With Or Without You

andrewdbarker.deviantart.com

Ramadhan sedang mendengarkan lagu With or Without You-nya U2 di walkmannya, tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seseorang. Ternyata yang menepuknya adalah Inne dari belakang. Dengan muka tersenyum Inne menyapa Ramadhan sambil memberikan isyarat agar Ramadhan melepaskan headphonenya.

” Hai Ne apa kabar ? “

” Baik, Dan “

” Baru selesai kuliah ? “

” Ya, Dan. Boleh saya duduk ? “

” Oh ya. SIlahkan duduk ” Ramadhan menggeserkan posisi duduknya di bangku taman kampus.

” Sedang apa kamu disini, Dan “

” Saya sedang santai saja setelah dari perpustakaan tadi. “

” Kamu dengarkan lagu apa sich. Kelihatannya kamu meresapi sekali “

” Nich, dengarkan saja sendiri “

” Ohooo U2 ya. Keren banget nich lagu Dan “

” Ya, Ne. Saya suka sekali lagu ini hehehe ” Inne melepaskan headphone milik Ramadhan.

” Dan, saya dari kemarin mencari-cari kamu. Kemana saja kamu ? “

” Ahhh tidak kemana-mana kok Ne. Memang saya lagi sibuk mengurus skripsi. Tinggal revisi saja “

” Wahhh kamu sebentar lagi selesai kuliah nich “

” Bagaimana dengan kamu, Ne ? “

” Saya baru mau daftar KKN “

” Ada apa, Ne mencari saya “

” Sebetulnya saya ingin bicara banyak dengan kamu. Tetapi jangan disini karena pribadi banget “

” Ohhh gitu. Kelihatannya masalahnya serius sekali “

” Iya, Dan ” Raut wajah Inne berubah murung.

” Jadi bagaimana ? Apa yang bisa saya bantu ? “

” Bisakah kamu datang ke rumah nanti malam sekitar jam 7-an “

” Hmmm kelihatannya saya tidak acara. Bolehlah kalau begitu Ne “

Setelah berbincang-bincang sebentar, Inne mohon pamit dan meninggalkan Ramadhan duduk sendirian di taman kampus. Ramadhan hanya bisa menduga-duga ada apakah gerangan dengan Inne.

Tepat jam 7 malam, Ramadhan berangkat dari tempat kosnya menuju rumah Inne. Sekitar 30 menit Ramadhan sampai juga di depan rumah Inne. Baru saja Ramadhan ingin mengetuk pintu rumah tiba-tiba datang sebuah mobil sedan yang ingin masuk ke dalam rumah Inne. Rupanya yang datang itu adalah Inne yang baru saja pulang dari kursus bahasa Perancis.

” Ayo Dan ! masuk ke dalam “

” Iya, terima kasih. “

Ramadhan berjalan menuju tempat duduk yang ada di beranda rumah Inne. Sementara Inne masih di dalam dan beberapa menit kemudian Inne keluar sambil membawa nampan berisi es jeruk dan beberapa cemilan.

” Lama kamu menunggu Dan ? “

” Tidak Ne. Baru saja saya sampai ehh kamu datang “

” Syukur dech kamu tidak perlu menunggu lama “

” Kamu baru pulang kursus ya “

” Ya, Dan. Kursus Bahasa Perancis. hehehe “

” Diminum Dan. Sekalian cemilannya “

” Ya… “

” kamu tidak ada acara sama sekali khan “

” Tidak, Ne. Sebetulnya ada apa nich kamu mengundang saya ? “

” Masih ingat nggak kamu dengan Jodi “

” Ya, ingatlah. Itu khan… “

” Ya, dia dulu pacar saya “

” Dulu ??? Memangnya kamu sudah putus “

” Ehemm kami putus 2 minggu yang lama “

” Memangnya kenapa ? “

” Maka itu saya ingin bicara dengan kamu, Dan “

” Ohhh … “

” Tambah lagi Dan es jeruknya “

Ramadhan menolak tawaran Inne dengan alasan perutnya masih kenyang.

” Terus bagaiman Ne ? “

” Ternyata benar apa yang kamu katakan dulu Dan “

” Yang mana Ne ? “

” Dulu waktu awal-awal saya berpacaran dengan Jodi. Waktu itu kamu mengingatkan saya untuk berpikir dulu sebelum memutuskan berpacaran dengan Jodi “

” Ya ya saya ingat. Lantas hubungannya ? “

” Jodi benar-benar laki-laki kurang ajar ” suara Inne makin tinggi

” Nanti dulu, kok kamu emosi sekali. Memangnya kenapa dengan Jodi ? “

” Jodi mencampakkan saya dan selingkuh dengan cewek lain, Dan “

” Hah bisa-bisanya dia mencampakkan kamu. Sabar ya Ne sabar… “

” Sabar bagaimana Dan. Dia telah… “

” Sudahlah, mungkin ini sudah jalan hidup kamu yang diberikan oleh Tuhan. kamu pasti mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Jodi “

” Tapi Dan… ” Inne pun menangis tersedu-sedu sambil memeluk Ramadhan. Ramadhan makin bingung melihat Inne menangis di pelukannya dan tak tahu berbuat apa-apa.

” Tabahkan hatimu Ne. Saya prihatin mendengarnya “

Inne makin erat memeluk Ramadhan dan tangisannya makin kencang.

” Maafkan saya Dan. Selama ini saya tidak mendengar nasehat kamu mengenai Jodi “

” Sudahlah Ne. Nasi sudah jadi bubur “

” Inilah yang menjadi penyesalan saya. Saya hamil Dan “

Ramadhan terkesiap mendengar perkataan Inne.

” Apaaa Ne ? Hamil ??? Jodikah yang melakukannya ? “

Inne hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.

” Sudahkah kamu bicara dengannya ? “

” Sudah Dan sekitar 3 minggu yang lalu. Tapi dia tidak mengakuinya “

” Kurang ajar !!! “

” Jodi memang keterlaluan. Sejak saya menceritakan kehamilan ini tiba-tiba dia menghilang. Baru seminggu kemudian saya menemukannya di kafe pelangi bersama cewek lain. “

” Tanggapan Jodi waktu itu “

” Dia tetap menolak dan tidak mengakui bahwa kehamilan saya bukan perbuatan dia. Kamu tahu sendiri Dan. Selama ini saya hanya punya pacar Jodi seorang. Tetapi Jodi malah menuduh saya selingkuh dengan cowok lain “

” Ahhh alasan saja… Terus menurut kamu apa yang harus saya lakukan ? Gugurkan kandungan ini “

” Astaghfirullah al azhim, ingat ne dosaaaaa “

” Saya tahu itu perbuatan dosa. Terus bagaimana caranya menutupi aib ini “

Ramadhanpun terdiam dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Ramadhan langsung teringat pada peristiwa 1 tahun yang lalu. Sebenarnya Ramadhan sangat mencintai Inne, wanita yang dikenalnya sejak SMA (adik kelas) dulu. Pernah satu kesempatan Ramadhan mengungkapkan perasaannya tapi Inne menganggap Ramadhan sedang bercanda. Lagipula Ramadhan bukan pula tipe cowok pilihannya. Tipe cowok yang disukai Inne adalah pria bertubuh langsing, tegap, kulit putih, tampan dan kaya seperti Jodi.

Sejak itulah Ramadhan memutuskan untuk menjaga jarak dan selalu menghindar bila melihat Inne. Tetapi tetap saja Ramadhan tidak bisa lepas dari Inne karena Ramadhan kuliah dalam satu fakultas walau berbeda jurusan. Acap kali Inne datang ke tempat kos Ramadhan bila tidak bisa menemuinya di kampus atau sedang mempunyai masalah. Inilah yang dilakukan Inne pada saat ingin memutuskan berpacaran dengan Jodi dulu yaitu meminta saran Ramadhan. Kadang hati Ramadhan pedih dan tidak mampu menahan perasaan cintanya pada saat berduaan dengan Inne. Untuk melupakan itu semua maka Ramadhan seringkali menyendiri di taman kampus dan berdoa kepada Tuhan agar dirinya ikhlas dan diberikan yang terbaik bagi hidupnya. Tiba-tiba..,

” Dan…Dan malah melamun “

” Oh ya… ” Ramadhan tersadar dari lamunannya.

” kamu melamun apa sich “

” Ah tidak, saya sedang memikirkan solusi yang terbaik buat permasalahan kamu ini. Oh ya, apakah orang tua kamu sudah tahu kalau kamu hamil “

” Belum, mereka akan sangat marah kalau tahu ini semua. Bahkan saya bisa diusir oleh Papa. Maka itu Dan, saya minta tolong. Saya mohon sekali Dan “

” Terus terang saya belum menemukan solusinya dan masih bingung harus berbuat apa “

” Dan, saya mohon sekali lagi. Hanya kamulah orang yang mengerti saya. Terus terang saya berharap sekali dari kamu “

” Baiklah, beri saya waktu untuk berpikir. Kalau bisa kamu menemui Jodi lagi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. “

” Baiklah. Terima kasih ya Dan “

Selama seminggu Ramadhan tidak bisa tidur dan konsentrasi skripsinya terganggu oleh permasalahan Inne tersebut. Sampai pada satu waktu Inne kembali menemuinya di kampus dengan wajah memerah seperti orang baru menangis.

” Mengapa kamu menangis Ne ? “

” Tadi pagi saya bertemu Jodi dan memintanya untuk bertanggung jawab. Bukan omong baik-baik malah saya dihinanya dengan perkataan yang tidak sopan dan mengusir saya. Kemudian semalam Papa secara tidak sengaja menemukan alat untuk tes kehamilan di kamar mandi. Papa marah besar setelah tahu kalau saya hamil dan dari malam Papa tidak mau bicara dengan saya Dan “

” Malang sekali nasibmu Ne ” timbul rasa iba di dalam diri Ramadhan.

” Bagaimana menurut kamu, Dan ? “

Ramadhan berpikir sejenak. Setelah itu Ramadhan memeluk Inne dengan eratnya. Inne merasa kaget dengan apa yang dilakukan Ramadhan.

” Ne, seminggu ini saya berdoa dan memohon kepada Tuhan. Saya memohon untuk diberikan petunjuk jalan yang terbaik bagi permasalahan kamu. Saya telah menemukan solusi yang terbaik bagi kamu “

” Apa itu Dan “

Kemudian Ramadhan mendekati kembali Inne dan berbicara pelan di telinga Inne.

See the stone set in your eyes
See the thorn twist in your side
I wait for you

Sleight of hand and twist of fate
On a bed of nails she makes me wait
And I wait without you

With or without you
With or without you

Through the storm we reach the shore
You give it all but I want more
And I’m waiting for you

With or without you
With or without you
I can’t live
With or without you

And you give yourself away
And you give yourself away
And you give
And you give
And you give yourself away

My hands are tied
My body bruised, she’s got me with
Nothing to win and
Nothing left to lose

And you give yourself away
And you give yourself away
And you give
And you give
And you give yourself away

With or without you
With or without you
I can’t live
With or without you

With or without you
With or without you
I can’t live
With or without you
With or without you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s