“Orang Tua Asuh”

ragilex.wordpress.com/2008/10/17/

” Kalau ada anak asuh. Mengapa tidak ada orang tua asuh ? “

” Lah yang mengangkat anak asuh khan namanya orang tua asuh “

” Bukan…bukan itu maksudnya. Maksudnya adalah orang tua anak yang diasuh bagaimana ? Khan perlu “diasuh” juga. “

Itulah beberapa penggal kalimat yang keluar dari pembicaraan Abby dengan seorang temannya yang mempunyai banyak anak asuh dan aktif dalam kegiatan anak-anak jalanan. Menurut teman Abby, begitu kita terjun ke dalam kegiatan anak asuh maka kita juga harus memikirkan nasib orang tua dari anak yang diasuh. Perlu ada pemikiran yang komprehensif (utuh) dalam program anak asuh.

Kebanyakan anak asuh berasal dari keluarga miskin sehingga kesulitan untuk melanjutkan pendidikannya walaupun prestasi sekolahnya baik. Nah kemiskinan itulah yang harus dikurangi. Bagaimana caranya ? Pada dasarnya mirip dengan konsep zakat dalam Islam dimana orang-orang yang berhak mendapatkan zakat diharapkan pada tahun berikutnya mereka menjadi orang yang mampu membayar zakat. Bukan tahun ini mendapat zakat, tahun kemarin-kemarin dapat zakat, eeeh tahun berikutnya dapat zakat juga.

Memanusiakan manusia, itulah kata kuncinya. Bagaimanapun pada dasarnya manusia punya keinginan untuk memberi bukan menerima. Jadi orang tua dari anak yang diasuh harus dihormati dan dijaga harga dirinya. Caranya adalah memberikan pekerjaan atau memberikan modal kepada orang tua dari anak asuh tersebut agar bisa mempunyai usaha sendiri sehingga seumur hidupnya tidak selalu menjadi peminta-minta atau orang yang selalu dikasihani.

Selama orang tua dari anak asuh tersebut belum menghasilkan maka kewajiban kita yang mengasuh anak-anak mereka tapi juga ikut mengontrol dan memantau perkembangan usaha orang tua anak asuh tersebut. Kemudian diberi target selama 1-3 tahun agar mereka bisa memperoleh pendapatan yang cukup. Kembali lagi kuncinya bagi kita yang mengasuh adalah keikhlasan dan kepercayaan dalam memberika tanggung jawab kepada orang tua anak asuh tersebut.

Memang tidak mudah dan kompleks karena membutuhkan waktu, tenaga dan dana yang tidak sedikit. Belum lagi tanggung jawab moralnya agar program anak dan orang tua asuh tidak sekedar dijadikan proyek mercusuar yang ujung-ujungnya hanya menjadi riya. Dengan konsep dan program kerja yang berkesinambungan maka semuanya merasakan dampaknya. Selain itu ada tanggung jawab dari para orang tua anak asuh untuk bekerja lebih tekun dan tidak berpangku tangan saja karena masa depan anak mereka tidak bergantung kepada orang yang mengasuh anak mereka tetapi orang tua anak asuhlah yang mempunyai peranan penting.

Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya mempunyai nasib buruk seperti orang tuanya. Orang tua selalu menginginkan anaknya menjadi orang sukses di segala bidang termasuk kesuksesan pendidikan anak. Ini yang harus diingatkan secara terus menerus kepada orang tua anak asuh sebelum kita menerima anaknya menjadi anak asuh. Begitulah penjelasan teman Abby.

seguinrapps.org/child_abuse

Protected by Copyscape Online Copyright Protection

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s