Kesederhanaan Diri

Hari itu Tjiploek sibuk sekali dengan pekerjaannya yaitu membantu usaha percetakan Pak Hendarmin tetangganya. Dengan terampilnya Tjiploek menyusun halaman demi halaman yang nantinya akan dijilid menjadi sebuah buku. Tanpa terasa hari sudah siang mendekati jam 3 siang. Tiba-tiba Pak Hendarmin memanggilnya untuk datang ke kantornya. Tjiploek segera meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke kantor Pak Hendarmin. Di dalam kantor ternyata tidak hanya ada Pak Hendarmin saja tapi ada juga seorang pria berumur sekitar 50 tahun dengan gaya parlente dan kelihatannya orang kaya yang sedang duduk di sofa.

” Masuk, Ploek. “

” Ya, Pak “

” Oh ya perkenalkan teman saya, Pak Umar “

” Nama saya Tjiploek “

” Pak Umar… “

” Silakan duduk Ploek. “

” Baik Pak. Ada apa Pak Hendarmin ? “

” Begini Ploek. Pak Umar ini teman lama saya. Tadi saya sudah banyak cerita tentang kamu dan beliau tertarik saja dengan kamu. Maka itu Pak Umar ingin berkenalan dengan kamu “

Tjiploek merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati mengenai apa saja yang dibicarakan Pak Hendarmin dan Pak Umar tentang dirinya.

” Sudahlah Ploek ga usah dipikirkan. Saya cerita baik-baik kok tentang kamu hehehe “

” Bukan begitu Pak Hendarmin. Saya merasa tersanjung sampai-sampai saya dibicarakan oleh bapak-bapak hehehe “

Beberapa menit kemudian datanglah anak buah Pak Hendarmin membawakan 3 bungkus nasi padang dan minumannya.

” Ayo Ploek, makan dulu. Kamu belum makan khan dari tadi pagi. Lupakan pekerjaan kamu, si Mamat yang akan menyelesaikan pekerjaan penjilidan yang belum rampung “

” Aduh terima kasih Pak “

Di dalam ruangan tersebut Tjiploek, Pak Hendarmin dan Pak Umar makan bersama dengan menu nasi padang.

” Makan siang sudah, sekarang kita ngobrol-ngobrol ” ujar Pak Hendarmin. Tetapi Tjiploek masih bertanya-tanya ada apa gerangan dengan makan siang ini karena tidak biasanya Pak Hendarmin mengajaknya makan bersama.

” Memang asyik kalau sudah makan, ngerokok sambil ngobrol-ngobrol Pak Hendarmin. Ploek, rokok ? “

” Oh ya terima kasih Pak Umar. “

” Ploek, sebetulnya Pak Umar ingin bicara empat mata dengan kamu. Sepertinya beliau punya masalah tapi beliau bilang ingin bicara bertiga saja “

” Ohhh gitu Pak Hendarmin. Memangnya ada masalah apa Pak ? Apa yang bisa saya bantu ? Terus terang saya tidak bisa apa-apa dan tidak mengerti apa-apa “

” Ahhh kamu ini merendah saja Ploek “

” Benar kok Pak Umar. Terus apa masalahnya ? “

” Begini Ploek, saya dengar dari Pak Hendarmin kalau kamu bisa menyembuhkan orang sakit. Katanya kamu biasa membantu orang-orang yang sedang kesusahan “

” Hahahahah aduh Pak Umar Pak Umar. Mau saja percaya dengan Pak Hendarmin. Saya ini bukan dokter, tabib apalagi paranormal hehehe “

” Merendah lagi dech kamu. Saya serius Ploek. Saya ingin minta bantuan kamu untuk menyembuhkan penyakit isteri saya. “

” Sakit apa Pak Umar ? “

” Isteri saya sakit maag  akut. Sudah hampir 10 tahun dan  saat ini sedang sakit di rumah. Saya sudah bawa kemana-mana sampai ke Singapura  tapi tidak sembuh-sembuh juga. Nah saat saya mendengar cerita Pak Hendarmin yang katanya kamu pernah menyembuhkan orang sakit maka itu saya minta tolong sama kamu. Saya percaya karena yang mengatakan Pak Hendarmin. “

” Ayolah Ploek, jangan merendah melulu. Bantu Pak Umar. Kasihan khan beliau ini. “

” Hmmm bolehlah kalau begitu. Terus sekarang isteri di rumah atau di rumah sakit ? “

” Di rumah Ploek. Apakah kamu bersedia ke rumah saya sekarang ? “

” Aduhhh bagaimana ya ” ujar Tjiploek ragu sambil melirik ke Pak Hendarmin.

” Berangkatlah, Ploek. Saya ijinkan ” Pak Hendarmin meyakinkan Tjiploek.

” Bagaimana Ploek ? “

” Oke lah. Saya beres-beres dulu ya Pak “

” Alhamdulillah ” jawab Pak Umar.

Setelah membereskan barang-barang pribadinya di workshop, Tjiploek ikut Pak Umar pergi ke rumahnya. Betapa kagetnya Tjiploek ketika melihat mobil Pak Umar yang sedang parkir di depan kantor. Sebuah mobil mewah berwarna hitam yang biasa dipakai oleh kalangan atas alias orang kaya. Di dalam perjalanan Pak Umar banyak cerita tentang diri dan keluarganya. Ternyata Pak Umar adalah seorang President Director perusahaan Konsultan Pertambangan yang biasa berhubungan dengan perusahaan-perusahaan tambang multi nasional. Beliau memiliki 2 orang anak, anak sulungnya perempuan berumur 20 tahun yang masih kuliah dan anak bungsunya laki-laki masih sekolah di SMA. Sebuah keluarga harmonis dan bahagia. Pak Umar juga seorang yang santun tutur katanya, pintar, dan berpengalaman.

Dalam waktu 1 jam, kami sampai di rumah Pak Umar di Perumahan elit di daerah Karang Tengah, Lebak Bulus. Tjiploek sampai terkagum-kagum melihatnya. Kemudian Pak Umar mengajak masuk ke dalam rumah. Tanpa banyak waktu, Pak Umar membawa Tjiploek ke dalam kamarnya. Di kamar tersebut tampak seorang wanita yang sedang berbaring sakit. Pak Umar langsung memperkenalkan Tjiploek dengan isterinya.

” Bagimana Ploek ? ” tanya Pak Umar.

” Boleh tahu dimana tempat wudhu ? “

Pak Umar menunjukkan tempat wudhu kepada Tjiploek. Kemudian Tjiploek ambil air wudhu dan segera melakukan sholat Maghrib dan dilanjutkan dengan sholat hajat. Setelah berdoa, Tjiploek kembali ke ruang tamu dimana Pak Umar sedang duduk menunggu.

” Begini Pak Umar, terus terang saya tidak bisa apa-apa. Saya hanya perantara Allah. Bila Allah berkehendak dengan kuasaNya, mudah-mudahan isteri Pak Umar dapat sembuh seperti sedia kala. “

” Terus apa yang harus saya lakukan ? Atau adakah syarat khusus ? “

” Ahhh tidak pakai syarat-syaratan, hanya saja Bapak harus membantu saya dengan doa. “

” Okelah Ploek. “

” Besok saya akan datang ke sini lagi karena saya harus mempersiapkan ramuan obat untuk isteri Pak Umar. Bagaimana Pak ? “

” Baiklah. Karena besok saya masih ada acara sampai siang di kantor, bagaimana kalau setelah makan siang kamu datang ke kantor saya. Biar kita bareng-bareng ke sini. “

” Tapi saya tidak merepotkan bapak khan ? “

” Tidak Ploek malah saya yang merepotkan kamu. Oh ya nanti saya telpon Pak Hendarmin  kalau kamu saya [injam satu hari lagi hehehehe “

” Okelah, kalau begitu saya pulang dulu. Sampai ketemu besok siang Pak “

Kemudian Pak Umar memerintahkan supirnya untuk mengantarkan Tjiploek pulang ke rumahnya di bilangan Kebon Jeruk.

Keesokan harinya Tjiploek datang ke kantor Pak Umur den gan membawa dua botol yang berisi air ramuan obat. Setelah menunggu beberapa saat, Pak Umar langsung mengajak pergi ke rumahnya kemarin. Sesampainya di sana, Tjiploek langsung memberikan setengah gelas air ramuannya kepada istri Pak Umar. Ramuan tersebut diminum 3 kali sehari. Setelah itu Tjiploek segera pamit pulang. Pak Umar sempat memberikan imbalan berupa uang tetapi ditolak Tjiploek dengan alasan niat ingin menolong bukan untuk komersil.

Setelah itu Tjiploek tidak pernah mendengar lagi berita tentang kesembuhan istri Pak Umar. Tjiploek hanya pasrah saja kepada Allah. Apabila dijinkan sembuh maka isteri Pak Umar akan sembuh. Tanpa terasa sudah 3 bulan waktu berlalu, Tjiploek masih tetap bekerja di perusahaannya Pak Hendarmin. Selama itu Tjiploek tidak mempunyai firasat apapun sampai suatu hari Tjiploek mendapatkan telpon dari seorang wanita di kantor Pak Hendarmin.

” Halo, apa benar ini Mas Tjiploek ? “

” Benar sekali. Kalau boleh saya tahu, Mbak ini siapa ya ? “

” Saya Dara, anaknya Pak Umar “

” Ohhhh anaknya Pak Umar. Bagaimana kabarnya bapak dan ibu ? “

” Hmm bagaimana ya … begini aja Mas Tjiploek saya tadi disuruh bapak supaya menelpon Pak Umar. Sabtu besok Mas Tjiploek ditunggu Bapak di Hotel Mandarin. Tepatnya restoran Mandarin. Nanti tanya saja dengan orang hotel dimana letaknya “

” Oke, jam berapa ya Mbak Dara ? “

” Malam, Mas. Jam 7 malam. Mas Tjiploek tidak ada acara khan ? “

” Kebetulan tidak ada. Saya akan hadir “

” Baguslah kalau begitu. Oh ya Bapak tadi pesan kalau Mas Tjiploek pakai pakaian yang rapi. Terus pakai sepatu hehehehe. Satu lagi berangkatnya naik taksi saja Mas biar cepat. Nanti bapak yang bayar “

” Aduh Pak Umar bercanda aja. Ya sudah salam buat beliau. Saya akan datang “

Pukul 5 sore, Tjiploek sudah siap berangkat sambil menenteng sepatunya. Memang Tjiploek tidak terbiasa pakai sepatu dan selalu berpakaian sederhana. Banyak orang yang kenal Tjiploek di jalan merasa heran dengan perubahan berpakaian Tjiploek. Ada juga yang meledek penampilannya. Tapi Tjiploek tetap tidak menghiraukan. Beberapa saat kemudian Tjiploek memberhentikan taxi dan memerintahkan supir taxi pergi ke hotel Mandarin. Sesampainya di lobi hotel ternyata sudah ada supir pribadi Pak Umar yang sudah lama menunggunya. Tanpa menunggu waktu, sang supir langsung membayar ongkos taxi. Kemuadia Supir pribadi Pak Umar membawa Tjiploek ke restoran dimana Pak Umar berada.

Betapa kagetnya Tjiploek ketika di dalam restoran, ternyata Pak Umar, istri dan kedua anaknya telah berkumpul di sebuah meja besar. Di meja besar tersebut telah terhidangkan beberapa makanan siap santap.

” Assalamualaikum Mas Tjiploek ” tegur bu Umar.

” Wa alaikumussalam Bu. Bagaimana kabar ibu ? “

” Baik. Ini berkat Mas Tjiploek. “

” Bukan Bu ini berkat kuasa Allah SWT “

” Tapi lewat perantara Mas Tjiploek khan hehehe “

” Sudah-sudah nanti saja ngobrolnya. Sekarang kita makan ” sanggah Pak Umar

” Sebetulnya ada apa sebenarnya ya Pak “

” Sudah nanti saja saya jelaskan. Sekarang kita makan bersama-sama “

Setelah menyantap berbagai makanan yang nampaknya mahal harganya, Tjiploek diajak ngobrol dan bukan hanya oleh Pak Umar tapi seluruh keluarga ikut nimbrung. Rupanya undangan makan ini sebagai perayaan atas sembuhnya isteri Pak Umar. Konon sembuhnya penmyakit istri Pak Umar karena ramuan obat yang diberikan Tjiploek.

” Terima kasih ya Ploek. Kamu telah menolong isteri saya. Lihat Ploek, wajah isteri saya ceria  dan bahagia sekali. “

” Benar sekali Pak. Alhamdulillah Allah telah memberikan kesembuhan kepada isteri Bapak “

” Oh ya Ploek, saya ingin tanya, sudah berapa lama kamu kerja di tempatnya Pak Hendarmin “

” Saya bukan kerja Pak. Saya hanya bantu-bantu saja. Kebetulan Pak Hendarmin sedang kekurangan orang. Jadi saya ikut kerja. Lagipila saya tidak digaji Pak “

” Tidak digaji ? “

” Ya Pak. Memang itu yang saya minta karena Pak Hendarmin orang baik dan sudah sewajarnya saya membantu. Lagi pula Pak Hendarmin memberi makan siang dan bebrapa uang jalan kok. “

” Kamu baik sekali Ploek. Saya mau tanya lagi, kamu ini lulusan apa ya Ploek “

” Hahahaha bapak tanya-tanya ada apa sebetulnya “

” Ah tidak saya hanya ingin tahu saja. Mudah-mudahan kamu bisa bekerja di tempat saya “

” Di tempat Bapak ??? Waduh saya ini hanya lulusan SMA. Sementara pekerjaan di perusahaan Bapak memerlukan lulusan Sarjana. Apa yang bisa saya lakukan di sana hehehe “

” Jangan begitu Ploek. Kamu merendah saja. Saya kurang percaya kalau kamu lulusan SMA “

” Kok kurang percaya Pak ? “

” Ya dari kamu bicara, bahasa tubuh kamu sampai saya mendengar jawaban kamu saat bicara banyak hal tadi. Kelihatannya kamu menguasai banyak ilmu hehehe “

” Aduhhh bapak ini memuji saya terus. Benar Pak saya hanya lulusan SMA. Maaf ya Pak saya merasa tidak pantas bekerja di tempat bapak. Takut mengecewakan Pak Umar nantinya. “

” Ya sudah. Saya tidak memaksa. Nah itu makan penutupnya datang. Ayo Pleok dihabisin “

Kemudian Tjiploek menyantap makanan penutup. Setelah itu Tjiploek meminta undur diri dan mengucapkan banyak terima kasih atas undangan makannya. Sebelum pulang Pak Umar memaksa Tjiploek untuk menerima hadiah darinya walaupun Tjiploek menolak tapi Pak Umar tetap memaksa sehingga Tjiploek mau menerimanya.

================

Sebulan kemudian, ketika sedang di rumah Tjiploek dipanggil oleh bibi pembantu rumahnya. Rupanya ada telepon masuk untuk dirinya.

” Assalamualaikum Mas Tjiploek ? “

” Wa alaikumussalam. Ini siapa ya ? “

” masak Mas Tjiploek lupa dengan saya. Saya Dara “

” Ohhh Dara. Ya ya ya anaknya Pak Umar Khan ? “

” Nah itu ingat. “

” Ada apa nich ? “

” Saya mau minta tolong Mas “

” Minta tolong apa nich ? “

” Saya punya masalah Mas. Gawat sekali maka itu saya telpon Mas. “

” Gawat bagaimana ? Apa Pak Umar tahu masalahnya. “

” Bapak tidak tahu. Saya mohon jangan beritahu Bapak “

” Masalahnya apa kok sampai Pak Umar tidak boleh tahu. “

” Begini aja Mas. Besok jam 9 bisa ketemu saya di kampus. Nanti saya akan ceritakan semuanya. Ada acara nggak Mas Tjiploek ? “

” Besok ya. Pagi khan ?! Okelah. “

” Saya tunggu di parkiran Barat ya Mas “

” Oke “

Besok pagi tepat jam 9, Tjiploek sudah sampai di parkiran barat. Beberapa menit kemudian Dara datang dan mengajak Tjiploek bicara di kantin.

” Ada apa sebenarnya, Ra ? “

” Itulah Mas, ini gawat dan urgen. “

” Urgentnya dimana ? Ayo bicara terus terang. Jangan buat orang kuatir saja terutama orang tua kamu. “

” Begini mas. Saat ini Dara sedang membuat skripsi tetapi sudah beberapa judul skripsi yang Dara sampaikan ke dosen pembimbing selalu saja ditolak. Dara stress Mas Tjiploek. Ini sudah hampir setahun dan tidak ada perkembangan sama sekali. Sementara bapak tanya melulu tentang perkembangan skripsi saya. “

” Maaf saya potong sebentar. Kamu ambil jurusan apa sich ? “

” Akutansi, Mas “

” Waduh berat juga ya “

” Ya Mas tapi kok Mas Tjiploek tahu sich kalau berat “

” Menduga-duga saja hehehe “

” Nah sekarang ini hari terakhir Dara harus mengajukan judul skripsi. Kalau tidak Dara harus mengambil tema yang lain. Sementara tema skripsi yang ini sangat Dara sukai karena datanya lengkap dan sudah sedia. “

” Terus apa yang bisa saya bantu ? “

” Begini Mas, saya ingin Mas Tjiploek menemani Dara untuk menemui dosen pembimbing Dara. Mudah-mudahan saja dengan adanya Mas Tjiploek dosen pembimbing Dara langsung takluk dan memberikan persetujuan dengan judul skripsi Dara ini “

” Hahahaha Dara Dara emangnya saya dukun bisa menundukkan hati orang. “

” Kok tertwa sich. Tuh buktinya ibu saja bisa Mas Tjiploek sembuhkan penyakitnya “

” hahahaha itu lain persoalan Dara. Dan tangan Allah yang bermain dalam kasus ibumu hehehe “

” Pokoknya Dara minta tolong dan bagaimana caranya tangan Allah bisa bermain dan memudahkan jalannya skripsi Dara ini. Jadi tanpa banyak tanya dosen pembimbinglangsung ACC “

” Hehehehe Memangnya siapa sich nama dosen pembimbing kamu ? “

” Namanya Pak Supriyanto “

” Ruangannya dimana ? “

” Emangnya Mas Tjiploek mau menemuinya. Nanti Dara antar “

” Tidak usah. Biar saya sendiri. Dimana ruangannya ? “

” Di lantai dua ruangan no 10 “

” Ya udah saya akan ke ruangannya “

” Tapi Mas…. aduh Mas benar mau menemuinya. Nanti kalau ketemu Mas Tjiploek mau ngapain. Khan tidak kenal “

” Ya silaturahim aja hehehehe. Sudahlah jangan banyak bicara. Mana proposal skripsi kamu. Mudah-mudahan saja Allah membukakan pikiran Pak Supriyanto dan proposal skripsi diterima olehnya hehehe. Kamu tunggu saja di sini.”

Tjiploek langsung mengambil satu bendel proposal skripsi Dara dan pergi menemui Pak Supriyanto di ruangannya. Sementara itu Dara hanya bisa terbengong-bengong saja. Dasar orang nekat dalam hatinya.

Setelah menunggu hampir 1,5 jam, tiba-tiba Tjiploek datang menemui Dara yang menunggunya di kantin. Tjiploek dengan wajah berbinar-binar membawa selembar surat.

” Bagaimana Mas Tjiploek ? “

” Alhamdulillah semuanya selesai. Dosen kamu baik kok. Orangnya senang ngobrol sampai 1 jam lebih saya menemani berbicara hehhe. Oh ya ini ada surat dari Pak Supriyanto untuk kamu. “

Dara masih bingung dan gelisah apalagi menerima surat dari Pak Supriyanto, dosen pembimbingnya.

” Apaaaa …. ACC Mas Tjiploek. Kok bisa …. “

” Ya sudah. sekarang kamu menemuinya. Sudah ditunggu oleh dosenmu. Hanya itu yang bisa saya bantu “

” Sekarang Mas ? “

” Iya sekarang. Cepat sana ke ruangannya “

” Terima kasih ya Mas ” Dara teriak kegirangan dan memeluk Tjiploek

” Eit eits jangan ah malu dilihat banyak orang hehehe. Saya pulang dulu ya “

” Pulang ? Ya ya ya saya akan segera menemuinya. Nanti saya telpon lagi Mas Tjiploek. Terima kasih ya “

Tjiploek segera meninggalkan kampus Dara dan pulang ke rumahnya. Malam harinya Tjiploek mendapatkan telepon dari Pak Umar.

” Waduhhh kamu telah membohongi saya ya Ploek “

” Ada apa Pak. Saya tidak membohongi Bapak Kok “

” Tadi Dara telah menceritakan semuanya. Dia bilang kamu kenal dekat dengan dosen pembimbingnya. Ternyata kamu teman sekolahnya Pak Supriyanto dulu waktu di Magister Manajemen dulu ya “

” Pak Supriyanto itu suka bercanda Pak. Mana mungkin…. “

” Sudahlah Ploek. Dara banyak mendapatkan informasi tentang kamu dari dosennya tersebut. Kamu ini senang sekali ya merendah. Mengaku sama saya kalau kamu lulusan SMA ternyata kamu lulusan MM hehehe “

” MM itu khan hanya gelar. Buat apa punya gelar hebat kalau saya tidak bisa memanfaatkan ilmunya untuk diri dan banyak orang Pak hehehe “

” Okelah kalau begitu. Tuh Dara senang sekali karena dibantu Mas Tjiploek. Sepertinya dia mau mengundang kamu makan berdua. “

” Makan ? Berdua ? Boleh saja Pak tapi jangan suruh saya pakai sepatu ya Pak hehehehe “

“Hahahahaahhahahaha “

Sepanjang malam itu Pak Umar dan Tjiploek tak henti-hentinya bersenda gurau di dalam telepon. Sementara lagu Where The Streets Have No Name bergema di dalam kamar Tjiploek.

2 thoughts on “Kesederhanaan Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s