Dongeng Dalam Mimpi

” Bang… bang… bangun… “

” Hah…. “

” Bangun bang… hujan “

” Oh yaaa hujan terima kasih Pak “

Tjiploek bangun dari tidurnya setelah seorang pria membangunkannya karena hujan mulai turun rintik-rintik. Memang Tjiploek tertidur lelap di pinggir pantai Muara Baru hampir 3jam lamanya. Tjiploek segera beranjak dari tempat tidurnya yang hanya beralaskan kertas koran bekas sambil memperhatikan ajakan seorang pria yang membangunkannya. Seorang pria berbadan tegap, berkulit hitam, berumur kurang lebih 40 tahun dan sepertinya nelayan di Muara Baru.

Mereka berdua berteduh di sebuah warung kopi di pinggir pantai. Sementara hujan turun dengan derasnya. Sesekali pria tersebut memperhatikan keadaan pantai. Kemudian pria tersebut menawarkan kopi panas kepada Tjiploek.

” Terima kasih Pak “

” Ya, diminum kopinya Bang. Maaf tadi saya membangunkan tidur tadi. Saya melihat Abang tidur pulas sekali. Omong-omong Abang darimana ? “

” Sekali lagi terima kasih. Kalau tadi bapak tidak bangunkan saya bisa-bisa seluruh badan saya basah kuyup semua hehehe. Oh ya saya dari Kemayoran dan nama saya Tjiploek. ” Tjiploek memperkenalkan diri sambil bersalaman dengan pria tersebut.

” Saya… Sarmili. Nelayan disini. “

” Ohh bapak nelayan di Muara Baru “

” Ya, Bang. Saya masih penduduk asli di sini “

Kembali Sarmili mempersilahkan Tjiploek untuk meminum kopi dan mengambil gorengan di warung kopi tersebut untuk camilan mereka.

” Terus terang Bang, sejak kedatangan Abang dari pagi saya terus memperhatikan gerak gerik Abang. Maaf Bang “

” Ahhhh, tidak apa-apa Pak Sarmili “

” Panggil saya Sarmili saja Bang “

” Okeh panggil saya Tjiploek saja biar tambah akrab hehehe “

” Oh ya Ploek, tadi pagi kelihatan capek sekali. Kayaknya kurang tidur tadi malam ya. “

” Ya Sar. Saya capek banget dan kurang tidur sampai-sampai tertidur pulas di pinggir pantai walau hanya beralaskan kertas koran bekas hehehe “

” Pantasan kamu tidur sampai ngorok hehehe “

” Ohh gitu ya Sar “

” Ya Ploek. Tahukah kamu ? Beberapa kali kamu mengigau dan bicara sendiri. Memangnya mimpi apa Ploek ? “

” Mimpi ??? Mengigau ??? Masak sich “

” Lah khan saya perhatikan kamu selama 3 jam tidur. Mimpi apa sich Ploek ? “

” Tidak tahu ya tapi nanti dulu saya ingat-ingat dulu. Ya ya ya saya ingat. Benar Sar kalau saya mimpi “

” Pasti seru dech. Sampai kedengaran sekali kamu sedang berkeluh kesah “

” Keluh kesah bagaimana Sar ? “

” Mana saya tahu, Kamu yang mimpi kok hehehe “

” Hmmm ya ya ya kayaknya begitu. Saya tidak tahu apakah ini mimpi atau bukan. Seperti dongeng saja “

” Bagaimana dongengnya hahaha ” senyum Sarmili mendengar penjelasan tentang mimpi Tjiploek “

” Saya minum kopi dulu ya biar nyawa saya kumpul semua hahahaha “

” Bisa aja hahahaha “

Beberapa menit kemudian Tjiploek baru ingat apa saja mimpi yang dialaminya.

” Begini Sar, mimpi saya memang aneh bin ajaib “

” Anehnya ??? “

” Di dalam mimpi, saya bertemu Eyang saya. Padahal Eyang saya sudah lama sekali meninggalnya dan jarang sekali saya dimimpikan beliau. Apa gara-gara saya sedang… “

” Sedang apa Ploek ? “

” Ya gitu dech. Saya sedang gelisah dan risau dengan diri sendiri. “

” Wedeh bahasanya tinggi sekali. Saya kurang mengerti dach. Terus… “

” Di mimpi itu, Eyang bertanya kepada saya apakah saya sedang mempunyai masalah ?. Saya menjawab kalau saya memang sedang punya masalah terutama tentang diri. Eyang hanya tersenyum dan mengatakan kalau yang saya alami itu manusiawi. “

” Ya iyalah manusiawi Ploek. Namanya juga manusia pasti punya masalah “

” Tapi ini beda Sar “

” Bedanya ? “

” Nanti saya beritahu apa saja pembicaraan saya dengan Eyang. Saya mau pesan mie rebus dulu abis perut lapar sekali. Buuu Mie Rebus “

===================================================

Setelah Tjiploek menyelesaikan makannya. Kembali Tjiploek bercerita tentang mimpinya. Tjiploek mengatakan kepada Sarmili kalau mimpinya itu adalah dongeng. Jadi dongeng dalam mimpi. Kemudian Tjiploek membeberkan semua yang dialaminya dalam mimpi tersebut termasuk dialog dengan Eyangnya yang dikatakan Tjiploek dengan nama Eyang Sukma Nur Rasa. Berikut adalah dialog Tjiploek dengan Eyang Sukma Nur Rasa :

” Eyang mengerti kalau kamu saat ini sedang gusar maka itu Eyang datang menemui kamu “

” Terima kasih Eyang. Memang benar saya sedang gelisah dengan kehidupan pribadi saya. “

” Apa yang kamu gelisahkan ? “

” saya sebenarnya sedang ketakutan “

” Takut dengan siapa ??? “

” Saya takut kepada Yang Maha Kuasa karena banyak dosa yang saya perbuat. Kemudian saya takut kepada orang tua terutama ibu saya yaitu takut tidak bisa membahagiakan beliau yang telah melahirkan saya. “

” Hahahaha itu wajar Ploek sebagai manusia di dunia. Beda dengan Eyang yang sudah tidak mengenal dunia lagi “

” Maka itu Yang. lebih baik saya cepat dipanggil oleh Yang Maha Kuasa “

” Sembarangan kamu bicara. Apakah kamu tidak ingat dengan janjimu kepada Allah SWT ? “

” Nah itulah Yang. Apakah sebaiknya saya mengakhiri tugas saya di dunia ? “

” Anakku, ingatlah itu sudah menjadi jalan hidupmu di dunia. Sebenarnya batin suci dalam dirimu menangis bila mendengar apa yang kamu katakan tadi. “

” Tugasnya berat sekali Eyang “

” Iya saya mengerti tapi tugasmu belumlah seberapa dibandingkan dengan apa yang dibebankan kepada Eyang dahulu. Ingat khan cerita Kerajaan Gerbah Labuan, dimana Munding Wangi dibuang dari istana oleh pamannya sendiri dan wajahnya dirusak dengan 1000 macam ramuan rempah-rempah. Hidupnya sengsara dan menderita. Tapi Munding Wangi tetap tabah dan atas kehendak Sanghyang Wenang, Munding Wangi bisa merebut kerajaan Gerba Labuan dan bertemu dengan Ratu Pucuk Umum yang cantik sebagai isterinya dari hasil kesabarannya menjalankan laku lampah kehidupan. “

” Iya saya ingat cerita itu “

” Nah, kamu seharusnya bisa mengambil hikmahnya. Kesabaran dan keyakinan kepada diri akan membawa kamu kepada keberhasilan. Yang Maha Kuasa akan selalu mendengar doamu apabila kamu berada di jalan kebenaran. Lagipula Rasulullah Muhammad SAW pernah berkhikmat kalau umatnya akan selamat dunia akhirat sampai akhir jaman bila umatnya mau berpikir dan tafakur. “

” Benar sekali, Yang “

” Nah, Eyang akan ceritakan sesuatu tentang Rasulullah SAW menjelang akhir hidupnya. “

” Apa itu, Eyang ? “

” Tapi ini anggap saja dongeng lanjutan ya. Karena kamu tidak mengalami, melihat, mendengar dan lain-lain. Jadi ini cerita dongeng “

” Ya, Eyang “

” Tapi ada syaratnya ? “

” Apa itu Eyang ? “

” Kamu siap menanggung resikonya bila dongeng ini didengar orang lain “

” Siap, Eyang “

” Kamu siap bila dongeng ini akan membuat kamu dianggap riya, sombong bahkan dikatakan orang gila oleh yang membacanya “

” Hmmmm “

” Hehehe pasti kamu ingin menuliskannya khan ? Kemudian kamu akan posting di Kompasiana “

” Tapi khan Yang, ini hanya cerita dongeng “

” Ingat Ploek !!! Kamu harus pikirkan masak-masak sebelum mendengar dan menuliskan cerita ini. Saya pikir nanti saja akan saya ceritakan bila kamu sudah siap secara lahir batin. “

” Saya siap lahir batin Yang. Sungguh saya sudah siap “

” Hehehehe kalau begitu Eyang pamit dulu. Insya Allah kita akan bertemu kembali. Assalamualaikum. Nasruminullah “

” Yang… Yang… Yang “

Eyang Sukma Nur Rasa menghilang dalam sekejap. Tiba-tiba wajah Tjiploek seperti terkena cipratan butir-butir air dan terbangunlah Tjiploek dari mimpinya.

” Ohhh begitu ceritanya, pantsan saja tadi kamu teriak Yang Yang Yang saya pikir kamu sedang ditinggalkan kekasih kamu hehehe “

” Bukan, Sar. “

” Selanjutnya ? “

” Tidak ada kelanjutannya. Wong saya bangun dan ketemu kamu, Sar. “

” Aduhhh, sayang sekali. Kapan ya Eyang kamu datang lagi dalam mimpi kamu “

” Entahlah “

Keduanya menatap pantai Muara Baru dan menunggu hujan hingga reda. Tetapi sesekali Tjiploek melihat sosok kakek tua berdiri di atas perahu nelayan sambil tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya. Apakah ini pertanda Eyang Sukma Nur Rasa akan datang lagi dalam mimpinya dan menceritakan kelanjutan kisah Rasulullah menjelang akhir hidupnya ? Seandainya saja tidak dituliskan dan diposting di Kompasiana mungkin Eyang akan menceritakan semuanya. Tapi bisa saja Eyang akan menceritakannya walaupun tahu akan diposting di Kompasiana….

sufimuda.wordpress.com/puisi/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s