” SUSAH DINAIKIN, NAIK DISUSAHIN “

Ilustrasi (widjojodipo.wordpress.com)

Ini bukan tebak-tebakan tetapi omongan seorang anak berumur 10 tahun putera dari teman lama yang sudah lama tidak dikunjungi.

Tidak tahu mengapa, tiba-tiba kemarin siang saya ingin sekali  bertemu dengan teman-teman lama. Walaupun  malamnya begadang alias melototin tv  tapi saya usahakan untuk pergi  dengan menggunakan kendaraan umum.

Perjalanan pertama saya menuju daerah jembatan merah, menteng dalam dekat manggarai dimana teman saya tinggal. Ternyata kondisi lingkungannya tidak berubah sama seperti 4 tahun yang lalu yaitu rumah kecil ukuran 4 x 6 meter persegi yang ditempati lima orang. Dengan mengucapkan salam khas saya, mereka terkejut dan tidak menduga saya datang. Mereka pikir saya tidak akan pernah lagi datang berkunjung.

Tiba-tiba datang seorang  anak berusia 10 tahun menghampiri saya dan dengan malu-malu bertanya siapa saya ini. Dijelaskan oleh bapaknya tentang siapa diri saya. Kemudian anak itu mengeluarkan pernyataan yang sangat aneh yaitu

“ Om,  susah dinaikin, naik disusahin. Apaan itu?”

” Adik mau main tebak-tabakan ” tanya saya.

” Bukan tebak-tebakan, om ”  jawabnya

Tiba-tiba ibunya datang dengan mimik kecewa, marah  bercampur aduk perasaannya.

“ Cech itu maksudnya sekarang sudah hidup susah,  barang-barang dinaikkin harganya. Setelah dinaikkan harganya eh..barangnya bermasalah ”

Rupanya istri teman sudah seharian mencari gas tabung ukuran 3 kg tapi  tabungnya mengkhawatirkan kondisinya. Sudah begitu bayaran listrik naik lagi. Ini akan berakibat naiknya barang-barang yang lain.

Kemudian teman bercerita walapun kehidupan mereka selama ini serba minim tapi tetap  tidak putus asa dan selalu optimis. Sebagai informasi, teman saya ini adalah mantan napi yang telah masuk penjara 3 kali dengan kasus ke-1 membunuh marinir di Surabaya gara-gara memperebutkan lahan parkir, kasus ke-2 membunuh pamannya sendiri tapi tidak sampai mati karena pamannya menghabiskan uang warisan ibunya yang merupakan warisan keluarga mereka, kasus ke-3 adalah kasus 27 Juli 1996 (Kasus PDI Pro Mega) dengan hukuman 3 tahun tetapi dijalaninya hanya 1,5 tahun dengan kondisi siksaan seperti tangan dan kaki diinjak meja sewaktu interogasi sehingga sampai sekarang jari tangannya tidak bisa digerakkan dengan normal.

Enam tahun lalu saya bertemu di padepokan Uyut saya setelah itu kami dekat tetapi kami berbeda tujuan yaitu dia pro Ibu Mega (PDIP) dan saya tetap netral sampai sekarang walaupun saya mengagumi Bung Karno. Saya selalu mengingatkan kehidupun berpartai penuh dengan intrik kekuasaan. Kita harus tahu apakah tempat kita bergantung akan memperhatikan kehidupan kita atau tidak. Bukan hanya membutuhkan pada saat ada  kepentingan saja. Ternyata dia mendengarkan omongan saya dan sejak pembicaraan itu dia tidak terlalu intens lagi terhadap partai.

Kemudian saya belikan alat untuk menggergaji  kayu yang digunakan untuk membuat bingkai foto dan menjual foto-foto Bung Karno . Alhamdulillah jalan sampai sekarang. Selain itu dia mempunyai  bisnis kecil-kecilan seperti calo karcis kereta api, tanah, dan instalatir listrik.

” Cech, ketika kami sekeluarga mulai bangkit dari kemiskinan tanpa bantuan pemerintah. Kok bisa-bisanya pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membuat rakyat makin susah sehingga timbul keinginan saya untuk kembali lagi ke partai, bagaimana ini Cech”

” Apakah selama ini partai membantu kehidupan kalian sekeluarga? Khan tidak, sama saja dengan pemerintah. Itu hanya elit-elitnya saja yang ribut akan kekuasaan dan membutuhkan orang-orang dibawah pada saat ada kepentingan pribadi/golongan, Kita harus optimis selama kita bisa memperbaiki diri sendiri tanpa mencampuri urusan orang lain. Hidup kita akan bahagia lahir batin kok. Kalau hidup kita bahagia setidaknya memberi kebahagiaan kepada lingkungan disekitar kita berupa energi kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang atau materi.”

Omongannya kayak motivator saja  walaupun saya sendiri mempunyai beban dan masalah juga.  Maka itu hidup itu adalah kelakuan bukan perbuatan.

Setelah 2 jam penuh kami berbincang-bincang, saya pamit diri  untuk mengunjungi teman lama lainnya yang sudah direncanakan sebelumnya.

” Susah dinaikkin, naik disusahin ” Kalimat tersebut selalu terngiang di telinga selama  perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s