Marah Dalam Diamku

in silent rage (www.artbyjana.com)

Kami tahu kalau kau marah sekali. Tetapi kami memohon kepadamu untuk menahannya. Karena kami tahu kalau kau marah maka kau diam. Itulah yang kami takutkan. Tertawalah dan nikmati hidup ini dengan canda. Sekali lagi kami mohon karena kami tahu dan takut kalau kau marah dalam diammu. Amarah batinmu itulah yang kami takutkan karena semuanya bisa menjadi kenyataan. Kami telah menyaksikan semua akibat dari amarah batinmu. Seceduk metu seucap nyata.

Kau datang dalam kondisi yang mengenaskan. Kuterima semua kekuranganmu dan aku tahu kau dalam kondisi susah walaupun sebetulnya aku muak melihat bila mengingat masa lalu.

Ingatkah ? Saat kau berada di puncak karirmu. Sekali ku menelponmu dan meminta bertemu denganmu agar kawanku bisa dicarikan kerja. Tapi apa yang kau katakan kepadaku. ” Ahhh kau ini bagaimana ? Hidup kau saja sudah susah dan luntang lantung masih saja memikirkan orang lain. Pikirkan saja dulu hidupmu. “

Ingat khan ?! Tapi apa yang terjadi kemudian, aku masih bisa menerimamu sebagai keluarga. Kau datang hanya dengan sendal jepit butut, kurus kering dan menangis di hadapanku kalau kau dan keluargamu sudah seminggu tidak makan. Apalagi saat itu bulan suci Ramadhan. Aku selalu mengingat kejadian tersebut. Bukan aku ingin dipuji atau dianggap riya. Aku ikhlas dan kau tahu sendiri kalau saat itu hidupku juga sama denganmu, Tetapi aku lebih beruntung karena aku mempunyai banyak teman yang membantu. Itulah buah dari silaturahim yang selalu kujalani. Susah atau senang kondisi teman tetap saja ku usahakan untuk mengunjungi. Bagaimana dengan kau ?!

Lihat kondisimu saat itu. Tak ada yang menolongmu bahkan saudara kandung sekalipun. Tetapi aku masih punya hati nurani. Karena aku merasa yakin kalau manusia itu pada dasarnya baik dan yang kubenci dari manusia itu adalah perbuatannya.

Dengan segala cara kubantu agar pada bulan suci itu kau dan keluargamu mendapatkan kenikmatan dan kemurahan dari Allah SWT. Bukan aku yang menolongmu tapi Allah SWT karena aku hanyalah perantara yang tidak punya apa-apa.

Seiring jalannya waktu, kau selalu datang ke tempatku. Dengan seringnya kau bersilaturahim maka kau mendapatkan cahaya kehidupan. Kau bisa bekerja kembali dan keluarga besarmu kembali memandangmu. Tidak lagi mengecilkanmu.

Tapi apa balasanmu kepadaku ? Kau berkhianat dan tidak amanah. Kau ingkari semua dan tidak menganggap segala kebaikan yang diberikan dari aku dan teman-temanku. Kau katakan kepada semua orang kalau kami telah menjerat dan mengikatmu sehingga kau tidak bisa berbuat apa-apa. Seolah-olah kami menghambat perkemabngan karirmu. Kami akan sangat berbahagia kalau kau sukses. Ya sudah kalau kau menilai kami sebagai orang-orang yang tidak berguna dan mematikan rejekimu. Kami terima semuanya dengan ikhlas bahkan ikhlas kalau segala apa yang kami berikan selama ini tidak ada pahalanya. Ambil dan ambillah pahala itu Asal kau tahu kalau kami tidak iri dan cemburu melihat keberhasilanmu. Karena kami tahu Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.  Rahman Rahim Nya itulah yang menjadi dasar kami berbuat.

Marahkah aku ? Kalau ku ingat semua pengkhianatan ini maka aku akan marah. Tetapi aku tidak bisa karena kau telah kuanggap saudara. Tapi aku juga merasa kuatir kalau kau tiba-tiba membuatku diam. Itulah yang kutakutkan yaitu MARAH DALAM DIAMKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s