Bayanganmu

Hening dan tidak terdengar suara apapun kecuali detak jantung pada malam itu. Tampak rembulan menunjukkan cahaya penuhnya. Ya, memang malam itu adalah malam penuh keindahan dan kenangan yang mengundang khayalan akan kejadian masa lalu. Nostalgia di bawah terangnya bulan purnama.

” Kenalkan namaku Rangga ” ujar Rangga saat memperkenalkan diri kepada seorang gadis.

” Namaku Annisa ” jawab gadis di hadapan Rangga.

” Nama yang baik sebaik orangnya ” canda Rangga

” Bisa saja kamu ” ucap Annisa dengan mimik muka malu-malu.

Pertemuan dua insan yang memang sudah ditandirkan oleh Tuhan. Sejak perkenalan itu keduanya makin dekat. Benih-benih asmara mulai tumbuh seiring perjalanan waktu. Tanpa terasa hubungan cinta mereka mendekati tahun ke-4.

==========

” Aku sibuk sekali, Annisa. Aku bersama teman-teman  sedang mempersiapkan acara seminar di kampusku ” kata Rangga saat menerima telepon dari Annisa.

” Tapi Rangga, saat ini aku membutuhkan kamu. Aku sedang mempunyai masalah. Penting !!! ” jawab Annisa membalas.

” Baiklah, aku akan ke tempatmu tapi setelah rapat dengan  teman-temanku selesai “

” Apakah tidak bisa sekarang juga ? “

” Tidak bisa, Annisa. Aku masih… ” tiba-tiba telepon terputus. Rupanya Annisa memutus hubungan teleponnya.

Setelah rapat, Rangga segera pergi ke kos Annisa. Waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Tempat kos masih bisa memperbolehkan Rangga untuk bertemu dengan Annisa.

” Assalamualaikum “

” Wa alaikumussalam “

” Bisa saya bertemu dengan Annisa, Bu Sofi ? ” tanya Rangga kepada ibu kos Annisa.

” Aduh Mas, Annisa tidak ada di tempat kos. Tadi siang kelihatannya dia terburu-buru pulang ke rumah orang tuanya di Solo. “

” Pulang ke Solo ? ” Tampak Rangga bertanya dengan perasaan bingung.

” Iya, Mas Rangga. Sepertinya mbak Annisa sedang mempunyai masalah “

” Okelah, kalau begitu nanti saya akan telepon Annisa. Terima kasih Bu Sofi “

” Sama-sama “

Malam itu Rangga merasa gundah gulana. Kebingungan menyelimuti dirinya. Beberapa kali Rangga menghubungi Annisa tapi orang-orang di rumah orang tua Annisa mengatakan kalau Annisa tidak ada di tempat.

==========

Tujuh hari kemudian, tukang pos mengantarkan sebuah surat ke tempat kos Rangga. Rangga menerima surat tersebut dengan perasaan aneh. Karena selama ini Rangga jarang sekali menerima surat dari siapapun. Siapakah yang telah mengirim surat kepadanya ? Tertulis di depan surat nama dan alamatnya. Tetapi Rangga merasa mengenal tulisan di surat itu. Jangan-jangan… Benar saja di belakang surat tertulis nama Annisa tanpa alamat. Di dalam surat tersebut tertulis maksud Annisa mengirim surat tersebut. Annisa ingin bertemu dengan Rangga besok sore di sebuah danau dekat kampus.

Tampak seorang wanita lembut dan cantik sedang duduk menghadap danau. Rangga mendekati wanita tersebut.

” Assalamualaikum Annisa “

” Wa alaikumussalam Mas “

” Bagaimana kabar kamu, Sa ? ” tanya Rangga dengan nada ragu-ragu.

” Kabarku baik. Kamu ? “

” Tidak baik. Aku selalu memikirkan kamu, Nisa “

” Hmm, itulah mengapa aku mengundang kamu datang ke danau ini, Mas. Danau dimana kita pertama kali bertemu “

” Ya aku selalu mengingat. Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku benar-benar… “

” Jangan diteruskan Mas Rangga. Aku mengerti betapa sibuknya Mas Rangga. Karena Mas Rangga sangat dibutuhkan oleh teman-teman kampus Mas Rangga “

” Tapi Nisa … ” Nisa langsung memberikan tanda agar Rangga tidak meneruskan ucapannya.

” Aku sangat mengerti siapa Mas Rangga. Empat tahun bukan waktu yang sebentar, Beberapa hari ini aku menghilang karena aku ingin menyendiri dulu. Maafkan saya bila membuat Mas Rangga menjadi was-was. Di saksikan danau ini aku ingin mengatakan sesuatu kepada Mas Rangga. Tapi… “

” Tapi apa, Nisa ? “

” Saya berharap Mas Rangga tidak marah “

” Aku tidak akan marah karena aku mencintai kamu, Nisa. Katakanlah !!! “

” Lebih baik hubungan kita berakhir sampai disini saja. Aku merasa bukan wanita yang pantas buat Mas Rangga “

” Ada apa ini Nisa ? Mengapa kamu mengatakan itu ? Aku sangat mencintaimu ”  tanya Rangga bertubi-tubi dengan perasaan tidak percaya.

” Cukup, Rangga !!! Cukup … !!! Aku harap Mas Rangga mau menerima keputusan saya dengan ikhlas. ” teriak Annisa sambil mengeluarkan air mata.

” Tapi Nisa, aku ingin tahu alasanmu yang sebenarnya… “

” Itulah alasanku Mas Rangga. Kamu seorang laki-laki terbaik yang kukenal selama ini. Aku merasa tidak pantas untuk Mas Rangga. Aku tidak bisa mengimbangi Mas Rangga … Itu saja. Selamat tinggal. Semoga Mas selalu bahagia ” ucap Annisa sambil memegang wajah Rangga. Kemudian pergi meninggalkan Rangga di tepi danau.

” Annisa… Annisa… Annisa ” panggil Rangga berulang kali.  Tetapi Annisa terus berjalan meninggalkan Rangga tanpa memperdulikan panggilan Rangga,

==========

Dua tahun kemudian,

Tiba-tiba telepon Rangga berbunyi. Di ujung telepon terdengar seorang pria bersuara berat danga mengabarkan sesuatu kepada Rangga. Tiba-tiba telepon Rangga jatuh ke lantai. Rangga berdiri diam dan tanpa sadar telah mengeluarkan air mata.

” Ya, Pak. Saya pasti datang “

Di depan sebuah nisan, Rangga duduk memandangi gundukkan tanah merah yang baru saja dicangkul. Bunga setaman menutupi gundukkan tanah tersebut. Di nisan kayu tersebut tertulis nama Annisa Putri  Leksono. Terlihat wajah senyum  wanita yang dicintai Rangga di nisan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s