Berkunjung Ke Mesjid Nabi Ayub : Masigit Sela

Sudah lama saya ingin menulis tentang perjalanan ziarah ke tempat ini. Karena beberapa file saya yang berisi foto-foto selama perjalanan terkena virus maka baru sekarang saya bisa mempostingnya.

Pintu Gerbang Masigit Sela (doc.cech)
Gua Masigit Sela (doc.cech)

Perlu diketahu bagi sebagian besar orang yang menyukai ziarah ke makam-makam leluhur maka masigit sela adalah salah satu tujuan ziarah tersebut. Menurut cerita orang tua dulu, konon  Masigit Sela ini diketahui sebagai mesjidnya Nabi Ayub AS. Asal mula cerita tersebut belum diketahui kebenarannya. Yang pasti Sultan Paku Buwono  pernah datang dan meresmikan Masigit Sela. Dibuktikan dengan adanya prasasti dari PB X.

Dengan menggunakan 8 mobil, kami bergerak dari Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran Sumedang menuju Majingklak (Ciamis).  Waktu yang ditempuh  untuk sampai Majingklak sekitar 6 jam. Karena selama perjalanan ada  satu mobil rombongan mengalami musibah yaitu bertabrakan dengan sepeda motor maka waktu tempuhnya menjadi molor  menjadi 9 jam karena harus berurusan dnegan polisi terlebih dahulu.  Menjelang Maghrib kami  baru sampai di Majingklak.

Majingklak adalah sebuah desa nelayan dekat daerah wisata Pangandaran dan salah satu rute yang bisa dipakai untuk menuju Masigit Sela di wilayah Nusa Kambangan melalui kapal laut menyusuri Segara Anakan. Akhirnya setelah Maghrib, kami menyewa 2 perahu motor sederhana yang hanya bisa ditumpangi oleh 20 orang. Sungguh perjalanan yang menegangkan apalagi kami mendapatkan info kalau segara anakan masih banyak dihuni oleh buaya muara yang terkenal besar-besar.

perahu tidak bisa bergerak karena baling-baling motor tersangkut jala nelayan (doc.cech)

Ada satu peristiwa yang sempat membuat kami terdiam yaitu perahu yang saya tumpangi mogok karena baling-baling motornya tersangkut jala milik nelayan. Setelah jala yang tersangkut baling-baling disingkirkan barulah perahu motor bisa melanjutkan perjalanan. Tapi timbul masalah lagi yaitu rombongan kami tersesat karena nelayan yang membawa perahu kurang menguasai daerah tersebut. Sementara itu perahu yang ditumpangi Uyut dan rombongannya sudah menghilang entah kemana. Kami menduga mereka telah sampai di tempat tujuan. Repotnya adalah tidak ada sinyal sama sekali di telepon seluler kami  sehingga susah menghubungi rombongan yang sudah tiba untuk mengabarkan kalau kami telah tersesat. Untung saja ada sebuah perahu nelayan yang memberikan petunjuk dan mengantarkan kami sampai ke tempat tujuan. Bebar saja Uyut dan rombongan telah lebih dulu sampai dan sempat menunggu hampir 45 menit.

Sesampainya di Masigit Sela, kami tidak bisa langsung masuk ke dalam karena harus menunggu juru kunci yang sedang pergi kondangan. Tetapi  ada beberapa penduduk sana yang mengenal Uyut sehingga kami tidak perlu menunggu terlalu lama untuk masuk ke dalam gua Masigit Sela.

Di dalam gua yang gelap kami berjalan tertatih-tatih dan sempat ada yang terjatuh. Akhirnya kami menemukan tempat yang cocok untu melakukan tawasulan. Baru saja kami duduk dan Uyut mau memulai acara, tiba-tiba ada satu orang anak muda yang kesurupan dengan berteriak-teriak. Bahasa yang dipakai sangat aneh. Sebentar bahasa Arab, kemudian bahasa Urdu kembali lagi ke bahasa Arab dan yang terakhir bahasa jin. Yang pada intinya makhluk yang masuk ke dalam tubuh anak muda tersebut ingin mengingatkan kami serombongan untuk menjaga kebersihan dan ketertiban di dalam gua Masigit Sela. Beberapa saat kemudian tampat bara api seperti bara rokok yang keluar dari kepala anak muda yang kesurupan tadi dan terbang entah kemana.

Alhamdulillah tawasulan dapat berjalan dengan khusu’ dan penuh khidmat. Selanjutnya saya, 6 orang dan Uyut (total 8 orang) dibawa ke sebuah kamar yang masih di dalam gua tersebut untuk melakukan ritual. Sebuah tempat yang lembab dan badan tidak bisa berdiri (harus menunduk) karena tempatnya yang sempit sekali. Kami sempat dikejutkan oleh beberapa orang yang sedang tidur mengorok di tempat tersebut. Kata Uyut mereka yang tidur di tempat tersebut sedang ngalap rejeki. Biasanya mereka berada  di tempat tersebut sudah lebih dari satu hari. Dengan keterbatasan tempat, kami masih bisa melakukan ritual dengan baik.

Setelah itu Uyut membawa kami bertujuh ke tengah-tengah Masigit Sela. Melalui penerangan senter, kami melihat ada cekungan batu (seperti asbak rokok) dan jendolan batu (seperti jendolan gong). Kata Uyut di cekungan batu itulah Nabi Ayub meletakkan belatung-belatung kecil yang ada di boroknya sebelum melakukan Sholat. Banyak orang yang belum mengetahui tentang hal ini termasuk para penziarah yang sering datang sekalipun. Kemudian Uyut memerintahkan  kami untuk berdoa dan memohon kepada Allah dalam hati dan langsung memukulkan tangan kami ke jendolan batu. Pada saat kami memukulkan tangan ke jendolan batu tersebut terdengarlah suara seperti gong gamelan dipukul goooooonnnngggg….. Selanjutnya kami rombongan keluar dari gua Masigit Sela dan tidur di saung dua tingkat yang berada persis di depan pintu masuk gua.

SEbuah Mesjid dekat dengan Gua Masigit Sela
Pohon tua yang berusia ratusan tahun dan angker (doc.cech)
Petani adalah pekerjaan utama penduduk dekat Gua Masigit Sela (doc.cech)
Papan Larangan Pengelola Masigi Sela (doc.cech)

Prasasti PB X (doc.cech)
Uyut di depan Prasasti PB X (doc.cech)
oleh-oleh dari masigit sela (doc.cech)
doc.cech

perjalanan pulang menuju Majingklak (doc.cech)

Malam itu kami menginap karena perahu motor baru bisa datang keesokkan paginya. Sebelum kapal datang, paginya kami melakukan acara foto  tapi sayangnya kami tidak diperbolehkan melakukan dokumentasi di dalam gua karena ada larangan dari pihak pengelola. Menjelang pukul 9 pagi, rombongan kami mempersiapkan diri untuk balik ke Majingklak. Sesuai dengan kesepakatan awal , kembali 2 perahu motor yang dipakai kemarinnya datang  untuk menjemput kami. Berbeda dengan perjalanan tadi malam, pagi itu perjalanan kami lancar dan hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Ternyata banyak pemandangan yang dilihat termasuk Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan.  Sungguh pengalaman yang luar biasa dan layak untuk dikenang.

5 thoughts on “Berkunjung Ke Mesjid Nabi Ayub : Masigit Sela

  1. I leave a response each time I especially enjoy a post on a website or
    I have something to contribute to the discussion. Usually it’s a result of the passion displayed in the post I looked at. And after this article Berkunjung Ke Mesjid Nabi Ayub : Masigit Sela | R u d d a b b y. I was actually excited enough to drop a commenta response😛 I do have a couple of questions for you if it’s okay.
    Could it be only me or do some of these responses appear like coming from
    brain dead folks?😛 And, if you are posting at other places, I’d like to follow you. Would you make a list the complete urls of all your community pages like your linkedin profile, Facebook page or twitter feed?

  2. Kalau boleh tau. . . Nama uyut yg ada d masigit sela tsb siapa?? Dan sdah pernah berpengalaman brap lama?! Soalnya saya cma dpt cerita dari pa2 saya saja selama ada d sumatera, dan baru 2 org k3 saya dan k-2 ortu saya pda waktu lalu sebelum bnyak diket org bnyk, Saya jd semakin ingin tahu tntng msjd sela d nusakambangan. . .?!!
    #keluarga dari bpk. Jajang s.

  3. Alhamdulillah saya pernah 3x tapakur/itikap di gua masigit sela..pengalaman yg tdk mungkin di lupakan..klou ada yg ingin tau tentang masigit sela inssa Allah munhkin saya bisa berbagi.silahkan hub saja email saya.atou d fb saya. ‘cho chiko’wassallam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s