman ke gawang Inggris.

Tetapi pertandingan menarik tersebut menyisakan sebuah kontroversial yaitu dianulirnya gol Frank Lampard yang melakukan tendangan di luar kotak penalti. Pada saat itu bola terkena tiang gawang tim Jerman yang dikawal oleh Manuel Nuer dan memantul ke dalam garis gawang. Lampard dan rekan setimnya sudah merayakan gol tersebut tapi apa lacur wasit menyatakan pertandingan diteruskan dan tidak terjadi gol sama sekali.

Dari tayangan ulang terlihat jelas bola memantul ke dalam garis gawang dan Manuel Nuer jelas-jelas melihat bola masuk tapi Manuel Nuer malah melanjutkan pertandingan dengan menendang bola jauh-jauh. Saat itu saya yang menyaksikan pertandingan di televisi berulang kali menyatakan kalau itu gol dan sudah seharusnya Manuel Nuer bersikap jujur dan sportif dengan mengatakan kalau itu gol. Tapi sudahlah saya pikir mana mungkin orang mau melakukan itu semua demi sebuah kemenangan. Seandainya… pikir saya mungkin Nuer akan dianggap sebagai pemain paling “Fair Play “di Piala Dunia 2010 ini.

Nah yang membuat saya kaget adalah setelah saya membaca berita disini dimana Nuer mengatakan kalau dia sengaja mengelabui wasit. Waduh kok bisa begini. Terlepas dari permainan apik Tim Jerman dan diakui pula oleh Tim Inggris maka apa yang dilakukan oleh Nuer sungguh-sungguh mencoreng nilai sportivitas.

Melihat kejadian yang kontroversial tersebut saya teringat dengan kasus Paolo Di Canio (West Ham) tanggal 16 Desember 2000 lalu dimana dia menghentikan pertandingan dan menyuruh wasit untuk memeriksa kondisi kiper Everton Paul Gerrard yang cedera karena menghadang laju Trevor Sinclair, rekan se tim Di Canio. Padaha saat itu jelas-jelas gawang Everton kosong melompong dan Di Canio bisa melesakkan bola ke gawang dengan mudahnya. Tetapi Di Canio tidak melakukannya demi sebuah sportivitas dan ini spontan dia lakukan.

Pada hari itu, West Ham memainkan pertandingan kompetisi liga melawan tuan rumah Everton di Goodison Park, Liverpool. Hingga 90 menit pertandingan, kedudukan masih sama kuat 1-1.
Di masa waktu tambahan (
injury time), West Ham mendapat kesempatan melakukan serangan terakhir. Dari sayap kanan, penyerang West Ham Trevor sinclair lepas dari pengawalan pemain belakang Everton. Kiper Everton Paul Gerrard mencoba keluar untuk memotong gerakan Sinclair.
Sliding tackle yang dilakukan Gerrard di luar kotak penalti bukan hanya gagal, tetapi membuat dirinya berteriak kesakitan karena posisi jatuh yang tidak benar. Dalam posisi Gerrard yang terkapar di luar kotak penalti, Sinclair memberi umpan ke arah Paolo Di Canio yang berdiri bebas di mulut gawang Everton. Dua pemain belakang Everton ada di mulut gawang, namun jaraknya sekitar tujuh meter dari Di Canio.
Pemain West Ham itu dengan mudah sebenarnya bisa mengontrol umpan Sinclair dengan dada dan dengan kualitasnya diyakini Di Canio akan bisa membobol gawang Everton. Namun, di luar dugaan Di Canio tidak melakukan itu. Ia justru menangkap umpan Sinclair dengan tangan dan kemudian berlari ke arah Wasit Wilkes untuk meminta wasit menghentikan pertandingan karena kiper Everton cedera.

(Kompas, Sabtu, 6 Januari 2001)

Paolo Di Canio (frikifootball.wordpress.com)

Perlu diketahui Paolo Di Canio dikenal sebagai pemain urakan, bandel dan temperamen. September 1988, ia menjadi musuh pecinta sepak bola Inggris. Tindakannya mendorong Wasit Paul Alcock hingga terjengkang hanya karena tidak puas dengan keputusan wasit yang mengkartu merah dirinya, membuat ia dikecam banyak pihak. Atas tindakan Di Canio itu, Football Association atau Persatuan Sepak Bola Inggris tidak tanggung-tanggung menjatuhkan hukuman. Pemain asal Italia itu dilarang tampil 11 kali, sebuah hukuman larangan bermain yang belum pernah diterima pemain Inggris mana pun sepanjang sejarah.
Hukuman itu nyaris menamatkan masa depan Di Canio di Liga Inggris. Sheffield Wednesday yang membeli Di Canio dari Glasgow Celtics (Skotlandia) dengan harga 3 juta poundsterling, tidak merasa rugi untuk kemudian menjualnya ke West Ham dengan harga 1,75 juta poundsterling hanya empat bulan setelah insiden itu.

Dari kejadian-kejadian kontroversial di lapangan sepak bola tersebut maka timbul sebuah pertanyaan apakah sebuah kemenangan lebih penting daripada nilai sportivitas. Dalam kasus Nuer, saya hanya menyayangkan dengan pernyataannya yang sengaja mengelabui wasit. Saya merasa yakin kemenangan Jerman atas Inggris semakin elegan kalau Nuer mau menjunjung nilai spotivitas. Sekali lagi apakah kita mau melakukannya seandainya kita berada pada posisi Nuer tapi mengapa Di Canio bisa ya ??? Bola itu memang bundar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s