Kawan Seperjuangan

prpmakasar.wordpress.com/2010

Tatapan tajammu memandangi matahari terbit. Siluet diri yang jelas nyata dari sosok yang keras hati. Guratan wajah yang tidak muda lagi. Sodetan bekas luka mewarnai raut kewibaawaan. Sedangkan lukisan tubuh yang melekat melambangkan keberanian diri dalam menentukan hidup. Itulah dirimu walaupun belum kusebutkan brewok yang telah memutih dengan kulit sawo matang.

Bayangan itu selalu menghampiri dan kau tidak akan melupakannya. Trauma kehidupan yang menjadi perjalanan hidupmu. Aku kagum saat kau mengatakan ikhlas menerimanya dan bersedia berkorban apapun demi sebuah persaudaraan. Aku hormati apa yang kau lakukan dengan segala konsekuensinya.

========================

” Cha ! ayo Cha ikut kami. Mereka mengejar kita “

” Sudahlah kamu dulu yang pergi biar aku menjaga tempat ini “

” Tapi cha… “

” Sudahlah, semuanya akan beres. Biar aku yang akan menghadapi mereka. Yang terpenting sebagian besar selamat dan amankan semua berkas penting. Itulah tugas kita disini “

” Baiklah sampai ketemu lagi “

Api mulai membakar di beberapa tempat dimana dia mempertahankan diri. Sementara batu-batu berterbangan dan mulai banyak manusia melesak masuk ke dalam. Akhirnya… aku menyerah.

========================

Ruangan pengap dengan ukuran yang kecil. Temanku hanyalah kumpulan nyamuk, kecoa dan keluarga serangga lainnya. Yah! Aku menerimanya demi sebuah kebenaran. Mereka tidak bisa memaksaku untuk menjadi pengkhianat. Pengkhianat bukanlah diriku. Darah kering tampak terlihat di kening, bibir, tangan, kaki dan hampir sekujur tubuhku dianiaya tanpa belas kasihan. Hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk meruntuhkan keyakinan.

” Argghhhh tulang rusukku ada yang patah. Tangan dan kakiku tidak bisa digerakkan. Sakitnya luar biasa. Aku harus kuat menahannya. “

Kembali aku diinterogasi oleh sebuah pengadilan biadab dalam lingkungan binatang tanpa peri kemanusiaan. Mungkin inilah yang dinamakan neraka. Kembali kaki meja itu menginjak tangan kanan dan kiriku. Mereka tertawa-tawa dengan puasnya dan mengabaikan jeritan kesakitan. Darah mengalir dari ujung kukuku. Ya… kukuku ditariknya. Arghhhh ku berusaha bertahan dan tetap tutup mulut.

Betis kaku memar dan mengeluarkan darah hitam. Tampak bekas tendangan sepatu kesenangan diri menghantam betis ini. Aku harus kuat…aku harus kuat…aku harus kuat… Inilah perjuangan.

========================

10 tahun telah berlalu

Sosok tegas itu masih terasa auranya. Energi keperkasaan itu menyambar ke dalam diriku. Kau memang sosok yang kukagumi. Tanpa banyak kata tapi kau telah membantu banyak orang. Walaupun hidupmu miskin dan telah lama menyia-nyiakan keluargamu tapi kau telah menunjukkan sebuah prinsip yang harus dipertahankan. Kau sadar dengan segala sebab akibatnya.

Tiba-tiba mobil mewah berwarna hitam lengkap dengan lambang orang terhormat lewat di depan kami.

” Lihat kawan lihatlah orang di dalam mobil itu “

” Siapakah gerangan orang tersebut ? “

” Dialah orang yang terakhir ku selamatkan pada peristiwa itu “

” Mengapa dia tidak berhenti padahal tadi aku lihat dia sempat memandangimu, kawan “

” Biarkan saja. Dia telah menjual segala-galanya. Termasuk harga dirinya demi sebuah kemewahan dunia “

Kamipun melanjutkan pekerjaan. Menjual bingkai foto di pinggir jalan. Kadang kami menangis saat melihat foto yang ada di bingkai.

” Bapak, inilah potret negeri yang kau perjuangkan selama ini “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s